INICIAR SESIÓNCahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.
Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.
Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.
Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.
“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.
Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.
Dan yang paling membuat napasnya tercekat,
Tidak ada seorang pun di sampingnya.
Tidak ada pria yang ia dengar semalam.
“Siapa dia…?” gumamnya, jantungnya berdegup keras.
Ia menelan ludah dan segera mencari pintu. Nalurinya hanya berkata satu hal, pulang. Sarah memakai kembali pakaiannya. Lalu dengan cepat membuka pintu.
Begitu pintu terbuka, ia mendapati seorang pria tinggi berjaga di lorong, Bass. Tubuhnya tegap, ekspresi dingin, seperti tembok yang sulit ditembus.
Sarah terhenti, tubuhnya menegang.
“Ma-maaf… aku… di mana ini?” suaranya bergetar.
Bass menatapnya sejenak sebelum menjawab singkat, “Kau aman di sini.”
“Aman? Aku bahkan tidak tahu ini rumah siapa!” Sarah mundur sedikit, kedua tangannya gemetar. “Tolong… aku hanya ingin pulang. Katakan dimana ini… atau berikan ponselku…”
Bass tidak bergerak, hanya berkata dengan nada datar, “Bos akan menjelaskan setelah dia kembali.”
“Bos?” Sarah semakin bingung dan ketakutan.
“Siapa itu? Orang yang semalam ada di kamar? Dia siapa? Kenapa aku di sini?”
Bass hanya diam. Itu membuat Sarah makin gelisah bahkan ketakutan.
Ia melirik ke sekitar, mencari celah, jalan keluar, apa pun. Tetapi tempat ini seperti labirin yang asing.
“Please… aku harus pulang…” bisiknya, hampir putus asa.
Dan untuk pertama kalinya, Bass menurunkan suaranya, sedikit lebih lembut.
“Tenang. Dia tidak akan menyakitimu.”
Tapi itu justru bukan jawaban yang menenangkan.
Karena kalau Bass sampai harus mengatakan itu…
Berarti ada sesuatu yang lebih besar dari yang ia bayangkan.
***
Langkah berat terdengar dari pintu utama. Bass langsung menegakkan tubuhnya. Sarah menoleh cepat, perasaannya campur aduk antara takut dan berharap.
Pintu terbuka.
Pria itu masuk orang yang suaranya samar ia dengar semalam. Tubuhnya tegap, sorot matanya tenang tapi tajam. Ia terlihat baru kembali dari luar, jaketnya lembap karena embun pagi.
Sarah tidak mengenalnya.
Namun sesuatu di dalam dirinya berdesir entah karena suaranya yang terasa familiar, atau karena auranya yang kuat.
Begitu pria itu melihat Sarah, langkahnya melambat. Ia menatapnya lama, seperti sedang memastikan bahwa Sarah benar-benar sudah membaik.
“Kau sudah bangun,” ucapnya dengan suara rendah, nada yang terlalu tenang untuk situasi setegang ini.
Sarah menelan ludah. “Siapa… siapa kau? Dan kenapa aku ada di sini? Aku butuh ponselku. Aku ingin pulang.”
Pria itu tidak langsung menjawab. Ia merogoh saku jaketnya, lalu berjalan menghampiri Bass. Setelah memberi sesuatu pada pria itu, ia kembali mendekati Sarah.
Langkahnya mantap, tidak terburu-buru, tapi cukup mengintimidasi sehingga Sarah mundur setengah langkah.
Saat ia berhenti di depan Sarah, tangannya terulur.
Di telapak tangannya
Ponsel Sarah.
Sarah menahan napas. “I-Itu punyaku…”
“Ya,” jawabnya singkat. “Sudah ku isi ulang baterainya.”
Dengan gerakan halus, ia menyodorkan ponsel itu padanya. Sarah ragu sejenak, tapi akhirnya mengambilnya. Ujung jari mereka hampir bersentuhan dan Sarah merasakan sesuatu menusuk ingatannya, tapi terlalu cepat untuk ia tangkap.
“Terima kasih…” katanya pelan. Lalu lebih tegas,
“Tapi aku harus pulang. Tolong beri aku alamat ini atau izinkan aku keluar.”
Pria itu menatapnya, tak berkedip. Ada sesuatu di balik ekspresi datarnya bukan ancaman, tapi… kehati-hatian.
“Kau belum cukup kuat untuk pergi,” katanya akhirnya.
“Aku baik-baik saja,” bantah Sarah. “Kau bahkan belum memberitahuku siapa kau.”
Pria itu terdiam sebentar, lalu berkata pelan, “Aku akan menjelaskan.”
Sarah menegakkan tubuhnya, bersiap.
Tapi pria itu menggeleng sedikit.
“Bukan di sini. Duduklah dulu. Kau pucat.”
“Aku sudah bilang aku mau pulang.” Suara Sarah bergetar campuran panik dan marah.
Bass bergeser gelisah, tapi pria itu hanya menghela napas perlahan, seolah mencoba memahami kerasnya hati Sarah.
Akhirnya ia berkata dengan nada yang sangat tenang, namun justru membuat bulu kuduk Sarah merinding:
“Kalau kau keluar saat ini… aku tidak yakin kau akan selamat.”
Sarah membeku.
Kalimat itu…
Nada itu…
Bukan ancaman.
Melainkan peringatan.
Dan yang membuatnya semakin takut adalah:
Pria itu mengatakannya dengan ketenangan seseorang yang tahu persis bahaya apa yang sedang mendekat.
Sarah menatap pria itu, matanya berkaca-kaca, campuran antara ketakutan dan kebingungan.
“Siapa… siapa kau sebenarnya?” suaranya nyaris berbisik.
Pria itu menatapnya, diam sesaat, lalu menarik napas perlahan.
“Aku… Zayn,” katanya akhirnya, suaranya rendah, tegas, tapi ada sesuatu yang membuatnya terdengar lebih… manusiawi daripada malam sebelumnya.
“Zayn…?” Sarah mengulang, seolah ingin memastikan namanya bukan halusinasi.
“Kenapa aku… kenapa aku ada di sini? Kenapa kau… membawaku ke sini?”
Zayn menunduk sedikit, ekspresinya tetap serius, tetapi matanya menatap Sarah dengan perhatian.
“Kau dalam bahaya semalam. Aku hanya ingin memastikan kau selamat. Itu saja.”
Sarah menelan ludah. Rasa marah, bingung, dan takut bercampur jadi satu.
“Aku bisa mengurus diriku sendiri! Aku ingin pulang!” katanya, suaranya lebih tegas.
Zayn menatapnya diam, tidak langsung membantah.
“Sebentar lagi kau bisa pergi,” katanya perlahan. “Tapi tidak sekarang. Kau masih lemah, dan di luar… ada hal-hal yang belum aman untukmu.”
Sarah menggenggam ponselnya erat. Ia ingin lari, tapi kata-kata Zayn menimbulkan keraguan.
“Kau… kau Zayn?” gumamnya lagi, mencoba mencerna semuanya.
Zayn mengangguk sekali, matanya tak lepas dari Sarah.
“Ya. Namaku Zayn. Tidak ada yang ingin menyakitimu. Tapi kau harus percaya sedikit padaku untuk saat ini.”
Sarah menelan ludah. Ia tidak mengenal pria ini, tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetapi sesuatu dalam nada suaranya membuatnya ragu untuk melawan meski ia masih ingin pulang.
Pria itu menatap Sarah dengan tatapan serius, langkahnya mantap mendekat.
“Aku perlu tahu… siapa kau, dan dari mana kau berasal?” tanyanya, nada rendah tapi tegas.
Sarah menelan ludah, jantungnya berdebar. Ia menggenggam ponselnya erat, mencoba tetap tenang.
“Namaku… Sarah,” jawabnya pelan, menahan detil tentang keluarganya atau latar belakangnya. “Itu saja yang perlu kau tahu.”
Pria itu mengamati wajahnya, matanya tajam seperti ingin membaca sesuatu yang ia sembunyikan.
“Sendirian? Tidak ada keluarga atau teman yang bisa dihubungi kalau terjadi sesuatu?”
Sarah menatap lantai sebentar, lalu menatapnya lagi dengan mata mantap.
“Aku… aku baik-baik saja sendiri. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” ucapnya cepat. Rahasianya tetap tersembunyi bahwa ia sebenarnya adalah putri seorang mafia besar.
Pria itu tetap menatapnya lama, menimbang sesuatu, tapi akhirnya ia menurunkan pandangan sedikit.
“Kalau begitu… untuk saat ini aku percaya kata-katamu,” katanya dengan nada rendah. “Tapi jangan berbohong tentang hal-hal yang bisa membahayakan mu.”
Sarah menarik napas panjang, memeluk ponselnya lebih erat. Ia sadar, setiap pertanyaan membuatnya semakin sulit menjaga rahasianya, tapi ia tidak punya pilihan selain tetap merahasiakan identitas aslinya.
Pria itu menatap Sarah, matanya tajam tapi tenang.
“Kau tidak bisa langsung pergi dalam keadaan seperti ini,” katanya akhirnya. Nada suaranya rendah, tapi tegas.
Sarah menatapnya, bingung dan sedikit kesal.
“Kenapa? Aku sudah merasa cukup kuat. Aku ingin pulang sekarang juga,” ujarnya, suara bergetar karena campuran cemas dan marah.
Pria itu menghela napas, matanya tidak lepas dari Sarah.
“Kalau kau ingin pulang… kau harus dalam keadaan segar. Tubuhmu masih lelah, dan kau tidak akan aman kalau berangkat sekarang.”
Sarah menggigit bibir, mencoba menahan rasa kesal.
“Segar? Maksudmu… mandi dan sarapan?”
Pria itu mengangguk pelan.
“Iya. Mandi dulu, sarapan. Baru kemudian aku pastikan kau bisa pergi dengan aman. Jangan menyepelekan kondisi tubuhmu.”
Sarah menelan ludah, menatap ponselnya dan kemudian pria itu.
“Aku… baiklah,” katanya akhirnya, meski tetap waspada. “Tapi aku masih ingin pulang sesegera mungkin.”
Pria itu hanya menatapnya lama, seakan memastikan bahwa Sarah memahami seriusnya kata-katanya.
“Kalau kau ingin pulang dengan selamat, lakukan saja seperti yang aku katakan. Setelah itu, aku akan memastikan kau bisa pergi,” ujarnya.
Sarah menunduk sebentar, menenangkan diri, lalu berbalik perlahan menuju kamar mandi.
Di dalam hatinya, ia masih waspada namanya sudah diketahui pria ini, tapi identitas aslinya tetap tersembunyi rapat. Ia harus pulang dengan selamat, tapi juga tetap menjaga rahasianya.
Setelah mandi dan sarapan, Sarah merasa sedikit lebih segar. Ponselnya kini berada di genggamannya, dan rasa cemasnya perlahan kembali muncul. Ia ingin segera pergi dari tempat asing ini.Pria itu berdiri di dekat pintu utama, menatapnya lama.“Kau bisa pergi sekarang,” katanya tenang, suara rendah tapi mantap. “Jangan membuat kesalahan di jalan. Supirku akan mengantarmu."Sarah menelan ludah, hampir tidak percaya.“Kau… benar-benar membiarkanku pulang?” tanyanya, setengah lega tapi masih waspada.Pria itu hanya mengangguk singkat, tidak menambahkan apa pun. Mata gelapnya tetap menatapnya seakan menekankan satu hal, jangan sekali-kali meremehkan bahaya di luar sana.Sarah segera meraih tasnya dan melangkah keluar. Jantungnya masih berdebar, tetapi perasaan lega mulai muncul. Segera ia akan bebas dari mansion misterius ini.Begitu pintu tertutup di belakang Sarah, Bass menatap Zayn dengan mata penuh heran.“Bos… kau benar-benar membiarkan dia pergi begitu saja? Setelah semalam… setelah
Cahaya pagi menyentuh wajah Sarah, membuatnya terbangun perlahan. Kepala Sarah terasa berat, seperti baru bangun dari mimpi yang tidak jelas. Ia mengedip, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi semalam namun semuanya kabur.Yang ia ingat hanya suara laki-laki… hangat, tenang… seolah menuntunnya keluar dari kegelapan. Wajahnya samar, hampir tidak bisa ia rekam.Begitu sadar sepenuhnya, Sarah tersentak.Ranjang tempat ia tidur bukan miliknya. Ruangan ini… bukan tempat yang ia kenal. Saat dia membuka selimut tidak ada sehelai benangpun yang ia kenakan.“Astaga! Apa... apa yang sudah ku lakukan semalam? Di mana aku…?” bisiknya, panik mulai naik ke dadaa.Ia bangun dengan cepat, hampir tergelincir karena tubuhnya masih lemah. Pandangannya menyapu ruangan mewah itu tirai tebal, perabotan gelap, suasana yang terlalu megah untuk rumah siapa pun yang ia kenal.Dan yang paling membuat napasnya tercekat,Tidak ada seorang pun di sampingnya.Tidak ada pria yang ia dengar semalam.“Siapa di
Bass menurunkan mobil di depan pintu baja ganda fasilitas. Lampu redup memantul di kaca mobil basah hujan.Zayn menahan pinggang Sarah agar ia tidak jatuh ketika keluar dari mobil. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal, dan pandangannya kabur.“Ayo… duduk dulu,” suara Zayn tegas tapi lembut. Sarah menatapnya sebentar, mencoba mengenali wajahnya, tapi hatinya masih penuh kebingungan.Tubuhnya masih terasa panas dan bergetar. “Kalian… siapa? Kenapa… menolongku?” Suaranya pecah dan lemah.Zayn menunduk, matanya serius. “Tenang… tidak ada yang akan menyakitimu di sini. Duduk dulu dan tarik napas pelan.”Bass menutup pintu mobil dan menyandarkannya ke tembok, menatap Zayn. “Setidaknya kita aman di sini. Tidak ada yang bisa masuk.”Sarah menatap keduanya, panik tapi bingung. “Kalian… siapa? Aku harus tahu…”Zayn menatapnya sebentar, wajahnya tetap serius, tanpa ekspresi lebih. “Nama… bukan hal yang penting sekarang. Yang penting kau tetap hidup.”Sarah menelan ludah, tubuhnya lemah. “T
Zayn akhirnya tiba di mobil hitamnya. Bass membuka pintu belakang, namun Sarah tiba-tiba terhuyung, lututnya nyaris menyerah. Zayn refleks meraih tubuhnya sebelum ia jatuh.“Hey, hey… jangan paksakan diri,” kata Zayn, menahan tubuh Sarah agar tetap tegak.Sarah menatap Zayn dengan mata setengah terbuka, suaranya pecah.“Aku takut…”Untuk pertama kalinya, ekspresi Zayn berubah. Keras dan dingin itu luntur, berganti sesuatu yang lebih dalam. Lebih… protektif.“Aku akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”Suaranya rendah, penuh janji yang bahkan Sarah tak yakin mengerti.“Sekarang… masuk ke dalam mobil. Aku akan membawamu ke tempat yang aman. Tempat di mana tidak ada yang bisa menyentuhmu.”Bass menatap Zayn heran. “Bos… kita tidak bisa bawa dia ke safehouse. Itu area paling sensitif.”“Justru karena itu,” potong Zayn tajam. “Tidak ada yang akan menduga aku membawa seorang wanita asing ke sana. Dan dia tidak bisa tetap di luar. Lihat kondisinya.”Bass terdiam. Karena Zayn benar.Sara
Lampu neon club memantul di lantai kaca, musik berdentum sampai rasanya menembus tulang. Sarah Valente berdiri di dekat bar, memegangi gelasnya sambil tersenyum tipis. Malam ini seharusnya pesta biasa, tapi firasat buruk menghantui. Bianca Moretti selalu punya rencana.Di sudut lain, Bianca menatap Sarah dengan senyum tipis, matanya berkilat licik. Di tangannya, minuman Sarah diam-diam telah dicampur dengan obat perangsang satu langkah kecil, tapi cukup untuk membuat malam ini berubah total.“Ini baru permulaan,” gumam Bianca pelan, menahan tawa. “Sarah akan hancur… dan Victor… Victor akan menjadi milikku.”Beberapa menit kemudian, Sarah menyesap minuman itu. Kepalanya terasa berat, pandangannya kabur, dan kakinya tak lagi menahan tubuhnya. Panik merayap saat ia menyadari tubuhnya mulai goyah.“Tunggu! Pegang aku, jangan jatuh!” suara tegas terdengar di sampingnya.Sarah menoleh setengah sadar. Di depannya berdiri Zayn Velasco, tinggi, tegap, dan sepenuhnya asing. Tubuhnya masih lemah







