LOGIN“Jeni!” “Budi!” Seseorang berteriak memanggil mereka. Budi dan Mbak Jeni langsung kaget. Mereka buru-buru menjauh satu sama lain dan berdiri tegak sebelum keluar dari balik pohon. “Itu dia. Kalian berdua lagi ngapain di situ?” Bang Zain menyeringai dengan ekspresi penuh arti. Di wajahnya masih ada bekas darah. Mbak Jeni langsung merah padam. Budi lebih cuek. Dengan ekspresi tetap tenang, dia langsung mengganti topik. “Kaki aku masih lemes. Ularnya gimana?” “Udah mati. Mana mungkin nggak mati setelah ditembak berkali-kali? Tapi gila sih. Kalau dia nggak lagi kekenyangan, mungkin kita yang mati duluan,” Bang Zain menyeringai lebar. Tiba-tiba Budi teringat sesuatu. Diam-diam dia membuka panel atribut. Misinya ternyata belum selesai. Dia bingung. Apa Mas Joko bukan dibunuh ular ini, atau masih hidup? Lalu dia sadar panel atributnya berubah sedikit. Begit
“Ularnya gede banget… gede parah…” gumam Bang Zain. Mukanya campur aduk antara takut dan excited.“Jelasin lebih detail!” bentak Kapten Andi memotong.Bang Zain tarik napas dalam-dalam buat tenangin diri. “Badannya setebal pinggang saya, perutnya bengkak parah sampe kayak nggak bisa gerak. Dia lagi tidur miring di lereng bukit, keliatan kayak batang pohon gede.”“Oh iya!” Bang Zain tiba-tiba inget lagi. “Itu mirip ular tikus raja!”Semua muka langsung muram.“Yakin nggak salah liat?” tanya Kapten Andi ragu.“Yakin banget! saya pernah nangkep yang gini dulu,” jawab Bang Zain kesel.Budi tahu betul ular tikus raja. Waktu kecil di kampung sama orang tua, sering liat. Panjangnya biasa 2–3 meter, tebalnya segede lengan orang dewasa. Mustahil bisa segede yang digambarin Bang Zain.Tapi Budi agak lega. Lawan hewan nggak beracun lebih gampang daripada yang beracun.“Kita cuma punya satu kesempatan. Ular yang kekenyangan nggak bakal nyerang. Selama kita nggak provokasi, kita bisa lewat aman. T
Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang itu terbang ke udara, jatuh berguling-guling di tanah. Kucing itu geleng-geleng kepala, masih pusing. Budi nggak kasih kesempatan langsung tebas keras ke badannya.Krek!Tulang punggungnya patah, badannya terbelah dua. Kucing itu meraung kesakitan, kaki-kakinya masih meronta-ronta kayak mau merangkak pergi. Organ dalamnya berceceran di tanah, bau amis dar4h nyebar ke mana-mana.Dor! Dor!Bang Zain langsung tambah dua tembakan ke kepala biar pasti mati.“Mampua kau!” umpatnya sambil pastiin nggak gerak lagi.Mbak Jeni nggak kuat liat adegan berdrah plus bau amisnya. Dia langsung minggir ke semak, muntah sejadi-jadinya.Budi juga nggak enak badan. Semuanya kejadian terlalu cepat dia cuma refle
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangkah pun.Pohon-pohon membentuk kanopi daun tebal yang nutupin matahari, bikin jalur gelap gulita. Cuma ada beberapa sinar yang nyusup lewat celah-celah, kayak lagi jalan di hutan purba. Hutan yang dulu jarang binatang sekarang jadi surga buat satwa liar. Dengung serangga, kicau burung, sesekali kelihatan burung kuau atau kelinci lompat-lompat. Entah dari mana asalnya hewan-hewan itu. Budi dorong cabang ke samping, tebas rotan dan duri di tanah biar rombongan bisa lewat.[Ding!! Setelah latihan yang cukup, kamu telah menguasai Keterampilan Pisau Dasar.]Budi langsung semangat. Skill pisau ternyata lebih gampang dikuasai dibanding skill mengemudi. Dia buka panel atribut, lihat skill pisau naik.
Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakangan ini sudah jadi makanan sehari-hari.Meski menunya spesial, suasana makan siang agak tegang. Obrolan basa-basi cepat mati. Sekitar 15 menit kemudian, Kapten Andi letakkan sendok garpu dan nyalakan rokok kretek. Budi pinjam korek dari Kapten, ikutan nyalain satu batang. Bukan kebiasaan dia, tapi kadang kalau lagi stres atau mikir berat, dia suka ngerokok.“Ayo berangkat!” kata Kapten Andi sambil berdiri setelah habisin rokoknya.Semua ikut berdiri dan langsung menuju kaki bukit. Budi jalan paling belakang, main-main sama parangnya, ayun-ayun ke udara sambil latihan gerakan tebas. Bang Zain nengok ke belakang dan nyengir.“Wah, semangat banget ya kamu, Nak? Nanti di bukit banyak rumput liar
Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebih sederhana dan sepi dibandingkan kantor polisi yang cuma berjarak sekitar sepuluh meter di sebelahnya.Budi Santoso masuk ke lobi gedung pos kehutanan. Hanya ada beberapa petugas di meja resepsionis, kebanyakan lagi main kartu domino atau ngobrol santai. Dia langsung naik ke lantai dua.Kepala Pos nggak ada, jadi Budi cuma bisa ketuk pintu kantor Wakil Kepala Pos.“Masuk!”Dia buka pintu. Di dalam ada seorang bapak-bapak paruh baya agak gemuk. Kantung mata tebal, kelihatan kurang tidur. Dia cuma melirik sekilas ke Budi lalu balik fokus ke dokumen di meja.“Ada apa?” tanyanya datar.Budi agak sebal diabaikan, tapi dia paksa senyum. “Selamat siang, Pak. Saya adik ipar Mas Joko Santoso. Dia ke







