LOGIN“Peringatan terakhir! Jika terus maju, kami akan menembak!” bentak prajurit itu lagi.
Suasana langsung menegang. Prajurit yang lain semakin mencengkeram gagang senjata mereka dengan erat. Budi berhenti sejenak, membuat mereka mengira ia akan mundur, tapi tiba-tiba ia melesat kembali dengan kecepatan yang luar biasa. Yang terlihat hanyalah bayangan tubuhnya yang bergerak cepat. “Sial! Dia sudah berevolusi! Tembak saja!” perintah seorang Letnan Dua sBudi belum pernah menghadapi sesuatu seperti ini. Namun, ketika melihat rombongan di depannya masih berjalan tanpa terpengaruh sedikit pun, dia akhirnya memutuskan untuk terus mengikuti mereka. Kabut mulai naik dari rerumputan. Semakin jauh mereka berjalan, suasana justru semakin menyeramkan. Satu demi satu roh mulai muncul. Ada roh manusia. Ada pula bayangan yang bentuknya menyerupai hewan bermutasi. Namun, tak satu pun berani mendekati Budi. Seolah ada sesuatu di dalam tubuhnya yang membuat mereka takut. Beberapa roh terlihat cukup padat. Sementara yang lain begitu samar hingga seolah bisa lenyap hanya karena tertiup angin. Aroma aneh memenuhi udara. Aroma itu terasa familiar bagi Budi. Dia menggenggam Parangnya lebih erat. Entah kenapa, tempat ini terasa sangat dikenalnya. Budi terus berjalan sambil mengamati sekitar.
Malam itu sunyi. Di ruang bawah tanah sebuah bangunan kosong di kawasan IKN, Budi terbaring di dalam sleeping bag dengan mata terpejam rapat. Di sebelahnya, Jeni sudah berkali-kali membalikkan badan. Namun, rasa kantuk sama sekali tak kunjung datang. Akhirnya dia menyerah. Jeni bangkit sedikit dari sleeping bag-nya lalu berbisik, “Bud... ngomong sesuatu, dong. Sebenarnya apa yang terjadi?” Budi tiba-tiba membuka mata. “Shh... diam.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Ada sesuatu yang bergerak.” Jeni hendak bertanya lagi, tetapi saat itulah dia mendengar suara samar dari sudut ruang bawah tanah. Krek... Seperti ada sesuatu yang menginjak benda keras. Jeni langsung menahan napas. Jantungnya berdegup kencang. Ruang bawah tanah itu gelap gulita. Dengan tubuh masih berada di dalam sleeping bag, dia sama sekali tak bisa melihat apa yang sedang terjadi. Budi perlahan membuka
“Tenang dulu.” Nada suara Budi sedikit melunak. “Coba pikir baik-baik. Sebelum kamu berada di sini, apa yang kamu lakukan?” “A-aku... kayaknya tadi membuang sampah.” Nining berusaha mengingat. “Aku membuangnya ke luar pintu. Tapi aku merasa... rasanya nggak enak kalau sampahnya ditaruh terlalu dekat pintu. Jadi aku pikir nggak masalah kalau maju beberapa langkah.” Dia menelan ludah. “Setelah itu... aku nggak ingat apa-apa lagi.” Budi merasa penjelasan itu terdengar konyol. Namun ketika melihat tubuh Nining yang masih gemetar hebat, dia memutuskan masalah itu tidak bisa diselesaikan sekarang. “Sudah mulai gelap,” katanya. “Kita pulang dulu.” Budi berjalan beberapa langkah sebelum menambahkan, “Nanti coba ingat-ingat lagi apa yang terjadi. Tapi untuk sementara jangan cerita kepada siapa pun.” “I-iya.” Nining mengangguk. Dia melihat sekeliling dengan gugup sebelum buru-buru mengikuti Budi. Setelah berjalan beberapa langkah, dia akhirnya memberanikan diri m
Budi kembali beberapa menit kemudian dengan wajah yang terlihat terganggu. Dia sudah menyisir seluruh kawasan perumahan di sekitar mereka, tetapi tidak menemukan apa pun. “Memangnya tadi kalian semua nggak lihat ada seseorang berdiri di sana?” tanyanya kepada yang lain. “Nggak, Bos. Mata saya cuma fokus ke Bos tadi,” jawab Candra sambil nyengir canggung. Yang lain juga menggelengkan kepala. “Bos, jangan-jangan Bos salah lihat?” Doni bertanya hati-hati. Nada suaranya mulai terdengar gugup. Apa dia benar-benar salah lihat? Budi sendiri tidak yakin. Bayangan itu menghilang hanya dalam sekejap mata. Dengan kelincahan 13 poin, kecepatannya sudah lebih dari tiga kali lipat manusia normal. Kecuali orang itu bisa bergerak dengan kecepatan supersonik, mustahil matanya tidak sempat menangkap keberadaannya. Tapi kenyataannya, dia benar-benar tidak melihat apa-apa. Budi kembali teringat jantungnya yang sempat berdebar kencang tadi malam. Ekspresinya perlahan berubah serius. Ka
Di tengah malam, jantung Budi tiba-tiba berdegup kencang tanpa alasan jelas.Matanya terbuka perlahan, namun tubuhnya tetap diam. Ia bingung degupan itu datang dan pergi sekejap, seolah hanya ilusi semata. Ia memusatkan pendengarannya ke luar. Hanya terdengar geraman samar binatang buas dari kejauhan, bukan hal yang bisa memicu peringatan mendadak seperti ini. Tak ada suara lain, tak ada gerakan mencurigakan.“Apakah hanya perasaanku saja?”Ia menatap Jeni dan Shinta yang tidur pulas damai di sampingnya. Perlahan rasa kantuk kembali menyergap, tapi genggamannya pada gagang parang justru makin erat.Sisa malam itu berlalu tenang tanpa gangguan.Keesokan paginya, mereka bangun satu per satu. Langit tampak kelabu pekat, seolah sebentar lagi akan turun hujan lebat.Setelah makan siang, Budi memutuskan memeriksa sekeliling kawasan. Lagipula mereka berniat menetap di sini cukup lama, jadi harus tahu bahaya apa yang mengintai.Tanaman tumbuh liar dengan luar biasa cepat hanya dalam lima hari
Jeni yang biasanya tampak kaku dan serius kini wajahnya mulai rileks, tersenyum bahagia. Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah besar itu dan memandangi sekeliling. Keadaannya jauh dari yang mereka bayangkan seolah pernah dihajar amukan binatang buas. Pilar di tengah ruangan runtuh, besi tulang beton terlihat menjulur kasar. panjang menghiasi dinding, dan bangunan ini tampak nyaris tak sanggup berdiri lagi. Budi memeriksa lantai dengan teliti, lalu mengerutkan kening. Ada banyak jejak kaki asing yang masih segar. sepertinya baru satu atau dua hari lalu. “Ada orang yang masuk ke sini,” batinnya. Jeni pun menyadarinya. Mereka saling bertatapan sejenak, lalu bergegas menuju ruang rahasia di lantai bawah. Setelah membuka pintu tersembunyi, Budi masuk duluan, diikuti Jeni yang membawa senter. “Sialan!” geram Budi. Rak-rak yang dulu penuh kini sebagian besar kosong. Beras berserakan di lantai. Hanya tersisa sedikit persediaan penting: satu setengah kotak air mineral, dua kotak minu
Dor! Dor!Tembakan langsung meledak. Bayangan hitam melesat keluar, lompat tinggi sekali, langsung menerkam leher Kapten Andi. Kapten kaget berat, badannya langsung kaku nggak bisa gerak sama sekali.Budi langsung maju cepat, pakai bahu sendiri buat tabrak kucing hutan itu. Saat itu bikin binatang
Jalur menuju puncak bukit nggak terlalu curam, tapi tanaman berduri dan rotan bikin susah banget dilupain. Semakin masuk ke dalam hutan, rumput liar mulai digantikan pohon-pohon besar. Batangnya tebal, cabang-cabangnya rapat menutupi jalur. Kalau nggak dibabat, mereka nggak bakal bisa maju selangka
Kebersihan warung makan di desa ini lumayan ala kadarnya, tapi menunya unik dan “liar”. Hampir semuanya hidangan eksotis: sup kelinci, sup ular campur rebung suwir, ayam iris tumis jamur hutan, dan katak rebus bumbu kuning. Semua bahan ditangkap warga desa sendiri. Dulu jarang banget, tapi belakang
Sebagai bagian dari wilayah Palangkaraya, Muara Teweh adalah kota kecil yang mandiri dengan akses transportasi lumayan lancar dan ekonomi yang mulai berkembang. Tapi sumber daya kehutanan di daerah ini memang terbatas. Dengan pendapatan daerah yang pas-pasan, kantor pos kehutanan terlihat jauh lebi







