Home / Romansa / My Beloved Sexy Secretary / 04. Puaskan aku! (++)

Share

04. Puaskan aku! (++)

Author: Queenzha_814
last update Last Updated: 2026-01-04 18:27:57

"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya.

"Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."

Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali.

"Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.

Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.

Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?

Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan Areez tak ingin itu terjadi ada Ivanna.

"Tu-an A-reez, to-long Sa-ya, Tu-an!" pinta Ivanna terbata-bata.

Srett

"Aah, panas sekali."

Areez menoleh, saat mendengar suara seperti baju di tarik paksa. Seketika ia langsung meneguk salivanya susah payah. Sebab, di depan matanya, ia dapat menyaksikan dengan jelas, betapa besarnya dua gundukan milik Ivanna, yang kini sedang tertampung dalam bra hitam, yang sangat kontras dengan kulit putih Ivanna.

"Ivanna, apa yang Kamu lakukan?" tanya Areez, tanpa mengalihkan pandangannya dari gundukan besar tersebut. Rasanya, pandangan itu sangat sulit untuk dialihkan dari sana.

Di luar dugaan, Ivanna bangkit, dan mendekati Areez yang duduk di pinggiran ranjang. Ivanna melingkarkan tangannya di leher Areez, seraya menggesek-gesekkan dada besarnya pada wajah Areez.

Areez diam tak berkutik seperti orang bodoh, terlebih saat Ivanna naik ke atas pangkuannya. Areez dapat merasakan, betapa kenyalnya pantat besar Ivanna, saat mendarat di atas pahanya.

Seketika belut besar yang bersembunyi di dalam celana Areez menggeliat, dan berdiri tegak. Terasa sesak, sebab di dalam celana Areez, masih terdapat celana dalam yang ketat.

"Ivanna, jangan salahkan Saya, jika belut Saya mengamuk nanti!" Suara Areez terdengar berat, dan sedikit serak.

Tangannya mulai meraba di sekitar punggung Ivanna, dan mulai terulur untuk membuka kaitan bra wanita itu. Akan tetapi, baru juga tangannya sampai, ponselnya berdering.

"Sial! Mengganggu saja," geram Areez, namun tetap mengambil ponselnya.

"Ale lagi, Ale lagi. Sebenarnya apa mau orang ini?" tanya Areez kesal.

"Ada apa? Mengganggu saja!" ketus Areez, saat panggilan sudah terhubung.

"Tuan, orang yang menjebak Ivanna sudah bersama Saya sekarang. Saya membawanya ke ruangan Anda. Apa Tuan tidak ingin melihatnya sebentar saja?" tanya Ale dari seberang telfon, alias hanya berbatas tembok dengan keberadaan Areez saat ini.

"Saya tidak punya waktu untuk melihatnya. Katakan saja, siapa orang itu!" perintah Areez, sangat tak sabar untuk mengakhiri panggilannya.

"Rico, Tuan," sebut Ale. "Manager keuangan di perusahaan ini," imbuhnya.

Areez spontan mengumpat, "Sialan! Tahan dia, jangan biarkan dia kabur!" peringatnya.

"Oh ya, satu lagi, Tuan. Dia memasukkan obat pemabuk dan obat perangsang dengan dosis tinggi pada kopi yang sudah di minum oleh Ivanna. Sebaiknya Tuan segera melakukan tindakan, sebelum terjadi sesuatu yang tak diinginkan pada Ivanna!"

Areez semaki  gwram mendengar penuturan Ale. Tangannya mengepal erat, serta matanya menyalang marah. "Bawa dia ke maskas sekarang, Ale! Saya tidak sudi ruangan Saya di tempati bajingan seperti dia!"

"Baik, Tuan. Oh ya, satu lagi, Tuan. Jangan lupa rekam kegiatan Anda saat bercinta dengan Ivanna! Dengan begitu, Anda akan mempunyai senjata untuk mengikat Ivanna."

Ucapan Ale terdengar pelan seperti orang berbisik. Namun Areez masih bisa mendengarnya.

Senyuman smirk terbit di bibir Areez. "Tidak sia-sia Saya menjadikanmu Asisten. Ternyata otakmu memang cerdas, dan patut di apresiasi." Baru kali ini Areez memuji Ale.

Di seberang sana Ale terkekeh. "Tuan saja yang baru menyadari ... Ya sudah, kalau begitu Saya matikan dulu telfonnya. Selamat bersenang-senang, Tuan! Jangan lupa bonusnya untuk Saya!" peringat Ale, kembali terkekeh, kemudian mematikan sambungan teleponnya.

"Tunggu sebentar, Sayang!" ucap Areez pada Ivanna.

Sesuai dengan yang di katakan oleh Ale tadi. Areez menghidupkan kamera untuk merekam pergulatan panasnya yang akan terjadi sebentar lagi.

Areez meletakkannya di nakas yang terdapat di samping ranjangnya, dan mulai merekam.

"Apa yang Kamu inginkan, Sayang?" tanya Areez, seraya meremas lembut dada besar Ivanna.

Seketika tubuh Ivanna menggelinjang, seperti cacing kepanasan. "Sentuh Aku! Tolong sentuh Aku! Aku ingin merasakan kenikmatan malam ini!" pintanya, seraya bergerak erotis.

Sepertinya obat perangsang serta pemabuk, yang mengalir di dalam tubun Ivanna sudah bekerja sempurna. Terbukti dari gerakan tubuh Ivanna, yang semakin seperti cacing kepanasan.

Areez menyeringai. Akhirnya sesuatu yang ia inginkan, akan terwujud malam ini juga. Areez menjulurkan lidahnya. Menjilati gundukan besar, padat, dan putih.

"Aahh," desah kenikmatan Ivanna mulai terdengar kembali. Ini masih baru permulaan. Bagaimana jika sudah bermain pada intinya nanti?

Ah, hanya membayangkannya saja, Areez sudah tak karuan. Apalagi jika sudah benar-benar merasakannya nanti? Hal itu membuat Areez semakin tak sabar saja.

"Kamu mau lebih dari ini, Sayang?" tanya Areez menggoda Ivanna.

Ivanna mengangguk lemah. Tangannya semakin erat memeluk leher Areez dan semakin menempelkan tubuhnya pada tubuh pria itu.

Hasrat Areez semakin memuncak, ketika Ivanna menggesek-gesekkan pantat sintalnya, tepat di atas kejantanan Areez. Rasanya Areez ingin mengerang saat ini juga.

Tanpa mengucap sepatah kata, Ivana menarik tengguk Areez. Mencium bibir seksi Areez dengan kaku. Maklum saja, mungkin wanita itu masih belum terbiasa, dan bisa jadi ini yang pertama kalinya.

Areez yang merasa gemas, karena Ivanna tak tahu caranya berciuman, tak sengaj menggigit kecil bibir bawah Ivanna.

Bukannya kesakitan, gairah Ivanna malah semakin memuncak. Ivanna mendorong tubuh Areez secara kasar, lalu mendudukkan pantat sintalnya, tepat di atas kejantanan Areez yang mengeras.

"Oh, shit!" umpat Areez. Merasa ngilu, serta nikmat yang datang secara bersamaan.

Ivanna membuka kaitan bra-nya, lalu melemparkannya dengan kasar pada wajah Areez. Bukannya marah, Areez malah menyeringai, karena semangatnya semakin memuncak.

"Kamu seksi sekali, Baby!" puji Areez dengan mata berbinar, sekaligus bergairah.

Areez hendak berdiri, karena tak sabar ingin menangkup, serta meremas dada besar Ivanna yang menggantung bebas. Akan tetapi, Ivanna malah mendorong dadanya, tak membiarkan dirinya bangkit.

Areez pasrah, terhadap apa yang ingin di lakukan oleh wanitanya. Anggap saja Ivanna sudah menjadi wanitanya. Karena malam ini, ia benar-benar akan memiliki tubuh Ivanna sepenuhnya.

Ivanna mengungkung tubuh Areez. "Hisap dadaku, Honey!" pinta Ivanna dengan suara manja. Ia menempelkan payudaranya pada bibir seksi Areez.

Areez tersenyum penuh kemenangan. "Dengan senang hati, Baby." Tanpa menunda, Areez langsung melahap payudara Ivanna. Sementara payudara satunya, ia remas dengan tangan besarnya.

Ternyata ukuran payudara Ivanna sangat besar. Namun Areez yakin itu besar alami, bukan karena suntikan atau obat apapun. Terbukti saat Areez memegangnya, payudara itu terasa lembut, tidak keras. Sangat cocok untuk Areez.

"Mmm ... Oohh ... " Ivanna mengerang kenikmatan, dengan mata yang terpejam.

Areez semakin gencar memainkan puting mungil Ivanna dengan lidahnya. Sebab, ia sangat suka mendengar suara merdu Ivanna saat mendesah.

"Aahh, Honey, puaskan Akuh!" pinta Ivanna, dengan tatapan menahan gairah.

"Aku akan memuaskanmu, Baby." Areez memutar posisinya menjadi di atas, dan Ivanna di bawah.

"Kamu siap melepas mahkotamu untukku?" tanya Areez, menatap dalam mata Ivanna.

Ivanna yang tengah dikuasai oleh gairah, hanya mengangguk, tanpa berkata apapun lagi.

"Baiklah, akan ku lakukan sekarang juga," ujar Areez, seraya membuka bajunya.

Seraya menunggu Areez membuka baju. Ivanna juga bangkit untuk membuka pakaian bawahnya, beserta kain segitiga pembungkus kewanitaannya.

Oh, damn!

Tubuh Ivanna benar-benar indah. Lebih indah dari yang pernah Areez bayangkan. Dada dan pantatnya benar-benar montok. Sementara pinggangnya sangat ramping. Dan perutnya sangat tipis.

Jangan lupakan juga wajah cantiknya. Alisnya yang natural dan tertata rapi. Mata indah bulat, dengan bulu mata lentik, hidung mancung. Serta bibirnya yang terlihat imut dan menggemaskan.

Sekilas mirip dengan Areez, yang memiliki bibir atas tipis, sementara bibir bawahnya tebal. Bibir Ivanna juga seperti itu. Hanya saja, berbeda di ukurannya saja. Bibir Ivanna lebih mungil di bandingkan dengan bibir Areez.

Areez mendefinisikan, bahwasanya Ivanna adalah makhluk ciptaan Tuhan yang sempurna.

"Sentuh Aku, Honey! Berikan Aku kenikmatan yang tiada tara!" pinta Ivanna lagi

Ia mendekati Areez yang tengah duduk di atas ranjang. Kembali duduk di atas pangkuannya, dan menggesek-gesekkan kewanitaan pada kejantanan Areez yang mengacung keras.

"Milikmu sangat besar, Honey. Aku suka." Ivanna kembali memuji.

Hal itu mengundang semangat di dalam jiwa Areez untuk keluar.

Areez menarik tengkuk Ivanna, dan kembali mencium bibir wanita itu dengan ciuman panasnya. Sementara tangannya juga aktif bergerak di dada besar Ivanna. Meremas kuat, atau sesekali memainkan putingnya, hingga Ivanna menggelinjang kenikmatan.

Dapat Areez rasakan, kewanitaan Ivanna sudah sangat basah dan licin. Areez menelentangkan tubuh Ivanna secara perlahan di atas kasur empuk dengan sprai putih miliknya.

Binir Areez yang semula menyecap  bibir Ivanna, kini perlahan mulai turun ke leher, payudara, perut, dan berakhir di depan lubang kewanitaan Ivanna.

Sangat kentara jika Ivanna masih perawan, dan belum pernah disentuh oleh siapa pun. Kewanitaan masih terlihat sangat segar dan cantik. Berwarna pink alami, dan lubangnya sangat sempit.

Areez meloloskan satu jarinya masuk ke dalam lubang sempit itu. Serta lidahnya, juga ia mainkan di belahan kewanitaan Ivanna.

Awalnya Ivanna meringis. Akan tetapi hanya sebentar. Setelahnya suara desahan kembali memenuhi ruangan.

"Mmm ... Oohh, ohh, yes, Honey, ahh, yeahh, fuck, ahh, aah, yesh ... "

Semakin gila desahan Ivanna. Semakin brutal pula aksi liar Areez. Ia tak bisa menahan untuk tidak melesakkan lidahnya ke dalam lubang kewanitaan Ivanna.

Benar-Benar sempit!

Ivanna semakin meracau tak jelas. Rasa geli dan nikmat, sama-sama ia rasakan, di waktu yang bersamaan."Ohh, fuck ... Engh, engh, ahh, aahh, yeah, oh my god, Akuh ing-in ke-luarh, Honey."

Kewanitaan Ivanna berkedut-kedut, pertanda sebentar lagi, ia akan mendapat pelepasannya.

Areez kembali memasukkan jari tengahnya pada lubang kenikmatan Ivanna, dan memaju mundurkannya dengan gerakan cepat.

Tak lama kemudian Ivanna mendapatkan pelepasan pertamanya. Cairan putih kental keluar dan mengalir dari dalam lubang kenikmatan tersebut.

Ivanna menggelinjang hebat seraya mendesah panjang. Sementara Areez sibuk menelan cairan orgasme Ivanna, seraya sesekali melumat kewanitaan itu.

Setelah Ivanna mendapat kenikmatannya. Kini saatnya, Areez juga menuntaskan hasratnya. Areez menatap kewanitaan Ivanna, dengan tatapan lapar, lalu mengecupnya sebentar.

"Kamu sudah siap merasakan kenikmatan yang sesungguhnya, Sayang?" tanya Areez, setelah nafas Ivanna kembali teratur.

Ivanna mengangguk. "Aku siap, cepat masuki Aku!"

"Dengan senang hati." Areez merangkak di atas tubuh Ivanna. Ia membuka lebar paha Ivanna, agar tak sulit melakukan penetrasi.

Kepala kejantanannya, Areez gesekkan secara perlahan di belahan kewanitaan Ivanna.

Hal seperti itu saja, sudah mampu membuat Ivanna mendesah dan menggelinjang.

Tak ingin berlama-lama karena sudah tak tahan. Areez akhirnya segera memasukkan kejantanannya pada lubang kenikmatan itu secara perlahan.

Ivanna seketika memekik kesakitan. "Aakh, sak-kit."

Areez yang melihat wajah kesakitan Ivanna, merasa tak tega. Ia menghentikan aksinya sebentar, dan menenangkan Ivanna.

"Tahan sebentar, Baby! Ini hanya sebentar. Setelah ini pasti nikmat."

Areez membelai lembut pipi Ivanna, dan melumat bibir mungil itu, agar Ivanna melupakan rasa sakitnya.

Tanpa melepaskan tautan bibirnya, Areez kembali mendorong kejantanannya untuk masuk ke dalam lubang kenikmatan Ivanna.

Ivanna ingin kembali memekik, namun Areez tak melepaskan bibirnya. Ivanna hanya bisa bergumam tak jelas, dengan air mata yang mengalir dari ke dua sudut matanya.

Sementara Areez, ia terus mendorong kejantanannya yang sudah masuk setengah.

Saking kesalnya, karena tak kunjung berhasil, Areez mengumpat, "Sial! Lubangmu sempit sekali, Baby. Kejantananku sangat sulit untuk masuk."

Tak ada cara lain, Areez menghentakkan dengan sangat kuat dan kasar.

Blesh

"AARHH, SAKIT!" teriak Ivanna sangat keras.

Sementara Areez mendesah, seraya memejamkan matanya. "Aaahh, akhirnyaa!" serunya, seraya tersenyum puas.

"Ternyata seperti ini rasanya bercinta. Tidak menyesal Aku melepas keperjakaanku untuk wanita seperti Ivanna. Sudah cantik, seksi, dan yang pasti tidak murahan seperti wanita-wanita lain di luar sana."

Yah, Areez memanglah pria yang masih perjaka. Dia bukanlah pria murahan yang gemar melakukan on night stand, seperti yang di gosipkan oleh para karyawannya.

Ia akui, dirinya memang sering pergi clubbing dan bercumbu dengan seorang wanita. Akan tetapi, ia memiliki batasan tententu, di setiap permainannya. Areez hanya akan berciuman bibir, dan meremas payudara mereka saja. Sementara untuk urusan mencelupkan burungnya, ia masih belum pernah. Masih baru pertama kalinya sekarang, bersama Ivanna.

Menurutnya, ia lebih baik bermain solo dari pada harus mencelupkan burungnya ke sembarang lubang. Terlebih jika lubang itu sudah bekas. Areez takut terkena penyakit menular yang mematikan. Ia tak mau masa mudanya sia-sia, hanya karena hal itu.

"Sudah tidak sakit lagi, Baby?" tanya Areez, ketika melihat Ivanna tak menangis atau merintih lagi. Sudah cukup lama juga ia membenamkan kejantanannya di dalam sana tanpa bergerak sedikit pun.

"Sedikit sakit, tapi tidak masalah. Ayo cepat gerakkan!" pinta Ivanna.

"Kamu yakin tidak masalah?" tanya Areez.

Ivanna menggeleng. "Cepat gerakkan, Honey. Aku sudah tidak sabar untuk merasakan keperkasaanmu."

"Baiklah-Baiklah. Akan Aku gerakkan sekarang."

Areez mulai memaju mundurkan kejantanannya secara perlahan.

"Aahh." Areez mendesah, sampai bola matanya terlihat memutih semua. Ia tak bisa mendeskripsikan perasaannya saat ini. Tapi yang pasti, hanya rasa nikmat yang bisa ia katakan.

Saat kejantanannya keluar masuk. Areez merasakan kejantanannya di sedot kuat oleh lubang kenikmatan Ivanna.

Tak hanya Areez. Ivanna pun juga merasakan kenikmatan yang tiada tara. Rasa sakit yang ia rasakan, seketika langsung terkalahkan oleh rasa nikmat yang diciptakan oleh Areez.

"Ahh, nikmat sekalih, Honey. Aahh, aah, Aku ingin Kamu melakukannya lebih cepat lagihh!" pinta Ivanna.

"Apapun untukmu, Baby." Areez mempercepat gerakan pinggulnya, hingga tubuh Ivanna terguncang, dan ke dua dadanya saling memantul.

"Eengh, oohh, ohh, yeeah, faster, Honey, faster, yah, di sanahh, aahh, aahh, yeah,fuck, fuck, yes, yes, yesh, ohh, yeeah."

"Oh damn! Ahh, ahh, yeahh, fuck. Kamu sangat nikmat, Babyhh, ahh, yeah, milikmu sempit sekalih, milikku terasa terjepithh, hah, hah, yeeah ... "

Deaahan demi desahan saling menyahut dari satu sama lain.

"Please, harder, Honey! Aahh, ahh, Aku ingin keluaarh, ahh, fasterh, oh, yeahh."

Ivanna kembali memohon, saat pelepasan yang ke dua kalinya, sudah hampir ia dapatkan kembali.

Plokplokplok

Seketika suara sentuhan antar kulit terdengar tanpa jeda, saat Areez memaju mundurkan kejantanannya dengan tempo yang sangat cepat.

"Aku juga akan keluar, Babyh, aahh."

Beberapa menit kemudian, Areez merasakan sesuatu ingin keluar dari dalam tubuhnya. Ia semakin brutal, dan baru berhenti bergerak saat cairan kental mulai keluar, menyemprot di dalam milik Ivanna.

"Mmm ... Oohh ... " Ke duanya sama-sama mengerang panjang, karena sama-sama mencapai puncak kenikmatannya.

"Hosh, Hosh, hosh, terimakasih, Honey!" ucap Aree dengan tulus, tanpa melepaskan penyatuannya.

Ia mencium kening dan bibir Ivanna, kemudian beralih pada perutnya.

"Semoga benihku segera tumbuh di dalam rahim, Ivanna!"

~see you next chapter!

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Beloved Sexy Secretary   05. Dua pilihan sulit

    "Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu

  • My Beloved Sexy Secretary   04. Puaskan aku! (++)

    "Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan

  • My Beloved Sexy Secretary   03. Dalangnya

    "Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te

  • My Beloved Sexy Secretary   02. Lembur

    "Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih?"Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna."Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut."Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah.Tak ada pilihan lain. Ivanna harus me

  • My Beloved Sexy Secretary   01. Rencana yang gagal

    "Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang."Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang lain saja? Padahal di sana juga ada Ale."Ivanna menggeruru kesal. Sebab pimpinnnya itu, memang sengaja menyulitkan dirinya, dengan selalu menambah pekerjaan, atau pun menyuruhnya bolak balik ke ruangannya, dan ke ruangan Ivanna sendirian.Kenapa Ivanna tidak melawan atau berprotes saja? Tentu saja jawabannya takut. Akan tetapi Ivanna bukan takut pada bos-nya. Melainkan, ia takut jika sampai dirinya dipecat dari perusahaan. Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup jika seandainya ia di pecat dari sana? Sementara ia adalah wanita yang hidup sebatang kara, yang harus berjuang sendiri untuk kehidupan dan masa depannya.Mungkin saja ia bisa bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia tak yakin memil

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status