LOGIN"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.
Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih? "Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna. "Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut. "Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah. Tak ada pilihan lain. Ivanna harus mengiyakannya, sebelum ada orang lain yang datang ke ruangannya, dan melihat hal tersebut. "Iya-Iya Saya maafin, tapi Tuan berdiri dulu!" Ivanna membantu Areez untuk berdiri. Mata Areez berbinar. "Kamu serius mau maafin Saya?" tanyanya pada Ivanna. Ivanna mengangguk. "Iya. Lagian Tuan kenapa, sih, pake minta maaf segala sama Saya? Emang gak gengsi minta maaf sama karyawan?" tanya Ivanna terus terang. "Hanya sama Kamu saja. Kalau sama yang lain jangan harap," balas Areez terus terang. Ivanna menggidikkan bahunya. "Aneh," gumamnya seraya duduk kembali di kursi kerjanya. "Ini untuk Kamu!" Areez menyerahkan buket bunga yang belum juga di terima oleh Ivanna itu. Ivanna mengerutkan keningnya. "Untuk Saya. Atas dasar apa?" "Sebagai tanda permintaan maaf Saya pada Kamu." Areez meraih tangan Ivanna, dan meletakkan bunga itu di sana. "Sampe segitunya dia?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memicingkan matanya, menatap Areez penuh curiga. Berjaga-jaga, karena takut Areez memiliki niat terselubung padanya. Areez yang menyadari tatapan Ivanna, sontak saja bertanya. "Ada apa? Kamu tidak suka dengan bunganya?" Ivanna menggeleng cepat. "Tidak. Saya suka. Terimakasih!" ucapnya, meskipun sedikit terpaksa. "Ngapain Anda masih di sini?" tanya Ivanna, ketika melihat Areez duduk di kursi depan mejanya. "Kenapa? Memangnya tidak boleh? Saya Bos Kamu kalau Kamu lupa." Dengan santainya Areez meminum kopi milik Ivanna. "Kenapa diminum? Itu bekas Saya." Ivanna meringis, sebab Areez meminum langsung di bekas bibirnya. "Bekas bibirmu manis, Saya suka," celetuk Areez, seraya menjilat bibirnya sensual. Padahal kekesalan Ivanna belum sepenuhnya hilang. Tapi sekarang, Areez malah menciptakan kekesalan baru baginya. "Jika kedatangan Anda ke sini hanya untuk menggoda Saya. Maka sebaiknya, sekarang juga Anda pergi! Jangan harap Saya akan tergoda! Saya tidak akan tergoda dengan Anda. Silahkan pergi dan cari wanita lain, yang memang sama-sama membutuhkan!" Dengan keadaan sadar Ivanna mengusir Areez, yang notabene-nya adalah atasannya sendiri. "Astaga, Ivannaa ... Kenapa Kamu selalu memiliki pikiran buruk tentang Saya?" Areez mengacak rambutkan frustasi. "Saya ke sini, murni karena ingin meminta maaf sama Kamu." "Bulshit!" timpal Ivanna dengan cepat. "Susah memang bicara sama Kamu." Areez menghela nafas kasar. "Ya udah, gak usah bicara aja kalau gitu," sahut Ivanna. "Kembali saja ke ruangan Anda sendiri. Jangan mengganggu Saya bekerja!" Lagi-Lagi Ivanna mengusir. Jika karyawan lain, mungkin tak akan berani seperti Ivanna. "Sudah berapa kali Kamu mengusir Saya?" tanya Areez. "Pikir aja sendiri!" suruh Ivanna, dengan entengnya. Areez diam tak mau berdebat dengan Ivanna lagi. Peecuma saja ia berdebat. Karena pada akhirnya ia kalah. Entah kenapa, pada Ivanna, Areez memang selalu banyak mengalah. Tidak seperti pada lainnya, yang biasnya Areez tak mau mengalah apalagi kalah. Areez hanya diam. Menatap wajah cantik dan imut Ivanna, yang tak pernah membosankan untuk di pandang. Sepertinya Areez sudah mulai candu menatap wajah cantik bak boneka hidup itu. "Jangan terus menatap Saya! Saya risih," ujar Ivanna terus terang, saat menyadari Areez menatapnya dari tadi. "Bekerja saja, jangan pedulikan Saya!" sahut Areez. Ivanna berdecak kesal. "Ck, mana bisa? Tatapanmu sangat menganggu, Tuan Areez." Areez berdiri mengambil berkas yang ada di tangan Ivanna, lalu menutupnya. "Berhenti mengerjakan tumpukan berkas ini, lanjutkan besok saja! Toh, Sebentar lagi jam pulang sudah tiba." Areez melihat arlojinya yang sudah menunjukkan pukul 16.26. Empat menit lagi jam pulang tiba. Biasanya Ivanna sudah berkemas untuk pulang, tapi kenapa sekarang tidak? "Harapan Saya pulang tepat waktu, pupus gara-gara Anda, Tuan. Malam ini Saya harus lembur, karena Anda tidak membiarkan Saya bekerja dengan tenang dari pagi." Perkataan Ivanna sangat ketus. Sangat kentara bahwasannya wanita itu sangat kesal. Areez menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia tak tahu hatus berkata apa lagi, karena memang dirinya yang salah. "Ya sudah, ayo Saya bantu kerjakan!" Ivanna langsung menolaknya. "Tidak usah! Saya bisa kerjakan semuanya sendiri. Sebaiknya Anda kerjakan saja pekerjaan Anda sendiri, jangan ganggu Saya lagi!" "Pekerjaan Saya sudah selesai. Kamu tidak lupa, bukan, dengan keberadaan Ale di samping Saya? Jadi kalau Kamu ingin cepat selesai, biarkan Saya membantu pekerjaanmu!" Areez memaksa untuk membantu Ivanna. Namun Ivanna juga tetap keukeuh menolaknya. Ivanna menatap Areez dengan serius. "Tolong tinggalkan Saya sendiri! Saya tidak akan fokus jika Anda tetap di sini." Ucapannya penuh penekanan. Sangat berharap jika Areez dapat memenuhi permintaannya. Entah marah atau bagaimana, karena Ivanna terus mengusirnya. Akhirnya Areez benar-benar keluarkeluar dari sana, tanpa mengucapkan sepatah kata. Ivanna menjadi bingung sekarang. "Dia marah, kah? Kalo dipikir-pikir, kenapa jadi Aku yang lebih galak, ya? Padahal, 'kan harusnya dia. 'Kan dia bosnya." (◍•ᴗ•◍) Di Negeri Paylosville malam ini tengah dilanda hujan deras, lengkap dengan petir dan anginnya. Waktu masih menunjukkan pukul 19.02. Tapi suasana di luar, menunjukkan Seperti suasana malam telah sangat larut, di sebabkan oleh langit yang begitu gelap, dan juga keadaan sekitar yang lengang. "Ale, lihatlah, sepertinya Ivanna sedang kelaparan!" Areez menunjukkan layar ponsel, yang kini tengah memutar rekaman seorang Ivanna. Tanpa sepengetahuan wanita cantik itu. Areez memang telah meletakkan kamera tersembunyi di dalam ruang kerja Ivanna, untuk memantau pergerakan wanita itu. "Lalu apa yang harus kita lakukan, Tuan?" tanya Ale. "Ya memberinya makanan, lah. Memangnya apa lagi?" tanya Areez sewot. Ale mendengus. "Maksud Saya, bagaimana caranya kita keluar membeli makanan, sedangkan di luar, cuacanya sangat tidak memungkinkan," jelasnya. "Kamu seperti manusia yang hidup di zaman purba saja. Sekarang ini zaman sudah canggih. Semuanya bisa di atasi melalui ponsel. Cepat pesan makanan pakai ponselmu!" perintah Areez. "Masalahnya, kasian sama kurirnya, Tuan," sahut Ale lagi. Areez memutar bola matanya malas, ketika Ale terus saja mempermasalahkan hal-hal kecil, sekaan tak dapat di tangani. "Astaga, Ale. Masalah itu bisa di selesaikan dengan uang. Cepat pesan! Saya akan membayarnya tiga kali lipat dari harga biasanya." "Serius, Tuan?" Bukannya langsung memesan, Ale malah masih bertanya kembali. Seakan-akan Areez tak serius saat bicara. "Lama-Lama Saya lempar Kamu, ya, Ale! menyebalkan sekali!" Areez benar-benar kesal pada asistennya ini. Ale hanya terkekeh. Pria itu memang suka sekali membuat kesal atasannya. Hal itu disebabkan, karena Ale memang sudah lama bekerja dengan sang atasan. Semakin lama, hubungan ke duanya, menjadi semakin dekat, dan terlihat seperti saudara. Tak heran jika Ale sudah tak memiliki rasa canggung sama sekali, bahkan terkadang sering bercanda dengan Areez. Akan tetapi meskipun begitu, Ale tak pernah lupa, jika Areez adalah atasannya. Ia tetap memiliki batasan dalam bersikap. Ia tak pernah lupa untuk menghormati Areez, dan melakukan pekerjaan, yang sudah menjadi tugasnya. "Mau pesan berapa, Tuan?" tanya Ale. "Pesan saja secukupnya. Untukmu dan Saya juga!" "Saya tidak cukup kalau hanya satu, Tuan," ujar Ale, mencebikkan bibirnya. "Astaga, ada apa denganmu Ale? Tidak usah sok imut seperti itu, Saya tidak akan tertarik karena Kamu bukan Ivanna." Areez bergidik jijik, tatkala melihat ekspresi wajah Ale. "Jadi pesan berapa, Tuan?" Ale bertanya kembali. Areez berdiri dan mengacak-acak rambutnya dengan kesal. "Sudah Saya bilang secukupnya, apa Kamu tidak dengar? Demi Tuhan, Saya lempar Kamu lama-lama, ya Al!" "Oh iya, lupa." Ale kembali terkekeh. Sudah puasa membuat kesal Areez. Kini Ale pun benar-benar memesan makanan. Setelah dirasa-rasa, ternyata perutnya juga sudah mulai terasa lapar. "Oh iya, jangan lupa makanan untuk Ivanna, langsung kirimkan atas nama Ivanna saja, Al! Ivanna tidak akan mau menerima makanannya, jika tau Saya yang memesannya." Areez sudah tahu kebiasaan Ivanna. Ia tidak akan menerima pemberian darinya, tanpa alasan yang jelas. Yang ada, Ivanna malah akan mengiranya memiliki maksud tertentu. Ale mengangguk. "Siap, Tuan!" ••• Drrtt ... Drtt ... Ivanna melirik ponselnya, yang berdering di atas meja. Ternyata nomor tak dikenal. Akan tetapi Ivanna tetap mengangkatnya, karena takut ada hal penting yang ingin di bicarakan. "Hallo, selamat malam! Apa benar ini dengan Ibu Ivanna Ayudia?" tanya sang penelfon di seberang sana. "Iya, benar. Ada apa, ya?" tanya Ivanna penasaran. "Ini ada pesanan makanan untuk Anda. Silahkan di ambil, Bu! Saya ada di loby Lorenz Company." Ivanna mengerutkan keningnya. "Pesanan makanan? Untuk Saya? Siapa yang memesan? Saya tidak merasa memasannya." "Tapi ini atas nama Anda, Bu. Tagihannya juga sudah selesai di bayar," ujar sang kurir di seberang sana. Ivanna semakin bingung, karena ia tak merasa memesan makanan sama sekali. Akan tetapi, meskipun begitu ia tetap akan turun ke bawah untuk menjemput makanannya, karena merasa kasihan jika sang kurir harus menunggu lama. "Saya turun sekarang." "Baik, Bu." Ivanna langsung mematikan panggilan secara sepihak, dan mulai melangkah keluar dari ruangannya. Sementara di dalam ruangan yang berbeda, Ale juga mendapatkan pesan, jika pesanannya sudah sampai, dan kini tengah berada di bawah. "Tuan, makanannya sudah sampai. Sekarang kurirnya ada di bawah." Bukannya langsung menjemputnya, Ale malah melapor terlebih dahulu pada Areez. "Tunggu apalagi? Cepat ambil! Ivanna juga sudah keluar dari ruangannya. Mungkin saja dia juga akan mengambil makanannya." Areez mendesak Ale, agara segera pergi mengambil makanannya. "Baiklah-Baiklah." Ale pun langsung bangkit dari sofa, dan keluar dari ruangan Areez. Benar saja. Di depan lift Ale bertemu dengan Ivanna, yang tengah menunggu pintu lift terbuka. Sekalian Ale menghampirinya, dan bergabung dengannya, karena tujuan mereka sama. "Eh, Ivanna. Belum pulang?" Ale menyapa, dan berpura-pura bertanya. Ivanna tak langsung menjawab. Ia lebih dulu masuk ke dalam lift, kemudian menoleh pada Ale, yang kini telah masuk ke dalam lift juga. "Belum, Pak. Pak Ale kenapa belum pulang juga?" Ivanna bertanya balik. "Belum. Saya menemani Tuan Areez yang sedang lembur," jawab Ale. Ivanna mengerutkan keningnya. "Loh, bukannya tadi Tuan Areez bilang, kalau pekerjaannya sudah selesai semua?" Ia masih ingat betul dengan perkataan Areez sore tadi. Tidak mungkin bukan, jika dia salah mendengar. "Ada kerjaan tambahan, jadi Tuan Areez harus lembur." Sebisa mungkin Ale bersikap tenang dan santai, agar tidak ketahuan, bahwa dirinya tengah berbohong. Ivanna hanya menganggukkan kepala, dan membulatkan bibirnya saja membentuk huruf O. "Oh iya, Kamu mau ke mana?" tanya Ale pura-pura tak tahu. "Ini, Saya mau ke loby, ambil pesanan. Kalo Pak Ale sendiri, mau ke man?" Ivanna balik bertanya. "Kebetulan tujuan kita sama. Kok bisa, ya, tiba-tiba kebetulan gini? Saya juga mau ke loby buat ambil pesanan," ujar Ale, lagi-lagi berpura-pura. Namun kali ini ia berpura-pura heran. Memang sungguh pintar berakting asisten Areez ini. Ivanna hanya terkekeh canggung, karena tak tahu harus menjawab apa lagi. Alhasil, selama di dalam lift, ia dan juga Ale saling diam. Tak ada yang membuka suara satu sama lain. Setibanya di loby, Ivanna langsung saja menghampiri seorang kurir yang tengah duduk kedinginan di sofa. Ivanna merasa kasihan, sebab kurir tersebut sampai mengigil, hingga gigi-giginya sampai berbunyi. "Bu Ivanna, ya?" tanya kurir tersebut, seraya berdiri saat tak sengaja melihat Ivanna menghampirinya. Ivanna mengangguk. "Iya, benar." "Ini pesanannya, Bu!" Kurir tersebut menyerahkan dua paperbag berukuran sedang pada Ivanna. "Kok dua?" tanya Ivanna. Kurir itu mengangkat bahunya, tanda tak tahu. "Saya tidak tau, Bu. Saya hanya bertugas untuk mengantarkannya saja, dan di situ sudah ada namanya!" Ia menunjuk nama yang tertulis di bagian depan paperbag itu. "Ini tidak usah bayar?" tanya Ivanna kembali memastikan. "Tidak usah." "Ya sudah, kalau gitu terimakasih!" ucap Ivanna, seraya sedikit mengangguk. "Sama-Sama," balas kurir tersebut. "Pak Ale, Saya duluan, ya!" pamit Ivanna, pada Ale yang masih belum mengambil pesanannya. Ale mengangguk. "Iya." Ivanna melanjutkan langkahnya sementara Ale mengambil pesanannya. Tak perlu interogasi seperti Ivanna dulu, Ale langsung mengambil empat paperbag yang di serahkan kurir, lalu mengucapkan terimakasih, kemudian langsung pergi. Di depan lift, ia tak sengaja melihat Ivanna tengah mengobrol dengan seorang pria, yang juga merupakan salah satu karyawan di sana. Ale menghentika langkahnya, dan memantau gerak-gerik mereka. Dilihat dari pergerakannya, sepertinya saat ini Ivanna tengah merasa tak nyaman, sebab pria itu terus memandangi tubuhnya dari atas sampai bawah dengan tatapan memuja. Saat berbicara pun, pria itu terus mendekat, dan Ivanna semakin mundur. Ale yang menyadari semuanya, langsung saja melanjutkan langkahnya, mendekati Ivanna. "Kenapa masih di sini, Ivanna?" tanya Ale basa-basi. "Eh, ini Saya sudah mau ke atas, Pak," jawab Ivanna, merasa terselamatkan dengan kehadiran Ale. "Ayo bareng aja sama Saya!" ajak Ale, langsung menarik Ivanna, menjauh dari pria, bernama dada Rico itu. Demi apapun Ivanna sangat berterimakasih pada Ale, yang sudah membebaskannya dari Rico, meskipun tanpa di sengaja. Tak perlu menunggu lama, pintu lift terbuka dan ke duanya pun masuk ke sana. Setelah pintu lift kembali tertutup. Ale langsung melontarkan pertanyaan pada Ivanna. "Saya lihat sepertinya Rico tertarik padamu. Apa itu benar, Ivanna?" Ale sedikit melirik Ivanna. Ivanna menggidikkan bahunya. "Saya juga tidak tahu. Tapi jujur Saya risih pada orang yang menatap Saya seperti itu," ungkapnya. Ale mengerutkan keningnya, pura-pura tak mengerti. "Seperti itu, bagaimana?" "Tatapan menelanjangi," jawab Ivanna terus terang. "Oh." Ale tak berbicara lagi. Ia lebih memilih untuk menatap lain arah, asalkan tidak menatap Ivanna. Siapa sih, yang tidak tertarik ketika sudah melihat kemolekan tubuh Ivanna? Ale pun bahkan sering kali meneguk ludah sendiri, saat tak sengaja melihat tubuh Ivanna, yang sejatinya memang idaman para pria. "Pak Ale, Saya ke ruangan dulu, ya! Terimakasih sudah membantu Saya tadi!" ucap Ivanna dengan tulus, lalu masuk ke dalam ruangannya, setelah Ale menjawabnya dengan anggukan kepala. Ale langsung masuk ke dalam ruangan CEO, dan meletakkan empat paperbag itu di sofa. Ia celingukan, tak melihat keberadaan bos-nya di sana. "Di mana si Bossy itu?" gumam Ale bertanya-tanya. Tak lama kemudian, keluarlah orang yang di carinya dari kamar pribadinya CEO. "Kapan Kamu kembali?" tanya Areez, seraya mengusap rambutnya yang basah, dengan handuk putih kecil yang di pegangnya. Ternyata pria itu, baru saja selesai mandi. "Baru saja, Tuan." "Ivanna juga sudah kembali?" tanya Areez lagi. Ale mengangguk. "Ivanna bersama Saya, tadi." "Kamu tidak macam-macam, 'kan?" Mata Areez memicing curiga. "Satu macam saja, Tuan," ujar Ale, sengaja memancing kekesalan Areez. "Alessio!" Areez menatap Ale dengan tatapan tajam, dan geram. Ale terkekeh. "Bercanda, astaga. Lagi pula siapa juga yang berani macam-macam padanya? Ivanna lebih galak dari yang Saya fikirkan ternyata." "Baru tau Kamu." Dengan sembarangan, Areez melemparkan handuk kecilnya pada Ale. Sementara dirinya kembali duduk di kursi kebesarannya, seraya melihat rekaman ruangan Ivanna kembali. Ternyata benar, Ivanna sudah kembali, dan saat ini sedang makan dengan lahap. "Saat makan saja, Kamu terlihat sangat seksi, Sayang," puji Areez, menggigit bibir bawahnya sensual. Ale yang melihatnya, bergidik ngeri. "Ingat, Tuan, itu hanya rekaman!" peringatnya, takut Areez lupa. "Saya juga tau, Ale," sahut Areez. "Eh, sebentar-sebentar, ini siapa, Al?" tanya Areez, seraya menunjuk rekaman di layar ponselnya. Ale yang penasaran pun melihatnya. "Ada apa, Tuan?" tanyanya. Areez menunjuk seorang pria, yang datang ke ruangan Ivanna, dengan membawa nampan berisi minuman. Akan tetapi, ekspresi Ivanna seperti seseorang yang sedang kebingungan, sampai orang itu keluar dari sana. "Kelihatannya seperti OB, Tuan," ujar Ale. "Saya tau. Tapi kenapa ekspresi Ivanna seperti orang kebingungan gitu?" "Mana Saya tau." Ale menggidikkan bahunya. "Tuan tidak mau makan?" tanyanya, kembali pada sofa. Areez menggeleng. "Tidak. Saya udah kenyang liat Ivanna." Ale memutar bola matanya malas. Sepertinya bos-nya ini susah benar-benar gila gara-gara Ivanna. Ia tak mau ambil pusing. Ia lebih memilih untuk memakan makanannya, karena cacing di perutnya sudah mulai mendemo. "Astaga, apa yang terjadi dengan Ivanna?" Areez yang spontan berdiri, mampu menyita perhatian Ale, yang tengah membuka makanan ke duanya. "Ada apa, Tuan?" tanya Ale, ikut panik. "Sepertinya orang tadi mencampurkan sesuatu pada minuman yang di berikan pada Ivanna, Al." Areez yang semula tak memakai baju atasan, kini terburu-buru memasang kemejanya. "Memangnya kenapa? Apa yang terjadi?" tanya Ale lagi. "Kamu lihat saja sendiri. Saya akan pergi ke ruangan Ivanna sebelum terlambat." Areez melangkah lebar, keluar dari ruangannya. Ia terburu-buru memasuki ruangan Ivanna yang kebetulan berada di depan ruangannya. Brakk Pintu terbuka lebar. Areez melihat Ivanna sudah tepar seperti cacing kepanasan di lantai. "Ivanna, apa yang terjadi denganmu?" "T-Tuan Ar-reez, tolong Saya!" ~see you next chapter!"Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu
"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan
"Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te
"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih?"Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna."Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut."Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah.Tak ada pilihan lain. Ivanna harus me
"Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang."Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang lain saja? Padahal di sana juga ada Ale."Ivanna menggeruru kesal. Sebab pimpinnnya itu, memang sengaja menyulitkan dirinya, dengan selalu menambah pekerjaan, atau pun menyuruhnya bolak balik ke ruangannya, dan ke ruangan Ivanna sendirian.Kenapa Ivanna tidak melawan atau berprotes saja? Tentu saja jawabannya takut. Akan tetapi Ivanna bukan takut pada bos-nya. Melainkan, ia takut jika sampai dirinya dipecat dari perusahaan. Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup jika seandainya ia di pecat dari sana? Sementara ia adalah wanita yang hidup sebatang kara, yang harus berjuang sendiri untuk kehidupan dan masa depannya.Mungkin saja ia bisa bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia tak yakin memil







