LOGIN"Arrghh."
Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem. "Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya. Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi. "Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?" Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang. Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namun setelahnya ia tak mengingat apa-apa lagi. Ivanna tiba-tiba membulatkan matanya sempurna. "Astaga! Gawat, pekerjaanku masih belum selesai." Wanita itu hendak bangun, namun ia merasa ada sesuatu yang sedang menimpa perutnya. "Apa ini? Kenapa berat sekali?" Ivana meraba-raba tonjolan di perutnya, namun tertutup selimut. Ivanna menoleh kanan dan kiri, tidak ada ssiapa-siapa. Ia menyibak selimut tebal berwarna putih yang menutupi tubuhnya. Matanya membulat sempurna, serta mulutnya refleks terbuka, berteriak sangat kencang. "AAA ... " Suaranya begitu nyaring dan menggelegar di seluruh penjuru ruangan. Bagaimana tidak. Saat ini Ivanna tengah menatapi tubuhnya yang polos, tanpa busana. Selain itu, ah, siapa pria yang kini sedang di sampingnya? Masih dalam keadaan tidur nyenyak, meskipun tadi Ivanna sudah sempat berteriak. Dengan nyamannya pria itu memeluk tubuh polos Ivanna, bahkan wajahnya menempel di bawah ketiak Ivanna. Tepatnya menempel pada payudara Ivanna yang besar. Jangan lupakan juga, tubuhnya yang sama-sama polos dengan Ivanna. Dengan kasar Ivanna menyingkirkan tangan kekar itu dari perutnya, dan juga mendorong tubuh pria yang kini masih tetap terlelap itu. Ivanna kembali menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang polos. Tatapannya mengedar mencari-cari di mana bajunya berada. Miris sekali! Bajunya sudah terlihat tergeletak mengenaskan di lantai. "Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Siapa pria ini?" gumam Ivanna, seraya menatap kembali pria yang kini sedang tengkurap di sampingnya. Tak mau penasaran sendiri, dengan susah payah Ivanna mendorong tubuh pria itu, untuk dapat melihat wajahnya. Hap! Ivanna menutup mulutnya yang refleks menganga. "T-Tu-Tuan A-reez!" sebutnya terbata. Ia tidak menyangka jika pria di sampingnya adalah Areez. Pria yang merupakan atasannya sendiri. Ivanna mengguncang tubuh Areez dengan kasar. "Bangun, Areez! Apa yang Kamu lakukan padaku?" teriaknya dengan amarah yang membuncah. Saking emosinya, Ivanna bahkan sudah tak memanggil Areez dengan sebutan 'Tuan' lagi. Areez menggeliat pelan, seraya mengucek matanya yang terasa berat. "Eeugh." Perlahan Areez membuka matanya. Samar-Samar ia melihat wanita yang baru semalam ia tiduri. Areez yang tak tahu Ivanna sedang marah, hanya melayangkan senyumnya. "Kamu sudah bangun, Sayang?" tanya Areez dengan santainya. Sementara Ivanna sudah menatapnya tajam, dengan dada yang bergemuruh, bergerak cepat naik turun. "Bangun!" Ivanna menarik kasar lengan Areez. "Jangan kasar-kasar, Sayang! Kamu ini seorang wanita." Areez bangkit, dan duduk di hadapan Ivanna. Ivanna tak sengaja melirik kejantanan Areez, yang sialnya sedang berdiri tegak. "Dasar pria tak tau malu!" makinya, seraya mslempar bantal untuk menutupi kejantanan Areez. Bukannya kaget, Areez malah terkekeh. "Kenapa, Sayang? Kamu melihatnya? Gagah bukan?" Areez menaik turunkan alisnya menggoda. "Benar-Benar tak tahu malu! Menjijikkan!" Makian Ivanna semakin menjadi-jadi. Namun hal itu tak membuat Areez marah. Ia malah menyunggingkan senyumnya dan mendekati Ivanna. "Apa katamu tadi? Menjijikkan? Bahkan semalam Kamu terus mendesah kenikmatan karnanya." "Berhenti, jangan mendekat!" cegah Ivanna, saat Areez terus saja mendekatinya. "Kenapa, Sayang? Semalam saja Kamu terus menarik tubuhku." Areez tersenyum smirk. Ivanna terdiam. Ia berfikir, apakah benar dirinya melakukan hal, seperti apa yang Areez katakan? Astaga! Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar Areez sudah merenggut mahkotanya? Kepala Ivanna yang pusing, semakin bertambah pusing memikirkan itu semua. Jalan satu-satunya untuk mendapatkan jawaban, adalah bertanya pada Areez. Karena hanya dia lah, satu-satunya orang yang bisa menjawab pertanyaan Ivanna. Yah, Ivanna akan menanyakannya sekarang juga. "Tuan Areez, tolong jawab pertanyaan Saya dengan jujur!" pinta Ivanna, kembali berbicara formal seperti biasanya. Areez mengangguk tanpa ragu. "Silahkan tanyakan, apa yang ingin Kamu tanyakan!" "Apa yang terjadi pada kita semalam?" tanya Ivanna, langsung pada intinya. "Kita, ya?" tanya Areez, mengulang perkataan Ivanna, seraya menaikkan sebelah alis, dan menahan senyumnya. "Saya dan Anda maksudnya," koreksi Ivanna. "Tidak masalah, IIvanna. Sebentar lagi Saya dan Kamu akan segera menjadi kita," balas Areez. "Jangan bicara omong kosong, Tuan. Cepat katakan, apa saja yang sudah terjadi semalam!" Ivanna memang tidak pernah ada takut-takutnya sama sekali pada Areez. Kecuali jika menyangkut masalah pekerjaan. Ivanna memang takut dan tak berani menolak perintah Areez masalah itu. Bukan takut pada Areez. Tapi lebih takut jika dirinya kehilangan pekerjaannya. "Kamu sungguh ingin tau, apa yang terjadi semalam?" tanya Areez. "Kalau Saya tidak ingin tau, untuk apa Saya bertanya, Tuan?" Ivanna membalasnya dengan sewot. Ia begitu kesal pada atasannya ini. Areez tersenyum miring. "Baiklah-Baiklah. Akan Saya jawab sekarang juga ... Yang terjadi semalam adalah, pergulatan panas penuh kenikmatan, yang tidak pernah Saya bayangkan sebelumnya. Nyatanya, Dewi keberuntungan memang sedang berpihak padaku, Ivanna. Buktinya, meskipun Kamu sudah berusaha sebisa mungkin menghindariku. Takdir tetap tak bisa dirubah. Semalam Kamu sendiri yang memohon, agar Aku memua-" "Cukup! Jangan katakan apapun lagi! Saya tidak ingin mendengarnya!" Ivanna menutup telinganya. Ivanna tak menangis, tapi ia tak berbicara sama sekali. Pikirannya berkecamuk. Rasanya ia belum percaya sepenuhnya, bahwasannya mahkotanya sudah benar-benar terenggut, tanpa ia sadari. Menangis pun rasanya sudah percuma. Mahkotanya tetap tidak akan pernah kembali lagi. Terlebih Ivanna tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain, siapa pun itu. "Ivanna, are you okay?" tanya Areez menyentuh bahu Ivanna. "Saya gak papa kok, Saya baik-baik aja," jawab Ivanna. Ia turun dari ranjang, untuk pergi ke kamar mandi. "Aakh." Ivanna merintih kesakitan, saat kakinya bergerak untuk melangkah. Areez yang panik pun, langsung saja meloncat, dan mendekati Ivanna. Ia tak peduli terhadap kejantanannya yang bergelantung bebas. "Ada apa, Ivanna?" tanya Areez. Ivanna menggeleng. "Tidak, Saya tidak papa. Tolong lepaskas Saya!" Ivanna menyingkirkan tangan Areez dari tubuhnya. "Kamu kesakitan, Ivanna." Areez tetap bersikeras untuk membantu memegang lengan Ivanna. "Saya baik-baik, saja. Tolong singkirkan tangan Anda dari tubuh Saya!" Lagi-Lagi Ivanna menyingkirkan tangan Areez. "Baiklah." Akhirnya Areez pasrah, dan menjauh dari Ivanna. Sementara Ivanna, langsung saja pergi ke kamar mandi dengan langkah tertatih-tatih. Bibirnya terus saja meringis, sebab selangkangannya terasa sangat perih. "Dalam kondisi apapun, Ivanna tetap saja keras kepala." Areez mendengus kasar. Pria itu berdiri, mengambil ponselnya di atas nakas, lalu menghubungi Alessio. "Belikan pakaian untuk Ivanna! Ukurannya sudah Saya tulis di pesan." Tanpa salam, tanpa sapaan, dan tanpa basa basi apapun. Setelah menyampaikan maksudnya, Areez langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak, tanpa menunggu jawaban dari sang lawan bicara. (◍•ᴗ•◍) "Tuan Areez benar-benar keterlaluan. Yang benar saja Saya disuruh membeli pakaian wanita, termasuk bra dan celana dalam. Mau ditaruh di mana muka Saya nanti?" Sepanjang perjalanan menuju mall, Ale tak berhentinya mengoceh. Ia masih sangat kesal pada atasannya, yang malah memberikan perintah di luar dugaan. Andai saja ia memiliki kekuatan untuk menghilang. Maka ia akan menghilang saat ini juga. Sayangnya ia hanya manusia biasa, yang tak memiliki apa-apa, bahkan cinta pun tak punya. "Huft ... Ini bagaimana caranya Aku mengatakan maksudku datang ke mari?" Ale mendesah frustasi, lalu turun dari mobilnya. "Tuan Areez benar-benar keterlaluan. Yang enak-enak dirinya, yang susah dan kerepotan malah Saya." Pria itu terus saja menggerutu kesal. Ale mulai masuk ke dalam mall, dan pergi ke tempat pakaian wanita. Seorang wanita berpakaian rapi sebagai pelayan menghampirinya. "Selamat datang, Tuan! Ada yang bisa kami bantu?" tanyanya, setelah menyapa dengan ramah. "Ada," jawab Ale cepat. "Tolong carikan pakaian lengkap paling bagus dan mahal untuk wanita yang ada di foto ini!" perintah Ale, seraya menunjuk foto Ivanna. "Dan semua ukurannya ada di sini!" lanjut Ale memperlihatkan ukuran yang dikirim oleh Areez. "Baik, Tuan. Silahkan duduk dulu seraya menunggu! Saya akan mencarikan terlebih dahulu semua pesanan Anda," ujar wanita tersebut. Ale mengangguk lalu menghela nafas lega. Setidaknya ia tak perlu pusing sendiri mencari benda-benda yang terdengar asing baginya. Tak perlu menunggu lama. Wanita itu kembali menghampirinya. Membawa beberapa potong pakaian wanita, dengan model dan warna yang berbeda-beda. "Ini adalah koleksi terbaru yang ada di toko kami, Tuan. Silahkan Anda pilih warna dan model yang menurut Anda cocok!" titahnya. Ale menelisik semua baju-baju wanita yang pelayan itu tunjukkan padanya. Seketika rasa binguny kembali menguasainya. Menurutnya, semuanya bagus dan cocok untuk Ivanna. "Masih pagi-pagi sekali, tapi Tuan Areez sudah membuatku pusing seperti ini." Ale memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. "Jadi mau pilih yang mana, Tuan?" Pelayan wanita itu kembali bertanya untuk memastikan. "Kemas saja semuanya!" Ale tak mau ambil pusing lagi. Ia memutuskan untuk mengambil semuanya, agar tidak ada istilah salah memilih warna dan model lagi. Toh, uang Areez tidak akan sampai terkuras habis hanya karena Ale memborong pakaian untuk Ivanna. "Kalau bra dan cd-nya, mau yang warna apa dan model bagaimana, Tuan?" tanya pelayan itu kembali. "Kemas saja semua model dan warna! Saya akan membeli semuanya," ucap Ale, membuat pelayan itu menganga tak percaya. "Oh ya, satu lagi." Perkataan Ale, menghentikan seorang pelayan, yang hendak memutar tubuhnya. "Jangan lama-lama! Saya sedang banyak urusan hari ini." Ale menyerahkan salah satu kartu kredit milik Areez, yang memang dipegang olehnya. Kartu kredit itu selalu Ale gunakan, saat akan membeli sesuatu yang diperintahkan oleh Areez sendiri. Wanita itu mengangguk, seraya tersenyum ramah. "Baik, Tuan." Ia menerima kartu kredit yang di serahkan Ale. Beberapa menit kemudian, dua pelayan datang menghampiri Ale, dengan membawa beberapa buah paperbag. "Tuan pesanan Anda sudah siap," ujar pelayan yang sedari tadi meyalani Ale. Wanita itu juga mengembalikan kartu kredit, dan juga struk dari semua barang belanjaan Ale. "Tolong masukkan ke dalam mobil Saya!" pinta Ale. Ale lebih dulu berjalan keluar menuju parkiran. Lalu di belakangnya, diikuti oleh dua pelayan wanita tersebut. "Letakkan di sini saja!" perintah Ale, membuka pintu belakang mobilnya. "Terimakasih!" lanjutnya berucap, setelah mereka meletakkan semua barang belanjaannya di sana. "Terimakasih kembali, Tuan!" ucap ke duanya, seraya membungkuk hormat. (◍•ᴗ•◍) "Kalau bukan Anda, siapa lagi orang yang menjebak Saya? Selama ini hanya Anda satu-satunya orang yang berterus terang menatap tubuh Saya, dengan tatapan kurang ajar." Percekcokan masih belum usai semenjak setengah jam yang lalu. Ivanna terus saja menuduh Areez, yang melakukan hal licik untuk menjebaknya. Begitu pula Areez yang terus saja membantah tuduhan Ivanna, sebab ia memang tidak melakukan apapun, seperti yang Ivanna katakan. "Berapa kali Saya harus katakan padamu Ivanna? Saya tidak pernah ada niatan untuk menjebakmu!" tekan Areez, yang lama-lama juga merasa emosi, karena selalu saja di tuduh. "Lalu ini apa? Jika memang bukan Anda yang menjebak Saya, lantas kenapa bisa Anda yang meniduri Saya semalam?" tanya Ivanna, dengan tatapan intimidasinya. "Sudah Saya katakan, Saya hanya menolongmu, Ivanna." Areez mengacak rambutnya frustasi, karena Ivanna tak kunjung mengerti. "Menolong lalu merenggut kesucian Saya? Iya?" Suara Ivanna semakin meninggi. Amarahnya selalu meledak-ledak, setiap kali ia melihat wajah pria yang kini dibencinya. Areez yang semakin emosi karena Ivanna tak kunjung mengerti, langsung saja mendekat dan mengungkung tubuh Ivanna pada dinding. "Apa yang Anda lakukan? Lepaskan Saya!" Ivanna kesulitan bergerak, sebab tubuh dan tangannya terbungkus oleh selimut tebal. Jika ia bergerak sedikit saja, maka selimutnya akan terlepas, dan tubuh telanjangnya akan terlihat. "Saya ingin Kamu mengerti, Ivanna. Bahwa bukan Saya yang menjebakmu. Saya hanya menolongmu, dan membawa Kamu ke sini. Perihal Saya yang menidurimu. Itu atas permintaan diri Kamu sendiri. Kamu yang meminta Saya untuk menyentuhmu." Areez menarik tubuh Ivanna, lalu menggendongnya. Ia membawa Ivanna ke sofa, namun tetap duduk di pangkuannya. Ivanna memberontak, meminta Areez untuk melepaskannya. "Lepaskan Saya, Tuan Areez!" "Diam, Ivanna. Kamu harus melihat video ini, agar Kamu percaya bahwa Kamu sendiri yang memulainya!" Areez memeluk erat tubuh Ivanna dari belakang. Selain itu, tangannya mengotak-atik ponselnya, mencari rekaman video hasil semalam. Ivanna diam, menunggu rekaman video yang akan Areez tunjukkan padanya. Ivanna menggigit bibir, saat Areez mulai memutar video itu. Pertama kali yang ia lihat adalah gerakan erotisnya, yang naik ke pangkuan Areez. Lalu berlanjut pada dirinya yang membuka bra, dan menempelkan dadanya pada wajah Areez. Berlanjut lagi pada dirinya yang meminta dipuaskan pada Areez. "Oh my gosh!" Ivanna memejamkam matanya, seraya tanpa sadar menyadarkan kepalanya ke belakang. Pada dada Areez. Malu? Tentu saja. Hal ini bahkan sangat memalukan baginya. Ivanna masih tak menyangka. Bahwa wanita di dalam video itu adalah dirinya. Pasalnya ia melihatnya, lebih mirip seperti seorang wanita malam yang tengah menggoda pria hidung belang. "Gimana? Kamu percaya, 'kan, sekarang?" tanya Areez. Kembali menyadarkan Ivanna, hingga gadis itu kembali menegakkan tubuhnya. "Cukup, Tuan, jangan lanjutkan video itu! Saya tidak ingin melihatnya lagi." Suara Ivanna terdengar melemah. "Tolong lepaskan Saya, Tuan! Biarkan Saya istirahat sebentar saja, Saya sangat lelah." Ivanna kembali memohon permintaan pada Areez. Ia benar-benar sangat lelah sekarang. Bukan hanya fisiknya, tapi juga batinnya. "Kamu lelah?" tanya Areez. Ivanna hanya mengangguk tanpa menjawab dengan suara. Areez langsung mengangkat tubuh Ivanna, dan meletakkannya di atas ranjang. "Hari ini istirahat saja tidak usah bekerja! Saya dan Ale yang akan meng-handle pekerjaanmu." Ivanna tak menjawab. Ia memilih diam dan memejamkan matanya. Rasanya saat ini ia tak memiliki tenaga sama sekali. Tok Tok Tok Areez menoleh pada pintu yang baru saja di ketuk dari luar. Ia mengusap kepala Ivanna sebentar, lalu bangkit, dan berjalan menuju pintu. Ceklek! "Selamat pagi, Tuan!" sapa Ale, lalu membungkuk hormat. Areez hanya mengangguk, tanpa membalas perkataan asistennya. "Ini pesanan Anda!" Ale menyerahkan sekitar lima belas paper bag pada Areez. Areez membulatkan matanya lebar. Terkejut tentunya. Karena batang yang ia pesan hanya pakaian Ivanna saja. Namun Ale malah membawa banyak sekali paper bag, yang entah itu isinya apa. "Apa saja itu, Ale?" tanyanya penasaran. "Loh, ini pakaian untuk Ivanna, Tuan. Sesuai dengan yang Anda pesan," ujar Ale dengan santai. "Maksud Saya, kenapa sebanyak itu?" "Saya tidak tahu Ivanna suka warna apa dengan model bagaimana. Jadi Saya membeli saja semuanya ... Jangan bilang Tuan keberatan kalau Saya membeli ini semua?" Ale memicingkan matanya. Menatap curiga pada Areez. "Tuan tenang saja! Ini tidak sampai menghabiskan satu persen dari harta yang Anda miliki." Ale melanjutkan perkataannya. Areez berdecak kesal, saat Ale menyangkut pautkan hal ini dengan hartanya. "Berikan semuanya! Setelah ini Kamu pergi ke ruangan Ivanna, dan periksa, Saya ada meeting dengan siapa saja!" Satu perintah sudah selesai, Areez sudah memerintahkan hal yang lain. Padahal saat ini masih belum sampai pada jam kerja. Bahkan karyawan di perusahaan juga masih banyak yang tidak datang. "Apa Tuan tidak mau menyuruh istirahat terlebih dahulu?" tanya Ale, dengan wajah memelas. Tak ayal Areez langsung meraupnya. "Wajahmu jelek sekali, Ale. Saya geli melihatnya." "Cepat beli sarapan, setelah itu baru mulai bekerja!" perintah Areez. "Sarapan untuk siapa, Tuan? Untuk Saya atau Anda?" tanya Ale. "Untuk Kamu, Saya, dan juga Ivanna. Sudah jangan bertanya lagi! Saya bosan mendengar suaramu." Areez langsung saja menutup pintu, tanpa mau mendengar ucapan Ale lagi. Areez yakin, Ale pasti sedang menggerutu saat ini. Ia sudah kenal baik dengan asisten satu-satunya itu. Areez menyentuk kepala Ivanna, lalu mengusapnya dengan lembut. "Ivanna! Bangun dulu! Kamu harus pakai baju agar tidak kedinginan!" suruhnya. Ivanna yang memang hanya memejamkan matanya, namun tak tertidur, langsung saja membuka matanya. "Ada apa?" tanya wanita itu. "Pakai baju dulu!" suruh Areez lagi. Ivanna lantas bangkit. "Baju siapa itu?" Kerutnya berkerut tipis. "Bajumu. Tidak usah banyak tanya, cepat pakai sebelum Kamu masuk angin!" perintah Areez dengan tegas. "Tolong tinggalkan Saya sebentar! Saya tidak bisa memakai baju kalau Tuan Areez tetap di sini." Ivanna mengusir Areez dengan sopan. Areez mengerutkan keningnya. "Kenapa? Kamu malu pada Saya? Padahal Saya sudah tahu sem-" "Hentikan perkataanmu, Tuan!" tukas Ivanna, dengan suara tenang, namun penuh penekanan. "Baiklah, Saya akan keluar sebentar." Areez pun memutar tubuhnya, lalu berjalan keluar. "Pilih saja baju yang Kamu suka, Ivanna. Itu semua milikku!" ucap Areez sebelum menutup pintunya kembali. Ivanna tak menyahut. Ia hanya tercengang, karena pakaian yang diberikan oleh Areez sebanyak itu. Ivanna mengeluarkan satu persatu isi paper bag tersebut. Dan yah, isinya sangat membuatnya terkejut. Semua baju serta pakaian dalam yang ada di hadapannya saat ini, termasuk barang branded semua. Bahkan baju-baju yang ada di hadapannya saat ini, seharga gajinya selama lima bulan. Bagaimana mungkin Areez seroyal itu padanya? Tapi tunggu dulu! Apakah Areez benar-benar memberikan ini semua secara cuma-cuma padanya? Apakah setelah ini pria itu tidak akan meminta ganti? Andai saja Areez meminta ganti. Maka dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu? Oh no! Ivanna harus memastikannya terlebih dahulu pada Areez. Wanita itu berjalan menuju pintu. Dengan susah payah karena masih menggunakan selimut, ia membuka pintu tersebut sedikit. "Tuan Areez!" panggilnya, dengan suara sedikit keras. Tak perlu menunggu lama, Areez pun menyahut. "Ada apa, Ivanna?" tanya Areez, seraya mendekat. "Kenapa belum memakai baju?" tanyanya lagi, saat mengetahui Ivanna belum memakai baju juga. "Anda yakin memberikan semua baju itu untuk Saya?" tanyanya to the point. "Kenapa memangnya?" Areez malah balik bertanya. "Saya khawatir Anda meminta ganti setelah ini," ujar Ivanna terus terang. Areez mendengus kasar. "Bisa-Bisanya Kamu memiliki pikiran seperti itu, Ivanna. Cepat pakai! Itu semua untukmu, Saya tidak akan meminta ganti." "Baiklah. Terimakasih!" Ivanna kembali menutup pintu tanpa menunggu Areez membalas perkataannya. "Bisa-Bisanya Ivanna berfikir Saya ingin meminta ganti," gumam Areez tak habis fikir. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ivanna, Ivanna ... Benar-Benar langka wanita satu ini. Sangat unik dan menggemaskan." *** Tok Tok Tok Areez mengetuk pintu kamar pribadinya. Tak lama kemudian pintu terbuka tidak terlalu lebar. Ivanna berdiri, sudah rapi dengan pakainnya. "Boleh Saya masuk?" tanya Areez. "Mau apa?" Ivanna balik bertanya. "Ini 'kan kamar Saya," jawab Areez. "Oh iya lupa. Silahkan masuk!" suruh Ivanna. Areez menggelengkan kepalanya, seraya masuk ke dalam kamar tersebut. Ia menggenggam tangan Ivanna, lalu menutup pintunya. "Lepaskan tangan Saya, Tuan!" perintah Ivanna, setaya menatap tajam. "Saya ingin bicara denganmu sebentar," ujar Areez. "Bicara apa lagi? Tidak ada hal yang perlu dibicarakan lagi," ucap Ivanna, tanpa menatap Areez. "Ada. Tentang kejadian semalam. Hal itu perlu di bicarakan," balas Areez. "Lupakan masalah semalam, Tuan! Saya tidak ingin membahas hal itu lagi. Anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa di antara kita berdua! Saya tidak akan oednah meminta pertanggung jawaban Anda," ucap Ivanna dengan tegas. "Tidak bisa!" Areez menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Saya akan bertanggung jawab, karena kemungkinan besar, benih Saya akan tumbuh di dalam rahimmu. Saya akan menikahimu segera," putus Areez, tanpa meminta pendapat Ivanna terlebih dahulu. Ivanna menggeleng cepat. "Tidak. Saya tidak mau menikah dengan Anda. Sekali pun Saya hamil, Saya tidak akan meminta pertanggung jawaban dari Anda. Saya akan mengurus anak itu sendiri." "Jangan keras kepala, Ivanna! Ini demi kebaikan Anak kita," tegas Areez, seakan sangat yakin bahwasannya benihnya akan tumbuh di dalam rahim Ivanna. "Yang baik menurut Anda, belum tentu baik menurut Saya," balas Ivanna ketus. "Menikah dengan Saya! Atau Saya sebar video kita semalam! Silahkan tentukan pilihanmu, Ivanna!" Perkataan Areez terdengar tenang, namun penuh ancaman. Terpaksa Areez menggunakan cara ini. Karena ia yakin, ini adalah satu-satunya, agar Ivanna mau menikah dengannya. Ivanna membulatkan matanya. Bagaimana mungkin atasannya mengancamnya seperti itu? Apa yang harus Ivanna lakukan? Ivanna benar-benar sangat frustasi saat dihadapkan oleh dua pilihan sulit, yang harus segera ia tentukan. Tidak mungkin ia menikah dengan pria yang selama ini ia hindari, bahkan saat ini ia benci. Namun di sisi lain, Ivanna juga tak mau jika video aibnya tersebar, jika sampai ia menolak pilihan pertama. "Bagaimana, Ivanna? Kamu mau pilih pilihan pertama, atau ke dua?" tanya Areez lagi, karena Ivanna hanya diam. "Saya hitung sampai lima. Jika Kamu tetap tidak menjawab, maka Saya anggap, Kamu memilih pilihan ke dua." Sial! Benar-Benar sial! Ivanna benar-benar benci, ketika dihadapkan dengan situasi sulit seperti ini. "Satu!" Areez mulai menghitung. "Dua!" Tangannya bersedekap di depan dada. "Tiga!" Tatapannya mulai mengintimidasi Ivanna. "Empat!" Areez mendekat. Merapatkan tubuhnya pada Ivanna. "Li-" "Saya mau menikah dengan Anda!" ~see you next chapter!"Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu
"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan
"Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te
"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih?"Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna."Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut."Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah.Tak ada pilihan lain. Ivanna harus me
"Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang."Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang lain saja? Padahal di sana juga ada Ale."Ivanna menggeruru kesal. Sebab pimpinnnya itu, memang sengaja menyulitkan dirinya, dengan selalu menambah pekerjaan, atau pun menyuruhnya bolak balik ke ruangannya, dan ke ruangan Ivanna sendirian.Kenapa Ivanna tidak melawan atau berprotes saja? Tentu saja jawabannya takut. Akan tetapi Ivanna bukan takut pada bos-nya. Melainkan, ia takut jika sampai dirinya dipecat dari perusahaan. Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup jika seandainya ia di pecat dari sana? Sementara ia adalah wanita yang hidup sebatang kara, yang harus berjuang sendiri untuk kehidupan dan masa depannya.Mungkin saja ia bisa bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia tak yakin memil







