LOGIN"Euumm, enak sekali."
Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan. "Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag. Tok Tok Tok Ivanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya. "Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar. "Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna. Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna. "Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah. Mereka terlihat akrab, sebab Ardi memang selalu mengantarkan kopi ke ruangan Ivanna, baik di siang hari, maupun di malam hari ketika wanita itu lembur. "Kamu tau Saya lembur dari mana?" Ivanna kembali mengerutkan keningnya. Pasalnya seharian ini, ia tak bertemu, atau pun berpapasan sama sekali dengan OB bernama Ardi tersebut. "Tadi ada salah satu karyawan yang mengatakan bahwa Bu Ivanna lembur. Jadi Saya buatkan Ibu Kopi hitam, biar tidak ngantuk," ujarnya, seraya tersenyum. Ivanna terkekeh. OB satu ini, memang selalu perhatian padanya. Dia juga selalu sopan pada Ivanna. Tidak pernah Ivanna melihat, pria itu menatapnya dengan tatapan lapar seperti pria yang lainnya. Sebab itulah Ivanna senang berteman, bahkan akrab dengannnya. "Kamu memang baik sekali. Terimakasih, ya!" ucap Ivanna dengan tulus. "Sama-Sama, Bu. Kalau gitu Saya pergi dulu. Saya harus berkemas untuk segera pulang." Ia bahkan berpamitan sebelum pergi. Ivanna mengangguk. "Hati-Hati!" Ardi mengangguk seraya tersenyum, kemudian keluar dari ruangan Ivanna. "Bermimpi apa Aku semalam, hingga saat ini Aku dikelilingi oleh orang-orang baik?" gumamnya bertanya-tanya. Ivanna mengangkat gelas berisi kopi hitam, yang baru saja di antarkan oleh Ardi. "Tau aja Aku membutuhkan ini sekarang untuk teman lemburku," ujar Ivanna, seraya terkekeh sendiri. Ivanna meniup kopi yang masih panas, terlihat dari kepulan asapnya tersebut. Setelah di rasa cukup meniupnya, ia menyeruput kopi itu secara perlahan, dan sedikit demi sedikit. "Kopi buatan Ardi emang selalu enak, gak perlu di ragukan lagi. Tapi kali ini, kok rasanya sedikit aneh, ya? Jangan-Jangan Ardi mengantuk saat membuatnya? Hahaha, Ardi-Ardi." Ivanna menggeleng-gelengkan kepalanya seraya tertawa sendiri. Kemudian, ia meminum kembali kopi hitam yang katanya aneh tadi. "Aneh, tapi bikin candu. Dasar Aku!" Ivanna menepuk kepalanya sendiri, dan menertawakan dirinya sendiri. Ivanna kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia bergantian melihat antara layar komputer dan juga berkas-berkas yang ada di meja. Semakin lama, penglihatannya semakin buram. Ia melihat komputer seperti ada dua, tiga, bahkan lebih banyak lagi. "Astaga, apa yang terjadi padaku?" gumam Ivanna bertanya-tanya. Ia menekan kepalanya yang terasa sangat pusing. Seperti ada ribuan kunang-kunang yang beterbangan di sana. "Akh, tubuhku gerah sekali." Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, dan pergi ke depan meja. Tubuhnya terasa sangat gerah, hingga tak perlu waktu lama, keringat sudah mengalir di sana. Padahal ruangannya dingin karena sudah dilengkapi AC. Tapi kenapa Ivanna seakan tengah berada di ruangan tertutup tak ber-AC? Seiring dengan keringat yang membanjiri tubuhnya. Kepala Ivanna semakin bertambah pusing. Bahkan saat berdiri saja, tubuhnya sempoyongan. "Astaga, apa yang sebenarnya terjadi? Hosh ... Hosh ... " Nafasnya memburu, kemudian terjatuh. Kini Ivanna sudah tak berdaya lagi. Ia tergeletak di lantai, dengan mata yang di paksakan untuk tetap terbuka, meskipun terasa sangat ingin dipejamkan. Tk lama kemudian, seseorang datang, membuka pintu ruangan Ivanna dengan keras. Braakk "Ivanna, apa yang terjadi denganmu?" Ivanna melihat Areez masuk ke ruangannya dengan raut wajah marah bercampur panik. "T-Tuan Ar-reez, tolong Saya!" pintanya memohon, karena merasa sudah tak sanggup lagi membuka mata. Ia seperti ingi tertidur, namun rasanya tak mengantuk sama sekali. Hamya kepalanya saja yang terasa pusing, dan tubuhnya yang terasa aneh. "Ahh." Desahan Ivanna lolos saat Areez tak sengaja meyentuh kulitnya. "Astaga, Ivanna. Seperti tubuhmu dipengaruhi obat perangsang." wajah Areez semakin terlihat marah dan panik. "O-Obat perangsang? B-Ba-Bagaimana mana mungkin?" tanya Ivanna terlihat syok. "Sudahlah, jangan bahas itu sekarang! Sekarang Kamu harus ikut ke ruangan Saya. Saya yakin, ada seseorang yang memang sengaja menjebakmu." Areez membopong tubuh Ivanna. Membawanya segera keluar dari ruangan itu, dan masuk ke ruangannya sendiri. "Tuan, ada apa? Apa yang terjadi dengan Ivanna?" tanya Ale, yang juga terlihat panik. "Ada orang yang sengaja menjebak Ivanna. Saya yakin sebentar lagi orang itu akan mendatangi ruangan Ivanna. Sebaiknya Kamu cepat ke sana, dan jangan lupa kerjakan pekerjaan Ivanna yang belum selesai!" perintah Areez. Alessio mendengus kesal. Jika sudah seperti ini, pasti dirinya yang akan kerepotan. Sudah pulang telat, masih juga diberi pekerjaan tambahan. Mau membantah pun ia tak berani. Terlebih lagi sangat di sayangkan. Karena di balik pekerjaan itu, ada uang yang sedang menunggu. "Gini amat nasib jadi asiste," gumamnya pelan. Ia melihat Areez membawa Ivanna ke kamar pribadi CEO. Sementara dirinya, mulai keluar dari ruangan tersebut. "Aku yakin sekali. Sebentar lagi sesuatu besar akan terjadi. Lalu setelahnya, Ivanna akan menjadi milik Tuan Areez untuk selamanya. Tidak sia-sia Tuan Areez memasang minicam di ruangan Ivanna ... Aah, beruntung sekali Tuan Areez malam ini. Sepertinya dewi keberuntungan memang sedang berpihak padanya." *** Setibanya di ruangan Ivanna. Tatapan mata Ale langsunh tertuju pada kopi hitam yang tadi di maksud oleh tuannya. Ale memperhatikan kopi itu dengan seksama, namun terlihat tak ada yang aneh. Entah bagaimana kalau rasanya. Ia tak berani mencicipi, karena takut terjadi sesuatu pada tubuhnya seperti Ivanna. Ale menyingkirkan kopi tersebut sebelum bekerja, karena takut tak sengaja meminumnya. Setelah itu, ia mulai duduk di kursi kerja Ivanna, dan melihat-lihat berkas yang belum selesai Ivanna kerjakan. "Astaga, masih banyak sekali yang belum di kerjakan. Ini semua gara-gara Tuan Areez yang selalu mengganggu Ivanna saat bekerja." Areez menyalahkan atasannya, karena memang dia dalang di balik semua pekerjaan Ivanna yang terbengkalai. Seandainya tidak ada uang. Alessio tidak akan mau mengerjakan pekerjaan sebanyak itu. Biarkan saja semuanya menjadi kacau. Dari pada kepala harus berasap. Lebih bahaya bukan? Alessio menghela nafas panjang sebelum memulai pekerjaannya. Ia lepaskan terlebih dahulu, rasa penat yang menguasai tubuh dan fikirannya. Untung saja ia belum pernah dekat dengan makhluk bernama wanita. Jadi hatinya masih terhindar dari rasa lelah. "Semangat, Ale, demi uang! Kalau sudah banyak uang, wanita model bagaimana pun, pasti bisa Kamu dapatkan," ujarnya menyemangati diri sendiri. Belum lama ia mengerjakan pekerjaannya, seseorang datang mengetuk pintu dari luar. Ale menoleh sebentar. "Siapa yang malam-malam datang ke ruangan Ivanna? Ivanna sedang bersama Tuan Areez. Tidak mungkin ia kabur, dan kembali ke sini, 'kan?" pikirnya. Ale memicingkan matanya curiga. "Jangan-Jangan orang yang berusaha menjebak Ivanna?" Ale bangkit dari kursi kerja Ivanna, mencari tempat persembunyian, untuk melihat siapa yang datang, tanpa orang itu mengetahui keberadaannya. Tak menemukan tempat yang tepat. Akhirnya Ale bersembunyi di bawah meja kerja Ivanna. Hanya di sana tempat satu-satunya yang tersembunyi. "Jika benar, orang itu adalah orang yang berusaha menjebak Ivanna. Maka lihatlah, Aku tidak akan melepaskan orang itu!" batin Ale. Pintu ruangan terbuka. Seorang pria masuk ke dalam ruangan itu, seraya mencari-cari keberadaan Ivanna. "Ivanna! Kamu di mana?" Ale berusaha untuk tidak mengeluarkan suara sedikit pun, agar persembunyiannya tidak di temukan. "Di mana Ivanna berada? Seharusnya saat ini dia sudah tidak berdaya. Tapi kenapa sekarang malah menghilang seperti ini?" Pria itu berbicara sendiri. Dan pembicaraannya pun, dapat didengar oleh Ale. "Berarti benar, orang ini adalah orang yang sudah berusaha untuk menjebak Ivanna." Ale mengepalkan tangannya. Tapi untuk saat ini, ia masih menahan diri untuk tidak keluar dari persembunyiannya. Ia masih ingin mendengar lebih lanjut pembicaraan orang tersebut. "Jangan-Jangan Ivanna sedang di kamar mandi untuk meredam hasratnya." Perkataan orang itu kembali terdengar, begitu pula dengan suara langkah kakinya. Ale mengintip. Ternyata orang itu pergi ke kamar mandi khusus di ruangan sekretaris. "Orang itu sepertinya tidak asing," gumam Ale, seraya menatap punggung seorang pria, yang kini menghilang di balik tembok kamar mandi. Hanya sebentar. Orang itu kembali keluar dari sana. Ale pun kembali bersembunyi dengan tenang. "Ivanna benar-benar tidak ada. Tidak mungkin dia pergi dari kantor ini, karena dia tidak mungkin sanggup. Aku sudah memasukkan obat memabukkan, serta obat perangsang dengan dosis tinggi. Mana mungkin ia bisa pergi dari sini?" Semua perkataan orang tersebut, Ale mendengarnya dengan jelas. Ia memang paling benci pada seseorang yang melakukan hal licik, hanya untuk mendapatkan sesuatu yang ia incar. "Harusnya malam ini Aku sudah bisa mencicipi tubuh indah Ivanna. Tapi kenapa semuanya malah menjadi berantakan seperti ini? Sial. Sia-Sia Aku membeli obat mahal." Pria itu terus mengumpat, karena rencananya tak berhasil. Tak ingin menunda-nunda lagi, Ale segera keluar dari tempat persembunyiannya. Hal itu di sadari oleh orang yang sedari tadi berada di sana. Wajahnya tampak terkejut. Membuat seringai Ale, seketika terbit. "P-Pak Ale! Sejak kapan Anda di sini?" tanyanya gelagapan. Ale terus melangkah, mendekati pria tersebut, seraya menjawab pertanyaan. "Saya sudah di sini sebelum Kamu datang Rico!" Yah, pria itu adalah Rico. Orang yang tadi sempat Ale halangi, saat mendekati Ivanna. Hap Ale menangkap Rico yang hendak kabur. "Mau ke mana Kamu?" tanyanya, seraya memelintir tangan Rico ke belakang, hingga pria itu merintih kesakitan. "Sudah Saya duga, Kamu memanglah dalang di balik mabuknya Ivanna ... Sekarang Saya akan membawa Kamu pada Tuan Areez. Bersiaplah menerima pelajaran berharga darinya! Karena Kamu sudah mengusik miliknya." ~see you next chapter"Arrghh."Ivanna mengerang kesakitan seraya memegangi kepalanya. Dengan susah payah ia berusaha membuka matanya yang sangat berat, seperti rekat oleh lem."Sshh, kepalaku sakit sekali." Ivanna meringis kesakitan. Ia masih belum menyadari, jika di sampingnya terdapat seorang pria, yang kini tengah melingkarkan tangannya di perutnya.Mata Ivanna masih tertuju pada langit-langit kamar yang tampak asing baginya. "Di mana ini?" gumamnya bertanya-tanya. Matanya berlanjut menatapi seluruh penjuru ruangan. "Kamar siapa ini?" gumamnya lagi."Apa yang terjadi? Kenapa kepalaku rasanya ingin pecah?"Ivanna memejamkan matanya, lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. Berharap rasa pusingnya bisa segera menghilang.Ivanna berusaha mengingat kejadian, sebelum dirinya terbaring di tempat ini. Namun yang dapat diingat olehnya, hanyalah saat ia makan, mengerjakan pekerjaan, dan meminum kopi yang di bawakan oleh Ardi. Selain itu, Ivanna juga mengingat, jika semalam ia merasa sangat pusing. Namu
"Ivanna, apa yang Kamu rasakan?" Areez menepuk-nepuk pipi Ivanna, setelah ia menidurkan gadis itu di atas ranjangnya."Akh, Tuan, tubuh Saya terasa sangat panas sekali. Saya gerah, Tuan, tapi Saya pusing."Ivanna bergerak tak karuan. Tubuhnya merasakan hal aneh, yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan sama sekali."Tuan, tolong bantu, Saya! Tubuh Saya gerah sekali. Tolong bawakan es sebanyak mungkin untuk Saya, Tuan!" pinta Ivanna memohon.Areez menjadi bingung di buatnya. Entah apa yang harus ia lakukan. Pasalnya, rasa panas yang di rasakan oleh Ivanna disebabkan oleh efek obat perangsang. Sementara solusinya hanyalah bercinta.Areez ragu untuk melakukannya, karena ia takut Ivanna membencinya. Areez menatap tubuhnya dengan tatapan memuja saja, wanita itu sudah sangat marah. Lantas, bagaimana jika dirinya sampai meniduri wanita itu?Akan tetapi, jika tidak di lakukan, maka akan terjadi hal-hal-hal fatal yang tidak di inginkan. Bisa saja Ivanna mati karena obat perangsang tersebut. Dan
"Euumm, enak sekali."Ivanna menyantap makanannya dengan sangat lahap. Entah siapa orang baik yang telah mengirimkannya makanan. Hingga sangat kebetulan sekali, pada waktu dirinya yang memang sedang kelaparan."Siapa pun itu, Aku sangat berterimakasih," ucapnya, lalu kembali menyantap makanannya. Dua porsi makanan langsung bersih tak tersisa saat itu juga. Sementara minumannya yang juga berjumlah dua. Hanya ia minum satu saja. Sedangkan yang satunya lagi, ia masih menyimpannya dengan rapi di dalam paper bag.Tok Tok TokIvanna menoleh, seraya mengerutkan keningnya. "Siapa, ya?" tanyanya, sedikit mengeraskan suaranya."Permisi, Bu Ivanna! Saya datang untuk mengantarkan kopi," ujar seseorang dari luar."Oh ya, silahkan masuk!" suruh Ivanna.Pintu ruangan Ivanna, dan masuklah seorang pria berpakaian office boy. "Selamat malam, Bu Ivanna!" sapanya dengan ramah, setaya meletakkan kopi hitam, yang masih mengepulkan asap, di meja Ivanna."Malam, Ardi!" balas Ivanna tak kalah ramah.Mereka te
"Tuan Areez, bangun! Apa yang Anda lalukan? Anda atasan Saya, kenapa Anda malah berlutut pada Saya?" Ivanna bangkit dari kursi kerjanya, berpindah dari sana, sebab di hadapannya terdapat Areez yang tengah berlutut, seraya menyodorkan buket bungan, sera coklat.Ivanna benar-benar tak habis fikir. Apa yang sebenarnya terjadi pada atasannya ini, hingga ia berlutut padanya. Padahal yang ia tahu, Areez adalah pria arogan, yang sangat mustahil mengucapkan dua kata berbunyi 'maaf' dan 'terimakasih'. Lantas, apa yang mendorong Areez untuk meminta maaf dan bahkan berlutut padanya? Mungkinkah pria itu kerasukan arwah berhati putih?"Saya akan berdiri kalau Kamu mau memaafkan Saya," ujar Areez, seraya tetap menyodorkan buket bunga dan coklat itu pada Ivanna."Astaga, apa yang terjadi pada si mesum ini?" batin Ivanna bertanya-tanya. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut."Ivanna, Kamu mau, 'kan memaafkan Saya?" tanya Areez, masih tak menyerah.Tak ada pilihan lain. Ivanna harus me
"Ivanna, ke ruangan Saya sekarang juga!"Lagi. Padahal belum ada satu jam Ivanna kembali ke ruangannya sendiri, dan kini sudah di panggil lagi oleh pria yang merupakan bos di perusahaan tempat ia bekerja sekarang."Areez ini kenapa, sih, suka banget manggil-manggil Aku? Kenapa tidak panggil yang lain saja? Padahal di sana juga ada Ale."Ivanna menggeruru kesal. Sebab pimpinnnya itu, memang sengaja menyulitkan dirinya, dengan selalu menambah pekerjaan, atau pun menyuruhnya bolak balik ke ruangannya, dan ke ruangan Ivanna sendirian.Kenapa Ivanna tidak melawan atau berprotes saja? Tentu saja jawabannya takut. Akan tetapi Ivanna bukan takut pada bos-nya. Melainkan, ia takut jika sampai dirinya dipecat dari perusahaan. Bagaimana caranya ia melanjutkan hidup jika seandainya ia di pecat dari sana? Sementara ia adalah wanita yang hidup sebatang kara, yang harus berjuang sendiri untuk kehidupan dan masa depannya.Mungkin saja ia bisa bekerja di perusahaan lain. Akan tetapi, ia tak yakin memil







