Share

Chapter 1

last update Last Updated: 2025-12-07 01:39:52

"Ayo kita putus."

Selene terpaku, ponsel dengan case berwarna lilac masih menempel di telinga, suara kafe berdengung samar di sekitarnya.

Kalimat itu datang tanpa peringatan, membuat nafas Selene tercekat.

"Semua tentang kamu, kamu, kamu! Aku capek dengernya!"

Lanjut suara di seberang, yang sampai pagi tadi masih ia sebut pacar.

"Terus terang... kamu gak nganggap aku pacar kan?"

Detik itu, Selene terpaku, mata hazel-nya memanas dan pandangannya sedikit mengabur. Padahal lima menit sebelumnya, gadis itu masih tersenyum dengan penuh kebahagiaan.

Gadis itu baru saja menerima email bahwa karya ilmiahnya terpilih untuk ajang kompetisi nasional, suatu hal yang ia kejar berbulan-bulan tanpa tidur yang cukup.

"Apa... maksudmu?"

Padahal ia hanya ingin berbagi berita baik dengan orang yang seharusnya menjadi sandaran dan orang terdekatnya, Matteo Hickins, pacar yang sudah setahun lebih bersamanya.

Sayang, dunia nyata tak seindah bayangannya.

"Kamu bahkan nggak sadar kalau kamu itu egois" ujar pria itu.

"Aku butuh cewek yang bisa mengerti aku. Gak cuma aku yang ngertiin kamu terus." lanjutnya.

Selene menelan saliva-nya, memaksakan suaranya agar tak terdengar bergetar.

"Aku gak lagi mau ngeluh kok... Aku cuma... Aku baru saja lolos seleksi lomba karya tulis yang pernah aku ceritain."

Ia bicara pelan, hampir tak terdengar. Selene mengambil nafas dalam sebelum melanjutkan.

"Kamu tahu kan aku akhir akhir ini-"

Di ujung telepon, tarikan napas panjang terdengar tak sabar.

"Nah, kau mulai lagi. Kau pikir di dunia ini yang sibuk hanya kau?"

Terdengar decakan yang cukup keras.

"Lagipula kau itu cewek kan? Ngapain ikut lomba begituan sih? lebih baik kau belajar hal hal yang lebih feminim, memasak contohnya kaya Rosetta."

Kalimat terakhir itu jatuh seperti batu yang meretakkan hatinya.

"..."

Mendengar nama itu membuat Selene terdiam, lidahnya sesaat kelu, seperti ada menahannya mengucapkan sepatah kata-pun. Nyatanya Selene sebenarnya bisa memasak, hanya saja akhir-akhir ini ia sibuk mempersiapkan paper ilmiahnya.

"Sudahlah, tak usah hubungi aku lagi"

Panggilan terputus.

Selene mendongak kearah langit-langit cafe. Awalnya ia ingin mengajak tunangan- tidak, mantannya itu untuk berkencan.

Mengajaknya untuk merayakan hal kecil di cafe favoritnya sambil memakan kue.

Setelah tenang gadis itu menghela nafas. Di depannya sepiring cheesecake favoritnya, di kafe kecil yang terletak tidak terlalu jauh dari kampus.

Tangan gadis itu mengusap matanya yang mulai menjatuhkan bulir bulir air.

Gadis itu menangis tanpa suara sampai...

Ting.

Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselnya.

Nama yang muncul membuat seluruh tubuhnya makin kaku.

[Papa]

> Pulang hari ini.

> Makan malam keluarga inti.

> Jangan terlambat.

Sebuah pesan singkat yang dikirim bukan sebagai permintaan namun perintah.

Selene menghela napas, memijat keningnya.

"Makan malam keluarga inti..."

Selene tertawa getir.

"Timing-nya jahat banget..."

Ia harus duduk satu meja dengan orang-orang yang bahkan tak layak disebut keluarga.

Selene tertawa getir.

"Keluarga..."

Apakah bisa disebut Keluarga? Oliver Cromwell, Ayah Selene menikah tiga kali. Dan Selene sendiri mempunyai 4 saudara yang keempatnya berbeda ibu dengannya.

Di tempat yang seharusnya menjadi rumah... Selene sebenarnya sendiri.

Ia berdiri dari kursi cafe, mengusap sudut mata yang panas, menelan emosi yang mengendap. Tak lupa ia membayar cheesecake yang ia pesan, meski tak tersentuh sedikitpun.

Gadis itu lalu melangkah keluar ke sore yang mulai mendung dan menaiki mobilnya.

Saat menyalakan mobilnya ia mengingat pesan sang ibu.

"Selene... apa pun yang terjadi kau harus sekolah yang tinggi, jangan pernah menurunkan harga dirimu, kau harus bisa berdiri sendiri"

Itulah kata-kata terakhirnya sebelum jantung wanita cantik itu terbaring tak bernyawa di atas rumah sakit.

Dan sampai saat ini Selene selalu mengikuti perkataan itu, ia belajar dan belajar membangun reputasi dan prestasinya sendiri tanpa dukungan siapapun.

Lampu merah menyala tepat ketika Selene berhenti di depan persimpangan dekat pusat kota.

Dia menyandarkan dahi ke kaca jendela sambil menunggu.

Kepalanya masih berat oleh percakapan siang tadi, pemutusan sepihak yang terasa seperti silet.

"Terus terang... kamu tidak menganggapku pacar kan?"

Kata itu masih bergema.

Ia menghela napas, memejamkan mata.

"tidak menganggap dari mana sih? aku selalu ngabarin, setiap di call selalu aku jawab, aku juga kan gak tiap hari mengeluh!"

Selene kembali membuka matanya lagi. Jantungnya berhenti sepersekian detik.

Tepat di jalur seberang, sebuah motor sport berwarna merah berhenti di garis zebra cross. Dan tepat di atasnya...

Mantan pacarnya.

Helm terbuka, satu tangan memegang stang, wajahnya terlihat jelas.

Bahkan tanpa melihat wajahnya pun Selene sangat mengenali motor kesayangan mantan pacarnya itu, tentu saja karena Selene yang membelikannya.

Betapa bodohnya Selene saat itu.

Dan yang makin membuat dada Selene semakin sesak, di belakangnya duduk satu orang yang terlihat terlalu familiar.

Adik tirinya. Anak perempuan dari istri kedua ayahnya.

Yang selalu menatapnya dengan tatapan tajam, selalu mencoba bersaing dengannya, selalu menginginkan apa yang dimiliki Selene.

Mereka berdua tampak terlalu dekat, bukan sekadar boncengan biasa.

Selene lalu tersenyum getir

"Ah... Bajingan itu yang selingkuh rupanya"

Rosetta Cromwell, adik tirinya tertawa kecil lalu menempelkan tangan ke jaket Matteo, pria yang kini telah menjadi mantan gadis berambut ash brown itu.

Wajah si pria ikut tersenyum. Senyum yang seharusnya hanya ditujukan padanya seorang kini ia tujukan pada adik tirinya.

"Pantas saja akhir akhir ini Matteo nyebut-nyebut nama Rosetta."

Entah mengapa Selene sudah tidak kaget lagi.

"Sekarang aku malu hampir menangisi bajingan itu."

Benar-benar air mata yang tak berarti. Tatapan Selene tanpa sengaja bertemu dengan mantan pacarnya. Ekspresi pria itu langsung berubah. Panik kecil terpancar jelas.

Selene tidak memalingkan wajah. Hanya menatapnya dengan tenang, walau tangannya yang berada di setir mengencang menahan ledakan dari hatinya yang seperti tertusuk oleh jarum-jarum yang tak kenal ampun.

Adik tirinya terlihat bingung sejenak melihat reaksi aneh Matteo lalu mengikuti arah pandang pria itu. Saat sadar akar dari perilaku pria itu senyumnya melebar. Tidak terpaku atau salah tingkah, gadis itu justru mendekatkan diri ke arah Matteo, menempelkan tubuhnya dengan senyum yang begitu manis, seakan berkata

"Lihat? aku menang lagi."

Melihat itu Selene hanya mendengus.

Ia menutup mata sebentar dan menarik nafas. Mencoba menahan diri untak tak menginjak gas dan menabrak kedua manusia sampah yang ada di sebrang jalan.

'Wow... Dulu aku mikir apa sih suka dengan si Matteo itu?'

Untung saja tak lama setelah itu, lampu jalan kembali berubah hijau. Selene dengan cepat bergerak menekan gas mobilnya untuk kembali melaju menuju kediaman keluarga Cromwell sebelum intrusive thoughtsnya menang dan ia benar-benar menabrak dua manusia tak tahu diri itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blissful Marriage   Chapter 27

    11.37Selene tidak bisa menyangka dirinya akan terlelap 4 jam setelah sarapan pagi tadi. Walaupun ia memang bergadang semalaman, ia pikir ia akan tertidur setidaknya dua atau tiga jam saja.Untung saja gadis itu libur hari ini.Selene lalu memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya lengket. Walau ruangan itu full AC, tetap saja gadis itu merasa ia masih perlu untuk mandi setidaknya sehari sekali walau sedang libur.Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai. Selene mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum."Udah siang juga, enak masak atau beli ya…" Gumamnya.Selene akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya awalnya ia hanya ingin membuka app untuk bisa memesan makanan, tetapi begitu menyalakan ponselnya, benda pipih berbentuk kotak itu langsung menunjukkan banyak notifikasi.Bukan cuma satu atau dua notifikasi ponsel baru dinyalakan.Tapi ratusan.Instagram: 847 notificationsTwitter: 589 notificationsWhatsApp: 125 messagesMis

  • My Blissful Marriage   Chapter 26

    Selene menatap langit-langit kamarnya.Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 04:47."Bisa gila aku."Gadis itu sudah mencoba berbagai posisi tidur. Miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, meringkuk dan juga terlentang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya tidur.Benar-benar menyebalkan."Argh!" Selene akhirnya menyerah dan duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan seperti sarang burung.Selene melirik jam lagi.05:15"Sudah jam segini dan aku masih belum tidur dari semalam…"Matanya sebenarnya terasa berat, tapi ia tetap tak bisa tertidur. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Leonard tanpa baju terus muncul di benaknya.Untung saja ia hanya memiliki satu mata kuliah hari ini, dan itu di siang hari.Gadis itu mencoba untuk memejamkan mata kembali tetapi…Kruyuukkkk….Perutnya berbunyi, sepertinya sandwich yang semalam ia makan hanya mengganjal perutnya sebentar.Selene sekali lagi melirik jam digital di jam samping,05:30."…Dia sudah bangun belum ya?" Selene bertanya

  • My Blissful Marriage   Chapter 25

    Nafas Leonard terasa berat, mata biru miliknya membulat melihat rumah tempatnya dibesarkan sekarang menjadi begitu hancur. Sofa kain berwarna putih gading yang selalu menjadi tempatnya bermain dan bercerita bersama kedua orang tuanya kini memiliki bercak-bercak merah yang begitu pekat.Ruangan yang dulu begitu rapi kini hancur. Vas bunga kristal kesayangan milik ibunya pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Lukisan keluarga jatuh dari dinding, bingkainya retak. Meja kopi terbalik. Sofa robekIni adalah neraka."Leo! Bawa bundamu dan Arggghhh—"Nafas remaja berumur delapan belas tahun itu tercekat. Namun ia menuruti ucapan dari ayahnya, panutan hidupnya itu dan pergi mencari sang ibu."Bunda!""Leo! Lari jangan kesini!"Teriak sang ibu dari ujung lorong."Tapi—""LEO LARI!"BANG—"!!!"Pria dengan perawakan tinggi itu tersentak duduk di atas kasurnya. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam seprai kasurnya erat."…Mimpi."Rambut pirangnya sedikit bas

  • My Blissful Marriage   Chapter 24

    Kelas terakhir Selene hari ini dibatalkan karena dosennya mendadak sakit. Gadis itu menatap pengumuman di group chat dengan perasaan lega sekaligus bingung.Jam menunjukkan pukul dua siang . Masih terlalu siang untuk pulang, tapi Selene juga tidak punya rencana lain. Hari ini ia tak ada jadwal lain selain kelas yang seharusnya berlangsung sampai jam empat nanti."Sel, kita ke cafe yuk?" Ajak Fiona yang seharusnya berada di kelas yang sama dengannya di dalam mata kuliah yang baru saja dibatalkan itu."Skip dulu Fi, aku mau pulang dulu."Fiona menyeringai."Pulang kemana? Ke 'rumah'?" gadis itu memberi penekanan pada kata rumah sambil mengedip-ngedipkan mata."Fi..."Selene sudah memberitahukan kalau ia semalam baru saja tiba-tiba pindah rumah, dan Fiona seperti biasa bereaksi heboh seperti biasa. Untung saja Selene memberitahukannya di tempat yang sepi dan bukan di kantin kampus atau di kafe Arcadia seperti biasanya."Oke, oke. Pulang yang aman ya~"Selene hanya menggelengkan kepala se

  • My Blissful Marriage   Chapter 23

    Selene tersentak bangun, tubuhnya terduduk kaget sambil melihat ke sekelilingnya.'Ini bukan kamarku.'Namun tak lama kemudian, gadis itu mulai menghela nafas dan merilekskan tubuhnya."Oh iya juga… Semalam kan aku diculik…"Apakah penculikan kata yang tepat?Jika benar diculik, maka tidak ada yang akan tahu dimana dirinya berada. tapi ini…Mungkin lebih tepatnya dipindahkan tanpa persetujuan?Selene menatap ruangan yang masih terasa asing ini. Interior yang benar-benar berbeda dari kamar tempatnya tumbuh besar. Kamar ini didominasi warna abu-abu dan putih. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan. Berbeda dengan kamar miliknya yang didominasi warna soft dan feminim.Selene menunduk dan melihat piyama yang digunakannya, sebuah piyama satin berlengan panjang berwarna hitam. Sepertinya piyama yang sangat lembut itu memang masih baru karena Selene masih dapat mencium bau baju baru saat memakainya semalam.Selene mengambil ponselnya untuk melihat jam.

  • My Blissful Marriage   Chapter 22

    "Bertahanlah sebentar lagi. Kita bisa langsung pulang setelah pengumuman tanggal pernikahan."Itulah yang dikatakan Leonard satu jam yang lalu.Selene menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan kening berkerut. Walau Selene tidak hafal setiap jalan yang ada di kota ini, setidaknya ia tahu jelas jalan menuju rumahnya.Atau lebih tepatnya jalan menuju ke kediaman Cromwell yang berada di area kompleks elit."Kita mau ke mana?" Tanya Selene setelah memberanikan diri."Kemana lagi? Pulang."Selene langsung menoleh ke arah Leonard yang berada di sebelahnya."Ini bukan jalan ke rumahku.""Of course, karena kita ke rumahku." Jawab Leonard sedikit terkekeh."Apa?""Ke rumahku," ulang Leonard. "Tenang, sebentar lagi kita sampai kok."Tak Selene duga perkataan "kita" yang pria itu ucapkan satu jam yang lalu benar-benar bermakna KITA.Dalam artian Selene dan Leonard.Bersama."Apa kau gila?!"Kalimat itu membuat Leonard menghembuskan nafas geli. Mereka telah bertemu lima kali dan dua diantar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status