Share

Chapter 2

last update Last Updated: 2025-12-07 07:44:58

Selene terdiam sejenak di depan beberapa potret yang terpampang di tembok kediaman keluarga Cromwell saat memasuki rumah mewah tersebut.

Ada banyak potret di situ, dan hampir di setiap potret terdapat wajah Oliver Cromwell, kepala keluarga Cromwell dan CEO Cromwell corp saat ini.

Selene berjalan menyusuri lorong tersebut dan melirik sebuah potret baru seorang wanita dengan riasan dan perhiasan yang terkesan mewah.

Rietta Cromwell, Istri kedua Oliver.

Disebelah potret itu terdapat potret seorang laki-laki berambut hitam, Ronan Cromwell. Anak pertama Rietta. Dibawahnya terdapat potret keluarga yang membuat Selene mendengus. karena potret itu hanya terdapat Oliver, Rietta, Ronan dan juga Rosetta, Adik tiri Selene.

Adik tiri yang baru saja memungut sampah miliknya. Yah memang sama-sama sampah sih jadi cocok.

Selene kembali berjalan dengan lebih cepat, tak sudi melihat potret keluar bahagia itu. seluruh tembok galeri itu dipenuhi oleh potret mereka.

Namun dari sudut matanya, Selene melihat 5 potret dengan wajah yang berbeda, tersembunyi namun ada. Sebuah bingkai yang menampakkan wajah Daniela, istri ketiga Oliver.

Daniela terlihat bersama kedua anak kembarnya seorang anak perempuan laki-laki yang masih menduduki bangku Sekolah Menengah Pertama, Dylan dan Delia Cromwell.

Dan dua di antara lima potret itu adalah potret Layla Cromwell, istri pertama Oliver dan juga ibu Selene.

"Istri pertama tapi potretnya cuma dua." Selene tersenyum getir.

Saat memperhatikan potret anggota "keluarganya", Selene bertemu dengan Dylan dan Delia.

"Ah... kakak."

"...Selamat sore kak"

Selene tersenyum tipis. Diantara seluruh keluarga Cromwell Dylan dan Delia yang masih anak-anak di mata Selene merupakan anak-anak yang malang.

"Sore Dylan, Delia..."

Selene menyadari Daniela, ibu si kembar sedang tidak bersama mereka.

"Ibu kalian tidak ikut?"

"ah... itu..." Delia sedikit ragu.

"Ibu sedang tidak enak badan." Dylan mengambil alih percakapan itu.

"Oh..."

Walau hanya sekilas Selene dapat melihat tangan anak laki-laki itu bergetar. Seperti sedang menahan sesuatu. Selene ingin sekali bertanya namun ia dalam hati tahu apa kemungkinan yang terjadi.

“Rietta?”

Mendengar nama itu kedua saudara kembar tersebut terpatung.

“Bingo.’

Selene menghela nafas.

“Mari kita ke ruang makan dahulu, ayah akan marah kalau kita telat.”

Ketiga orang itu lalu memasuki dining room. Di dalam ruangan itu sudah ada Rietta dan Ronan anak tertua wanita itu. 

"Selene, sangan melegakan ternyata kamu masih ingat punya rumah"

Rietta menyapa Selene yang masuk dengan tenang dan langsung duduk di depannya sambil tersenyum, walau senyum itu tak sampai pada matanya.

"Tentu saja aku ingat... tempat ini kan juga rumahku"

Selene membalas dengan senyuman politik yang tak kalah manis membuat Rietta tersenyum masam untuk menutupi kekesalannya.

Dylan dan Delia juga ikut duduk di barisan kursi yang sama dengan Selene.

Melihat itu Rietta mengalihkan pandangannya ke arah si kembar,

"Anak-anak, kemana Daniela?"

Dylan menjawab sedikit ketus.

"Ibu sedang tidak enak badan"

Hal itu membuat Rietta menampakkan senyum simpatik yang terlihat di buat-buat.

"Oh... apa ia sakit karena terjatuh di kolam tadi sore?"

Ucapan itu membuat Delia mematung dan Dylan mengepalkan tangannya di bawah meja.

"Sungguh malang... berikan salamku padanya ya?"

Tak lama kemudian Oliver memasuki dining room bersama dengan Rosetta yang terlihat menggandeng lengan pria paruh baya itu.

Oliver langsung menempati posisi di kepala meja sedangkan Rosetta menempati kursi di sebelah Rietta tentu saja sambil mengirimkan senyuman meremehkan ke arah Selene.

Oliver berdehem rendah. Tanpa senyum dan basa-basi, pria dengan kedudukan paling tinggi di rumah itu langsung berbicara tentang berita yang ingin ia sampaikan.

"Romano Engineering Group membuka kemungkinan kerja sama besar dengan kita." Mulainya.

Hal itu membuat seisi rumah bertanya-tanya, apa kepentingan Romano Group sampai-sampai seluruh keluarga inti dipanggil seperti ini?

“Ayah telah diberikan kesepakatan dengan mantan CEO Romano Group untuk melakukan pernikahan bisnis demi kepentingan bersama dalam jangka panjang.”

Mendengar kata “menikah” Rosetta menegakkan punggung, terlihat langsung tertarik. Selene yang berada di depannya terdiam. 

"Tapi Leonard Romano mengajukan satu syarat."

Semua mata tertuju pada Oliver.

"Dia ingin memilih sendiri calon istrinya."

Hening.

'Memilih? Apa bisa begitu? Bukankah hal seperti ini biasanya bersifat dipaksakan?' Selene bertanya-tanya dalam hati.

"Oleh karena itu," lanjut Oliver, "akan ada pertemuan makan malam pribadi. Romano akan dinner bersama kandidat dan akan memilih sendiri.”

Rosetta menyeringai tipis.

Delia menunduk, bahu kecilnya mulai terlihat tegang membuat kakak laki-lakinya langsung menggenggam tangannya memenangkan.

Selene menghela napas tipis.

'Keluarga Cromwell memiliki tiga orang putri... dan Romano ingin memilih? Apa jangan-jangan...'

Oliver melirik ke arah saudara kembar SMP itu.

"Delia."

Gadis kecil itu mendongak.

"Ayah sebenarnya juga sudah mengajukan namamu..."

Kata-kata itu membuat Selene langsung menegakkan bahu dan Delia yang tepat berada di sebelahnya menahan nafasnya terlihat getaran kecil di bibir gadis kecil itu.

'Apa ayah gila?! Delia masih SMP!!!' Teriak Selene dalam hati.

Namun Oliver belum selesai.

"...tapi Leonard Romano menolak keras keterlibatan siapa pun yang masih di bawah umur."

Wajah Delia pun seketika berubah. Ketakutan yang tadi lewat di matanya langsung melembut. Gadis kecil itu menghembuskan napas panjang. Tegangan di dadanya runtuh digantikan dengan rasa lega. Selene yang berada di sebelahnya juga ikut menghembuskan nafas lega.

'Untunglah Leonard Romano itu bukan pedofil yang suka anak-anak dibawah umur.'

Oliver mengangguk tipis lalu melanjutkan,

"Jadi kandidat resmi hanya dua."

Semua mata berpindah.

"Selene."

"Rosetta."

Rietta meminum tehnya untuk menutupi senyum liciknya.

Rosetta tersenyum lebih lebar.

Selene? Diam tak berkutik.

"Ayah-" Rosetta angkat suara duluan. "bukankah ini hampir seperti audisi?" Lanjutnya.

Nada manisnya penuh rasa percaya diri.

"Aku yakin Romano akan kasi nilai lebih pada gadis yang bisa tampil sesuai dunia bisnis."

Pandangan Rosetta melirik Selene tajam.

Message-nya jelas

'Obviously not you.'

Selene tidak membalas tatapan itu. Ia justru lebih fokus menatap piring makan yang nyaris tak disentuh. Pikirannya berkecamuk memikirkan banyak hal, tentang kuliahnya, mimpinya, dan ketakutan akan pernikahan politik. Saking fokusnya Selene bahkan tak menyadari tatapan Rosetta yang diarahkan padanya.

"Kalian akan diberi dua tanggal terpisah," lanjut Oliver.

"Lalu Romano akan mengambil keputusan diam-diam."

Ronan, anak laki-laki tertua berdehem pelan.

"...Kalau dia tidak memilih salah satu?"

Oliver menghela napas.

"Maka kerja sama batal."

Mata hazel pria itu lalu menatap tajam Selene dan Rosetta secara bergantian

"Di antara kalian berdua harus bisa memikat si Romano itu, kalian mengerti kan?"

Rosetta tanpa ragu tersenyum cerah.

"Ayah tidak usah khawatir, bisa kupastikan dia pasti tidak akan bisa menolak ku"

"Benar, Rosetta sangat menawan, sudah pasti bisa menaklukkan hati Romano itu"

Mendengar itu Selene menatap Rosetta dengan tatapan aneh,

'Bukankah baru tadi sore kau bersenang-senang bersama Matteo? kenapa tiba-tiba kau semangat sekali tentang ini?' pikirnya.

Oliver mengangguk puas lalu melirik Selene.

"Selene?"

"Akan aku usahakan."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Blissful Marriage   Chapter 27

    11.37Selene tidak bisa menyangka dirinya akan terlelap 4 jam setelah sarapan pagi tadi. Walaupun ia memang bergadang semalaman, ia pikir ia akan tertidur setidaknya dua atau tiga jam saja.Untung saja gadis itu libur hari ini.Selene lalu memutuskan untuk mandi karena merasa tubuhnya lengket. Walau ruangan itu full AC, tetap saja gadis itu merasa ia masih perlu untuk mandi setidaknya sehari sekali walau sedang libur.Setelah mandi dan mengenakan pakaian santai. Selene mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil berjalan menuju dapur untuk mengambil air minum."Udah siang juga, enak masak atau beli ya…" Gumamnya.Selene akhirnya memutuskan untuk membuka ponselnya awalnya ia hanya ingin membuka app untuk bisa memesan makanan, tetapi begitu menyalakan ponselnya, benda pipih berbentuk kotak itu langsung menunjukkan banyak notifikasi.Bukan cuma satu atau dua notifikasi ponsel baru dinyalakan.Tapi ratusan.Instagram: 847 notificationsTwitter: 589 notificationsWhatsApp: 125 messagesMis

  • My Blissful Marriage   Chapter 26

    Selene menatap langit-langit kamarnya.Jam digital di meja samping menunjukkan pukul 04:47."Bisa gila aku."Gadis itu sudah mencoba berbagai posisi tidur. Miring ke kanan, miring ke kiri, tengkurap, meringkuk dan juga terlentang. Tapi tidak ada yang berhasil membuatnya tidur.Benar-benar menyebalkan."Argh!" Selene akhirnya menyerah dan duduk di tempat tidur, rambutnya berantakan seperti sarang burung.Selene melirik jam lagi.05:15"Sudah jam segini dan aku masih belum tidur dari semalam…"Matanya sebenarnya terasa berat, tapi ia tetap tak bisa tertidur. Setiap kali ia menutup mata, bayangan Leonard tanpa baju terus muncul di benaknya.Untung saja ia hanya memiliki satu mata kuliah hari ini, dan itu di siang hari.Gadis itu mencoba untuk memejamkan mata kembali tetapi…Kruyuukkkk….Perutnya berbunyi, sepertinya sandwich yang semalam ia makan hanya mengganjal perutnya sebentar.Selene sekali lagi melirik jam digital di jam samping,05:30."…Dia sudah bangun belum ya?" Selene bertanya

  • My Blissful Marriage   Chapter 25

    Nafas Leonard terasa berat, mata biru miliknya membulat melihat rumah tempatnya dibesarkan sekarang menjadi begitu hancur. Sofa kain berwarna putih gading yang selalu menjadi tempatnya bermain dan bercerita bersama kedua orang tuanya kini memiliki bercak-bercak merah yang begitu pekat.Ruangan yang dulu begitu rapi kini hancur. Vas bunga kristal kesayangan milik ibunya pecah berserakan di lantai, memantulkan cahaya lampu yang berkedip-kedip. Lukisan keluarga jatuh dari dinding, bingkainya retak. Meja kopi terbalik. Sofa robekIni adalah neraka."Leo! Bawa bundamu dan Arggghhh—"Nafas remaja berumur delapan belas tahun itu tercekat. Namun ia menuruti ucapan dari ayahnya, panutan hidupnya itu dan pergi mencari sang ibu."Bunda!""Leo! Lari jangan kesini!"Teriak sang ibu dari ujung lorong."Tapi—""LEO LARI!"BANG—"!!!"Pria dengan perawakan tinggi itu tersentak duduk di atas kasurnya. Nafasnya memburu, tangannya menggenggam seprai kasurnya erat."…Mimpi."Rambut pirangnya sedikit bas

  • My Blissful Marriage   Chapter 24

    Kelas terakhir Selene hari ini dibatalkan karena dosennya mendadak sakit. Gadis itu menatap pengumuman di group chat dengan perasaan lega sekaligus bingung.Jam menunjukkan pukul dua siang . Masih terlalu siang untuk pulang, tapi Selene juga tidak punya rencana lain. Hari ini ia tak ada jadwal lain selain kelas yang seharusnya berlangsung sampai jam empat nanti."Sel, kita ke cafe yuk?" Ajak Fiona yang seharusnya berada di kelas yang sama dengannya di dalam mata kuliah yang baru saja dibatalkan itu."Skip dulu Fi, aku mau pulang dulu."Fiona menyeringai."Pulang kemana? Ke 'rumah'?" gadis itu memberi penekanan pada kata rumah sambil mengedip-ngedipkan mata."Fi..."Selene sudah memberitahukan kalau ia semalam baru saja tiba-tiba pindah rumah, dan Fiona seperti biasa bereaksi heboh seperti biasa. Untung saja Selene memberitahukannya di tempat yang sepi dan bukan di kantin kampus atau di kafe Arcadia seperti biasanya."Oke, oke. Pulang yang aman ya~"Selene hanya menggelengkan kepala se

  • My Blissful Marriage   Chapter 23

    Selene tersentak bangun, tubuhnya terduduk kaget sambil melihat ke sekelilingnya.'Ini bukan kamarku.'Namun tak lama kemudian, gadis itu mulai menghela nafas dan merilekskan tubuhnya."Oh iya juga… Semalam kan aku diculik…"Apakah penculikan kata yang tepat?Jika benar diculik, maka tidak ada yang akan tahu dimana dirinya berada. tapi ini…Mungkin lebih tepatnya dipindahkan tanpa persetujuan?Selene menatap ruangan yang masih terasa asing ini. Interior yang benar-benar berbeda dari kamar tempatnya tumbuh besar. Kamar ini didominasi warna abu-abu dan putih. Cahaya matahari pagi menerobos masuk melalui jendela besar, menerangi ruangan. Berbeda dengan kamar miliknya yang didominasi warna soft dan feminim.Selene menunduk dan melihat piyama yang digunakannya, sebuah piyama satin berlengan panjang berwarna hitam. Sepertinya piyama yang sangat lembut itu memang masih baru karena Selene masih dapat mencium bau baju baru saat memakainya semalam.Selene mengambil ponselnya untuk melihat jam.

  • My Blissful Marriage   Chapter 22

    "Bertahanlah sebentar lagi. Kita bisa langsung pulang setelah pengumuman tanggal pernikahan."Itulah yang dikatakan Leonard satu jam yang lalu.Selene menatap pemandangan di luar jendela mobil dengan kening berkerut. Walau Selene tidak hafal setiap jalan yang ada di kota ini, setidaknya ia tahu jelas jalan menuju rumahnya.Atau lebih tepatnya jalan menuju ke kediaman Cromwell yang berada di area kompleks elit."Kita mau ke mana?" Tanya Selene setelah memberanikan diri."Kemana lagi? Pulang."Selene langsung menoleh ke arah Leonard yang berada di sebelahnya."Ini bukan jalan ke rumahku.""Of course, karena kita ke rumahku." Jawab Leonard sedikit terkekeh."Apa?""Ke rumahku," ulang Leonard. "Tenang, sebentar lagi kita sampai kok."Tak Selene duga perkataan "kita" yang pria itu ucapkan satu jam yang lalu benar-benar bermakna KITA.Dalam artian Selene dan Leonard.Bersama."Apa kau gila?!"Kalimat itu membuat Leonard menghembuskan nafas geli. Mereka telah bertemu lima kali dan dua diantar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status