Home / Mafia / My Husband was a Cartel Boss / Sentuhan di Balik Badai

Share

Sentuhan di Balik Badai

Author: Peonylrs
last update publish date: 2026-05-21 10:13:02

Chapter 3

Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa perban di keningku. Aku menolak untuk menyentuh makanan mewah yang disajikan, membuat tubuhku semakin lemas dan tak bertenaga. Pikiranku terus berputar pada murid-muridku dan bagaimana hancurnya keluargaku di Indonesia jika mereka mengira aku sedang sekarat di rumah sakit Korea.

Malam ini, badai besar melanda Busan. Suara gemuruh petir dan hantaman hujan deras pada dinding kaca kamarku membuat suasana semakin mencekam. Aku meringkuk di lantai di sudut kamar, memeluk lututku erat-erat sambil menangis tertahan. Rasa takut dan rindu rumah bercampur aduk, meremukkan seluruh pertahananku.

Ceklek.

Suara pintu yang terbuka di tengah malam buta membuatku tersentak. Aku mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata, mengira itu adalah Bibi Jung. Namun, siluet tubuh tegap yang berdiri di ambang pintu langsung membuat napas seolah berhenti.

Kim Muyeol.

Dia tidak lagi mengenakan pakaian rapi seperti pengusaha. Pria itu hanya memakai celana panjang hitam tanpa atasan, memamerkan dadanya yang kekar dan otot perutnya yang kokoh. Dia melangkah masuk dengan segelas whiskey di tangannya, memancarkan aroma alkohol yang samar bercampur dengan wangi maskulin yang pekat. Tatapannya yang tajam langsung mengunci sosokku yang merana di lantai, lalu beralih ke nampan makan malam di atas meja yang sama sekali belum kusentuh.

"You are trying to kill yourself, little teacher?" tanyanya dengan suara rendah yang berat, menggema di antara suara badai di luar.

Aku menyusut semakin dalam ke sudut dinding. "Just... let me go... please..." bisikku lirih dengan sisa tenaga yang kupunya.

Muyeol berjalan mendekat, lalu tanpa diduga, dia ikut berjongkok di hadapanku. Jarak yang begitu dekat hingga membuatku bisa merasakan hawa panas dari tubuhnya yang kokoh. Dia menaruh gelasnya di lantai, lalu meraih daguku lagi dengan cengkeraman yang tidak sekeras dua hari lalu, melainkan sedikit lebih lembut namun tetap tidak bisa ditolak.

"Listen to me, Cariño," ucapnya, sepasang mata gelapnya menatap langsung ke dalam mataku yang sembap. "I don't tolerate weakness in my house. If you die of starvation, it means you defy my order to keep you alive. And no one defies my order." ucapnya dengan datar

"Why do you care? I'm just a hostage to you!" pekikku parau.

Keberanian yang entah dari mana muncul karena rasa putus asa dan lapar yang memuncak membuat suaraku melengking pecah. Namun, sedetik setelah kalimat itu lolos dari bibirku, aku langsung tersadar. Ketakutan yang lebih besar mencengkeramku, aku baru saja meneriaki seorang iblis yang bisa menghabisi nyawaku dalam sekejap. Aku langsung menunduk dalam, merapatkan tubuh ke dinding dengan napas memburu dan tubuh gemetar hebat, menyesali kecerobohanku.

Muyeol terdiam sesaat. Gurat wajahnya yang dingin tampak mengeras, namun untuk satu detik yang sangat singkat, aku melihat kilasan sesuatu yang melelahkan di matanya. Pria ini tampak seperti seseorang yang membawa beban duniawi yang sangat berat di pundaknya.

"Because your life belongs to me now," bisiknya dengan intonasi yang tidak lagi meninggi, melainkan terdengar seperti sebuah pernyataan mutlak. Dia melepaskan daguku, lalu jemarinya yang panjang bergerak mengusap sisa air mata di pipiku dengan gerakan yang sangat pelan dan hati-hati.

Sebelum aku sempat mencerna tindakannya, Muyeol meraih gelasnya dan kembali berdiri. Dia berjalan menuju dinding kaca, berdiri membelakangiku sambil menatap badai laut Busan. Aku memperhatikan bagaimana bahunya yang tegap tampak tegang, seolah dia adalah pria yang tidak pernah benar-benar bisa menurunkan kewaspadaannya bahkan di dalam rumahnya sendiri. Tato ‘El Demonio’ terukir rapi di punggungnya yang kekar itu. Dia tidak pergi dari kamarku, seolah badai di luar—atau mungkin badai di dalam kepalanya sendiri—membuatnya enggan untuk tidur.

Di bawah temaram lampu kamar dan suara guntur yang bersahut-sahutan, aku tetap meringkuk di lantai, memperhatikannya dari belakang. Untuk pertama kalinya, di balik jubah iblis yang menakutkan itu, aku melihat sisi lain dari Kim Muyeol. Seorang pria yang tampak kesepian, waspada, dan terjaga di tengah malam yang paling kelam. Entah takdir apa lagi yang akan membingkai lembaran hidupku bersamanya setelah malam ini. Aku berharap, dunia tidak akan terlalu jahat padaku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • My Husband was a Cartel Boss   Hukuman sang Asisten

    Chapter 6 Pagi pertama sebagai asisten administrasi pribadi Kim Muyeol dimulai dengan debaran jantung yang tidak keruan, rasanya seperti berjalan pelan menuju tiang gantungan. Setelah Bibi Jung mengantarkan sepasang pakaian rajut berwarna krem yang sopan serta flat shoes yang pas di kakiku, aku langsung digiring oleh salah satu pengawal berjas hitam menuju perpustakaan pribadi di lantai dua. Sepanjang koridor yang sunyi, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana aku harus bersikap di depan pria yang semalam baru saja mempermainkan mentalku di atas ranjang yang sama. Begitu pintu ganda kayu dibuka, mataku langsung disambut oleh kemegahan ruangan yang teramat luas. Rak-rak buku tua menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid berkas rahasia yang tersusun rapi. Aroma kertas, kayu premium, dan wangi maskulin khas Muyeol yang dominan bercampur dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, Muyeol sudah duduk di balik meja kerja marmernya yang megah. Dia mengenakan ke

  • My Husband was a Cartel Boss   Batasan di Ambang Malam

    Chapter 5​Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar berlapis sprei sutra gelap tampak seperti altar penghakiman bagiku.​Aku berdiri mematung di dekat pintu, meremas gaun tidur katunku hingga kuku-kuku jariku memutih. Kepalaku menunduk, tidak berani menatap sosok pria yang kini berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan.​"I won't repeat my order twice, Cariño. Get on the bed," ucap Muyeol tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Suaranya datar, namun getaran baritonnya membangkitkan bulu kudukku.​Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Alih-alih langsung naik ke atas kasur, langkahku mendadak terhenti di tengah ruangan. Aku berdiri dengan ragu-ragu, meremas ujung gaun tidur

  • My Husband was a Cartel Boss   Ilusi Kebebasan

    Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya

  • My Husband was a Cartel Boss   Sentuhan di Balik Badai

    Chapter 3Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa perban di keningku. Aku menolak untuk menyentuh makanan mewah yang disajikan, membuat tubuhku semakin lemas dan tak bertenaga. Pikiranku terus berputar pada murid-muridku dan bagaimana hancurnya keluargaku di Indonesia jika mereka mengira aku sedang sekarat di rumah sakit Korea. Malam ini, badai besar melanda Busan. Suara gemuruh petir dan hantaman hujan deras pada dinding kaca kamarku membuat suasana semakin mencekam. Aku meringkuk di lantai di sudut kamar, memeluk lututku erat-erat sambil menangis tertahan. Rasa takut dan rindu rumah bercampur aduk, meremukkan seluruh pertahananku. Ceklek. Suara pintu yang terbuka di tengah malam buta membuatku tersentak. Aku mendongak dengan pandangan

  • My Husband was a Cartel Boss   Sangkar Emas sang Iblis

    Chapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu arang, memancarkan kesan minimalis yang maskulin sekaligus mengintimidasi. Melalui dinding kaca raksasa antipeluru di sisi kamar, aku bisa melihat hamparan laut lepas Busan dari ketinggian perbukitan eksklusif. Aku menyadari luka di keningku telah diobati dengan rapi menggunakan perban baru. Kemeja putihku yang kotor dan robek semalam pun telah diganti dengan sepotong gaun tidur katun yang longgar. Ketakutan mendadak menjalar ke seluruh tubuhku. Siapa yang mengganti pakaianku? Bagaimana dengan tubuhku.. "Are you awake, Miss?" Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan berdiri di dekat pintu kamar mandi, memegang baskom kecil. "Young Master ordered me to

  • My Husband was a Cartel Boss   Awal Takdir

    Chapter 1“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat men

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status