LOGINBab 2
Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu arang, memancarkan kesan minimalis yang maskulin sekaligus mengintimidasi. Melalui dinding kaca raksasa antipeluru di sisi kamar, aku bisa melihat hamparan laut lepas Busan dari ketinggian perbukitan eksklusif. Aku menyadari luka di keningku telah diobati dengan rapi menggunakan perban baru. Kemeja putihku yang kotor dan robek semalam pun telah diganti dengan sepotong gaun tidur katun yang longgar. Ketakutan mendadak menjalar ke seluruh tubuhku. Siapa yang mengganti pakaianku? Bagaimana dengan tubuhku.. "Apakah Anda sudah bangun, Nona?" Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan berdiri di dekat pintu kamar mandi, memegang baskom kecil, ia juga berbahasa Inggris. "Nama saya Jung. Tuan memerintahkan saya untuk mengobati luka-luka Anda dan mengganti pakaian kotor Anda semalam saat Anda sedang pingsan." ucapnya dengan nada suara yang sangat tenang dan sopan, seolah keberadaanku di kamar ini adalah hal yang biasa. Ceklek. Tidak lama setelah pelayan itu pergi, pintu kembali terbuka. Jantungku hampir melompat keluar dari dada saat sosok pria dari bunker semalam melangkah masuk. Penampilannya pagi ini berubah, dia mengenakan kemeja hitam polos yang pas di badan kekarnya, lengannya digulung hingga siku, celana kain hitam, dan rambut hitamnya masih dengan gaya slicked back. Penampilannya tampak sangat terhormat bagai pengusaha sukses, namun tatapan matanya tetap sedingin es. "Kamu tidak menyentuh sarapanmu, Sayang" ucapnya dalam bahasa Inggris yang berat. Dia melirik ke arah nampan makanan di atas meja nakas, lalu berdiri tegak menatapku Aku menyusutkan tubuhku ke sudut ranjang, menarik selimut hingga ke dada saat air mata kembali membanjiri wajahku.... "Di mana aku? Di mana murid-muridku? T-tolong lepaskan aku... Aku tidak akan melaporkan apa pun ke polisi. Aku bisa langsung pulang ke Indonesia dan melupakan semuanya... Aku mohon padamu..." Pria itu tidak langsung menjawab. Langkah kakinya yang tenang namun mantap mendekat, hingga bayangan tubuh tegapnya mengurungku di sudut tempat tidur. Dia membungkuk sedikit, membuat wajah tampannya yang memiliki gurat tegas blasteran Korea-Meksiko berada sangat dekat dengan wajahku. "Apa kau tahu siapa aku, hm?" tanyanya dengan nada suara rendah, datar, namun sarat akan ancaman berbahaya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku pelan. Tubuhku gemetar di bawah tatapannya yang mengunci seluruh pergerakanku. Ketakutan murni mencengkeram dadaku hingga salah satu bulir air mataku jatuh, membasahi pipi. Aku benar-benar buta tentang siapa pria mengerikan di hadapanku ini. Perlahan, jemarinya yang panjang dan dingin bergerak menyentuh wajahku. Dia mengangkat daguku dengan sedikit tekanan, memaksaku untuk menatap langsung ke dalam sepasang mata gelapnya yang intens. "Kim Muyeol," ucapnya memperkenalkan diri dengan nada penuh dominasi mutlak. "Bunker pelabuhan yang kamu masuki tanpa sengaja semalam adalah jantung dari operasi kartelku di Asia. Kamu sudah melihat wajahku, dan kamu sudah melihat hal-hal yang bisa menghancurkan organisasiku." jelasnya dengan datar "Tolong... seseorang pasti sedang mencariku... pihak sekolah... polisi..."ratapku lemas di sela tangis, mencoba melepaskan daguku dari cengkeramannya yang kokoh namun dia tidak membiarkanku berpaling sedikit pun. Muyeol menyeringai tipis. "Tidak ada yang mencarimu, Guru Kecil. Saat ini juga, catatan rumah sakit lokal menyatakan bahwa kamu berada dalam kondisi kritis di bawah isolasi ketat setelah ledakan itu. Murid-muridmu berada di rumah sakit yang sangat berbeda. Anak buahku sudah mengurus polisi—mereka dibayar mahal untuk tutup mulut dan menutup kasusmu. Dalam dua minggu, surat pengunduran diri resmi akan dikirimkan ke sekolahmu, menyatakan bahwa kamu memilih untuk segera pulang ke Indonesia demi menyembuhkan traumamau. Semuanya sudah sempurna—" Jantungku rasanya mencelos mendengar kalimat itu. Seluruh duniaku runtuh seketika. Rencana mereka begitu rapi, kejam, dan tanpa celah. Di luar sana, duniaku berjalan seolah-olah aku sedang berjuang di ambang kematian, padahal nyatanya aku dikurung di sini. Tidak akan ada yang mencariku. Muyeol akhirnya melepaskan cengkeraman di daguku, lalu menegakkan tubuhnya kembali. "Aku membiarkanmu tetap hidup karena membersihkan mayat itu terlalu merepotkan. Namun ingat... di rumah megah ini, akulah hukumnya. Jika kamu mencoba melarikan diri atau mencari bantuan, aku akan memastikan murid-murid kecilmu ikut bersamamu ke dalam kubur. Dimengerti?" Aku membeku, memeluk lututku erat-erat di sudut ranjang setelah dia melangkah pergi dan menutup pintu. Di dalam sangkar emas ini, aku menyadari bahwa hidupku bukan lagi milikku sendiri. Aku telah resmi menjadi tawaran takdir dari seorang iblis bernama Kim Muyeol. Entah takdir apa yang akan membawaku ke depannya.Chapter 29Jantungku berdegup begitu kencang hingga. Aku menatap Muyeol yang kini duduk bersandar pada kepala ranjang besar kami. Pria itu sengaja melonggarkan beberapa kancing kemeja hitamnya, menampilkan dada kekarnya yang terdapat bulu samar, hal itu selalu berhasil membuatku merasa terintimidasi. "Muyeol.. apa maksudmu?" tanyaku terbata-bata, mencoba menanyakan hal itu untuk mengulur waktu. Muyeol tidak menjawab pertanyaanku dengan kata-kata. Dia hanya menyeringai tipis, jenis seringai yang selalu membuatku merasa gugup namun di saat yang sama memicu rasa aneh di perutku.Sebelum aku sempat bersuara lagi, sebelah tangan besarnya yang hangat dan kasar bergerak maju. Dia memegang rambut belakangku dengan genggaman yang mantap, memaksaku untuk berlutut di antara kedua pahanya yang kokoh."Jangan buat aku mengulang ucapanku, Sayang. Gunakan mulutmu untuk membuatku melupakan pria itu," bisik Muyeol rendah dengan suara parau yang teramat dominan, tepat di depan wajahku.Napasnya yang
Chapter 28 Atmosfer di dalam butik mewah itu seketika drop. Cengkeraman tangan Muyeol di pergelangan tanganku terasa begitu erat dan mengunci, sementara aku dapat merasakan detak jantung Muyeol yang mulai berpacu. Muyeol lalu menarikku ke belakang punggungnya. "Aku sedang bertanya," desis Muyeol lagi, suaranya sangat rendah namun getarannya begitu mengintimidasi. "Siapa kau?" Daniel tampak mematung, wajahnya mendadak pucat pasi saat menyadari dua pengawal bertubuh besar di belakang Muyeol sudah menggeser posisi jas mereka, memperlihatkan samar-samar senjata yang terselip di balik pinggang. Sebagai sales manager yang mungkin hanya menaungi salah satu toko di sana, Daniel jelas terlihat sama sekali tidak tahu siapa pemilik asli mall megah ini, yang dia tahu, pria tinggi kekar yang memandangnya seperti ingin membunuh itu adalah Kim Muyeol. "S-saya minta maaf, Pak. Saya tidak bermaksud.." Daniel terbata-bata, langkah kakinya refleks mundur satu langkah dengan tangan yang teran
Chapter 27 Kehidupan di dalam mansion megah itu berubah total sejak kelahiran putra pertamaku. Kim Morgan kini baru menginjak usia dua bulan, dan kehadirannya sukses mengubah rutinitas harian seisi rumah. Kamar tidur utama kami sekarang selalu dipenuhi oleh aroma krim bayi premium dan suara tangisannya yang keras. "Muyeol.. dia menangis lagi," bisikku lirih sambil menyentuh pelan lengan suamiku saat jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Muyeol tak menggubrisku, aku mencoba bangun. Namun, sebelum sempat aku menurunkan kaki dari ranjang, Muyeol mendengus kasar, dia bangun dari kasur, menyalakan lampu nakas, memperlihatkan wajahnya yang datar dan tampak dingin karena kurang tidur. "Diam di sini," kata Muyeol pendek dengan bahasa Inggrisnya yang sexy sambil melangkah mendekati boks bayi di sudut kamar. Pria bertubuh besar itu membungkuk untuk mengangkat Morgan dari sana. Cara Muyeol memegang Morgan benar-benar kaku karena dia mencengkeram ketiak bayi mungil itu dengan kedua
Chapter 26Panggilan telepon misterius itu sempat membuat rahang Muyeol mengeras. Aku sendiri dapat merasakan paranoia akibat peristiwa makan malam berdarah itu. Muyeol langsung menyambar ponselnya dengan wajah sekeras batu, siap meremukkan rahang siapa pun di seberang sana yang berani mengusik ketenangannya.Muyeol diam, menunggu suara di ujung telephone itu memulai percakapan. Aku hanya bisa menahan napas ketakutan di balik selimut. Namun, perlahan rahang tegas Muyeol mengendur saat mendengar suara di balik telepon itu. “Tuan, apakah Anda tertarik untuk meningkatkan paket data internet Anda dengan SK Telecom—"Ekspresi wajahnya berubah dari iblis yang haus darah menjadi pria yang sangat kesal sekaligus terlihat bodoh.Suara robotik khas operator perempuan Korea dari pengeras suara ponselnya memecah keheningan kamar.Muyeol langsung mematikan sambungan telepon itu tanpa sepatah kata pun. Dia melempar ponselnya kembali ke atas nakas dengan dengusan kasar, lalu kembali berbaring di
Chapter 25Lima bulan telah berlalu sejak malam berdarah di pelabuhan Busan. Selama itu pula, Muyeol benar-benar mengurungku di dalam mansion mewah ini di bawah penjagaan super ketat.Sikapnya yang dominan dan tidak bisa dibaca itu masih sama. Kandunganku kini telah menginjak usia enam bulan, membuat perutku membuncit dengan sangat jelas di balik gaun tidur satin yang kukenakan.Pintu kamar mandi terbuka, memperlihatkan Muyeol yang baru saja selesai membersihkan diri. Hanya dengan handuk yang melilit pinggangnya, dia berjalan mendekat ke arah ranjang tempatku duduk sembari membaca sebuah buku."kau masih membaca buku tidak berguna itu?" tanya Muyeol dalam bahasa inggrisnya, suara baritonnya memecah keheningan kamar malam itu.Aku mendongak, lalu menutup buku di pangkuanku dengan pelan. "tapi.. ini buku tentang perkembangan bayi. .."Muyeol tidak membalas lagi. Dia naik ke atas ranjang, memosisikan tubuh besarnya di atasku tanpa memberikan jarak. Aku tidak lagi gemetar ketakutan seper
Chapter 24Efek suntikan vitamin dari dokter faksi setidaknya memberiku sedikit tenaga untuk berdiri tegak di depan cermin, meski rona pucat di wajahku harus ditutupi oleh riasan yang lebih tebal dari biasanya. Kalung berlian itu melingkar dengan indah di leherku, berkilau mewah namun terasa seperti rantai yang mengikat kebebasanku.Pintu kamar terbuka, memperlihatkan Muyeol yang sudah tampil sangat gagah dengan setelan jas berwarna hitam formal. Dia melangkah mendekat, berdiri di belakang punggungku, lalu menatap pantulan diri kami berdua lewat cermin besar tanpa ekspresi romantis.."Sempurna," puji Muyeol pendek dalam bahasa Inggris dengan suara baritonnya yang berat. Dia melingkarkan lengannya di pinggangku dari belakang dengan cengkeraman yang teramat posesif, mengunci pergerakanku. Aku hanya bisa menurut. Iring-iringan sedan hitam mewah milik faksi Kim membelah jalanan malam Busan lalu berhenti tepat di depan pelataran harbor clubhouse, sebuah bangunan arsitektur modern berga
Chapter 5 Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruanga
Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan
Chapter 3 Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriks
Chapter 1 “You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine,” ucapnya dengan nada datar yang dingin. (("Kamu sudah melihat apa yang seharusnya tidak kau lihat. Sekarang, kamu punya dua pilihan. Keluar sebagai mayat atau menjadi milikku."))







