登入
Chapter 1
“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat mencintai murid-muridku, dan mengira hidupku akan selalu tenang serta berjalan normal. Namun, seluruh kedamaian itu hancur lebur dalam satu malam kelam. Aroma hangus yang menyengat, debu tebal yang menggelapkan pandangan, dan suara berdenging yang menyakitkan di telinga adalah hal pertama yang kusadari saat perlahan membuka mata. Kepalaku terasa pening. Aku terbatuk, merangkak di atas lantai beton yang dingin dan menyadari kemeja putih yang kukenakan sudah robek. Di beberapa bagian, dipenuhi debu hitam akibat ledakan truk kontainer di area pelabuhan saat acara field trip sekolah kami sore tadi. "Minjun... Jia... where are you?" suaraku keluar bagai bisikan serak yang bergetar hebat. Aku memaksakan diri untuk berdiri. Jemariku mencengkeram dinding beton yang retak demi menahan tubuhku yang limbung. Rasa panik yang luar biasa mendadak mengalahkan rasa sakit di kepalaku, aku harus menemukan murid-muridku yang terpisah saat kepanikan melanda. Dengan mengumpulkan sisa tenaga yang ada, aku terhuyung-huyung mencari jalan keluar melalui lorong bawah tanah pelabuhan yang remang-remang. Hingga akhirnya, aku melihat sebuah pintu besi tebal di ujung koridor. Berharap itu adalah akses menuju dermaga utama, aku mendorong pintu tersebut dengan seluruh sisa tenagaku. Ceklek. Pintu terbuka, dan langkahku langsung terhenti total. Ini bukan jalan keluar umum. Ruangan di balik pintu itu sangat luas, dingin, kedap suara. Di tengah ruangan, seorang pria berusia sekitar 28 tahun sedang duduk dengan santai, namun sosoknya memancarkan aura dominasi yang sangat mengerikan. Wajahnya maskulin dan tampan, dengan rambut hitam yang ditata rapi dengan gaya slicked back. Pria itu mengenakan jaket kulit hitam tanpa kaos, menampilkan otot perutnya yang kokoh dan dada kekarnya. Dia memadukannya dengan celana jeans biru dan sepasang boots khas Meksiko yang kokoh. Di hadapannya, terdapat beberapa tas taktis hitam berisi dokumen dan senjata api. Di sekeliling pria itu, berdiri sekelompok pria berbadan kekar yang dipenuhi tato menyeramkan di bawah temaram lampu. Seketika, seluruh mata di ruangan itu tertuju padaku. Pertemuan penting mereka terinterupsi total oleh kedatanganku. "Min... Minjun..." gumamku lirih, sebelum akhirnya pandanganku menggelap sepenuhnya akibat kelelahan dan syok yang luar biasa. Saat aku tersadar kembali, aku mendapati diriku terduduk di sebuah kursi besi di dalam ruangan kecil yang asing. Tanganku tidak diikat, namun tubuhku terlalu lemas bahkan hanya untuk menggerakkan jari. Pemandangan pertama yang menyambutku adalah wajah seorang pria botak penuh tato yang menatapku dengan seringai menyeramkan. "Who sent you, teacher? How could a foreign teacher know the shortcut to our port operational bunker right when the enemy faction attacked us with a bomb?" tanya pria botak itu sembari melemparkan kartu identitas guru milikku ke lantai dengan kasar. "I... I swear... I don't know what you're talking about..." jawabku lemas. Air mataku luruh, rasa takut mencengkeram dadaku saat menyadari keningku kini sudah dibalut perban. Saat pria botak itu hendak memukul meja untuk mengintimidasi diriku, pintu ruangan mendadak terbuka dengan hantaman keras. Brak! Langkah kaki dari boots Meksiko yang berat terdengar mendekat. Pria botak yang menginterogasi diriku seketika mundur tiga langkah, membungkuk sangat rendah dengan tubuh yang gemetar ketakutan. Pria berjaket kulit hitam dengan rambut slicked back yang kulihat sebelumnya melangkah masuk. Dengan nada suara rendah, berat, dan penuh dominasi mutlak yang membuat bulu kudukku berdiri, pria itu berucap tegas, "Fuera." Tanpa sepatah kata pun, pria botak itu bergegas keluar, meninggalkanku berdua saja dengan pria yang auranya begitu mematikan ini. "An English teacher from Indonesia," ucap pria itu dalam bahasa Inggris yang fasih dengan aksen Spanyol-Meksiko yang kental. Jemarinya yang panjang memegang selembar kertas berisi profil lengkap diriku yang tampaknya telah dicari oleh bawahannya dari tas kerja milikku yang disita. Dari cara pria botak tadi tunduk padanya, aku tahu pria di hadapanku ini bukan sekadar anggota biasa—dia adalah pemimpin tertinggi dari kelompok ini. "Don't hurt me... I just want to find my students..." ratapku lemas, menatapnya penuh permohonan. Pria itu memajukan tubuhnya, menatap langsung ke dalam sepasang mataku yang dipenuhi ketakutan murni. "You entered the wrong room, Cariño," ucapnya dengan tatapan tajam yang mengunci seluruh pergerakanku. Aura pembunuh yang dipancarkannya begitu nyata menindas mentalku. Entah bagaimana nasibku nanti.Chapter 6 Pagi pertama sebagai asisten administrasi pribadi Kim Muyeol dimulai dengan debaran jantung yang tidak keruan, rasanya seperti berjalan pelan menuju tiang gantungan. Setelah Bibi Jung mengantarkan sepasang pakaian rajut berwarna krem yang sopan serta flat shoes yang pas di kakiku, aku langsung digiring oleh salah satu pengawal berjas hitam menuju perpustakaan pribadi di lantai dua. Sepanjang koridor yang sunyi, kepalaku terus berputar memikirkan bagaimana aku harus bersikap di depan pria yang semalam baru saja mempermainkan mentalku di atas ranjang yang sama. Begitu pintu ganda kayu dibuka, mataku langsung disambut oleh kemegahan ruangan yang teramat luas. Rak-rak buku tua menjulang tinggi hingga ke langit-langit, dipenuhi oleh ribuan jilid berkas rahasia yang tersusun rapi. Aroma kertas, kayu premium, dan wangi maskulin khas Muyeol yang dominan bercampur dalam ruangan itu. Di tengah ruangan, Muyeol sudah duduk di balik meja kerja marmernya yang megah. Dia mengenakan ke
Chapter 5Ketakutan murni kembali mencengkeram dadaku begitu kakiku melangkah melewati ambang pintu kamar utama milik Kim Muyeol. Kamar ini jauh lebih luas daripada kamarku sebelumnya, dengan dominasi warna hitam dan abu-abu arang yang memancarkan aura dingin yang mengintimidasi. Di tengah ruangan, sebuah ranjang besar berlapis sprei sutra gelap tampak seperti altar penghakiman bagiku.Aku berdiri mematung di dekat pintu, meremas gaun tidur katunku hingga kuku-kuku jariku memutih. Kepalaku menunduk, tidak berani menatap sosok pria yang kini berjalan santai menuju sofa panjang di sudut ruangan."I won't repeat my order twice, Cariño. Get on the bed," ucap Muyeol tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel di tangannya. Suaranya datar, namun getaran baritonnya membangkitkan bulu kudukku.Aku melangkah masuk dengan sangat pelan, nyaris tanpa suara. Alih-alih langsung naik ke atas kasur, langkahku mendadak terhenti di tengah ruangan. Aku berdiri dengan ragu-ragu, meremas ujung gaun tidur
Chapter 4 Rasa lapar ternyata memiliki batas toleransi yang kejam. Setelah dua hari lebih menolak menyentuh makanan apa pun yang disajikan, tubuhku mulai memberikan sinyal protes. Perutku melilit, lambungku terasa diaduk-aduk, dan kepalaku berputar pening setiap kali aku mencoba menggerakkan badan. Di tengah kesunyian malam yang mencekam, setelah badai besar di luar sedikit mereda menjadi gerimis tipis, ego dan harga diriku akhirnya runtuh total oleh rasa sakit fisik yang tak bisa kutahan. Dengan tangan yang gemetar hebat, aku meraih mangkuk bubur abalon dingin yang diantarkan oleh Bibi Jung sore tadi. Makanan itu sudah sepenuhnya mendingin, permukaannya tampak mengeras karena pendingin ruangan, dan aromanya tidak lagi menggugah selera. Namun, demi bertahan hidup, aku menyuapkan makanan dingin itu ke dalam mulutku sembari meneteskan air mata hangat. Rasanya hambar, terasa sangat berat dan kesat saat melewati tenggorokanku yang kering. Sungguh sebuah ironi, aku menangis bukan hanya
Chapter 3Dua hari telah berlalu sejak malam mengerikan di pelabuhan itu, dan aku masih terkurung di dalam kamar mewah yang kini terasa seperti penjara berlapis emas. Pintu kamar ini selalu dikunci dari luar, kecuali saat pelayan tua bernama Bibi Jung masuk untuk mengantarkan makanan atau memeriksa perban di keningku. Aku menolak untuk menyentuh makanan mewah yang disajikan, membuat tubuhku semakin lemas dan tak bertenaga. Pikiranku terus berputar pada murid-muridku dan bagaimana hancurnya keluargaku di Indonesia jika mereka mengira aku sedang sekarat di rumah sakit Korea. Malam ini, badai besar melanda Busan. Suara gemuruh petir dan hantaman hujan deras pada dinding kaca kamarku membuat suasana semakin mencekam. Aku meringkuk di lantai di sudut kamar, memeluk lututku erat-erat sambil menangis tertahan. Rasa takut dan rindu rumah bercampur aduk, meremukkan seluruh pertahananku. Ceklek. Suara pintu yang terbuka di tengah malam buta membuatku tersentak. Aku mendongak dengan pandangan
Chapter 2 Saat mataku kembali terbuka, rasa dingin dari lantai beton bunker semalam telah lenyap. Aku terbangun di atas ranjang king-sized yang luar biasa empuk, berselimut kain sutra mahal di dalam sebuah kamar tidur mewah yang sangat luas. Dinding kamar itu didominasi warna putih dan abu-abu arang, memancarkan kesan minimalis yang maskulin sekaligus mengintimidasi. Melalui dinding kaca raksasa antipeluru di sisi kamar, aku bisa melihat hamparan laut lepas Busan dari ketinggian perbukitan eksklusif. Aku menyadari luka di keningku telah diobati dengan rapi menggunakan perban baru. Kemeja putihku yang kotor dan robek semalam pun telah diganti dengan sepotong gaun tidur katun yang longgar. Ketakutan mendadak menjalar ke seluruh tubuhku. Siapa yang mengganti pakaianku? Bagaimana dengan tubuhku.. "Are you awake, Miss?" Aku tersentak dan menoleh cepat. Seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan berdiri di dekat pintu kamar mandi, memegang baskom kecil. "Young Master ordered me to
Chapter 1“You have seen what you shouldn't have seen. Now you have two options. Leave as a corpse, or be mine." ucapnya dengan nada datar yang dingin. Aku membeku ketakutan, napasku seolah tercekat di tenggorokan. Menghadapi pilihan mematikan dari sang bos kartel dan menyadari diriku terperangkap di bunker bawah tanah yang mustahil kutembus, seluruh pertahanan mental yang kupunya runtuh sepenuhnya. Rasa pusing kembali menghantam kepalaku, pandanganku berputar kabur, hingga akhirnya kesadaranku habis total. Aku kembali jatuh pingsan di kursi tersebut, sepenuhnya berserah pada takdir di tangan pria asing yang mengerikan itu. Namaku Traya Gayatri. Di usiaku yang baru menginjak 24 tahun, aku berhasil membangun kehidupan impian yang damai di Busan, Korea Selatan. Berbekal ijazah dari salah satu universitas ternama di sini melalui jalur beasiswa, passion mengajar membawaku menjadi seorang guru bahasa Inggris di sebuah sekolah internasional bergengsi di kota pelabuhan ini. Aku sangat men







