تسجيل الدخول"Diam!"
Reza tertawa. Pagi-pagi dia sudah diseret untuk keluar. Padahal mereka tidak ada jadwal kunjungan ke manapun hari ini.Tidak tahunya sang teman sekaligus sang tuan ingin menguntit istrinya. Waktu ke rumah sakit."Dia gak apa-apa." Kata Reza melihat Luna beranjak setelah mengambil obat. Sesekali Luna memegang lengannya. Agaknya masih sakit."Sudah mulai peduli nih ceritanya," tambah si asisten.Aro membidik tajam sarat peringatan, ke arah RTawa menguar dari toko Lana ketika Aro menyentuh handle pintu kaca. Dia urung masuk. Lebih dulu dia perhatikan Lana yang tertawa lebar bersama Mega dan Bintang.Sudah lama Aro tidak melihat Lana tertawa lepas seperti itu.Sangat melegakan ketika Ali berhasil melacak keberadaan Lana. Harusnya pria itu tahu kalau Lana tidak akan ke mana-mana. Jika tidak ada masalah."Dua bulan, Mbak. Gila, ini healing atau mau pindah," celetuk Mega dengan wajah berbinar. Atasannya kembali."Sebenarnya jika tidak dipaksa pulang, aku memang niat tinggal di sana. Enak tahu tempatnya," aku Lana terus terang."Lalu tempat ini bagaimana?" Bintang mengajukan protes."Kan ada kalian. Lihat semua baik-baik saja. Kalian mengelola tempat ini dengan baik. Aku tinggal terima setoran."Mega dan Bintang mendengkus. Walau kemudian mereka terbahak."Capek tahu, jawab pertanyaan Mbak Lana mana. Beuhhh, tiap hari ada aja yang nanya," keluh Bintang yang makin hari kian glowing saja."Jawab aja kabur dari rumah."Ketiganya
"Syukurlah, Aro. Kamu balik, Lana berhasil bujuk kamu."Yang disebut namanya cuma melirik tajam pada sang asisten.Setelah drama Wisnu dan kroconya diusir paksa dari ruangan Aro. Wisnu jelas marah besar. Pria itu bahkan sempat memaki Aro. Namun suami Lana hanya diam. Tak sedikitpun terpancing."Kemarin kalian yang antusias mengirimnya jauh ke luar kota. Sekarang kalian mohon-mohon supaya dia bujuk aku balik.""Itu, itu. Kami cuma bantuin dia. Dia minta tolong. Kami bantulah. Lagian siapa juga yang gak kesel sama kamu."Reza terus mengoceh. Tidak peduli Aro memicing padanya."Selain Lana tidak ada yang boleh mengkritikku."Reza menganga sebelum angkat tangan. "Oke, fine. Asal kamu ingat. Jika kamu ulangi lagi kesalahan yang sama, kita bakal kirim dia ke tempat yang tidak akan bisa kamu temuin.""Dia itu sebenarnya siapanya kalian. Dia istriku, cintanya Laiv mungkin. Tapi kamu, Arash, Gia, Radit. Atas dasar apa ka
"Tidur dulu. Nanti ada yang datang memeriksa.""Gia?" Lana meringis ketika Aro menyentil dahinya."Kamu pikir aku akan membiarkan mereka mendekatimu. Setelah semua yang mereka lakukan."Itu lagi yang dibahas. "Tuan Gubernur, saya pergi karena keinginan saya sendiri.""Tapi mereka memfasilitasi. Aku tidak akan semarah ini jika kamu pergi seperti tahun lalu. Kamu jelas pergi sendiri. Tapi ini, ada Laiv yang membawamu ke kota B. Ada Gia yang membantumu keluar dari rumah sakit. Tanpa persetujuanku.""Tapi Tuan memang tidak peduli."Aro memejamkan mata. Kalah! Dia tidak membantah hal itu."Lana, aku minta maaf."Lana memalingkan wajah. Sungguh sulit melupakan bagaimana Aro membuat lengannya patah. Lantas meninggalkannya begitu saja. "Tuan masih ingat yang saya katakan saat itu, saya benci Tuan."Lana membalikkan badan. Mengubur dirinya dalam selimut. Seperti kebiasaannya. Aro hanya bisa menghela napas. Dia harus lebih bersabar menghadapi Lana. Dia tahu kesalahannya sangat besar. Wajar j
"Kenapa Tuan berubah?"Aro memandang Lana. Ekspresi tidak percaya tersirat nyata di parasnya. "Aku ingin perbaiki semua. Memulai dari awal."Hening membalut keduanya. Hingga tawa Lana meledak. Tawa yang membuat Aro mengerutkan dahi."Tuan jangan bercanda. Pernikahan kita sejak awal sudah ditentukan akhirnya. Tidak perlu diperbaiki, lambat laun kita akan kembali pada kehidupan asal kita.""Tuan sebagai gubernur dengan Nona April sebagai pendamping. Dan saya orang biasa yang berjuang untuk bertahan hidup."Sorot mata Aro menggelap. Detik setelahnya, Lama dibuat jantungan ketika Aro sudah berdiri di hadapannya. Begitu dekat, nyaris tak berjarak. Dua lengan kekar Aro berada di sisi kanan dan kiri Lana. Memenjarakannya tubuh ramping Lana yang kian hari membuat Aro makin hilang kendali."Dilarang mendekat!"Lana gugup. Panik, juga takut. Bayangan malam Aro mengambil kehormatannya kembali muncul. Ia lumayan
"Kenapa saya?""Sebab mulai sekarang kamu akan jadi prioritasku."Lana terbengong ketika dia teringat jawaban Aro. Dia sudah diantar kembali ke rumah. Setelah drama Indah yang menagih janji pernikahan pada Aro."Prioritas? Jangan pikir aku akan tertipu. Tidak. Aku tidak mau kembali."Niat Lana begitu, tapi detik setelahnya dia bingung sendiri. Pasalnya setelah mengecek komentar para warga di media sosial.Sebagian besar dari mereka tidak mau Aro mundur dari jabatannya."Kami sudah kehilangan harapan hidup. Hanya Pak Aro yang bisa kami jadikan pegangan.""Pak Aro ingin melindungi seseorang. Lalu kami harus minta perlindungan sama siapa.""Pak Aro tolong dengarkan kami. Siapapun yang ingin Pak Aro lindungi. Kasih tahu kami. Kami bakal bantu memantau di manapun beliau berada. Asal jangan mundur dulu jadi gubernur. Setidaknya sampai masa jabatan habis.""Kami baru mulai menata hidup. Masak sudah harus dijegal lagi. Pak Aro jelas tahu kalau pemerintahan kita tidak baik-baik saja.""Please,
Lana terbelalak. "L, L siapa?"Aro tersenyum tipis. "Harusnya kamu lebih tahu siapa L."Lana terdiam sebelum menyusul Aro dan kepala pabrik. "Aku tidak terima kamu jadikan ML di novelmu.""Pede sekali Anda.""Ngakulah kalau L itu kamu."Wanita itu memejamkan mata. Lagi-lagi dia terjebak oleh ucapan Aro. Hingga tanpa sadar Lana telah mengekspose identitasnya sebagai penulis recehan."Dengar L. Aku tidak terima.""Saya tidak pernah menyebut Anda dalam novel saya."Kepalang ketahuan, nyebur saja sekalian."Tapi karakter yang kamu pakai, deskripsi yang kamu gunakan untuk menggambarkan si pemeran pria. Base-nya adalah aku."Pria itu kini berdiri di hadapan Lana. Meski sama sekali tidak mengintimidasi Lana. Tetap saja Aro adalah pemegang kendali atas diskusi dadakan soal "royalti" yang entah harus dibayar atau tidak.Pasalnya karakter si ML yang Lana bayangkan memang terinspirasi dari Aro. Tampannya, arogannya, dinginnya. Bahkan sampai ke printilan tingkahnya, semua Aro sekali."Tidak ada







