เข้าสู่ระบบSabtu, 16 Maret 2002.
Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.
Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di
Sabtu, 16 Maret 2002.Yamamoto berhenti tepat di belakang Nadya. Beberapa detik tidak ada yang bergerak. Hanya suara pendingin udara, napas mereka yang semakin berat, dan debur laut samar dari balik pintu balkon.Nadya masih mencengkeram sandaran sofa. Ia bisa merasakan keraguan lelaki itu, sisa dari dua malam sebelumnya. Ketika menoleh dari balik bahu, Yamamoto masih menunggu.“Sekarang.”Barulah tangannya turun ke pinggang Nadya.Sentuhan pertama masih terlalu tertahan. Nadya langsung mengembuskan napas tidak sabar.“Jangan lembut.”Kalimat itu seperti memutus sesuatu. Yamamoto menariknya lebih dekat dan Nadya mendesis pelan, lalu tersenyum. Sejak pantai ia memang menginginkan ini. Bukan Yamamoto yang terus menjaga jarak, melainkan lelaki yang sudah hampir dua jam dipaksanya menahan diri.Sofa bergeser sedikit.Tawa pendek Nadya segera berubah menjadi desahan. Napas Yamamoto terdengar semakin be
Sabtu, 16 Maret 2002.Pagi itu Nadya sudah mengenakan bikini biru di balik kaus putih dan celana pendek krem ketika Yamamoto keluar dari kamar mandi. Ia hanya mengatakan ingin ke pantai. Yamamoto mengikutinya tanpa banyak bertanya, mungkin masih mengingat ucapan semalam bahwa hari itu Nadya yang menentukan.Di bawah payung pantai, Yamamoto melepas kaus. Tangan Nadya yang sedang membuka tas langsung berhenti. Selama ini ia lebih sering melihat lelaki itu dalam kemeja atau jas. Di bawah matahari, tubuhnya ternyata masih sangat terawat. Bahunya lebar, dada dan lengannya padat, sementara perutnya cukup rata. Garis otot di punggung ikut bergerak ketika ia membungkuk mengambil handuk.“Umur kamu sebenarnya berapa?”“Thirty-nine.”Nadya memandang sekali lagi, kali ini terang-terangan. Yamamoto menangkap tatapannya dan tersenyum sebelum berjalan menuju air. Nadya ikut menahan senyum. Ia teringat lelaki itu pernah menyebut jogging da
Jumat, 15 Maret 2002.Nadya terbangun ketika cahaya dari sela tirai sudah memenuhi kamar. Sisi tempat tidur di sebelahnya kosong. Sofa pun sudah rapi, bantal dan selimut tipis terlipat, sementara jas serta sepatu kerja Yamamoto tidak terlihat.Hampir pukul delapan ketika ia menemukan secarik kertas di meja samping tempat tidur.I’m sorry about last night.You said stop. I should stop.No excuse.I come back this afternoon.Yamamoto.Nadya membacanya dua kali. Kertas itu sempat hendak diremas sebelum akhirnya hanya dilipat sekali dan diletakkan kembali.Setelah mandi, ia mengenakan celana pendek krem, atasan putih ringan, dan sandal datar. Saat keluar kamar, Nadya sempat menoleh ke meja tempat surat tadi berada.Ia tidak membawanya.Di lobby, bahasa Jepang terdengar hampir di mana-mana. Rombongan wisatawan menunggu bus dengan kamera dan tas belanja. Beberapa perempuan muda sibuk berfoto, sementara pasangan yang lebih tua membaca brosur. Seorang pemandu Bali berbicara dengan campuran ba
Kamis, 14 Maret 2002.Dinner berlangsung di restoran sebuah hotel di Nusa Dua sebagai bagian dari koordinasi regional yang dihadiri orang-orang dari Jakarta dan Surabaya. Di meja itu ada dua orang Jepang, Sato dan Takahashi, serta tiga orang Indonesia dari customer dan partner bisnis, termasuk Arman Pranoto.Yamamoto memperkenalkan Nadya hanya dengan namanya.“This is Nadya.”Mereka bersalaman lalu duduk. Arman, lelaki sekitar empat puluhan yang berada hampir berhadapan dengan Nadya, paling mudah membuka percakapan. Berbeda dengan Gunawan yang pernah ditemuinya di Jakarta, lelaki itu banyak tersenyum dan cepat berpindah dari urusan pekerjaan ke obrolan ringan.Nadya lebih banyak mendengarkan pembicaraan tentang hasil meeting siang, agenda keesokan hari, kebutuhan customer, dan jadwal pengiriman. Bahasa Indonesia, Inggris, dan Jepang bercampur. Sebulan tambahan di Evergreen membuatnya tidak lagi sepenuhnya kehilangan arah. Ia masih terti
Sebulan setelah membeli bikini biru bersama Yuli, Bali tidak lagi hanya berupa catatan di buku kecil Nadya.Legalisir ijazah tiba dari Bangka beberapa hari kemudian. Lima salinan yang sudah mendapat pengesahan sekolah langsung masuk ke map Atma Jaya bersama formulir, fotokopi identitas, pasfoto, dan catatan persyaratan yang masih harus diselesaikan. Nadya sempat kembali ke kampus untuk memastikan semuanya. Evergreen tetap berjalan dua kali seminggu, dan jadwal untuk minggu keberangkatannya sudah dipastikan agar perjalanan ke Bali tidak meninggalkan urusan yang belum jelas.Dalam sebulan itu Nadya mulai lebih mudah menangkap percakapan sederhana dalam bahasa Jepang. Ia belum sanggup mengikuti orang yang bicara cepat, tetapi tidak lagi harus menerjemahkan setiap kata di kepalanya.Menjelang akhir Februari, Yamamoto memberikan itinerary. Penerbangan Kamis pagi, 14 Maret, kembali Minggu sore. Hotel di Nusa Dua. Kamis ada meeting di Denpasar dan dinner malam hari, se
Selasa, 12 Februari 2002.“Kak, siang ini temenin aku cari baju.”Yuli yang sedang bersiap berangkat kerja awalnya hanya bertanya Nadya mau mencari baju apa. Baru ketika Nadya menyebut Bali, suara sepupunya berubah.“Bali? Sama Jepangmu itu?”“Yamamoto bukan Jepangku.”“Iya. Jepang punya orang lain.”Nadya mendengus, lalu menjelaskan bahwa perjalanan mereka berlangsung empat hari pada pertengahan Maret. Kamis dan Jumat masih ada urusan perusahaan, sedangkan Sabtu dan Minggu kosong. Ketika Yuli akhirnya bertanya berapa bayarannya dan mendengar angka empat juta di luar tiket, hotel, makan, serta transportasi, perempuan itu hanya bersiul kecil.“Lumayan. Berarti belanjanya pakai otak. Jangan dibayar empat juta, tiga jutanya habis sebelum berangkat.”“Itu juga yang kupikirin.”“Nah. Berarti kita masih benar-benar sepupuan.”Mereka sepa







