LOGINMinggu, 24 Juni 2001.
Cahaya pagi menyusup dari celah tirai ketika Nadya membuka mata. Beberapa detik ia tidak tahu berada di kamar siapa. Seprai putih, dengung pendingin udara, serta lengan Januar yang tergeletak di atas pinggangnya terasa asing sekaligus terlalu nyaman untuk segera ditinggalkan.
Ia bergeser pelan. Tubuhnya masih menyimpan sisa malam tadi—sedikit pegal, hangat, dan malu yang kini tidak lagi membuatnya ingin bersembunyi. Gerakannya membangunkan Januar. Lak
Selasa, 25 Februari 2003Pukul setengah sembilan pagi, halaman gudang Bumi Lintas sudah berjalan seperti biasa. Satu truk sedang dipanaskan mesinnya, dua pekerja memindahkan beberapa barang di sisi gudang, sementara Arman berdiri di depan kantor kecil dengan map di tangan.Januar keluar dari dalam dan melihat sekeliling. “Jangan ada yang dibikin beda cuma karena mereka datang.”Arman tersenyum tipis. “Kalau ada kardus miring, dibiarin juga?”“Kalau memang biasanya miring, iya.”Nadya yang berdiri dekat pintu menahan senyum. Sejak tadi pagi Januar sudah tiga kali mengingatkan hal yang sama: tidak ada bunga baru, tidak ada meja yang sengaja dikosongkan, tidak ada truk pinjaman yang didatangkan hanya supaya halaman terlihat penuh.Permintaan Kuroda sehari sebelumnya terlalu jelas.Ia ingin melihat Bumi Lintas sebagaimana adanya.Mobil dari Yamashiro masuk beberapa menit sebelum pukul sembilan. K
Senin, 24 Februari 2003Mobil Januar masuk ke gerbang Yamashiro beberapa menit sebelum pukul sembilan. Nadya duduk di belakang bersama Arman, mengenakan blus putih, rok hitam di bawah lutut, dan blazer tipis. Di dalam tasnya tersimpan kartu nama Bumi Lintas serta salinan kronologi yang selama seminggu terakhir sudah mereka baca berkali-kali.Gedung kantor tidak berbeda dari kunjungannya tiga bulan lalu. Dulu Nadya melewati gerbang itu membawa kartu baru bertuliskan Nadya Thung, Sales Executive, berharap Bumi Lintas mendapat kesempatan. Sekarang nama yang sama tercantum dalam dokumen kantor pusat dan menjadi salah satu alasan seseorang datang dari Tokyo.Seorang staf Purchasing membawa mereka ke ruang meeting. Yamamoto sudah berada di sana bersama dua staf Indonesia. Di ujung meja duduk lelaki Jepang berkacamata tipis, mungkin awal empat puluhan, mengenakan setelan gelap dengan map tebal di depannya. Seorang perempuan Indonesia duduk di sam
Selasa, 25 Februari 2003Pukul setengah sembilan pagi, halaman gudang Bumi Lintas sudah berjalan seperti biasa. Satu truk sedang dipanaskan mesinnya, dua pekerja memindahkan beberapa barang di sisi gudang, sementara Arman berdiri di depan kantor kecil dengan map di tangan.Januar keluar dari dalam dan melihat sekeliling. “Jangan ada yang dibikin beda cuma karena mereka datang.”Arman tersenyum tipis. “Kalau ada kardus miring, dibiarin juga?”“Kalau memang biasanya miring, iya.”Nadya yang berdiri dekat pintu menahan senyum. Sejak tadi pagi Januar sudah tiga kali mengingatkan hal yang sama: tidak ada bunga baru, tidak ada meja yang sengaja dikosongkan, tidak ada truk pinjaman yang didatangkan hanya supaya halaman terlihat penuh.Permintaan Kuroda sehari sebelumnya terlalu jelas.Ia ingin melihat Bumi Lintas sebagaimana adanya.Mobil dari Yamashiro masuk beberapa menit sebelum pukul sembilan. K
Senin, 24 Februari 2003Mobil Januar masuk ke gerbang Yamashiro beberapa menit sebelum pukul sembilan. Nadya duduk di belakang bersama Arman, mengenakan blus putih, rok hitam di bawah lutut, dan blazer tipis. Di dalam tasnya tersimpan kartu nama Bumi Lintas serta salinan kronologi yang selama seminggu terakhir sudah mereka baca berkali-kali.Gedung kantor tidak berbeda dari kunjungannya tiga bulan lalu. Dulu Nadya melewati gerbang itu membawa kartu baru bertuliskan Nadya Thung, Sales Executive, berharap Bumi Lintas mendapat kesempatan. Sekarang nama yang sama tercantum dalam dokumen kantor pusat dan menjadi salah satu alasan seseorang datang dari Tokyo.Seorang staf Purchasing membawa mereka ke ruang meeting. Yamamoto sudah berada di sana bersama dua staf Indonesia. Di ujung meja duduk lelaki Jepang berkacamata tipis, mungkin awal empat puluhan, mengenakan setelan gelap dengan map tebal di depannya. Seorang perempuan Indonesia duduk di sam
Nadya masih memandangi lembar fax di tangannya. Di bawah nama Yamamoto dan Sato tercetak satu nama yang membuat urusan kantor pusat Yamashiro mendadak terasa jauh lebih dekat.Nadya Thung.Januar ikut membaca dari sampingnya. “Mereka dapat nama lengkap kau dari mana?”“Waktu meeting pertama aku kasih kartu nama ke Sato.” Nadya masih ingat ruang meeting Yamashiro, Arman yang memimpin presentasi, dan dirinya yang diperkenalkan sebagai Sales Executive Bumi Lintas. “Hari itu pertama kali aku ketemu dia.”Arman menarik fax lebih dekat. “Berarti wajar nama Mbak Nadya ada. Dari awal memang datang mewakili sales.”Januar mengangguk. Di samping nama Yamamoto terdapat catatan mengenai introduction awal, sementara Sato tercatat sebagai Purchasing Manager yang menangani evaluasi vendor. Nama Nadya muncul sebagai pihak Bumi Lintas yang beberapa kali berkomunikasi langsung dengan Purchasing.“
Senin, 17 Februari 2003Selepas kuliah, Nadya langsung menuju Cakung. Tidurnya hanya beberapa jam setelah malam panjang di rumah Januar, tetapi rasa lelah itu seperti tertinggal begitu ia turun dari taksi dan melihat dua truk Bumi Lintas terparkir di depan gudang. Sejak bangun pagi, satu kalimat Januar terus mengikutinya: Sato ditarik kembali ke Jepang.Di dalam kantor kecil yang menyatu dengan gudang, Januar sudah duduk bersama Arman. Beberapa lembar fax tergeletak di meja, bercampur dengan copy company profile, dokumen vendor, dan laporan pengiriman Yamashiro. Nadya menarik kursi tanpa banyak bicara.Sebelum membuka dokumen, Nadya menceritakan singkat peringatan Yamamoto lima hari lalu bahwa kantor pusat mulai mempertanyakan cepatnya proses Bumi Lintas.“Jadi bagaimana?” tanyanya.Arman menyerahkan satu lembar fax. Informasinya pendek: Sato tidak lagi menangani account Bumi Lintas dan seluruh komunikasi sementara dialihka







