Share

Bab 8

Pria matang itu kembali menemui Berlian yang sejak tadi panas dingin menunggu kabar. Yoga masuk ke dalam mobil dengan wajah mudah dibaca oleh sang gadis.

"Gimana, Om?" Berlian membuka suara.

Yoga menggeleng lemas. "Ibumu tak ada di dalam sana. Mungkin, dia pergi ke tempat lain. Bukan ke sini." Wajahnya tertunduk. Lalu, menyalakan mesin mobil dan memutar kemudi.

"Astaghfirullah." Berlian menutup wajahnya. "Aku harus ke mana lagi mencari Ibu, Om? Dia selalu pergi malam dan pulang pagi. Itupun kalau ada yang mengantarnya. Jika pulang malam, selalu dalam keadaan mabuk. Aku harus bagaimana?"

"Sabar! Pasti ada jalan, kau hanya perlu terus berdo'a. Kita tidak tau kapan seseorang mendapat hidayah. Sekarang, aku antar kau pulang."

Perjalanan malam itu terasa hambar. Hati tak tenang dan kepala mendadak berdenyut nyeri. Berlian menyandarkan kepalanya dan mengikuti jalan takdir mirisnya.

Ia membayangkan Ibunya tengah bersenang-senang dengan pria hidung belang. Ada rasa panas terbakar membayangk
Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status