LOGINDanu dengan cepat membukakan pintu untuk Laura kemudian pergi agak menjauh takut terjadi sesuatu dengan bosnya. Sementara Sakti masih berduel dengan salah satu pengawal Simon. Hingga jurus terakhir yang keluarkan Sakti membuat pengawal itu tersungkur. Dengan hati kesal, kaki Sakti menginjak tangan pengawal itu.
"Beraninya kalian memperalat wanita," gertak Sakti."Aaaau!"Pengawal itu berteriak sambil meringis kesakitan. Melihat keadaan tidak memungkinkan Sakti la"Bagaimana ciri-ciri orang itu?" Ratih mulai mengorek informasi dari pria berkulit hitam itu. Namun apa yang terjadi? Pria itu malah melihat Ratih dengan pandangan mesum. Buru-buru Ratih mengambil uang seratus ribuan lalu diberikan pada pria itu. "Mas, makasih ya sudah ngasih info," ucap Ratih sedikit dengan wajah pucat. Dia sendirian. Kalau di tempat ini dia apa-apain pasti gak ada yang nolong. Apalagi dengan rok yang sangat pendek. Kulit putih dan penampilan kayak artis. Ratih baru menyadarinya. "Rupanya Sakti sudah bertemu dengan wanita itu. Atau itu Laura. Istri yang hilang dan dicari Sakti? Hmm, kayaknya semakin susah dapatin Pak Sakti. Padahal aku udah baik merawat dia di rumah sakit. Tapi tetap saja."Ratih kesal. Tidak jadi mencari Sakti. Langsung menuju ke kantornya. Untuk saat ini dia lebih fokus pada bisnisnya......Selang tiga hari, Laura dinyatakan sembuh. Dia minta pada Sakti untuk diantar pulang. Tapi Sakti gak setuju. Dia mengendus sesuatu yang busuk di rumah
Baru saja Sakti akan menyanyikan lagu balonku ada lima. Mendadak perutnya terasa sakit. "Sayang, maaf ya. Aku gak jadi nyanyi. Aku mau ke kamar mandi," ucap Sakti sambil meringis. Dia meninggalkan Laura dengan tawanya yang lepas. Baru kali ini dia bisa berbuat seperti ini. Laura menatap punggung Sakti. Dia tidak mengerti kalau memang kemaren dia masuk rumah sakit. Kenapa rambut Sakti udah gondrong. Padahal waktu bersamanya rambutnya pendek dan rapi. Kulit Sakti juga sedikit gelap dengan otot lengan kayak pegulat. "Kayak bukan Sakti tapi dia Sakti. Sebenarnya ada apa?" Laura terus bertanya dalam hati. Setengah jam kemudian.Sakti keluar masih memegangi perut. Rupanya tadi dia makan bakso dengan Eko dengan sambel yang banyak. Hingga perutnya sakit. "Kenapa belum tidur. Ini sudah mau dini hari. Tidurlah. Aku akan di sampingmu," ucap Sakti kembali duduk di samping ranjang rumah sakit. "Yang, ini kamu kan? Sakti yang aku temukan dan aku paksa nikah?" tanya Laura gak mau berpaling
Pukul 01.00 dini hari di rumah sakit.Hanya terdengar bunyi detak jantung Sakti dan Laura. JugaSuara jam yang ada di kamar VIP Aroma menyengat dan bau karbol menyeruak di hidung Sakti.Pria gagah dan gondrong itu tertidur di ranjang rumah sakit. Baru kali ini sakit merasakan tidur di rumah sakit menunggu istri. Sebelumnya mana pernah dia seperti ini. Semua dia serahkan kepada asisten dan karyawan. Kini hidupnya menjadi lain, penuh arti. Dia merasakan menunggu seseorang yang dia cintai, siuman mengharapkan dia kembali. Laura membuka mata, nafasnya sudah teratur tapi kepalanya masih terasa sangat berat. Hanya bau karbol dan obat yang menyeruak di hidungnya. Laura berusaha menggerakkan tangan yang digenggam oleh Sakti. "Sakti, Sayang," lirih Laura hampir tidak terdengar. Tangan Laura bergerak hingga membuat Sakti terbangun. "Laura!" pekik langsung berdiri. Mereka saling tatap penuh kasih. Akhirnya bertemu juga. Terakhir Laura masih ingat di rumah Simon kini dia berada di r
Rina pikir, Sakti sudah menunggu di Hotel Cakra seusai kesepakatan. Rina akan membayar sejuta satu jam untuk bertemu dengannya. Rina tidak peduli walau harus keluar uang. Yang penting bisa kencan dengan Dewa. Pria mana yang gak akan tergoda lihat penampilan Rina saat ini. Seksi dan montok. Atau bisa lanjut ke kamar hotel. Melihat betapa gagah Dewa akan bercinta dengan dirinya. Sampai di hotel Cakra, Rina masih yakin kalau Dewa akan datang sesuai janji. Dia berjalan dengan santai. Belum juga bertemu dengan Dewa, dia menangkap sosok yang gak asing lagi. SONY. Pria itu datang dengan wanita lain. Sungguh memuakkan. Pria yang sudah merasakan lebih dari satu wanita tidak akan berhenti untuk berpetualang. Bahkan pria itu mungkin akan check in ke hotel itu juga. Rina memilih menghindar dari pria itu. Gak peduli lagi. Rina lebih milih pergi. Sony yang dulu membuat dia hampir gila. Kini kencan dengan wanita yang lebih muda dan cantik. Rina menuju cafe yang ada di hotel itu. Memesan wine
Sakti dan Eko masuk ke dalam ruang rawat inap. Ada dua perawat berusaha memberikan pertolongan pada Laura. Sakti sangat cemas. Dia memegang tangan Laura. Berusaha menyalurkan tenaga dalam pada istrinya. Sakti tau, kalau Laura kondisinya lemah. Hingga dua menit berlalu. "Laura, kamu harus sembuh, Sayang," bisik Sakti dengan mengerahkan tenaga dalam.Keajaiban terjadi. Tubuh Laura yang tadinya membiru kini mulai terlihat merah. Ada aliran darah."Wah, dia mulai membaik,Pak!" teriak perawat dengan wajah berseri. Pasien bisa diselamatkan. Monitor yang tadinya bergerak sangat cepat kembali naik normal. "Terima kasih, Suster," ucap Sakti sambil membungkuk. Hampir saja Laura pergi meninggalkan dunia ini untuk selamanya. Sebelum melihat Sakti. "Bang,aku pamit dulu ya. Mau narik lagi," ucap Eko. "Iya Mas Eko. Makasih sudah banyak membantu. Oh ya suatu saat pasti aku menghubungi Mas Eko," ucap Sakti. Dia berdiri dan memegang pundak Eko. Terkadang orang yang kelihatan sepele dan gak p
Sakti melompat saat mendengar suara teriakan minta tolong. Dia sangat mengenal suara itu. Mirip suara Laura. Dari jauh dia melihat wanita berambut pirang ditarik paksa oleh dua laki-laki yang berperawakan besar dan kulitnya hitam. Wanita itu Laura. "Tolong lepaskan! Aku gak mau jadi tahananmu!" teriak Laura mencoba melepaskan dari tangan pria yang menariknya. Hingga pakaiannya koyak dan tubuhnya berdarah di kaki dan lutut. "Enak aja. Mak Jamilah punya utang yang gede. Kapan mau bayar. Gak nyangka punya anak segede gini. Cantik dan montok pula. Walau gak muda. Ha...haa . Lumayan nanti bisa digilir dengan bos."Salah satu pria terus menarik tubuh Laura akan dimasukkan ke dalam mobil. BRAAAAAK...Tendangan mematikan mengenai punggung pria itu hingga tubuhnya tersungkur mental mengenai mobil yang terparkir di pinggir jalan. Salah satu pria datang menghadang dan mendorong tubuh Laura hingga wanita itu tersungkur. "Elu siapa? Mau ikut campur aja!" teriak salah satu pria dengan mata
Sony pulang dengan tiga ajudannya. Laura dan Cindy bernafas lega. Sakti juga mulai membuka kaca matanya. Dia mengambil minum untuk Laura dan mengelap keringat dingin yang keluar dari dahinya. "Kamu capek, Laura?" tanya Sakti."Sebaiknya minum dulu," tambah pria itu. Perlakuan Sakti terhadap Laura
Sakti terus memperhatikan Sony dari balik kaca hitam yang dia pakai. Dendam itu kembali muncul. Namun, dia harus menahan demi hasil yang lebih bagus. Sakti ingin Sony hancur bersama dengan bisnisnya. Tanpa mempunyai satu sen pun dan merangkak kepadanya. Saat ini belum waktu yang tepat. Sony duduk
"Dewa, kenapa kamu diam saja. Ayuk berangkat!" ajak Laura berjalan dengan anggun. "Ba--ik,Laura," sahut Sakti. Dia masih penasaran dengan pemilik Dewangga Grup yang mengajak kerja sama dengan Laura. Apakah ada Dewangga yang lain atau memang Sony Dewangga? Sampai depan garasi, Danu sudah siap men
"Selamat malam,Nyonya," sapa Mang Ujang masih mengantuk dan sedikit panik. Tidak biasanya majikannya datang ke rumah Senopati pas malam hari. "Ada apa, Nyonya? Apa Mamang sudah buat kesalahan?" tanya Mang Ujang lagi. "Tidak ada apa-apa. Tugas kamu hanya tutup mulut saja," ucap







