LOGINDanu dengan cepat membukakan pintu untuk Laura kemudian pergi agak menjauh takut terjadi sesuatu dengan bosnya. Sementara Sakti masih berduel dengan salah satu pengawal Simon. Hingga jurus terakhir yang keluarkan Sakti membuat pengawal itu tersungkur. Dengan hati kesal, kaki Sakti menginjak tangan pengawal itu.
"Beraninya kalian memperalat wanita," gertak Sakti."Aaaau!"Pengawal itu berteriak sambil meringis kesakitan. Melihat keadaan tidak memungkinkan Sakti laEsuk harinya, Jabrik justru gak bisa bangun. Dia terkapar sakit setelah bertarung dengan Sakti. Lengannya hampir patah. Tidak bisa digerakkan. Sakti merasa sangat bersalah karena sudah menyakiti Jabrik.Siapa yang salah? Dia kan yang menantang?Ketika membuka mata, Sakti duduk di sebelah Jabrik. Dia bingung tidak memegang uang sama sekali. Tidak mungkin dia menyulap makanan. Dia bukan penyihir. "Bang, gue bingung mau ngapain? Abang lapar kan? Gue juga sama. Tapi gak ada uang," lirih Sakti. Dia ingin mengumpat. Sungguh menyedihkan. Dia bilang tidak butuh uang. Hah! Nyatanya saat ini dia sangat membutuhkan uang. Orang kaya yang terlempar di dunia orang miskin sungguh sangat mengerikan. Kalau orang miskin sudah terbiasa dengan makan seadanya."Sakti, gue tidak punya uang sama sekali. Elu bisa berangkat nyari rongsok sekarang. Nanti setelah elu jual rongsokan bisa beli bubur buat gue," lirih Jabrik. Pria kuat dan tangguh itu hanya terbaring lemah. "Elu bisa kan?" Jabrik menatap Sakt
Malam itu sangat cerah. Bulan belum sepenuhnya purnama. Masih terlihat separuh di langit biru berbaur dengan bintang-bintang. Tantangan Jabrik untuk adu duel dengan Brewok menunggu purnama penuhArtinya harus menunggu seminggu lagi. Setelah makan malam yang hanya satu bungkus nasi kucing. Nasi sedikit dengan lauk tempe goreng dan sedikit ikan asin serta sambel untuk pelengkap rasa. Sakti dan Jabrik duduk di depan bedeng Jabrik. Mereka menghisap rokok sambil duduk di potongan kayu yang tidak terpakai. Mata Jabrik masih memandangi lampu-lampu di gedung bertingkat jauh di sana. Beda sekali dengan suasana di tumpukan sampah yang mulai menggunung. "Abang betah di sini?" tanya Sakti membuka percakapan di sela asap rokok. Sesekali Sakti terbatuk tidak kuat menghisap rokok yang tanpa menggunakan filter. Sebelumnya dia menerapkan hidup sehat tanpa mengenal rokok. Mendadak sekarang dia terlempar ke dunia yang mau enggak mau menginginkan dia m
Jabrik gegas membuka pintu bedeng yang terbuat dari seng. Diikuti oleh Sakti. Selama ini belum pernah ada yang mau main ke tempat Jabrik. Entah takut atau segan dengan pria tinggi besar itu. Sekarang ada tamu yang tidak diundang dan suaranya yang menggelegar bak petir di siang bolong. "Hei, siapa Lo? Sungguh tidak sopan. Ini rumah gue?"bentak Jabrik dengan berkacak pinggang. Ada tiga laki-laki yang datang di depan rumah bedeng Jabrik. Satu berambut gondrong dengan topi serta kumis lebat. Satunya kepalanya botak dengan ikat kepala sementara yang satu berambut cepak dengan hidung pesek. Sakti mengenali salah satu pria yang datang. Sempat tadi berkelahi di dekat tumpukan sampah. Minta ampun malah datang bawa orang. "Bang Jabrik, gue anak buang Bang Brewok. Sesuai kesepakatan Bang Jabrik gak akan ganggu anak buah Bang Brewok. Tadi anak buah Bang Jabrik ganggu teman gue hingga babak belur. Artinya Bang Jabrik menantang bos gue," ujar pria yang berambut gondrong. "Anak buah gue? Siape
"Dasar pecundang! Main serang aja! Rasakan ini!" teriak Sakti dengan mengarahkan kedua tangan memukul kaki pria tidak dikenal. Suara gemuruh bersamaan dengan jatuhnya tubuh besar pria itu. Lengkingan keluar dari mulut pria itu sambil menyeringai. "Aaaah, kurang ajar! Siapa lu? Gue akan lapor dengan ketua geng gue?" teriak pria itu memegangi pinggangnya. Hampir saja Sakti memukul punggung yang bisa saja membuat pria itu tidak berkutik, namun dia ingat pesan gurunya. Jangan membunuh orang yang gak ada hubungan dendam dengannya. Nafasnya tertahan, dia kembali berdiri dengan posisi kedua lutut ditekuk. "Tolong, gue gak ingin mati secepatnya ini!" teriak pria itu dengan melambaikan tangan tanda menyerah. "Hei, pecundang! Jangan sepelekan orang yang baru lu kenal. Pergi sana. Untung gue baru sembuh. Kalau enggak udah hancur Lo!" teriak Sakti dengan mata memerah, dengan nafas turun naik. Sambil merangkak, pria itu meninggalkan tumpukan sampah. Bukannya minta maaf,justru kilatan mata
Mata Rina memerah, dadanya turun naik menahan amarah. Kalau dia tidak jadi menikah dengan Sony, artinya dia akan keluar dari keluarga Dewangga Grup. Apalagi gugatan perceraiannya semua yang ngurus Sony. Rina bahkan tidak mendapatkan bagian harta atau perusahaan semua ditarik Sony. Sungguh licik pria yang ada di depannya. Rina meringis sinis. Dia tidak jadi marah. Mengibaskan tangan kekar Sony. Melangkah mundur sedikit. Masih dengan tatapan tajam dan nafas yang mulai teratur. "Ok, kamu ingin membatalkan pernikahan? Gak masalah. Siang ini juga aku akan balik ke rumahku. Silakan kuasai semuanya. Setelah kamu puas menikmati tubuhku."Sony membetulkan jas yang dipakainya. Dia tersenyum hingga giginya yang bagus terlihat. Tidak sedih atau merasa kehilangan. "Elu yang menginginkan bukan gue. Elu yang pengen gue jamah. Wajar aja kalau elu udah sangat membosankan," tegas Sony lagi. "Mending elu cepat pergi! Gue muak dengan wajah dan tingkah elu!" bentak Sony. Rina ingin menangis tapi dita
Laki-laki yang merasa dirinya ganteng dan gagah serta punya kuasa. Akan seenaknya mempermainkan wanita. Bahkan bisa menginginkan wanita model apa saja. Hah,untuk menikah? Bukan tujuan utama. Bagi Sony, menikah akan mengekang geraknya. Apalagi dengan Rina. Wanita yang tidak mengenal dunia malam. Tidak mengenal minuman alkohol. Yang ada hanya parasit dan belanja. Tidak menantang sama sekali. Baru bertemu dengan Laura sekali saja, Sony sudah tergoda. Dari tatapan mata dan gerak bibir, Sony sudah bisa menebak wanita seperti apa Laura. Hingga dia berniat ingin membatalkan pernikahan dengan Rina, mantan kakak iparnya. Namun, begitu melihat Cintia yang masih muda dan seksi dengan body menggoda, dia juga terpikat. Kalau bisa mungkin wanita cantik yang ada di kantor. Dia dululah yang mencicipi. Siapa yang akan berani dengan dia. Sedikit ancaman mampu membuat wanita tidak bisa menolak. Rupanya Cintia juga bukan wanita yang sok jual mahal. Dia memang sengaja memikat Sony, bosnya. Wanita mana







