تسجيل الدخولSakti sedikit terlambat ketika semua trek itu meninggalkan tempat pembuangan akhir. Gegas dia melompat di bak belakang layaknya bajing lompat. Walau dia harus menahan perutnya yang sedikit mual. Campur aduk baunya. Dia tidak sadar bisa tertidur di bak sampah itu. Yang penting sampai Jakarta. Hingga dia mendengar sebuah obrolan membuat jantungnya seolah berhenti berdetak. Telinganya sudah terlatih untuk mendengar pembicaraan yang pelan sekalipun di dekatnya. "Bang Jambrong, bagaimana dengan gadis yang dari kampung itu? Apakah harganya sesuai?" Supir trek yang bernama Didik, sedang berdiri di belakang bak sampah dengan kernetnya,Yatno. Di depannya berdiri seorang pria dengan kumis tebal, badan yang gendut. Hanya pakai kaos dan celana jeans. Mereka memanggilnya Jambrong. "Wah dia masih mulus, gue pastikan nanti malam ada pembeli dengan harga tinggi. Dia datang dari sebrang," ucap Jambrong dengan mata bersinar. "Lalu mana bagian gue,Bang," ucap Disik dengan menengadahkan tangan
Sambil menunggu Jabrik sembuh dari sakitnya,Sakti ikut membantu mencari barang rongsok di tumpukan sampah. Dia semakin akrab dengan orang-orang di sana. Pun, kehidupan orang pinggiran yang dipandang sebelah mata oleh pemerintah. Bahkan terkadang dianggap sampah. Bagi Sakti, mereka adalah pahlawan keluarga. Entah mengapa sejak ada Sakti, banyak ditemukan harta karun tersembunyi. Seperti besi yang terpendam di tumpukan sampah. Seolah ada magnet yang menyedot besi-besi itu. Hingga warga sangat senang. Dari berbaur dengan para pemulung, Sakti banyak belajar tentang hidup dan bertahan hidup. Di balik megahnya kota Jakarta, ada beberapa orang yang hanya bertahan dan hidup dari sampah. Bahkan mereka bisa membiayai anak-anak yang sedang sekolah di kampung. Mereka datang dari berbagai wilayah. Brewok dan anak buahnya sudah tidak berani lagi datang untuk meminta uang pada orang-orang. Kabarnya, Brewok masih sakit dirawat oleh istri tuanya. Dia juga enggan melapor pada pihak yang berwaji
Kali ini Brewok menyerah. Dia tidak berkutik lagi setelah tubuhnya terkapar dan diinjak Sakti. Pria yang selama ini ditakuti di wilayah kumuh itu sekarang bagaikan singa tua hilang taringnya. "Katakan apa permintaanmu yang terakhir sebelum aku membunuhmu!" bentak Sakti.Kali ini Sakti sudah tidak punya rasa kasihan. Terkadang rasa itu akan menjebaknya dalam situasi yang sulit. "Tolong sebelum gue mati, gue pengen lihat makam bapak gue. Gue ingin minta maaf. Gak bisa jadi manusia baik. Gue pikir akan bisa jaya selamanya. Ternyata gue salah. Gue kalah sama anak ingusan macam elu," kata Brewok sedikit terbata. Sakti menghentikan kakinya menginjak punggung Brewok. Dia gak mau tangannya kotor membunuh pria tidak berguna macam Brewok. Biarlah manusia itu mati sendiri merasakan sakit dan penderitaan sebagaimana dia makan uang orang pinggiran itu. "Hoi ...!" teriak Sakti. "Keluarlah! Aku butuh bantuan kalian! Pertarungan sudah selesai. Dia sudah kalah!" "Aku tau kalian mengintip dari da
Sakti menyiapkan jurus andalannya. Dia sudah siap walaupun saat ini tidak ada yang mendukung. "Gue gak tau kenapa elu harus bertemu dengan gue. Hari paling sial dalam sejarah elu. Bertarung dengan gue!" teriak Brewok.Brewok juga sudah siap. Dia membuka kaos hingga bertelanjang dada. Kalau Sakti terlihat perutnya yang penuh otot sedangkan Brewok mirip gentong dengan perut yang besar. Tiga anak buah Brewok berdiri di pinggir sambil berkacak pinggang. Menonton apa yang akan ditampilkan Sakti. "Hiaaaat!" Brewok dan Sakti maju secara bersamaan. Sakti menyerang dengan pukulan tangan kanan. Ditangkis Brewok dengan tangannya. Nampaknya Brewok memang sangat jago. Beberapa jurus serangan Sakti bisa ditangkis. Mereka melompat dari satu sisi ke sisi lain. Suara tendangan dan pukulan silih berganti. Bahkan anak buah Brewok ikut bersuara. Mereka geregetan hingga sampai badannya gerak sendiri. BRAAAAAKSatu pukulan Brewok mendadak mengenai kaki saat Sakti sedikit tidak fokus. Sakti hingga dia
Kabar pertarungan antara Sakti dan ketua preman-Brewok- sudah tersebar. Semua penghuni rumah liar yang ada di sekitar pembuangan sampah itu berharap dengan cemas. Bagaimana tidak? Orang baru akan melawan bos preman yang menguasai tempat itu bertahun-tahun.Kalau orang itu berhasil kalah dengan Brewok. Alamat mereka akan menjadi budak Brewok selamanya. Mencari rongsok harus setor tiap hari dengan Brewok. Tidak bisa menikmati hasil jerih payah. Sudah miskin diperas pula. Itulah kehidupan pinggir jalan para pemulung. Tempat lapang itu bukannya rame justru terlihat sepi. Tidak ada lampu penerangan sama sekali. Mereka masih bersembunyi di balik rumah kardus atau rumah yang terbuat dari barang rongsok. "Sakti, elu jadi berangkat bertarung dengan Brewok? Apa elu yakin dia akan datang dengan tantangan elu?" Jabrik berusaha duduk. Tangannya sudah mendingan setelah minum obat dan diurut Sakti. "Gue gak akan mundur Bang. Kalau dibiarkan orang itu tambah kurang ajar. Kalau emang nanti gue k
Sakti pulang ke bedeng dengan basah kuyup. Tidak memegang uang atau makanan. Bahkan dia tidak tau harus jual rongsok di mana?"Sakti, kenapa pulang lebih cepat? Apa kamu sudah dapat uang?" tanya Jabrik masih tergeletak di kasur lantai. "Gue gak dapat uang,Bang. Diganggu sama anak buah Brewok. Nanti malam gue mau tempur sama dia," jelas Sakti. Dia membuka semua baju yang kotor akan membersihkan diri. "Wah Bangsat! Ada berapa anak buah Brewok yang ganggu?""Ada tiga, Bang. Aman. Mereka udah gue lumpuhin. Tinggal nanti malam saja.""Maafin gue, Bang. Semua besi dijual sama orang-orang. Gue gak mau mereka berebut.""Ya sudahlah. Kali ini kita harus nahan lapar," ujar Jabrik akhirnya. "Nanti gue keluar, Bang. Nyari makanan. Kasihan Bang Jabrik harus makan," tandas Sakti. Dia menghempaskan tubuhnya di lantai. Masih memikirkan ulah anak buah Brewok. "Bang, emang di sini kayak gitu ya? Kalau gak







