LOGINPluk... pluk.Tetesan air tanah berbau karatan mendarat tepat di sela pelipis kiriku yang penuh kerak semen kering. Dingin. Cairan keruh itu mengalir lambat melewati pipi asliku, tersangkut di sudut bibirku yang pecah-pecah berdarah. Asin campur daki. Mati rasa total dari batas leher sampai ke ujung bot militer penyokku yang solnya sudah melosot di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruangan semen bawah tanah ini benar-benar pekat, tebal, mirip ditimbun karung terpal kotor di dasar sumur mati. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku beberapa hari lalu.Kopong. Mati suri beneran badanku sekarang.Aneh beneran sisa isi otak manusianya. Di tengah kondisi kotor ti
Pluk.Tetesan air tanah yang berbau karatan mendarat lagi di pelipis kiriku. Asin campur tanah. Bau lumut tua bercampur kotoran kelelawar kering menyumbat penuh di sela lubang respirator penyokku. Masih kaku. Mati rasa dari leher sampai ke ujung bot militerku yang solnya terlepas di dalam lumpur bunker.Gelapnya ruang semen bawah tanah ini benar-benar tebal, tidak ada bedanya dengan memejamkan mata. Jam internal di kepalaku sudah mati total. Aku tidak tahu berapa hari atau berapa minggu aku sudah telentang di kolong rumah pompa tua ini seperti bangkai mesin traktor yang dibuang pemiliknya.Bzzzzt.Meletup tipis sekali sisa kabel di lubang dada kiriku. Bukan rasa panas membakar seperti di altar dulu, cuma kedutan kecil di sela tulang rusuk asliku yang patah.Masih ada denyut di dalam sana.Pelan sekali. Dug... berjarak sangat panjang, seperti detak jarum jam dinding tua yang kehabisan baterai. Aneh beneran. Di tengah kegelapan yang menghimpit dada besiku, sisa pikiran manusianya mendad
Tik... tik... tik.Tetesan air tanah berbau karat jatuh berulang kali di atas pelat zirah dada kiriku yang sudah jebol. Dingin. Bensin busuk bercampur sisa oli rem yang kemarin membuih di rongga dadaku sekarang sudah mengering kaku, berubah jadi kerak hitam yang melengketkan sisa kain baju militarku ke tulang rusuk asli. Gelapnya bunker bawah tanah ini beneran pekat tanpa ampun. Tidak ada suara desis katup air, tidak ada desing sirkuit bionik, cuma ada bau kotoran kelelawar kering bercampur lumut tua yang menyumbat sisa lubang hidungku.Berapa hari aku telentang kaku di atas lantai semen kotor ini? Entahlah. Jam internal di dalam tempurung kepalaku sudah mati total sejak indikator Fatal-00 menyala di mata bionikku kemarin.Kopong. Mati suri beneran.Anehnya, sisa kesadaran manusiaku yang terapung di dalam kegelapan pekat mendadak melintas memikirkan rasa kuah soto mie dingin yang dibungkus plastik lecek di pinggir jalan perkebunan dulu. Sangat acak dan goblok. Kenapa juga ingatan samp
Teng... teng... teng...Dentang lonceng darurat dari arah ibu kota menggema makin panjang. Jauh, tapi getarannya merembes masuk lewat fondasi tegel rumah pompa yang retak. Debu semen kotor rontok lagi dari sela atap kayu lapuk, mendarat di atas pelipis kananku yang penuh kerak darah membeku. Perihnya sudah hilang. Berganti kebas tebal yang menjalar dari pangkal leher sampai ke ujung lima jari tangan kanan organikku yang kaku.Gelap pekat. Kelopak mata kiri asliku yang terbuka setengah cuma bisa menangkap bayangan remang abu-abu dari balik celah papan kayu pintu yang diganjal pipa besi karatan.Khuk!Vane batuk kencang di sudut ruangan yang pengap. Suaranya serak berat, menyemburkan dahak kental warna cokelat ke atas tumpukan kotoran kelelawar kering. Bau ketek asem bercampur oli bensin gosong dari baju kargonya yang robek-robek makin pekat memenuhi rongga hidungku yang sudah melengkung peyang. Kakinya yang patah engsel berdecit klik... klek... sret sewaktu dia memaksakan badannya berd
Pletak.Hening lagi. Bau kencing kelelawar yang menyengat bercampur minyak tanah tua merayap lambat di rongga hidungku yang sudah melengkung peyang. Dingin sekali ubin tegel pecah di bawah punggung zirahkan. Sensasi di kulit leher bawahku rasanya mirip ditempeli kain wol basah yang direndam dalam air es selokan. Gak ada pendar lampu indikator lagi di rongga dadaku. Cuma gelap pekat yang membungkus mata kiri asliku, beradu sama denyut tumpul yang menjalar pelan dari kawat saraf punggung yang sudah kendor total.Klang!Potongan pipa besi dihantamkan Vane ke slot selak pintu kayu rumah pompa. Berisik. Suara benturan logam itu memantul di dinding semen yang lapuk, bikin sisa tengkorak kepalaku yang lemot ini rasanya mau belah dua. Napas kapten pemberontak itu kedengaran makin pendek-pendek, ngos-ngosan persis mesin gilingan tebu yang kehabisan solar di tengah sawah."Pintunya udah kuganjal pakai sisa tiang karatan, Haneul... mereka gak bakal gampang jebol dari luar," kata Vane parau, disu
Ngung...Sunyi mendadak. Suara raungan mesin diesel jip militer Seowon yang tadi menggilas kerikil jalan aspal atas pelan-pelan menghilang. Redup. Sisa dengingan panjang di kuping kananku berangsur tipis, diganti suara jangkrik parit yang bunyinya nyaring menyakitkan ubun-ubun. Bau solar gosong bercampur kencing tikus dari kubangan parit makin lekat di sela respirator hidungku yang katupnya sudah peyang.Setengah wajah asliku masih nyungsep di dalam tanah merah basah luar kota. Lapisan es hitam tipis sisa energi Kantara Haneul mulai mengerak di sekitar semak berduri, bentuknya tajam mirip pecahan botol kecap yang berserakan di lantai gudang kotor."Udah... udah jauh jipnya," bisik Vane parau.Uhuk! Huek!Muntah lagi kapten pemberontak itu di sebelah kanan badanku. Cairan cokelat kental bercampur darah segar disemburkannya ke atas daun enceng gondok busuk sampai baunya makin bacin bukan main. Bunyi engsel paha bionik kanannya berdecit klik... krek... seret sewaktu dia mencoba menegakka
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi mem
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi,
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak be
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang







