LOGINBab 6: Prasasti di Dinding Kristal
Dingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi. Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak. "Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buang sisa kenanganmu tentang pria lemah itu, dan kau akan menjadi tak terkalahkan." Haneul mengatur napasnya yang tersengal. Keringat bercampur darah menetes dari dagunya, membasahi gaun putihnya yang compang-camping dan kini ternoda bercak-bercak hitam. "Hamin... bukan pria lemah," desisnya, suaranya parau dan bergetar. Sebuah rasa perih menusuk dadanya setiap kali ia menyebut nama itu. Mendengar nama Hamin, Malakai mendengus sinis. Ia menjentikkan jarinya, dan sepuluh prajurit bayangan itu bergerak serentak. Mereka menyerang dari segala arah dengan kecepatan yang mengaburkan pandangan. Haneul mencoba menghalau serangan pertama dengan gelombang energi hitam, namun rantai di pergelangan tangannya—yang sengaja dipanjangkan oleh Malakai namun tetap terikat erat—mendadak menyempit, menyerap energinya tepat sebelum ia bisa melepaskannya. Srak! Sebuah pedang bayangan menyayat punggung Haneul. Ia jatuh tersungkur, mengerang kesakitan saat rasa panas membakar menjalar dari luka itu. Setiap luka baru bukan hanya mengoyak kulitnya, tapi terasa seperti pisau yang mengikis ingatannya. Wajah Hamin yang biasanya begitu jelas di matanya, kini mulai tampak buram, seolah tertutup kabut tebal yang tak kunjung hilang. "Lihat?" Malakai turun perlahan dari balkon, langkah kakinya tidak bersuara di atas lantai kristal. "Rantai ini bereaksi terhadap emosimu. Setiap kali kau mengingatnya, kau menjadi lemah. Kau adalah lubang hitam, Haneul. Dan lubang hitam tidak mencintai; ia hanya melahap. Dan saat ini, kau sangat lapar." Malakai berdiri di depan Haneul yang tertelungkup. Ia menginjak rantai plasma yang menghubungkan tangan Haneul ke takhta batu. "Minumlah esensi mana mentah ini," perintahnya, menyodorkan sebuah cawan keramik kuno berisi cairan ungu kental yang beraroma memabukkan. "Atau aku akan membiarkan bayangan-bayangan ini memotong jari-jarimu satu per satu sampai kau menyerah pada takdirmu." Haneul menatap cairan itu dengan ngeri. Ia tahu, setiap tetes cairan itu akan memperkuat kekuatannya, tapi sekaligus akan menghapus lebih banyak kemanusiaannya. Di saat kritis itu, ia merangkak menuju dinding kristal di sudut ruangan. Dengan kuku jarinya yang berdarah, ia menggoreskan sesuatu di sana. H-A-M-I-N. Hanya lima huruf. Namun baginya, itu adalah prasasti terakhir dari jiwanya yang tersisa. Sementara itu, di tempat yang jauh di bawah Menara, di kedalaman Sektor Hitam yang kumuh dan terabaikan, seorang pria sedang bertarung dengan iblis di dalam dirinya sendiri. Hamin terbangun dalam kondisi tubuh yang hancur. Gua persembunyian Jiran dipenuhi dengan aroma ramuan obat yang sangat pahit. Namun, rasa pahit di mulutnya tidak sebanding dengan rasa pahit di hatinya saat menyadari bahwa tempat di sampingnya kosong. Haneul tidak ada di sana. "Dia pergi, Panglima. Dia memilih untuk mengorbankan dirinya agar kau bisa tetap bernapas," Jiran berkata sambil mengganti perban di dada Hamin yang menghitam. Hamin mencoba duduk, namun rasa sakit yang menusuk membuatnya mengerang. "Aku tidak meminta nyawanya, Jiran. Aku meminta dia tetap di sisiku!" "Dunia sudah menganggapmu mati, Hamin. Seowon telah menghapus namamu dari sejarah. Kau sekarang adalah hantu," lanjut Jiran dingin. Hamin menatap tangannya yang gemetar. Garis-garis hitam bekas kontak energi dengan Haneul masih ada di sana, berdenyut pelan seolah sedang memanggil pemilik aslinya. Ia menyadari satu hal: meskipun Haneul memintanya untuk melupakannya, ia tidak akan pernah bisa. "Jika aku harus menjadi hantu untuk menjemputnya, maka biarlah," bisik Hamin. Suaranya kini terdengar berat dan penuh kegelapan. Ia meraih sisa pedangnya yang patah. Logam hitam itu tampak tumpul, namun di mata Hamin, itu adalah alat untuk meruntuhkan takhta Malakai. "Jiran, aku butuh lebih dari sekadar obat," ucap Hamin sambil menatap sang tabib tua dengan mata yang menyala. "Aku butuh akses ke gudang senjata terlarang Unit 7. Aku butuh prajurit yang tidak takut mati. Jika Seowon dan Malakai ingin bermain dengan monster, aku akan memberikan mereka monster yang paling mengerikan." Hamin berdiri, mengabaikan rasa sakit yang seolah merobek otot-ototnya. Ia melangkah menuju mulut gua, menatap langit yang kelabu. Pikirannya melayang pada Haneul. Ia bisa merasakan wanita itu sedang menderita di suatu tempat yang tak terjangkau. "Haneul, jangan pernah biarkan namaku hilang dari kepalamu," bisik Hamin pada angin badai. "Karena aku sedang membangun neraka untuk menjemputmu kembali." Kembali ke Menara, Haneul akhirnya meraih cawan itu. Air mata hitam jatuh dari matanya, membasahi goresan nama Hamin di dinding kristal. Dengan tangan gemetar, ia meminum cairan ungu tersebut. Seketika, energi dahsyat meledak di dalam tubuhnya. Rasa sakitnya menghilang, digantikan oleh kekuatan yang tak terbendung. Matanya yang cokelat berubah menjadi ungu gelap sepenuhnya. Luka di punggungnya menutup dalam sekejap, menyisakan kulit pucat yang mulus tanpa cacat. Ia berdiri, menatap Malakai dengan tatapan yang bisa membekukan jantung mahluk hidup mana pun. "Bagus," puji Malakai, senyum kemenangan tersungging di bibirnya. "Sekarang, coba katakan padaku... siapa nama pria yang kau tangisi tadi?" Haneul terdiam. Ia menatap dinding kristal di hadapannya. Di sana ada goresan nama yang baru saja ia buat. Namun, saat ia menatap huruf-huruf itu, ia merasa seolah sedang melihat bahasa asing yang tidak ia mengerti. "Siapa..." bisik Haneul. Dadanya terasa kosong. Ia tahu nama itu sangat penting. Ia tahu nama itu adalah dunianya. Tapi sekeras apa pun ia mencoba, wajah pria yang menyertainya dalam kenangan itu seolah tertutup oleh tirai hitam yang tebal. "Aku... aku tidak ingat," jawab Haneul pelan. Suaranya kini datar, tanpa emosi, persis seperti yang diinginkan Malakai. Malakai tertawa puas. "Itulah Ratu-ku. Sekarang, mari kita mulai pelajaran yang sesungguhnya." Haneul berbalik menjauhi dinding itu, melangkah ke arah kegelapan yang lebih dalam. Ia tidak melihat bahwa di bawah goresan nama H-A-M-I-N tersebut, setetes darahnya yang masih hangat membentuk pola bulan sabit kecil—sebuah janji yang tertanam di bawah sadarnya, sebuah harapan yang masih berdenyut meski ia sendiri tak lagi mengenali siapa pemilik nama itu. Di Sektor Hitam, Hamin tiba-tiba memuntahkan darah hitam. Jantungnya berdenyut nyeri seolah-olah ada sesuatu yang baru saja diputus secara paksa. Ia jatuh berlutut, mencengkeram dadanya. "Haneul..." desahnya dengan napas yang terengah. Ia tidak tahu bahwa di atas sana, wanita yang ia cintai baru saja kehilangan kepingan paling berharga dari hidupnya. Namun Hamin tidak peduli. Selama ia masih memiliki satu napas terakhir, ia akan menggunakannya untuk mengingatkan Haneul tentang siapa mereka sebenarnya. "Bersiaplah, Jiran," ucap Hamin sambil menyeka darah dari bibirnya. "Perang ini bukan lagi tentang Seowon. Ini tentang mengambil kembali milikku." Malam itu, di dua tempat yang berbeda, dua jiwa yang terikat takdir mulai mempersiapkan diri. Yang satu sedang belajar untuk melupakan, sementara yang lain sedang bersumpah untuk tidak pernah melepaskan. Perang antara ingatan dan kegelapan baru saja dimulai, dan taruhannya adalah nyawa terakhir dari sang Ratu.Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton
Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be







