LOGINHujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.
Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.
Wusss!
Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur.
"Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Berbahaya Tingkat Omega. Luncurkan peluru penekan bionik!" suara mekanis dari drone itu memecah keheningan malam.
Ratatatap!
Rentetan peluru perak berlapis plasma meluncur membelah kegelapan malam. Udara seketika berbau ozon yang terbakar. Namun, sebelum satu pun peluru menyentuh kulitnya, Haneul mengangkat satu tangan dengan gerakan yang sangat tenang—hampir seperti seorang ratu yang sedang menolak permohonan rakyatnya.
Bayangan di bawah kakinya tiba-tiba bangkit, memadat, dan melebar menjadi dinding hitam yang kokoh secara instan. Peluru-peluru itu tidak memantul; mereka tenggelam ke dalam bayangan tersebut dan lenyap tanpa suara, seolah-olah ditelan oleh dimensi lain yang tak berdasar.
"Giliranku," desis Haneul. Suaranya bukan lagi suara lembut yang pernah membisikkan janji cinta pada Hamin, melainkan suara yang berlapis dengan gema kehampaan yang mengerikan.
Dalam satu hentakan kaki, Haneul melesat ke udara, menentang gravitasi. Sulur hitam yang menyerupai tentakel cambuk keluar dari punggungnya, memanjang hingga belasan meter. Dengan satu gerakan memutar yang brutal, ia menghancurkan mesin-mesin baja itu hingga menjadi rongsokan terbakar. Ledakan api menerangi wajah Haneul yang pucat, menampakkan gurat-gurat hitam yang kini merambat hingga ke tulang pipinya.
Di belakangnya, Hamin mencoba bangkit sambil mencengkeram dadanya yang terasa kosong dan dingin. "Haneul! Jangan... jangan biarkan kegelapan itu mengambil alih sepenuhnya!"
Namun, seruan itu terlambat. Kesadaran Haneul telah tenggelam ke dalam insting predator yang murni.
Dari balik kabut tebal yang menyelimuti akar-akar pohon, selusin prajurit Unit Spectre muncul. Mereka bukan prajurit biasa; mereka adalah algojo bionik yang zirahnya telah dilapisi dengan debu kristal anti-sihir. Senjata mereka tidak lagi menggunakan peluru fisik, melainkan frekuensi suara yang dirancang untuk menghancurkan inti energi mahluk supranatural dari dalam.
"Formasi pengepungan! Aktifkan jaring elektroda!" teriak komandan unit yang suaranya terdistorsi oleh helm baja berat.
Dua belas tombak cahaya ditancapkan ke tanah secara melingkar, menciptakan kubah energi yang mengurung Haneul dan Hamin di dalamnya. Udara di dalam kubah itu mendadak menjadi sangat berat, bertekanan tinggi, dan panas. Kekuatan hitam Haneul ditekan secara paksa, membuatnya jatuh berlutut sambil menjerit kesakitan.
"Akhhh!" Haneul mencengkeram dadanya. Jaring energi itu dirancang untuk memutus resonansi antara inang dan kekuatan parasitnya. Rasanya seperti jantungnya sedang ditarik keluar melalui pori-pori kulitnya dengan tang panas.
"Lepaskan dia!" Hamin menerjang maju. Meski tubuhnya lunglai dan penglihatannya mulai berbayang akibat kehilangan banyak mana, insting bertarungnya sebagai Panglima tidak goyah sedikit pun. Ia mengayunkan pedang patahnya, menebas leher salah satu prajurit. Namun, zirah bionik lawan terlalu tebal. Hamin justru dipukul mundur dengan hantaman popor senapan tepat di ulu hatinya.
Hamin terlempar ke belakang, punggungnya menghantam pohon dengan bunyi berderak yang mengerikan. Darah segar menyembur dari mulutnya, membasahi tanah hutan yang becek.
Melihat pria yang menjadi dunianya disiksa di depan matanya sendiri, sesuatu di dalam diri Haneul meledak. Bukan lagi sekadar rasa lapar, tapi kemarahan purba yang menuntut pembalasan tanpa ampun.
"JANGAN... SENTUH... DIA!"
Raungan Haneul bukan lagi suara manusia, melainkan suara badai yang mampu meretakkan batu. Kubah energi Seowon yang diklaim tak tertembus itu mendadak retak seperti kaca yang dipukul palu godam. Cahaya ungu gelap terpancar dari mata Haneul, menyebar ke seluruh area seperti kabut kematian yang pekat.
Prajurit-prajurit Spectre itu tidak sempat berteriak. Bayangan di bawah kaki mereka berubah menjadi duri-duri hitam yang menembus zirah mereka dari arah bawah. Dalam hitungan detik, hutan itu menjadi hening yang mematikan. Tidak ada lagi suara deru mesin; hanya suara napas Haneul yang memburu dan tetesan darah yang jatuh dari ujung sulur bayangannya.
Haneul berbalik ke arah Hamin. Matanya masih hitam pekat, tanpa ada sisa kemanusiaan di sana. Ia melangkah mendekat dengan gerakan kaku, jemarinya melengkung seolah siap untuk mencabik apa pun.
"Haneul... ini aku... Hamin," bisik Hamin parau. Ia tidak berusaha mengambil pedangnya. Ia justru merentangkan tangannya yang gemetar, menawarkan dadanya sebagai sasaran jika itu memang satu-satunya cara untuk menenangkan Haneul. "Jika kau butuh energi lagi... ambil dariku. Jangan biarkan dirimu hilang dalam kegelapan itu."
Langkah Haneul terhenti tepat beberapa inci dari wajah Hamin. Ujung sulur tajamnya berhenti tepat di depan tenggorokan Hamin. Perlahan, warna hitam di matanya menyusut, menampakkan iris cokelatnya yang basah oleh air mata.
"Hamin... aku... apa yang kulakukan?" tangis Haneul pecah. Ia melihat mayat-mayat kering di sekelilingnya dan menyadari bahwa dialah penyebab semua kengerian ini.
"Kau melindungiku," jawab Hamin, sambil mengusap air mata hitam di pipi Haneul dengan ibu jarinya yang dingin.
Tiba-tiba, sebuah tepuk tangan lambat dan berirama terdengar dari kegelapan hutan yang lebih dalam, di mana kabut terasa paling pekat dan menyesakkan.
"Sangat impresif. Seorang Penjaga yang suci kini menjadi dewi kematian, dan seorang Panglima yang agung kini menjadi pelayan setianya. Kisah yang sangat romantis untuk sebuah tragedi yang akan segera berakhir."
Seorang pria jangkung berjubah abu-abu panjang keluar dari balik bayang-bayang pohon tua. Ia mengenakan topeng perak yang menutupi separuh wajahnya, memperlihatkan dagu yang tegas dan senyum yang mengandung bisa. Mata kuning keemasannya berkilat penuh ketertarikan, menatap Haneul seolah ia adalah mahakarya yang baru saja selesai dibuat. Di tangannya, ia memegang sebuah buku kuno bersampul kulit manusia dengan lambang bulan sabit hitam yang identik dengan tanda di tangan Haneul.
Hamin segera memasang posisi siaga, menarik Haneul ke belakang punggungnya meski ia sendiri nyaris tak sanggup berdiri tegak. "Siapa kau? Antek Seowon?"
"Seowon? Jangan samakan aku dengan tikus-tikus yang hanya mengandalkan kabel dan sirkuit itu," pria itu terkekeh, suaranya terdengar seperti gesekan kertas pasir. "Namaku Malakai. Dan aku adalah satu-satunya orang di dunia ini yang tahu bagaimana cara menyelamatkan wanita itu sebelum ia melahap jiwamu sampai habis, Panglima."
Malakai melangkah maju, tidak peduli pada pedang patah Hamin yang diarahkan padanya. "Kutukan itu bukan untuk membunuhnya, tapi untuk membangkitkannya. Tapi kau, Panglima... kau hanyalah baterai cadangan yang akan segera habis. Lihatlah dirimu, kau sudah kehilangan setengah energi hidupmu. Satu pertempuran lagi, dan jantungmu akan berhenti berdetak."
Haneul menatap pria asing itu dengan ngeri sekaligus secercah harapan yang nekat. "Kau bisa menghentikan rasa lapar ini? Kau bisa membiarkannya tetap hidup?"
"Aku bisa mengajarimu cara menguasainya, menjadikannya takhta, bukan beban," Malakai tersenyum misterius di balik topengnya. "Tapi harganya mahal. Kau harus meninggalkannya. Sekarang juga."
Hamin mencengkeram lengan Haneul lebih kuat. "Jangan dengarkan dia, Haneul! Dia hanya ingin memanfaatkanmu!"
"Mungkin," jawab Malakai santai. "Tapi apakah kau punya pilihan lain? Di kejauhan, dua skuadron helikopter Seowon sedang menuju ke sini. Jika kau tetap bersamanya, Hamin akan mati dalam lima menit ke depan. Apakah kau sanggup melihat pria yang kaucintai membusuk di lumpur ini hanya karena egomu, Seo Haneul?"
Haneul terdiam. Ia menatap tangan Hamin yang gemetar hebat, merasakan suhu tubuh pria itu yang semakin turun. Ia tahu Malakai benar. Cinta mereka adalah racun yang paling mematikan bagi satu sama lain.
"Pilih sekarang, Haneul," suara Malakai menggoda di tengah hujan yang semakin deras. "Pergi bersamaku dan biarkan dia bernapas, atau tetap di sini dan tontonlah pemakamannya saat fajar menyingsing."
Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton
Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be







