LOGINRasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.
Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap.
"Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.
Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti ditusuk ribuan jarum bionik. Energi mana murninya berada di titik nadir; ritual paksa yang dilakukan Haneul dan mantra pelindung Malakai telah menguras habis esensi kehidupannya hingga ke dasar paling dalam.
"Jangan memaksakan diri, Panglima. Kau beruntung masih memiliki kaki untuk diseret, apalagi untuk berdiri."
Seorang pria tua dengan jubah rombeng dan penutup mata kulit muncul dari balik kegelapan sudut gua. Ia membawa semangkuk ramuan berwarna keruh yang mengeluarkan aroma pahit menyengat. Hamin mengenali suara dan postur itu—Jiran, mantan tabib militer Unit 7 yang telah lama dinyatakan "hilang dalam tugas" setelah menolak eksperimen ilegal Penasihat Kael.
"Jiran? Di mana aku? Di mana... di mana Haneul?!" Hamin mencengkeram lengan Jiran dengan tangan yang gemetar hebat. Matanya membelalak, mencari jawaban yang sebenarnya ia takuti.
Jiran menghela napas panjang, menyingkirkan tangan Hamin dengan lembut namun tegas. "Kau berada di Sektor Hitam, wilayah yang tidak terjangkau oleh satelit pemindai Seowon karena gangguan magnetik alami. Dan tentang wanita itu... dia sudah pergi, Hamin. Dia menyerahkan dirinya pada penyihir kuno itu demi satu hal: agar kau tetap bernapas."
Hamin terdiam. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada ledakan rudal. Ingatan terakhirnya kembali seperti kepingan kaca yang tajam—wajah Haneul yang pucat, permintaannya untuk dilupakan, dan bagaimana wanita itu melangkah masuk ke dalam kegelapan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.
"Dia tidak pergi karena ingin, Jiran. Dia dipaksa oleh keadaan yang kuciptakan!" Hamin memukul lantai batu dengan kepalan tangannya hingga kulit bukunya pecah dan berdarah. "Aku bersumpah untuk melindunginya, namun pada akhirnya, aku justru menjadi beban yang menghisap nyawanya. Aku membuatnya menjadi monster agar aku bisa bertahan hidup!"
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang dalam kondisi seperti bangkai ini?" tanya Jiran dingin, menatap Hamin tanpa belas kasihan. "Seowon telah mengumumkan kematianmu pagi ini. Mereka merayakanmu sebagai pahlawan yang gugur demi memusnahkan 'Anomali Hitam'. Kau sudah mati bagi dunia, Hamin. Jika kau menampakkan wajahmu di gerbang kota, kau tidak akan disambut dengan kalung bunga, melainkan dengan regu tembak sebagai pengkhianat."
Hamin perlahan berdiri, tubuhnya gemetar namun matanya menyala dengan api yang tidak pernah dilihat Jiran sebelumnya. Ia bersandar pada dinding gua yang kasar, membiarkan rasa sakit di tubuhnya menjadi pengingat akan kegagalannya. Ia tidak peduli lagi pada pangkat Panglima yang pernah ia sandang dengan bangga.
"Biarkan mereka merayakan kematianku," bisik Hamin. Suaranya kini terdengar berbeda—lebih berat, lebih parau, dan mengandung kegelapan yang menyerupai aura Haneul. "Panglima yang setia pada aturan dan protokol itu memang sudah mati di hutan itu. Yang tersisa sekarang hanyalah seorang pria yang tidak lagi memiliki apa pun untuk dilepaskan."
Hamin melangkah tertatih menuju sebuah meja kayu tua di sudut gua. Di sana, pedang hitam legamnya yang kini patah menjadi dua bagian tergeletak. Ia mengambil bilah logam yang hancur itu, menatap pantulan wajahnya yang penuh luka dan kotor di permukaannya yang retak. Dia melihat refleksi seorang pria yang telah kehilangan segalanya, namun mendapatkan satu tujuan baru yang gila.
"Jiran, aku tahu kau masih memiliki akses ke jalur komunikasi rahasia Unit 7. Aku tahu masih ada prajurit yang muak dengan kebohongan Kael dan militer Seowon," ucap Hamin tanpa menoleh. "Hubungi mereka. Katakan bahwa hantu yang mereka pikir sudah tenang, kini sedang bangkit kembali dari liang kubur."
"Kau gila? Kau ingin melakukan pemberontakan melawan seluruh kekuatan militer Seowon hanya dengan sisa-sisa prajurit terbuang?" Jiran tertegun.
"Aku akan melakukan apa pun," Hamin mencengkeram bilah pedang patahnya hingga telapak tangannya teriris, membiarkan darah segarnya membasahi logam hitam itu seolah-olah memberikan janji baru yang berlumuran darah. "Jika dunia menyebut Haneul monster, maka aku akan menjadi iblis yang lebih mengerikan dari siapa pun. Aku akan membangun tentara dari bayang-bayang para pecundang, dan aku akan mencari Menara Malakai meski aku harus membakar setiap jengkal tanah yang menghalangiku."
Di luar gua, gemuruh petir menyambar langit yang kelabu, menandakan badai besar akan segera datang. Di dalam kegelapan itu, seorang pahlawan telah lahir kembali sebagai pemimpin pemberontak yang paling berbahaya. Hamin tidak lagi peduli pada kehormatan, pangkat, atau sejarah keluarga. Baginya, satu-satunya hukum yang tersisa adalah membawa Haneul kembali ke sisinya—tak peduli berapa banyak takhta yang harus ia hancurkan di sepanjang jalan.
"Tunggu aku, Haneul," bisiknya pada kegelapan yang sunyi. "Jangan biarkan iblis itu menghapus namaku dari ingatanmu, karena aku sedang datang untuk meruntuhkan sangkar kristalmu dan menyeretmu kembali ke pelukanku."
Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton
Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t
Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan
Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di
Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya
Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be







