Home / Fantasi / Napas Terakhir untuk Sang Ratu / Bab 4: Perpisahan di Atas Darah

Share

Bab 4: Perpisahan di Atas Darah

Author: Founna Math
last update Huling Na-update: 2026-01-17 20:57:14

Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.

Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman.

"Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."

Malakai, yang berdiri beberapa langkah dari mereka dengan keanggunan seorang predator, hanya memutar-mutar buku kunonya dengan ekspresi bosan. "Keputusanmu, Kantara? Jika misil-misil itu mendarat, aku bisa menghilang dengan mudah. Tapi pria ini? Dengan kondisi mana yang terkuras habis, dia akan hancur menjadi serpihan daging dalam hitungan detik. Kau ingin melihat isi perutnya berhamburan karena egomu?"

Haneul menatap tangan hitamnya yang masih berdenyut kencang. Setiap detak jantungnya seolah mengirimkan gelombang listrik statis yang menyiksa. Ia bisa merasakan tarikan magnetis yang mengerikan dari dalam tubuh Hamin—kekuatan di dalam dirinya masih lapar, masih ingin merayap masuk dan memangsa sisa-sisa terakhir hidup pria itu.

Aku mencintaimu, Hamin. Dan karena itulah, aku harus menjadi alasan kau tetap bernapas, meski aku tidak lagi di sampingmu.

Haneul berbalik, menatap Malakai dengan mata yang kini berkilat penuh tekad yang dingin dan hampa. "Bawa aku pergi. Selamatkan dia, hapus jejak energinya dari radar Seowon agar Kael tidak bisa menemukannya, dan pastikan jantungnya tetap berdetak. Itu syaratku. Jika kau melanggarnya, aku akan menghancurkan portalmu dari dalam."

"HANEUL! TIDAK! JANGAN LAKUKAN ITU!" Hamin meraung, sebuah teriakan keputusasaan yang merobek kesunyian hutan, lebih tajam dari suara misil yang mendekat. Dengan sisa tenaganya yang terakhir, ia mencoba berdiri. Namun, tubuhnya mengkhianatinya. Ia jatuh tersungkur di atas lumpur yang dingin, tangannya mencengkeram akar pohon hingga kukunya berdarah, menyaksikan wanita yang ia puja melangkah mendekati sang pembawa kegelapan.

"Kesepakatan tercapai, Ratu Kegelapan," ucap Malakai dengan senyum kemenangan yang menyayat.

Pria bertopeng itu mengibaskan tangannya ke udara dengan gerakan teatrikal. Seketika, sebuah pusaran kegelapan muncul di belakang mereka—sebuah lubang hitam yang berputar-putar, mengeluarkan hawa dingin yang lebih menusuk daripada salju abadi. Energi dari portal itu beresonansi dengan tanda di tangan Haneul, mengeluarkan bunyi mendengung yang memekakkan telinga, seolah-olah dua bagian dari satu jiwa yang hilang akhirnya bertemu kembali.

Sebelum melangkah masuk, Haneul berhenti sejenak di bibir pusaran itu. Ia tidak menoleh. Ia tahu, jika ia melihat mata biru Hamin yang kini basah oleh air mata sekali saja, seluruh pertahanannya akan runtuh. Ia akan berlari kembali, memeluk pria itu, dan mereka berdua akan mati dalam ledakan misil—sebuah akhir yang indah, namun Haneul terlalu mencintai Hamin untuk membiarkan pria itu mati.

"Hamin," suara Haneul terdengar datar dan dingin, namun di bawah permukaan itu, terkubur kesedihan yang tak terbatas. "Lupakan aku. Anggap saja wanita yang kau cintai sudah mati di tebing itu. Hiduplah sebagai manusia biasa, dan jangan pernah... jangan pernah mencariku lagi. Ini adalah akhir dari kita."

"Aku tidak akan pernah melupakanmu!" teriak Hamin, suaranya parau karena isak tangis dan darah. "Aku akan mencarimu ke ujung neraka, ke dimensi paling gelap sekalipun, Seo Haneul! Kau dengar aku?! Kau tidak bisa memutuskan ini sendirian!"

Tepat saat misil pertama Seowon meluncur dari langit dengan suara siulan yang mengerikan dan menghantam area di sekitar mereka, menciptakan bola api raksasa yang menyilaukan, Malakai merapalkan mantra terakhirnya. Sebuah pelindung transparan berwarna keemasan membungkus tubuh Hamin, menyembunyikannya dari sensor bionik musuh dan memindahkannya secara instan melalui manipulasi ruang.

Haneul melihat bayangan Hamin yang meronta-ronta menghilang menjadi titik cahaya, tepat sebelum gelombang panas ledakan menelan tempat mereka berdiri.

"Selamat tinggal, cintaku. Maafkan aku karena harus menjadi monster agar kau bisa hidup," bisik Haneul pelan, nyaris tak terdengar di tengah gemuruh ledakan, saat ia melangkah masuk ke dalam portal kegelapan bersama Malakai.

Portal itu menutup dengan dentuman hampa yang menghisap udara di sekitarnya, tepat saat hutan itu berubah menjadi lautan api merah yang menghanguskan segalanya menjadi abu.


Di Suatu Tempat yang Tak Terpeta...

Haneul terbangun dengan sentakan hebat. Ia menemukan dirinya berada di sebuah ruangan yang mengerikan namun megah; seluruh dindingnya terbuat dari kristal hitam yang memantulkan bayangan dirinya yang tampak asing. Tidak ada jendela, tidak ada pintu, hanya ada cahaya ungu samar yang berpendar dari langit-langit yang sangat tinggi.

Ia mencoba bergerak, namun suara denting logam yang berat menghentikannya. Rantai-rantai perak yang berpendar dengan rune sihir kuno mengikat pergelangan tangan dan kakinya ke sebuah takhta batu yang dingin.

Malakai berdiri di hadapannya. Kali ini, ia telah melepas topeng peraknya. Wajahnya rupawan namun memiliki aura kuno yang menakutkan, dengan gurat-gurat hitam yang merambat di lehernya seperti akar pohon yang beracun.

"Selamat datang di tempat di mana kemanusiaanmu akan dibakar habis, dan takdirmu sebagai Kantara akan ditempa kembali," ucap Malakai dengan nada khidmat.

"Kau berjanji dia selamat," desis Haneul, matanya kembali menghitam, mengeluarkan aura dingin yang membuat kristal di dinding retak.

"Dia selamat. Dia berada di tempat yang sangat jauh dari jangkauan Kael," Malakai mendekat, mencengkeram rahang Haneul dengan kuat, memaksanya menatap mata kuningnya yang menghipnotis. "Tapi sekarang, kau punya masalah yang lebih besar, sayangku. Kekuatan yang kau miliki ini... ia bersifat cemburu. Setiap kali kau menggunakan memorimu tentang 'Hamin' itu untuk mempertahankan kewarasanmu, kekuatan ini akan memakan memori itu sebagai bayarannya."

Haneul tertegun, jantungnya seolah diremas oleh tangan tak kasat mata. "Apa maksudmu?"

"Semakin kuat kau menjadi monster, semakin cepat kau akan melupakan wajahnya, suaranya, dan namanya," Malakai berbisik tepat di telinga Haneul. "Kau akan menjadi Ratu yang tak terkalahkan, namun kau akan menjadi Ratu yang tidak memiliki siapa pun di dalam hatimu. Itulah harga sebenarnya dari sebuah Takhta Berdarah."

Haneul mencengkeram pinggiran takhta batunya, air mata hitam mengalir jatuh. Di dalam hatinya yang mulai membeku, ia membisikkan satu nama berulang-ulang, seolah mencoba mengukirnya di atas batu karang sebelum ombak kegelapan menghapusnya selamanya.

Hamin... Hamin... Hamin... Jangan lupakan aku, karena aku takut aku akan melupakanmu.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

    Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa Lalu

    Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 6: Prasasti di Dinding Kristal

    Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 5: Abu Kedamaian

    Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 4: Perpisahan di Atas Darah

    Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 3: Darah di Hutan Kabut

    Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status