Beranda / Fantasi / Napas Terakhir untuk Sang Ratu / Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

Share

Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

Penulis: Founna Math
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-10 16:16:09

Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

Hujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.

Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkib
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 8: Darah di Ujung Pedang Patah

    Bab 8: Darah di Ujung Pedang PatahHujan asam mulai turun di Sektor 4, membawa aroma belerang yang mencekik dan suara desis saat menyentuh permukaan logam Depot Energi Seowon. Depot ini adalah jantung dari distribusi mana di wilayah pinggiran—sebuah benteng baja yang dijaga oleh robot-robot patroli bionik dan tentara elit yang tidak segan menarik pelatuk pada siapa pun yang berani mendekat.Di balik reruntuhan gedung tua yang menghadap ke gerbang utama, Hamin berdiri diam. Jubah hitamnya berkibar diterpa angin kencang. Di sampingnya, Arga dan selusin prajurit Unit 7 yang kini memakai zirah tambal sulam bersiap dengan senjata bionik yang telah dimodifikasi."Panglima, sensor mereka akan mendeteksi kita dalam tiga puluh detik jika kita tidak bergerak," bisik Arga, jemarinya mencengkeram erat peluncur granat plasma. "Unit bionik mereka menggunakan frekuensi suara. Begitu kita masuk, telinga kita akan berdarah."Hamin tidak menoleh. Ia menatap dinding depot itu seolah bisa menembus beton

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa Lalu

    Bab 7: Hantu-Hantu dari Masa LaluSektor Hitam tidak pernah mengenal matahari. Di tempat ini, langit hanyalah hamparan pipa uap yang berkarat dan kabel-kabel bionik yang menjuntai seperti usus monster raksasa. Cahaya satu-satunya berasal dari papan neon yang berkedip-kedip, menjajakan modifikasi tubuh ilegal dan cairan mana oplosan yang bisa membunuh penggunanya dalam satu tegukan. Ini adalah tempat di mana hukum Seowon tidak berlaku, tempat bagi mereka yang sudah menyerah pada hidup—dan tempat terbaik bagi seorang pria mati untuk bangkit kembali.Hamin melangkah menyusuri lorong sempit yang berbau logam dan belerang. Jubah hitam panjang menutupi sosoknya yang tegap namun masih agak kaku akibat luka-lukanya. Topeng kain menutupi wajah bawahnya, menyisakan sepasang mata tajam yang kini memiliki kilatan ungu samar di pinggiran irisnya—bekas luka permanen dari kutukan Haneul yang mulai menyatu dengan nadinya.Di belakangnya, Jiran berjalan dengan langkah pelan namun waspada. "Kau yakin t

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 6: Prasasti di Dinding Kristal

    Bab 6: Prasasti di Dinding KristalDingin. Bukan hanya suhu kristal hitam yang mencengkeram kulit Haneul, melainkan dinginnya kehampaan yang perlahan merayap masuk ke dalam benaknya. Di Menara Kehampaan ini, waktu seolah membeku. Sudah berapa lama ia terkurung di sini? Hari dan malam tidak lagi memiliki arti di atas samudera awan hitam yang terus bergolak oleh petir abadi.Haneul duduk terantai di tengah ruangan latihan yang luas, tubuhnya penuh luka goresan baru yang kini memancarkan cahaya hitam samar. Di hadapannya, sepuluh prajurit bayangan ciptaan Malakai berdiri diam, ujung pedang hitam mereka masih meneteskan energi yang berdenyut. Aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau darah segar mengambang di udara yang sesak."Kau terlalu lambat, Kantara," suara Malakai bergema dari balkon atas, nada bicaranya penuh kekecewaan yang disengaja. "Kau masih menggunakan perasaanmu sebagai manusia untuk bertarung. Perasaan itu adalah karat yang merusak pedammu. Buang rasa kasih sayangmu, buan

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 5: Abu Kedamaian

    Rasa sakit adalah hal pertama yang menyapa Hamin saat kesadarannya kembali. Bukan sekadar rasa sakit fisik akibat luka ledakan misil yang menghantam Hutan Perbatasan, melainkan rasa hampa yang luar biasa di dalam dadanya—seolah-olah separuh jiwanya telah direnggut paksa, diseret melintasi dimensi, dan ditinggalkan di ruang hampa yang membeku.Hamin tersentak bangun, napasnya memburu dan berat. Paru-parunya terasa panas, seperti menghirup sisa-sisa debu pembakaran. Ia mencoba memfokuskan matanya yang merah dan perih pada sekelilingnya. Ia tidak lagi berada di tengah hutan yang membara. Ia kini terbaring di atas tempat tidur jerami kasar di dalam sebuah gua tersembunyi yang diterangi oleh beberapa obor dinding yang apinya bergoyang ditiup angin lembap."Haneul!" teriaknya, mencoba bangkit secara mendadak.Namun, gravitasi seolah mengkhianatinya. Tubuh Hamin kehilangan keseimbangan, dan ia jatuh tersungkur di atas lantai gua yang dingin dan berbatu. Setiap inci sarafnya terasa seperti di

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 4: Perpisahan di Atas Darah

    Raungan mesin helikopter tempur Seowon kini terdengar seperti raksasa kelaparan yang mengepung dari langit. Cahaya lampu sorot raksasa membelah kabut hutan yang pekat, menciptakan garis-garis putih yang mematikan di antara pepohonan raksasa. Kematian bukan lagi sekadar ancaman; ia hanya berjarak beberapa ratus meter saja, menghujani bumi dengan ancaman pemusnahan total melalui misil-misil bionik yang siap meluncur.Haneul menatap wajah Hamin. Pria itu kini bersandar pada sebatang pohon tua yang kulitnya mengelupas, napasnya pendek, tersengal, dan berbunyi serak di dalam tenggorokannya. Darah yang merembes dari zirah dadanya membeku karena suhu dingin yang ekstrem, dan kulitnya yang semula hangat serta penuh vitalitas kini sepucat marmer pemakaman."Haneul... jangan..." bisik Hamin. Jemarinya yang lemah dan gemetar mencoba menggapai ujung jubah wanita itu, namun ia hanya berhasil mencengkeram udara kosong. "Jangan pergi... dengan iblis itu... Aku masih... bisa bertarung..."Malakai, ya

  • Napas Terakhir untuk Sang Ratu   Bab 3: Darah di Hutan Kabut

    Hujan di Hutan Perbatasan tidak lagi terasa dingin bagi Haneul. Justru sebaliknya, setiap tetes air yang menyentuh kulitnya terasa seperti bensin yang menyulut api kegelapan di dalam nadinya. Energi murni yang baru saja ia hisap paksa dari Hamin bergejolak di dalam lambungnya, memacu adrenalin yang terasa asing dan beracun. Setiap helai rambut hitamnya yang basah tampak seperti dialiri listrik statis yang gelap, bergerak-gerak mengikuti irama kemarahan yang meluap.Haneul bisa merasakan getaran dari tanah, detak jantung mahluk-mahluk kecil di dalam hutan yang ketakutan, dan yang paling mengganggu: deru mesin bionik yang mendekat dengan kecepatan tinggi. Sensor predatornya telah aktif sepenuhnya.Wusss!Tiga drone pencari Seowon menukik rendah dari balik pepohonan raksasa. Lampu sorot merah mereka yang tajam menyapu dedaunan, hingga akhirnya mengunci sosok Haneul yang berdiri kaku di tengah jalan setapak yang berlumpur."Target terkunci. Kode Identifikasi: Seo Haneul. Status: Subjek Be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status