Se connecter"Jangan, aku masih lemah. Jika kamu mampu menyembuhkan aku, maka aku tak sungkan untuk melayani kamu" Suara lembut yang bercampur parau pun terdengar, mahluk itu matanya masih terpejam, badannya sedingin es dan ia menggigil hebat. Yudha masih terdiam, sosok mahluk mitologis di depannya sangat sempurna dalam wujud seorang gadis. Bahkan jika ia membandingkan, kecantikan putri duyung itu di atas kecantikan Ratna yang sejak kecil telah ia kagumi.Tanpa membuang waktu, Yudha segera menggerus ramuan yang ia ambil dari dasar laut lalu merebusnya. Robekan bekas tombak itu mulai halus seolah tak pernah terjadi luka di sana, Yudha bingung apakah karena ramuan buatannya atau bantuan Dewi Lanjar."Minumlah ini, tubuhmu akan pulih," Yudha membantu putri duyung yang masih lemah untuk duduk bersandar, ia menuangkan jamu panas ke dalam cangkir sampai cairan jamu berwarna hijau pekat itu habis ditelan oleh putri duyung."Terimakasih," putri duyung itu mengusap pipi Yudha, ia kemudian kembali berbaring
"Ini kesempatan bagimu, Yudha. Kamu butuh perempuan untuk dijamah agar kekuatan kamu pulih dan tetap berjalan dengan dua kaki yang sehat, selain itu kamu bisa dapat uang dari tugas ini," bisik Dewi Lanjar yang muncul di hadapannya. "Apa kamu bersedia? Perahu dari Pulau Dipa memiliki karakteristik unik, kamu bisa memiliki salah satu secara cuma-cuma. Untuk pesanan awal, aku butuh sepuluh perahu. Aku bawakan uang yang cukup, jika membutuhkan sesuatu untuk perjalanan itu katakan saja," ujar Suseno."Baik, aku akan pergi," sahut Yudha mantab, Sari justru cemas sebab ia kuatir adiknya tak kembali dengan keadaan selamat. "Yudha, kamu mudah sekali tertantang," keluh Sari. "Kepergianku untuk merubah wajah desa kita, Mbak. Selama Kardi mendominasi, maka tak akan lagi ada orang yang bekerja sebagai nelayan. Lihatlah, sekarang warga desa lebih terlihat sebagai budak ketimbang orang yang bebas. Mereka hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap hari, Kardi telah merubah sistem kehidupan desa menj
"Uhm, aku coba pikiran dulu," gumam Suseno. "Kesempatan tak akan datang dua kali, jika bapak mau dianggap pahlawan di desa ini maka bebaskan warga dari bunga hutang, biarkan mereka mengembalikan sesuai kemampuan," ujar Sari."Lalu bagaimana jika mereka enggak mampu bayar?" tanya Suseno lagi. "Pak Suseno, bapak ini kan orang cerdas ... mereka sanggup bayar bunga mana mungkin mengelak jika suruh bayar pokoknya aja. Percayalah, hidup lebih tenang tanpa urusan hutang. Lihat, wajah bapak menua sebelum waktunya, aku yakin bapak kesulitan tidur karena takut mereka kabur kan?" tegas Sari, Suseno mengangguk. Dia sadar, bisnis yang ia jalani ini memiliki resiko besar, namun ia belum memiliki pandangan usaha lainnya. "Baik, kalau gitu ikut aku," ajak Suseno, ia masuk ke dalam kamar dan berganti pakaian.Setelah berpakaian rapi, Suseno ditemani Wati dan Sari menuju balai desa. Warga yang tadinya takut untuk datang, setelah mendengar soal pembebasan hutang pun mulai berbondong-bondong ke aula d
Garang di jalanan, namun lemah di ranjang. Itulah kondisi Suseno, pria yang selama ini menjalankan usaha pinjam meminjam itu hatinya telah lama dingin tanpa pernah mengenal cinta sejak kematian istrinya. Sifatnya kaku, tak percaya diri jika berhadapan dengan perempuan namun sejak kedatangan Wati, ada sisi lembut dalam dirinya yang mulai bangkit. Ibarat sebuah pusaka yang telah lama berkarat, pisang Suseno yang digenggam Wati hanya menggeliat sebentar lalu layu. Wajah Suseno merah padam, malu. "Wati, sudah ... hentikan aja," pinta Suseno. "Pak, aku coba membantumu kembalikan kejantanan," bujuk Wati. Dengan tangan kirinya ia memainkan pusaka Suseno maju mundur, lalu menggenggam erat dan memberikan pijatan. Benda itu kembali bereaksi, Wati lalu berjongkok di depan Suseno. Ia arahan lidahnya menyentuh helm dari pusaka itu."Uuuugh!" Suseno melenguh, matanya terpejam dan badannya gemetar. Ada kehangatan yang mulai ia rasakan, secara refleks ia pun meremas rambut Wati, membenamkan kepala j
Sari masih di sana, dari arah pelabuhan adiknya terlihat berjalan tergesa-gesa. Yudha membawa dua wadah di tangan kiri dan kanan, wajahnya tampak ceria."Mbak Sari, mau ke mana?" tanya Yudha setelah meletakkan wadah yang ia bawa ke kursi teras. "Mau kerja, Suseno meminta aku jadi tukang masak di sana," jawab Sari, namun senyum di wajah Yudha langsung meredup. "Kamu kenapa kerja di sana? Dia itu kan lintah darat, perkara si Irawan orang baik tapi beda cerita. Kadang Irawan menekan orang lain yang kesulitan bayar hutang, ia juga menyewa anak buah Kardi untuk menagih," lanjut Yudha."Aku enggak punya pilihan, Yudha. Kita butuh pemasukan, tadi Wardah ke sini kasih aku gaji tapi belum lama dia pergi giliran Sumiyati ang datang mengambilnya. Dia memghina kita habis-habisan," lapor Sari."Kardi dan Suseno itu hampir sama, tak ada salah satu dari mereka yang lebih baik. Mbak enggak usah kerja, kemarin aku mencari udang dan menjualnya di pasar seberang. Lihat ... aku bawa beras, uang dan beber
"Sari, bangun ... aku dan Pak Suseno ke sini," bisik Wati ke telinga Sari yang masih tertidur. Sari menggeliat, ia membuka mata dan terkejut sebab miliknya masih berdenyut dan kini Wati masuk ke ruangannya. "Mbak Wati, kok bisa masuk? Aduh, mana celanaku?" ujar Sari gusar, ia merapatkan selimut untuk menutupi area pribadinya. "Kamu habis berfantasi ya?" tanya Wati sambil menggelengkan kepala, Sari tak menjawab. Dia segera berpakaian dengan benar, lalu menata rambut yang semrawut."Pak Suseno meminta kamu bekerja di sana," lanjut Wati."Kerja apa? Aku juga baru dipecat," dengus Sari."Aku dengar kamu pandai memasak, jadi bagaimana kalau kamu kerja di tempatku? Kebetulan aku akan membuat mess bagi para pekerja penagihan hutang, ada empat orang pria dan satu wanita. Aku ingin lebih serius mengelola usaha ini," Suseno yang tadi berada di luar segera masuk tanpa mengetuk pintu."Di tempat ini enggak ada yang bisa jadi pesaing Kardi, dia punya modal tak terbatas dalam urusan simpan pinjam.







