ログインFatma, nama itu bahkan tidak cocok dengan penampilannya yang 80% menyerupai orang kulit putih Eropa. Meskipun pakaian perempuan itu seperti gadis pesisir pada umumnya memakai kain sarung dan kebaya saat menjemur ikan, namun aura wajahnya berbeda. Hidung mancung dan mata biru, membuat Fatma seperti turis yang tersesat dan tak bisa kembali ke negaranya."Kulo nuwun," sapa Yasmin sambil menarik ujung baju Yudha."Nggih, Mbak ... monggo," Fatma berhenti beraktivitas sejenak, ia meletakkan besek bambu berisi ikan kering ke rak kayu lalu mengikat kain sarung di pinggang."Saya Yasmin, Mbak ... ini Mas Dirga, adiknya Mbak Sari," Yasmin memperkenalkan diri, meskipun ia warga setempat namun sejak kecil tinggal di desa lain membuatnya merasa banyak orang tak ia kenal cukup dekat di sini."Oalah, adiknya Mbak Sari toh, wonten nopo? Monggo, duduk dulu," Fatma mengarahkan tamunya untuk duduk di teras rumah yang sejuk."Soal kapal kuno itu, apakah kami boleh menyewanya?" tanya Yasmin setelah sediki
"Yudha, ini apa? Kamu habis bercinta dengan siapa?!" sergah Sari, pertemuan itu merasa cemburu melihat bekas bibir perempuan lain di leher adik tirinya. "Mbak, jangan tanya soal itu ... kamu ingat kan jika aku punya perjanjian dengan Dewi Lanjar," jawab Yudha tanpa memberitahu siapa perempuan yang dimaksud."Iya, aku ingat. Tapi rasanya enggak rela jika adik tiriku ini tidur dengan perempuan, sementara aku juga menginginkan hal ini," kata Sari malu-malu. "Apa salahnya kamu melakukannya sama aku, toh aku ini kakak tiri bukan kakak kandung. Hubungan kekeluargaan hanya orang tua kita yang tahu, Yudha ... buat kakakmu ini senang," desak Sari, hawa dingin pagi itu membuat Sari ingin merasakan dekapan seorang pria yang bisa memanjakan dirinya. Tangan Sari menyentuh pipi Yudha, ia memandang lekat seolah penuh harap."Syaratnya tidak seperti itu, Mbak. Harus dengan orang berbeda, kita pernah melakukannya ... aku takut Dewi Lanjar murka jika mengulangi sama kamu," tolak Yudha secara halus. "Ap
Di rumah kayu milik Pak Wagino dua insan yang dilanda kesepian bertemu di satu kamar tanpa berbusana sama sekali. Bukan soal cinta, tapi soal kebutuhan lain yang harus Yasmin penuhi. Sebagai seorang perempuan normal yang memiliki hasrat, rasa tertarik dengan lawan jenis juga keinginan untuk menuntaskan rasa itu ia memilih Yudha yang kebetulan ada di dekatnya, sedangkan bagi Yudha sendiri hal ini ia lakukan agar tubuhnya tetap sempurna."Berapa perempuan yang pernah bersama kamu, Mas? Seberapa hangat mereka membuatmu nyaman?" bisik Yasmin, ia memutari tubuh Yudha yang berdiri tegap dengan pusaka yang mengencang, ia tak ingin terburu-buru. "Apakah penting seberapa banyak perempuan pernah aku jamah?" Yudha balik bertanya, wajahnya tak lagi ramah tapi dingin dengan sorot mata redup yang semakin membuat Yasmin bergairah."Hahaha! Aku enggak butuh jawaban itu, mungkin malam ini kita melakukan itu, namun besok akan berusaha melupakan semuanya. Aku hanya ingin mencoba, aku janji tak ada ikata
Setelah Ratna pulang dari dermaga atau pelabuhan, ia masuk dan mengurung diri di kamar. Beberapa jam ia sendirian, pikirannya kalut karena sang bapak rupanya mengingkari janji akan menikahkan Yudha dengannya."Ratna," dari balik pintu terdengar suara Sumiyati, Ratna hanya menoleh tanpa bermaksud ingin membuka pintunya."Buka pintu, kita bisa ngobrol jika kamu butuh teman," lanjut Sumiyati yang merupakan ibu sambung bagi Ratna. Usia mereka hanya terpaut sekitar sepuluh tahun, Sumiyati masih terlihat muda dan lebih cocok jika dipanggil kakak.Setelah merenung cukup lama, Ratna akhirnya membuka pintu. "Ada apa, Bu?""Ibu lihat sedari tadi kamu murung dan mengurung diri di kamar terus, apa yang membuatmu merasa sedih? Jika kamu nyaman ceritakan saja pada Ibu," tanya Sumiyati, dia duduk di samping tempat tidur Ratna."Ternyata bapak mengingkari janjinya. Dia mengatakan di hadapan orang-orang jika Yudha berhasil membawaku pulang dengan selamat, maka dia akan menikahkan kami. Semua itu cuma
Yudha dengan susah payah menuruni altar batu, dia merangkak di depan Dewi Lanjar. Badannya gemetar, rasa takut menyelubungi pikirannya. Kakinya yang cacat kembali seperti dulu, pusakanya mengecil dengan badan kerempeng dan rambut kusut."Hahaha! Kamu terlalu lugu, Yudha ... aku sudah memerintahkan kamu berkali-kali agar mencari wanita sebanyak mungkin untuk kamu tiduri, tapi kamu selalu menunda kesempatan tersebut. Kebakaran pada warungmu bukan sebuah kebetulan, aku yang menggerakkan pikiran para perampok tersebut agar kamu sadar jika kamu memiliki janji denganku. Sekarang pilihan ada pada dirimu, kembali ke desa dengan kaki yang cacat atau kembali di ke desa sebagai pria idaman para perempuan. Pilihlah!" ujar Dewi Lanjar yang wajahnya di penuhi aura kemarahan."Aku akan melakukan apa yang kamu mau, Dewi. Tapi tolong kembalikan ragaku seperti sebelumnya, aku tidak sanggup lagi hidup dalam cemoohan dan juga hinaan orang-orang, aku tidak rela jika kakak tiriku di peristri oleh juragan K
Hari beranjak malam ketika Yasmin dan Ratna terbangun, rasa kantuk masih menyelimuti mereka namun karena banyaknya nyamuk mereka sulit tertidur lagi di tempat seperti ini."Yudha mana? Kenapa kita ditinggal di sini?" tanya Ranta, Yasmin sendiri bingung. Seolah ingatan terakhirnya di tempat itu lenyap. Mereka tak tahu apa yang terjadi sebelumnya, yang mereka ingat cuma berlari dari kejaran anak buah Pak Darmo."Mungkin dia masih di perahu, ayo kita tunggu aja di sana daripada nanti malah tersesat," ajak Yasmin, keduanya meninggalkan semak belukar menuju tempat perahu bertambat.Pemandangan di tempat ini sungguh berbeda, memang di hadapan mereka merupakan laut yang luas tapi kali ini hanya hamparan kegelapan malam yang sangat pekat."Sepertinya Yudha benar-benar suka sama kamu, sampai dia berani pertaruhkan nyawa datang menyelamatkan kamu," sindir Yasmin saat keduanya baru tiba di perahu."Aku sendiri enggak tahu soal itu, yang jelas kami sudah berteman sejak kecil. Aku heran, kakinya b







