공유

Keadaan Berubah

작가: Jamilah
last update 게시일: 2024-04-03 21:11:20

“.....”

Makan malam kali ini hanya ditemani oleh gesekkan sendok dan piring. Jika biasanya Arjuna akan banyak mengoceh, kali ini bocah itu terlihat sangat tenang. Atau mungkin … ketakutan?

Bayangan tentang Arshaka yang lemah lembut dan menyenangkan, mendadak hilang begitu Arjuna tidak sengaja melihat bagaimana pria itu memukuli salah satu anak buahnya tadi pagi.

Namun bukan hanya Arjuna, Wilona juga terlihat lebih banyak diam. Kalau bukan karena hutang yang mengikat leher, ia akan segera mengem
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Nikahi Mamaku, Om!   Perasaan yang Tidak Disadari

    Ruang kerja Arshaka biasanya menjadi zona terlarang yang paling sulit dimasuki tanpa alasan genting. Namun pagi itu, Pras sudah hampir satu jam berdiri mematung di sana, memegang setumpuk map dengan wajah menahan lelah.Satu dokumen berpindah. Kemudian dokumen berikutnya.“Bos, ini laporan dari cabang timur. Mereka meminta persetujuan untuk pembukaan gudang baru,” ucap Pras profesional.Di balik meja kerjanya yang luas, Arshaka duduk bersandar. Matanya sama sekali tidak lepas dari layar tablet di tangannya. “Atur saja.”Pras mengangguk patuh. “Baik.” Ia mengambil dokumen berikutnya. “Lalu, ada permintaan dari Grup Sam mengenai pembaruan kontrak kerja sama—”“Atur saja.”Pras menghentikan gerakannya. Ia menatap bosnya dengan dahi berkerut. “Yang ini bernilai triliunan, Bos. Perlu Anda periksa sendiri.”Arshaka hanya mengangkat matanya sekilas, kelewat tak acuh. “Kuserahkan padamu.”Pras menarik napas panjang. “...Baik.”Ia membuka dokumen berikutnya. “Untuk tiga pengutang kelas kakap y

  • Nikahi Mamaku, Om!   Semangkuk Rasa Pedas

    Wilona menghentikan langkahnya tepat di ujung lorong. Ia menunduk menatap Arjuna yang masih menggenggam tangannya."Arjuna, Sayang. Kamu masuk ke kamar duluan, ya? Ganti baju. Mama ada urusan sebentar sama Om," bisik Wilona lembut, sengaja membuat suaranya senormal mungkin.Arjuna mengangguk patuh dan melenggang masuk ke kamarnya.Begitu pintu kamar tertutup, kelembutan di wajah Wilona seketika menguap. Ia memutar tubuhnya, melangkah cepat dengan tumit mengentak lantai, kembali menuju ruang tengah.Arshaka masih duduk di sana, bersandar santai di sofa dengan tablet di pangkuannya.Wilona berhenti tepat di hadapan pria itu, berkacak pinggang. "Bisa ulangi ucapanmu barusan?"Arshaka perlahan mengangkat wajahnya. Matanya menatap Wilona dengan tenang. "Kalau mau pergi, bilang."Dada Wilona naik-turun menahan emosi. "Sejak kapan aku butuh izin darimu jika ingin keluar rumah?"Sudut bibir Arshaka berkedut, membentuk senyum miring yang sangat menyebalkan. "Tahu posisimu, Wilona.""Posisiku?"

  • Nikahi Mamaku, Om!   Tahu Posisimu

    Wilona masih terpaku, menatap pria berkemeja rapi di hadapannya dengan ekspresi tidak percaya.“Samuel?”Pria itu membalas dengan senyum lebar yang hangat. “Masih ingat rupanya?”Wilona terkekeh pelan, rasa terkejutnya perlahan berganti menjadi kelegaan. “Bagaimana mungkin aku lupa?”Samuel adalah salah satu teman masa kuliahnya dulu. Mereka memang bukan sahabat karib yang tak terpisahkan, tetapi cukup sering menghabiskan waktu bersama di sela-sela jadwal kelas dan tugas kelompok.Mata Wilona memindai penampilan pria itu dari atas ke bawah. Rapi. Sangat khas. “Sedang apa kamu di sini?”“Aku sekarang mengajar di SD Pelita,” jawab Samuel bangga.Satu alis Wilona terangkat tinggi. “Sekolah Arjuna?”Samuel mengangguk mantap. “Iya.”“Serius?”“Serius.”Wilona tertawa kecil, menggelengkan kepalanya. “Lalu kenapa seorang guru malah berkeliaran santai di kafe saat jam sekolah masih berlangsung?”Samuel ikut tertawa, suara tawanya renyah dan menenangkan. “Aman. Jadwal mengajarku hari ini baru

  • Nikahi Mamaku, Om!   Ancaman Eleanor

    Suasana di ruang makan perlahan kembali tenang, menyisakan denting pelan peralatan makan yang beradu dengan porselen.Eleanor duduk tegak bak seorang ratu di singgasananya. Tangannya yang mulai dihiasi keriput masih bertumpu anggun pada gagang tongkat hitam di sisi kursinya. Wajah wanita tua itu tampak tenang, tetapi sepasang mata elangnya tidak pernah benar-benar beristirahat dari mengawasi sekitar.Di seberangnya, Arshaka menyantap sarapannya dengan kelewat santai, seolah percakapan tentang pertunangannya barusan hanyalah selingan diskusi cuaca pagi.Namun, Eleanor tidak bisa ditipu. Beberapa menit sebelumnya, tepat saat Wilona berbalik meninggalkan area dapur, mata cucunya itu sempat mengekor ke arah punggung si perempuan. Hanya sepersekian detik. Sangat samar. Tetapi Eleanor melihatnya. Tentu saja ia melihatnya. Tidak ada yang luput dari pandangan Nyonya Besar Gamala.Tok.Eleanor meletakkan garpunya perlahan. Arshaka mengangkat wajah. "Ada apa, Nenek?""Aku dengar kau sedang bers

  • Nikahi Mamaku, Om!   Eleanor Gamala

    Udara di dalam rumah besar itu mendadak terasa kaku.Begitu kabar kedatangan Nyonya Besar menyebar, aktivitas yang semula santai berubah menjadi kepanikan yang terorganisir. Para pelayan bergegas menyejajarkan diri di dekat pintu utama, menunduk dalam diam. Para pengawal yang berjaga di halaman pun serta-merta meluruskan postur mereka, berdiri tegap tanpa berani mengeluarkan suara sekecil apa pun.Sebuah sedan hitam mewah meluncur mulus dan berhenti tepat di depan tangga pualam.Seorang pengawal bergegas membukakan pintu. Dari dalam sana, seorang wanita tua turun perlahan. Rambutnya yang telah sepenuhnya memutih ditata dalam sanggul klasik yang tanpa cela. Pakaiannya tampak sederhana, namun dari potongan dan kainnya, siapa pun tahu harganya tidak masuk akal. Di tangan kanannya, sebuah tongkat kayu hitam bergagang emas berukir digenggam erat—simbol otoritas yang selalu menyertainya.Eleanor Gamala. Nyonya Besar klan Gamala.Sebuah nama yang cukup untuk membuat para petinggi bisnis menu

  • Nikahi Mamaku, Om!   Merebut Kembali Hati Arjuna

    Dini hari merengkuh rumah besar itu dalam keheningan.Hanya pendar kekuningan dari beberapa lampu dinding yang memecah gulita di sepanjang lorong panjang. Aktivitas para pelayan telah lama surut, menyisakan penjaga-penjaga berpakaian gelap yang berdiri tegak di pos masing-masing bak patung batu, berjaga tanpa suara.Kemudian, pintu utama berderit pelan saat didorong terbuka. Arshaka melangkah masuk.Jas hitam yang membalut tubuh jangkungnya masih tampak rapi, meski beberapa lipatan kecil mengkhianati hari yang panjang. Wajahnya sedatar pahatan es, seolah malam penuh ketegangan yang baru saja dilewatinya sama sekali tidak menguras tenaganya.Seorang pelayan paruh baya yang berjaga di dekat pintu segera menghampiri, menunduk hormat. "Selamat datang, Tuan."Arshaka hanya membalas dengan anggukan singkat. Pelayan itu sigap menerima jas yang dilepas Arshaka dengan kedua tangan. Setelah beban di bahunya terangkat, pria itu melonggarkan kancing kerah kemejanya dan menyesuaikan tali jam tanga

  • Nikahi Mamaku, Om!   Jangan Sentuh Apapun

    Jika ada yang lebih cepat dari kedipan mata, itu adalah waktu yang dilalui oleh Wilona. Rasanya baru kemarin mereka menjadi tawanan di rumah rentenir itu, sekarang sudah satu minggu berlalu sejak saat itu.Selain pekerjaannya yang berbeda, kehidupan mereka juga banyak berubah. Salah satunya, ia har

  • Nikahi Mamaku, Om!   Sihir Masakan Wilona

    Sudah empat hari berlalu sejak malam itu, dan Arshaka masih belum mampir ke tempat Wilona lagi untuk makan malam. “Bukannya aku berharap lintah itu datang. Hanya saja, bukankah akan lebih baik jika dia sering makan dan memotong sisa bunganya?” keluh Wilona di tengah waktu senggang menjaga rumah mak

  • Nikahi Mamaku, Om!   Om Datang untuk Makan Malam?

    "Om Arshaka datang kesini untuk makan malam?" Namun sebelum itu terjawab, Wilona sudah menarik lengan sang anak lebih dulu. “Mendekat ke mama, Arjuna.” Arjuna langsung menurut. Sementara di hadapan mereka, Arshaka menatap dengan mata ragu, seolah tengah mengingat siapa anak yang menyapanya dengan

  • Nikahi Mamaku, Om!   Terjerat Utang Mantan Suami

    "Tunggu! Kalian pikir apa yang kalian lakukan di rumahku?" pekik Wilona sembari berusaha menghalang-halangi empat pria yang terus sibuk mengambil barang-barang di rumahnya."Kami hanya melakukan pekerjaan. Jadi tolong menyingkirlah sebelum Anda terluka.""Tidak!" Wilona masih berusaha menghalangi.

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status