Home / Rumah Tangga / Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya. / Bab 2. Kembalinya istri pertama.

Share

Bab 2. Kembalinya istri pertama.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-09 08:03:12

"Tolong katakan pada suamimu, jangan mentang- mentang sudah punya anak darimu, dia lepas tanggung jawab kepada anak pertamanya. Kirim uang jajan untuk Bintang. Segera!" isi pesan dari Kartika.

Alika, wanita yang sedang menyusui bayi yang belum genap berusia satu bulan itu hanya bisa membaca pesan tersebut dengan hati yang terasa getir. Alika menangis, bukan karena tak ingin menerima anak pertama yang lahir dari mantan istri suaminya, namun, karena sikap Kartika, mantan istri Bima--suaminya yang selalu terkesan memanfaatkan anaknya sebagai jalan untuk merusak rumah tangga Alika dan Bima.

Rasanya, Alika sudah tak tahan. Namun, tatkala dirinya melihat Bulan, anaknya bersama Bima, Alika langsung menghapus pikiran-pikiran buruk itu. Perpisahan bukan jalan dalam menyelesaikan masalah, Alika mesti bertahan demi anaknya, dan kembali menyadari bahwa resiko menikahi seorang duda beranak memang seperti ini adanya.

"Tidak usah menyampaikan pesan tadi, Mas Bima sudah datang ke sini dan dia mungkin akan pulang terlambat karena sedang menghabiskan waktu denganku. Ops, salah, dengan Bintang maksudnya." bunyi pesan selanjutnya dari Kartika.

Seiring dengan dibacanya pesan baru itu, tangis Alika kembali pecah. Rasanya sudah tak ada lagi alasan bagi Alika berbaik sangka pada Bima, dia menganggap bahwa Bima telah mengkhianatinya karena sudah pergi ke rumah Kartika tanpa sepengetahuan dirinya.

"Apa susahnya sih memberi kabar?" gumam Alika seraya terisak.

Hingga satu jam berlalu, Bima baru sampai dan Alika menyambutnya dengan wajah sembab membuat lelaki itu menatap heran.

"Kamu kenapa, Sayang? Habis menangis kah?" tanya Bima dengan tangan yang menelungkup kedua pipi istrinya.

Alika menggeleng. "Tanyakan pada dirimu sendiri, mengapa aku menangis bahkan sampai membuat ASI-ku seret dan akhirnya Bulan rewel karena kehausan!"

"Apa? Aku kenapa?" tanya Bima semakin heran karena baru saja pulang bekerja, dia sudah disuguhi benih-benih pertengkaran oleh istrinya.

"Ini." Alika menyodorkan ponselnya, dan Bima membaca pesan yang tertera dari mantan istrinya di sana.

Lelaki itu mengusap wajah kasar, kejadian ini bukan yang pertama kali terjadi, namun Alika selalu saja menganggap benar hingga terbawa perasaan atas semua ucapan Kartika. Bima muak, padahal dirinya sudah rela meninggalkan dunia gelap yang telah lama digelutinya demi bisa menikahi Alika, namun mengapa istrinya itu sulit mempercayai dirinya?

"Kamu tahu Kartika memang seperti ini, suka membual dan mengganggu ketenangan rumah tangga kita. Ayolah, Sayang, jangan mudah percaya," pinta Bima dengan nada memohon.

"Tapi setidaknya kalau kamu mau pergi menemui Bintang, kabari aku dulu, Mas!" protes Alika.

"Dia anakku, Alika, dan aku sekalian lewat pulang karena memang sudah waktunya aku memberi Bintang nafkah, kan? Seharusnya kamu tahu, paham, dan tidak usah banyak menduga-duga karena aku tidak mungkin seperti apa yang dikatakan Kartika!" balas Bima sudah mulai terpancing emosi.

"Ya, tapi di sana ada Kartika dan itu membuat aku sulit percaya." Alika menutup wajahnya dengan kedua tangannya, kembali menangis karena masalah ini malah bertambah rumit.

Sementara Bima, dia mengacak rambut frustasi lalu menuju dapur mengambil air minum dan meneguknya dengan cepat.

"Aku baru saja pulang, setidaknya beri aku minum dulu, Alika!" bentak Bima seraya melempar gelas bekas ia minum ke sembarang arah hingga menimbulkan suara keras pecahan kaca.

Alika terperanjat, begitu juga dengan Bulan yang langsung terbangun dan menangis karena mendengar keributan yang orang tuanya ciptakan. Alika langsung menggendong serta menyusui putrinya yang sesenggukan, sedangkan Bima masih emosi, sehingga tak ingin menemui Bulan dalam keadaan seperti ini.

"Maafkan ibu dan ayah yang membuatmu terkejut, ya, Sayang." Alika mengelus kening putrinya.

Suasana terasa hening hingga malam beranjak, baik Bima maupun Alika tak ada yang berani berbicara setelah kejadian pelemparan gelas tadi. Pasangan suami istri itu saling merenung. Alika di kamar, sedangkan Bima di ruang tengah, berbaring dengan mata yang tertutup rapat.

Tok ... tok ... tok ....

Suara ketukan pintu mengejutkan keduanya. Alika bangkit dari tempat tidur dan melihat Bima sedang membukakan pintu, hingga terlihat seseorang di sana. Dia adalah Ana, adik dari suaminya.

"Ini sudah jam 7 malam, Ana, ada apa bertamu malam-malam begini?" tanya Bima malas.

"Ini sudah jam 7 malam, Mas, mengapa masih berpakaian kantor seperti ini?" Ana malah balik bertanya dengan tersenyum sinis dan menatap Alika yang juga sedang menatapnya.

"Apa kalian tidak mau mempersilakan aku masuk?" tanya Ana sarkasme karena tak kunjung dipersilakan masuk, membuat Bima menggeser badannya, memberi jalan pada Ana yang langsung melenggang ke dalam dan duduk dengan kaki yang diangkat sebelah, berlagak seperti ratu.

"Hey! Bawakan aku minum, bukan malah bengong!" teriak Ana pada Alika yang langsung menuruti perintah adik ipar jahatnya itu.

"Mas, tolonglah kamu itu ajarkan istrimu untuk berkata baik kepada Mbak Kartika. Dia hanya menuntut hak Bintang melalui istrimu supaya tidak ada rahasia di antara kalian, tapi si pelakor itu malah memaki Mbak Kartika." Ana mengompori Bima.

Alika yang baru saja datang membawa minum langsung menanggapi perkataan yang lebih pantas disebut fitnahan itu dengan tatapan tajam.

"Ana, aku tak masalah kalau kamu membenciku dan selalu memperlakukanku dengan buruk, tapi jangan memfitnahku seperti ini. Aku bahkan tidak membalas pesan Kartika sama sekali!" Alika membela diri.

"Betul! Aku juga tidak melihat Alika membalas pesan Kartika!" Bima membela istrinya.

"Ya ampun ... hey, pelakor! Guna-guna apa yang sudah kamu berikan pada Mas Bima sehingga kakak-ku ini begitu tunduk dan percaya pada perebut suami orang sepertimu? Dan kamu, Mas, bisa saja kan dia sudah menghapus pesannya sehingga kamu tidak bisa membaca jejak-jejak kebusukannya?!" Ana tampak kesal.

Bima yang masih pusing karena pertengkarannya dengan Alika mendadak sakit kepala karena kedatangan Ana yang malah menambah masalah. Dengan kasar, dia mengusir adiknya yang akhirnya hanya bisa cemberut karena perlakuan sang kakak yang selalu membela istri barunya.

"Daripada membuat onar di rumah orang, lebih baik kamu pergi, Ana! Aku sedang pusing dan banyak masalah, jangan menambah bebanku!" bentak Bima.

"Ya, semenjak menikah dengan si pelakor ini, hidupmu memang selalu penuh dengan masalah, Mas. Jadi, coba tinjau kembali pernikahan kalian," ujar Ana yang sudah hendak pergi dari rumah itu.

Sementara Alika, dia hanya bisa diam membisu bahkan saat Ana menyenggol lengannya sebelum keluar dari rumahnya bersama Bima. Hati Alika sudah kebas, tak ada lagi hal yang bisa mengobati luka batinnya, karena menjalani pernikahan dengan dikelilingi mertua, ipar, serta mantan istri dari suami yang toxic.

Tanpa Alika tahu, saat sudah berada di luar, Ana tersenyum penuh kemenangan karena misinya telah berhasil, dan dia yakin, sebentar lagi kehancuran akan segera menimpa keluarga kecil Bima dan Alika.

"Lihat saja, aku takkan pernah membuat hidupmu tenang, Alika!" desis Ana sebelum melajukan mobilnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status