Share

Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.
Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.
Author: Riaal

Bab 1. Setelah 40 hari.

Author: Riaal
last update publish date: 2026-09-08 20:00:42

"Sudah 40 hari, bolehkah aku meminta kamu melayani aku?" tanya Bima pada Alika.

Bima Sakti, lelaki yang sudah bersabar menunggu selama 40 hari pasca istrinya melahirkan, kini sudah tak kuat menahan gejolak yang terpendam dalam dirinya. Alika hanya tersenyum, meskipun rahimnya belum sepenuhnya pulih, dan tubuhnya masih terasa remuk redam, Alika tak tega menolak.

"Tentu, tapi pelan-pelan ya, Mas." Alika menerima pagutan mesra dari suaminya yang lama kelamaan semakin beringas.

"Mas, sabar," ucap Alika dengan lirih, seraya mengelus rambut sang suami yang seperti tak peduli dengan ringisan Alika yang menunjukkan rasa ngilu dan sakit.

"Mas, sakit!" pekik Alika saat Bima mencapai puncaknya.

Alika memejamkan mata, dia merasakan ada sesuatu yang keluar dari selangkangannya, entah darah atau apa. Namun, Alika tak ingin mengecewakan Bima, dia berusaha menahan sakit dan membiarkan Bima menuntaskan keinginan untuk yang kedua kalinya.

"Ssshhh ...." Alika mendesis membuat Bima mengerti jika istrinya itu belum siap lagi.

"Ya sudah, kita pillow talk dulu supaya kamu tenang dan siap," ujar Bima membuat Alika bernafas lega.

Keduanya merubah posisi, duduk seraya berpeluk mesra, sementara putri mereka tertidur pulas sejak tadi.

"Melahirkan adalah kejadian terbesar yang pernah aku alami, Mas, rasanya aku hampir mati," Alika memulai percakapan, "Kalau aku meninggal, apa yang akan kamu lakukan, Mas?" pancing Alika.

"Menguburmu lah," canda Bima, membuat suasana erotis itu seketika lenyap begitu saja.

"Bercanda," kekeh Bima karena melihat wajah Alika yang langsung memerah.

"Aku serius, loh, Mas, wanita melahirkan itu mempertaruhkan nyawa demi bisa memberikan anak kepada suaminya. Apa kamu sama sekali tidak melihat perjuanganku?" Alika tampak kesal.

"Tentu saja aku melihat, Sayang. Aku tahu itu, bahkan ibuku juga pernah melahirkan aku dan Ana, begitu pun Kartika, mantan istriku, dia juga pernah mengalami hal yang sama sepertimu melahirkan Bintang anak kami," jawab Bima, "Jadi, aku sudah terbiasa. Dan seandainya ketakutanmu itu terjadi, mungkin aku akan kembali pada Kartika supaya aku bisa merawat Bintang dan Bulan secara bersamaan, kalau bersama wanita lain rasanya terlalu rumit." Bima berkata panjang lebar.

Alika terdiam, moodnya yang sudah goyah karena candaan Bima, kini hancur setelah mendengar nama Kartika, apalagi ada harapan bagi suaminya itu kembali pada mantan istrinya. Salahnya juga, mengapa bertanya demikian. Namun, bukan jawaban seperti itu yang Alika inginkan. Dia wanita, sudah sepatutnya dimanja dan disanjung, apalagi keadaannya yang masih sakit karena usai melahirkan.

"Kalau kamu memiliki keinginan untuk kembali, mengapa dulu mesti cerai dengan dia? Silakan, Mas, jangan tunggu aku meninggal untuk kembali padanya. Jawabanmu benar-benar menyakitiku!" Alika langsung memalingkan pandang ke arah lain.

"Astaga, Alika! Kamu maunya apa sih? Aku bercanda, kamu cemberut, aku jawab apa adanya, kamu marah. Kamu seharusnya bisa baca situasi, kan ini 'seandainya', bukan sebenarnya." Bima mengusap rambutnya, dengan kesal.

"Tahu, ah, aku ngantuk, mau tidur saja." Alika melepaskan tubuhnya dari pelukan Bima yang langsung bangun karena tingkah istrinya.

"Aku masih mau, Sayang!" bujuk Bima.

"Aku sudah tidak mood, jawabanmu terlalu menyakiti aku, Mas, seharusnya kamu sadar itu." tolak Alika.

Mendengar itu, Bima semakin marah.

"Ya sudah, kalau kamu tidak mau melaksanakan kewajibanmu melayani aku, tak apa. Lagi pula, kamu tidak lebih enak dari Kartika, dia melayaniku dengan baik selepas melahirkan Bintang dulu, dia tetap menggairahkan, tidak banyak mengeluh seperti kamu!" Bima mulai membandingkan istrinya dengan Kartika, mantan istrinya.

Hati istri mana yang tidak sakit mendengar suaminya membandingkan dirinya dan mantan istri dalam berhubungan intim? Setelah mengatakan ada kemungkinan kembali pada Kartika, kini Bima mengatakan jika mantan istrinya itu lebih menggairahkan dibanding dirinya. Rasanya Alika sudah tak bisa bersabar lagi, dia tak mau diperlakukan rendah seperti ini.

"Apa kamu sadar dengan semua yang telah kamu ucapkan, Mas? Kamu sudah menodai harga diriku sebagai istri dan juga sebagai seorang ibu." Alika berkata dengan bercucuran air mata.

Bima terdiam. Namun, wajahnya terlihat kesal.

"Bagus lah, aku jadi tahu apa yang sebenarnya ada dalam hatimu. Kartika lebih baik dan menggairahkan daripada aku? Ya, dan aku pun bisa mendapatkan yang lebih baik darimu, Mas! Kembalilah padanya. Aku minta cerai!" tantang Alika.

Tak lama, Bulan terbangun mendengar pertengkaran orang tuanya. Alika melangkah menuju tempat tidur Bulan, lalu menyusuinya dengan diiringi nyanyian tangis yang keluar dari mulut ibunya. Bima dapat melihatnya, luka mendalam di mata istrinya.

"Alika, maafkan aku," ucap Bima mendekati istrinya, namun, Alika tak menjawab.

"Alika, aku hanya menjawab seadanya, hanya prasangka, dan mungkin bercanda. Tak ada niat kembali pada Kartika, aku hanya membayangkan hal terburuk saja karena yang kupikirkan adalah anak-anak." Bima mulai membujuk Alika.

Alika masih tak menjawab.

"Alika, aku mohon maafkan aku, aku tidak mau berpisah darimu. Kamu yang membuatku bertaubat dan keluar dari dunia gelap, kamu yang membuatku mau berubah. Mungkin, perkataanku tadi adalah sifat buruk yang masih terbawa hingga sekarang, aku akan memperbaiki lagi," janji Bima.

"Kartika hanya masa lalu, aku terlalu menginginkanmu sehingga melakukan cara apa pun supaya kamu mau. Maaf, Sayang, aku tak berniat membandingkanmu dengan mantan istri yang bahkan tak menyisakan kenangan baik dalam hidupku." Bima menunduk sedih.

Mata Alika yang tertutup rapat sama sekali tak membuat air matanya sulit keluar. Buliran-buliran kecil itu mengalir semakin banyak seiring dengan terngiangnya setiap lontaran api yang keluar dari mulut suaminya sendiri, dan itu terjadi di saat emosinya masih labil karena hormon wanita yang tak menentu pacsca melahirkan.

"Seharusnya ini menjadi malam pertama yang indah setelah sekian lama kita sama-sama menahan rasa, Mas." Alika akhirnya buka suara dan Bima menoleh padanya dengan tatapan sendu.

"Kamu pikir aku mau sakit-sakitan seperti ini? Apa kamu lupa bagaimana liarnya aku jika melayanimu dulu? Dulu aku sehat, Mas, dan sekarang aku masih sakit, kondisiku masih belum pulih dan aku ingin kamu melakukannya dengan perlahan." Alika masih sesenggukkan. "Aku butuh dimanja, sanjungan, supaya apa? Supaya aku melupakan rasa sakit itu dan hanya merasakan bahagia karena kata-kata indah yang kamu ucapkan padaku. Namun, perkataan apa yang aku dapat?" tanya Alika dengan senyuman pahit.

Akhirnya, Bima tersadar dan menangis memeluk kaki Alika yang masih menyusui putri mereka. Bima sadar telah bersalah, dia sudah keterlaluan menyakiti Alika sejauh ini. Padahal, Bima menginginkan kenikmatan yang ada dalam diri istrinya, tapi dia malah memberikan duri api yang dia lontarkan dari mulutnya tanpa memikirkan perasaan istrinya.

"Lepas, Mas, aku sudah dalam keadaan suci dan kamu bisa menceraikanku sekarang juga." tantang Alika lagi.

Bima menggeleng. "Tidak, Alika, aku tidak akan pernah menceraikanmu. Maafkan aku, aku sudah keterlaluan, semua yang kuucapkan tadi hanya sebatas amarahku saja. Aku mohon maafkan aku, jangan tinggalkan aku." Bima terus membujuk Alika.

Keduanya menangis bersama, meratapi kisah cinta dan rumah tangga yang selalu ada saja ujiannya. Kalau bukan ibu mertua dan ipar jahat, mantan istri jadi sumber masalahnya. Hanya ayah mertua yang menyayangi Alika, dan lelaki itu menjadi salah satu alasan setelah Bulan untuk Alika memaafkan Bima meskipun luka hatinya entah akan sampai kapan bisa sembuh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 11.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 10.

    Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 9

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 8. Kepanikan Mama Sari.

    Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 7. Kepergian Bima Sakti.

    "Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t

  • Nikmati Laranya, Hingga Hilang Rasanya.   Bab 6. Kemarahan Bima.

    Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status