LOGINMalam harinya, pintu diketuk dari luar, Bima pun membukakan pintu. Betapa terkejutnya Bima setelah melihat siapa yang datang.
“Maaf, ada apa ya?” tanya Bima. “Kami dari kepolisian mendapatkan laporan kalau saudara Bima Sakti menyimpan dan memperjual belikan barang haram.” Komandan itu menunjukkan surat penangkapannya kepada Bima. “Apa? Aku nggak melakukannya.” Bima mengelak. Alika yang sedang berada di kamar pun langsung keluar ketika mendengar suara kegaduhan dari ruang tamu. “Ada apa, Mas?” tanya Alika. Komandan itu langsung memberikan surat penangkapan dan melakukan penggeledahan, mereka pun menemukan barang bukti yang terselip di sofa. “Silahkan lakukan pembelaan di kantor polisi.” Komandan langsung membawa pergi Bima. Alika hanya bisa terduduk dengan lemas, dirinya sudah tak tahu harus berbuat apa. “Mas, mungkinkah kamu kembali ke jalan yang dulu pernah kamu tempuh?” Alika bermonolog. Tak heran, Bima sakti dulu adalah seorang gembong narkoba. Namun, dirinya memilih untuk keluar dari dunia yang menjanjikan itu, demi menikah dengan Alika. Pagi harinya Alika pun datang ke kantor polisi untuk menjenguk suaminya. “Mas, kenapa semua ini bisa terjadi lagi?” tanya Alika. “Aku nggak tau. Tapi, kamu percayakan denganku?” tanya Bima. “Sekali ini aku percaya kalau kamu bisa menunjukkan bahwa, Mas tidak bersalah.” Alika berkata dengan tegas. “Aku akan membuktikan kalau aku tak bersalah, Dek.” Bima pun berkata dengan penuh keyakinan. Tak berapa lama, Alika meninggalkan kantor polisi dan dirinya pulang kembali menuju rumahnya. Betapa terkejutnya saat sudah sampai di depan rumah. Sudah ada kopernya di depan pintu rumah. “Ada apa ini?” Alika bermonolog. Tak lama muncul Kartika dari dalam rumahnya sembari melipat kedua tangannya di depan dada. “Akhirnya kamu pulang juga. Rumah ini sekarang menjadi milikku. Suamimu dulu sebelum bercerai denganku meninggalkan banyak hutang. Aku yang melunasinya. Sekarang rumah ini sebagai penganti pelunasan hutang itu.” Kartika berkata dengan sangat angkuhnya. “Baik, aku akan pergi dari sini. Tetapi biarkan aku mengambil beberapa barangku di kamar,” kata Alika. Kartika tak menjawab, Alika langsung saja memasuki rumahnya dan berjalan menuju kamar. Alika mengambil beberapa tabungan atas namanya dan perhiasan yang masih dia simpan. Beruntungnya Alika pun teringat dengan surat-surat penting yang harus dia amankan, termasuk surat rumah yang mereka tinggali saat ini yang akan dikuasai oleh Kartika. Alika langsung memasukkannnya ke dalam koper dan Kembali ke luar dari kamar, setelahnya dia mengunci pintu dan memasukkan kunci ke dalam tas. Dia pun mengayunkan kaki keluar dari rumah yang selama ini menjadi saksi bisu cinta Alika dan Bima Sakti. “Selamat menikmati rumah ini,” kata Alika. Alika tak bisa berkata apapun lagi, dia langsung saja menggeret kopernya untuk pergi dari rumah. Dia kebingingungan untuk menemukan tempat tinggal. Akhirnya setelah memikirkan dan mempertimbangkan segalanya Alika memutuskan untuk tinggal sementara di rumah ibu mertuanya. “Mau tak mau, aku harus tinggal di rumah Mama Sari, walaupun dia sangat jahat denganku,” kata Alika bermonolog. Panas terik tak ia hiraukan, Alika terus saja berjalan menggendong Bulan dan mengeret koper melewati trotoar. “Ingin aku memesan taxi online, tetapi aku baru ingat kalau aku tak memiliki uang cash. Bahkan di saldo aplikasiku semuanya nol,” gumam Alika. Dia tak memiliki jalan lain selain harus menjual terlebih dulu perhiasannya. Setelah berjalan cukup jauh, kini Alika sampai di depan toko emas dan langsung menjual salah satu emasnya. Setelah mendapatkan harga yang pas, Alika meninggalkan toko itu dan mulai memesan taxi online untuk mengantarkannya ke rumah ibu mertua. Sesampainya di sana, Alika langsung disuguhkan dengan wajah masam dari ibu mertua. “Mama, boleh aku menumpang di sini, sampai Mas Bima keluar dari penjara?” tanya Alika. “Apa? Numpang? Enak saja. Kamu kalau mau tinggal di sini, ya kamu harus mengerjaan semua pekerjaan di rumah ini.” Sari berkata dengan ketus. “Baik. Aku tak keberatan, Ma,” kata Alika. “Kalau begitu sekarang kamu pel rumah ini!” titah Sari. Alika langsung berjalan ke arah dapur dan langsung mengepel rumah sembari mengendong Bulan. Perut Alika yang kroncongan tak lagi ia hiraukan. Setelah selesai dengan mengepel, Alika langsung membawa masuk koper ke dalam kamar. Yang tadi belum sempat ia simpan. Sesampainya di kamar, Alika langsung membaringkan Bulan di ranjang yang biasa ia tempati ketika menginap bersama dengan Bima. “Maafkan ibu, Nak. Kita harus melewati ini semua,” kata Alika. Setelah menyimpan pakaiannya di almari, Alika langsung duduk di lantai samping ranjang sembari merenungi nasipnya. “Mas, sampai kapan aku harus menderita seperti ini? Bahkan tubuhku belum sepenuhnya pulih.” Alika bermonolog sembari menatap langit-langit kamarnya. “Alika.” Sari berteriak dari luar kamar, sehingga membuat Alika terperanjat dan langsung berlari meghampiri mama mertuanya yang sedang berdiri di depan televisi. “Ada apa, Ma?” tanya Alika. “Buatkan kopi dan es coklat. Aku ada tamu,” titah Sari. “Baik, Ma.” Alika langsung berbalik menuju dapur. “Ingat. Setelah selesai letakkan di dapur saja. Aku yang akan mengambilnya,” kata Sari. “Iya, Ma.” Alika pun langsung melakukan apa yang diminta oleh mama mertuanya. Setelah selesai, dia pun meletakkan pesanan Sari di atas meja makan. “Mama, minumnya sudah siap,” kata Alika. “Iya.” Sari berjalan mengambil kedua minum itu, “Sudah. Segera Kembali ke kamarmu!” perintah Sari. Tanpa dikomando kedua kalinya, Alika langsung kembali ke kamarnya. Sementara Sari sedang membawa keluar minum untuk kekasihnya yang baru saja datang. “Sayang, maaf ya lama,” kata Sari. “Iya Sayang,” kata pria muda yang menjadi kekasih dari Sari. Pria itu adalah Yasa, salah satu sahabat Bima yang sedang mencari informasi tentang Penjebakan yang terjadi kepadanya. “Kamu di rumah sama siapa?” tanya Yasa. “Aku dengan menantu benalu itu, Entah kenapa sekarang Bima bisa mendekap Kembali di penjara. Pasti gara-gara istrinya yang sangat benalu.” Sari terus saja mengatakan Alika adalah benalu dalam hidupnya. “Apa kamu nggak curiga dengan kasus anakmu? Sepertinya Bima itu sudah sangat lama tak menjual barang-barang itu.” Yasa berkata sambil memainkan tangannya di tangan Sari, supaya Sari terlena dan mengatakan apa yang sebenarnya. “Maksud kamu, ada yang menjebak Bima? Pasti itu istrinya.” Tuduh Sari. “Itu tugas kamu, Sayang. Kamu bisakan mencari siapa pelakunya? Tetapi Bukan hanya Alika saja yang kamu curigai. Semuanya, anak kamu, tetangga kamu, semuanya,” kata Yasa sembari tersenyum. Sari langsung saja menganggukkan kepala dengan penuh semangat karena melihat senyum Yasa yang sangat menggoda. Sedangkan Yasa merasa mual dan ingin segera menyelesaikan semua tugasnya dengan si nenek lampir yang sudah tua renta namun tak sadar umur.Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan
Sedangkan dengan Kartika, dia saat ini sedang melaju untuk pulang ke rumahnya. Hatinya sangat berbunga-bunga, pasalnya ATM berjalannya sedang meluncur untuk bertemu dengannya."Aku akan bertemu dengan Mas Tyo. Dia akan semakin lengket denganku, aku pun akan mendapatkan pundi-pundi uang sebagai ganti saat mengeluarkan uang kemarin." Kartika memang sangat berambisi dengan uang.Bahkan dia tak jarang sering menggunakan Bintang sebagai jembatan untuk meminta uang kepada Bima. Namun semenjak bertemu dengan Prastyo, dia tak pernah lagi meminta uang pada Bima. Tetapi berambisi menghancurkan keluarga kecil itu.Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah sampai di depan rumahnya yang asli. Kartika pun langsung memarkirkan mobilnya. Dia bergegas masuk ke dalam rumah dan membersihkan diri sejenak."Aku harus tampil bersih dan wangi. Biar Mas Tyo semakin lengket," gumamnya.Setelah selesai mandi, dia pun mengenakan pakaian tersexinya. Tak lupa dia pun menggunakan parfum untuk tubuhnya. Biar terasa wan
Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.
Melihat anaknya pergi, menggunakan mobil bagus dan lumayan kinclong. Membuat Mama Sari seperti cacing kepanasan. Dia pun langsung berlari ke dalam rumah dan buru-buru membangunkan Ana."Ana, cepat bangun, Na. Kamu lihat kakak kamu pergi pakai mobil bagus," kata Mama Sari dengan panik."Aduh Ma, palingan dia minjem temennya, udah Ah, mama minggir," kata AnaAna pun menggerutu sembari membetulkan posisi tidurnya dan letak selimutnya.Mama Sari tak putus asa. Dia terus membangunkan Ana, sampai putri bungsunya itu nyaris marah."Lihat. Kamu lihat, mama sudah rekam mereka saat pergi. Ini mobilnya, aduh, kinclong lagi," kata Mama Sari dengan berapi-api.Wanita tua hampir setengah abad itu masih sangat menggilai duniawi. Bahkan beliau masih menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kesenangan dunianya."Coba mobilnya Anton kek gitu. Aduh, pasti aku makin cinta," racau mama Sari.Sedangkan Ana hanyaenatap heran ke arah mamanya. Dia masih tak habis pikir dengan sikap mamanya yang mata duitan.
"Apa? Apakah seperti ini perlakuanmu pada menantu keluarga ini?" Tanya Bima Sakti sembari memicingkan mata."Bima. Nak, kamu sudah keluar, syukurlah." Mamanya langsung berubah raut wajahnya."Kalau sudah kenapa? Kenapa itu Alika keningnya terluka? Kenapa tubuhnya kurus kering, baru juga aku tinggal seminggu. Kamu apakah?" Tanya Bima tanpa memandang mamanya.Bersamaan dengan itu Ana berteriak dari ruang tamu."Alika benalu. Kamu dengar nggak sih saat di panggil?!" Ana berteriak."Apakah memang seperti ini perlakuan kalian? Memanggil istriku dengan benalu? Berteriak dan nggak ada sopan santunnya sama sekali." Bima menatap mamanya dengan tatapan penuh kemarahan."Nggak begitu, Bim. Kamu sayang kok sama Alika." Mamanya berbohong."Sekarang, keluar dari kamarku. Aku mau istirahat." Bima berkata dengan tegas.Mamanya tak bisa berkutik. Dia tak bisa mengatakan apa pun selain menuruti apa yang Bima katakan. Mamanya pun berbalik dan meninggalkan kamar Bima. Bima pun langsung membanting pintu t
Bima duduk di lorong depan ruang ICU. Sembari mengendong Bulan yang sedang terlelap, tak berapa lama datang seorang perawat yang tadi merawat Alika."Bagaimana keadaan istri saya?" Tanya Bima Sakti."Sudah di tangani. Rupanya istri anda mengalami pendarahan hebat, apa tadi beliau terjatuh? Di saat baru saja melahirkan harusnya jangan melakukan sesuatu yang berat," terang perawat itu."Saya tidak tau. Saya baru pulang dari luar kota," kata Bima berbohong."Baiklah, mungkin sekitar dua jam lagi pasien sudah bisa pulang," kata perawat itu."Baik, terima kasih, sus," kata Bima sakti.Perawat itu pun langsung berlalu dan meninggalkan Bima sakti. Sedangkan Bima kembali duduk dan memandang wajah putrinya yang masih terlelap di pelukannya."Sebenarnya apa yang terjadi pada ibumu, kenapa dia tampak sangat tersiksa sekali," kata Bima bermonolog.Dia jam kemudian, Alika keluar dari kamar perawatan menggunakan kursi roda. Dia pun di bantu oleh seorang perawat yang berada di belakangnya."Terima k







