Share

Memuaskan Felix

Author: NonaAquarius
last update Last Updated: 2025-10-28 10:58:37

Degup jantung Anya berdetak tidak beraturan. Dinginnya AC di kamar Felix menembus tulang wanita itu. Tentu saja Anya gugup, Felix memperlakukannya dengan kasar. Sepasang mata tajam yang menatap Anya membuat wanita itu ketakutan. Terlihat jelas ada amarah yang akan meluap, tangan Felix kini menggenggam erat pergelangan tangan Anya membuat wanita itu meringis kesakitan.

Anya tidak memprotes ataupun memberontak, karena lagi pula, dari awal Felix sudah menegaskan bahwa ia tidak akan bersikap lembut padanya.

Mata Anya menatap Felix yang menatapnya dengan dahi mengerut. Felix menindih Anya tanpa hati-hati. Berat tubuh Felix membuat Anya merasa sesak.

"Bukankah posisi ini terbalik? Kamu yang seharusnya di atas. Kamu yang harusnya memuaskanku, bukan aku yang memuaskanmu!" tegas pria itu dengan nada dingin.

"Turun dan merangkaklah naik ke atas ranjang. Bukankah itu lebih menyenangkan?!" Felix menatap Anya dengan wajah merendahkan.

Felix turun dari atas tubuh Anya dan membiarkan wanita itu bergerak sesuai perkataan Felix. Tentu saja Felix tidak menyangka Anya benar-benar merangkak seperti wanita murahan dan melempar dirinya pada Felix. Benar-benar murahan dan itu yang tertanam di dalam kepala Felix. Baju tidur transparan dengan rambut yang dibiarkan terurai. Benar-benar murahan akan tetapi wajah tanpa make up Anya yang mengganggu Felix. Wajah polos tanpa dosa, hal itu membuat Felix kesal.

"Buka semuanya. Jangan sisa satupun!" Suara bariton Felix kembali terdengar.

Anya terkejut dengan perkataan Felix. Mana bisa ia melakukan hal seperti itu. Maksud Anya, apa mereka akan melakukan hubungan tanpa adanya foreplay, semacam ciuman?

Melihat Anya yang hanya diam membuat Felix mengerutkan kening. "Apa kamu datang kesini hanya untuk menguji kesabaranku? Kenapa hanya diam saja? Bukankah ini yang kamu mau? Jadi, lepaskan semua yang melekat dari dirimu. Wajar bukan, jika seorang suami ingin melihat tubuh istrinya tanpa sehelai benangpun?!"

Anya sadar, apa yang dikatakan Felix bukanlah pertanyaan, melainkan pernyataan. Pernyataan yang begitu menyakitkan.

Dengan penuh rasa gugup, Anya perlahan membuka baju tidur transparan dan seksi yang ia pakai. Tentu Felix melihat dengan teliti setiap gerakan Anya. Dia bahkan bertanya-tanya, apakah Anya sengaja memakai dalaman merah agar terkesan menggairahkan?

Tubuh putih mulus tanpa sedikitpun bekàs luka sukses membuat Felix takjub, jelas-jelas Anya sangat pintar merawat dirinya. Hingga tatapan Felix tertuju di area pinggang Anya. Sesuatu berwarna coklat tua.

"Apa itu tanda lahir?" tanya Felix dengan nada rendah.

Anya mengikuti arah tatapan Felix dan ia mengiyakan pertanyaan pria itu. "Saya baru menyadarinya saat berumur 13 tahun."

Felix terdiam sejenak.

"Apa kamu masih perawan?" tanya Felix tiba-tiba.

Anya tersentak ketika Felix mempertanyakan hal seperti itu. Ini sangat memalukan bagi Anya tapi ia juga sadar jika pria itu hanya menginginkan jawaban.

"A-apa anda juga peduli ... dengan hal seperti itu?" tanya Anya dengan nada rendah dan berusaha untuk hati-hati.

"Maksud kamu keperawanan wanita? Kalau dipikir-pikir, aku tidak peduli. Perawan atau tidak perawan sama saja," jawab Felix dengan raut wajah datar.

Anya sedikit lega mendengar perkataan Felix. Ia tahu bahwa dirinya masih banyak kekurangan.

Tangan Anya mulai membuka perlahan baju tidur kimono yang dipakai Felix, membuat dada bidang pria itu terlihat jelas.

"Aku ingin melihat, bagaimana caramu melayaniku sampai aku puas. Jadi jangan membuatku kecewa," tegas Felix.

Anya menghela napas berusaha untuk menenangkan diri dari rasa tegang. Ia perlahan menyentuh lembut dada bidang Felix. Tentu saja Anya jadi gugup setelah mengetahui fakta bahwa ternyata dada seorang pria itu terasa padat.

Ini pertama kalinya bagi Anya menyentuh seorang pria. Tangan Anya menjadi bergetar, rasa gugup bercampur takut membuat wanita itu hampir menangis. Sebisa mungkin ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Memori menyakitkan yang pernah ia alami menjadikan dirinya trauma. Ia pernah menjadi korban pemerkosaan saat berusia 18 tahun. Meski kejadiannya 4 tahun yang lalu, hal itu masih baru buat Anya. Di umurnya yang 22th tentu tidak mudah menerima itu semua. Selama ini ia masih takut jika dihadapkan dengan seorang pria. Bahkan pria yang menjadi suaminya tetap membuat Anya takut.

Napas Anya terdengar tidak beraturan. Felix yang melihat Anya bergetar mulai menyentuh lembut tangan Anya.

"Tidak apa-apa. Jika ini yang pertama kàlinya buatmu, aku bisa memimpin kalau begitu." Tentu saja Felix jadi khawatir meski bercampur kesal karena merasa digantung.

Anya berusaha menenangkan diri. Dia tidak seharusnya memikirkan sesuatu yang telah berlalu ketika dirinya diperkosa, apalagi dia sekarang berada di atas tubuh Felix–pria yang telah menjadi suaminya.

"Ma-maafkan saya, saya akan melakukan yang terbaik," ucap Anya berusaha menghilangkan perasaan yang membuatnya sedih.

Wanita itu melanjutkan aktifitas yang sempat terhenti. Anya mendekatkan wajahnya menuju area leher Felix berniat untuk mengecupnya. Felix tidak menyangka ternyata Anya memulainya dari leher terlebih dahulu.

"Sejujurnya aku tidak mudah terangsang tapi, entah kenapa malam ini terasa berbeda. Apa karena aku tertarik pada pergerakan kakumu itu?" tanya Felix dengan nada membisik.

Anya mendengar jelas deru napas Felix yang terdengar lembut namun tidak beraturan. Apa yang dikatakan Felix benar, Anya terlalu kaku bahkan ia tidak tahu cara mengecup dengan benar.

Felix tersenyum tipis dengan dahi mengerut saat Anya mengecup lehernya. Apa yang dirasakan Felix membuatnya merasa lucu, sangat geli sehingga ingin rasanya Felix mengganti Anya untuk memimpin agar wanita itu tahu cara mengecup dengan benar.

"Apa mengecup adalah yang pertama kalinya bagimu?" tanya Felix sedikit terkekeh.

Anya tidak menjawab, ia memilih melanjutkan kecupannya. Perlahan wanita itu turun menuju dada bidang Felix. Meski Anya gugup, ia tetap memaksa dirinya untuk melakukan yang terbaik. Setidaknya dia tidak ingin mengecewakan Felix kali ini. Anya harap, dia melakukan tugasnya sebagai istri dengan baik untuk yang terakhir kalinya.

Napas Felix semakin tidak beraturan. Napas yang tadinya lembut mulai terdengar terengah. Dia tidak bisa menyangkal fakta bahwa Anya sukses membangunkan gairah Felix.

"Kamu tidak ingin mencium bibirku?" tanya Felix spontan.

Anya menghentikan gerakannya. Mencium? Yang Anya tahu tentang mencium adalah dua bibir yang saling menyentuh. Tapi Anya takut melakukannya, juga tidak percaya diri.

Melihat Anya yang hanya diam saja membuat Felix kembali angkat bicara. "Kamu jijik?" tanya pria itu.

Anya menggeleng dengan cepat. Mana mungkin ia jijik kepada suaminya sendiri. Itu tidak mungkin.

Anya perlahan mendekati bibir Felix dan mencium pria itu. Anya merasakan deru nafas Felix akan tetapi Felix tidak terlihat senang saat bibir Anya diam tidak bergerak.

Felix menarik tengkuk Anya semakin mendekat kemudian melumat bibir wanita itu dengan gairah membuat Anya membulatkan mata karena terkejut. Felix melakukannya sedikit kasar dan hal itu membuat bibir Anya terasa bengkak.

Alis Felix mengerut saat Anya tidak membalas lumatan bibirnya membuat pria itu menghentikan gerakannya.

"Kenapa hanya diam saja? Seharusnya kau yang memuaskanku, bukan aku yang memuaskanmu!" ucap Felix kesal.

Anya menelan saliva, "Ma-maafkan saya, i-ini pertama kalinya buat saya."

Felix yang tadinya kesal mulai menenangkan diri. Percuma juga ia marah-marah, apalagi saat mendengar kata-kata Anya barusan membuat pria itu merasa bersalah. Dia tidak tahu kalau ternyata Anya masih perawan dan tidak pernah berciuman.

"Ikuti aku. Lakukan sesuai apa yang kulakukan. Jika aku melumat bibir mu, balaslah." Felix kembali melumat bibir Anya tapi kali ini pergerakan pria itu menjadi lembut.

Bersambung

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • No Marriage is Perfect   Sahabat

    Mereka kini berada di pantai. Anya duduk di tembok besar yang menjadi penghalang antara pantai dan jalan raya. Lohan sedari tadi menatap Anya yang fokus menatap matahari yang sebentar lagian akan terbenam. "Kak Lohan ingin cerita apa?" tanya Anya penasaran sedari tadi. "Aku selalu bertanya-tanya kapan bisa bertemu denganmu dan berbicara dengan santai dan ternyata tanyaku itu di balas Tuhan dengan kajadian sekarang ini. Betapa senangnya aku bisa bertemu lagi denganmu seperti ini, Anya tanpa rasa canggung karena batasan pekerjaan," ucap Lohan dengan nada lirih. Anya terdiam sejenak. Jujur saja, hari ini Anya cukup senang karena merasa bebas meski hanya sebentar. Perasaan yang menumpuk dan ditanggung Anya sendiri perlahan membuat wanita itu bisa menerima. "Aku beruntung karena memiliki sahabat seperti Kakak." Anya menghela napas. "Anya, jika dia tidak memperlakukanmu dengan baik dan selalu menyakitimu, katakan saja padaku. Aku akan membuatnya membuka mata telah menyakiti siapa. Seor

  • No Marriage is Perfect   "Dia tidak seburuk itu."—Anya Valerie.

    Anya hanya menyaksikan hal yang terjadi di depannya karena wanita itu tidak berdaya. Menyoal Felix, Anya tidak akan pernah bisa menentang pria itu. Lohan masih mengepalkan tangan sedari tadi. Ia sangat sadar telah memukul seseorang yang sangat berpengaruh, bahkan pria itu beresiko dipecat dari pekerjaannya jika saja Felix mengadu nantinya. "Anda masih menggilnya istri saat anda bahkan tidak menghargainya? Suami macam apa anda? Jangan salahkan jika ada seseorang yang ingin melindungi istri anda karena sikap anda saja tidak seperti seorang suami!" sindir Lohan. Felix terkekeh mendengar Lohan yang berbicara kepadanya dengan sangat berani. Pria itu beralih menatap Anya dengan tatapan yang sulit diartikan wanita itu. Hanya saja, Felix sangat kesal dan kecewa kepada Anya. "Akan aku pastikan pria ini kehilangan pekerjaannya!" tegas Felix kepada Anya. Anya langsung menggeleng dan berusaha memohon tapi Felix pergi begitu saja tanpa memedulikan Anya. Rowan yang baru sampai tidak mengerti de

  • No Marriage is Perfect   Kesalahpahaman

    Anya dan Lohan tengah menatap patung kecil yang berbentuk guci yang hancur. Apapun yang terpajang di pameran seni tersebut memiliki makna. "Kupikir kali ini kamu tertarik untuk membelinya," ucap Lohan saat melihat Anya menatap patung kecil itu. Anya menghela napas. Sepertinya bagus diletakkan di atas nakas," jawab Anya tersenyum. Lohan mengangguk. Tawa pria itu memudar saat menyadari betapa cantiknya Anya hari ini. Bagaimana bisa wajah itu terlihat sangat sempurna. Hingga Lohan hampir lupa memberitahu Anya tentang permintaan ayah wanita itu. "Anya, Tuan Dalbert memintamu untuk menjadi model bulan ini untuk produk terbaru yang akan launching," ucap Lohan langsung ke inti. Anya cukup terkejut dengan permintaan itu. Tentu saja ini kali pertama Ayahnya memintanya menjadi model. "Model? Aku? Tidak! Banyak wanita yang lebih menarik," jawab Anya langsung menolak. "Kamu tidak sendiri. Tuan juga memberi undangan untuk suam

  • No Marriage is Perfect   Menyusul Anya

    Felix yang tengah menandatangani beberapa berkas di atas mejanya mulai berhenti. Pria itu menghela napas karena sedari tadi Anya mengganggu pikirannya. "Apa aku pergi menjemputnya saja? Dia bahkan tidak menelponku. Apakah ajakan semalam batal?" gumam Felix kesal sendiri. "Sial! Kenapa belakangan ini dia tidak mengejarku?" tanya Felix berpikir. Belakangan ini Anya tidak mengejar Felix seperti biasanya. Bahkan wanita itu abai tadi pagi, apa karena ada Casey? Felix berdiri dari duduknya dan berusaha berpikir keras. Antara logika dan hatinya beradu. Felix ingin segara menemui Anya akan tetapi logika pria itu menolak. Pada akhirnya pria itu pergi meninggalkan berkas yang menumpuk demi memastikan apakah Anya masih ingin pergi bersamanya je pameran seni yang dikatakan wanita itu tadi malam. Di perjalanan, Felix singgah saat melihat toko bungan yang cukup ramai. Pria itu melihat-lihat beberapa bunga yang terpajang di sana. "Apa anda ingin?" tanya penjual dengan senyum ramah. Felix han

  • No Marriage is Perfect   Pameran Seni

    Anya telah lengkap dengan gaun berlengan panjang selutut dengan warna baby pink dengan kancing depan. Rambut bergelombangnya ia biarkan terurai dengan make up tipis yang menghiasi wajahnya. Ia ingat terkahir kali Felix mengatakan agar Anya memakai riasan tipis karena ia lebih cantik daripada harus memakai riasan tebal. Wanita itu mengirim pesan kepada Lohan agar segera menjemputnya. Tentu saja Anya berniat untuk menenangkan diri atas apa yang terjadi semalam dan juga tadi pagi. Hatinya masih terasa sakit tiap kali mengingat wanita yang bernama Casey itu, apalagi perlakuan Felix kepada Casey sangat berbeda kepadanya. Terlihat jelas bahwa Felix menyayangi Casey. Anya menghela napas. Padahal seharusnya ia pergi bersama Felix akan tetapi pasti pria itu sibuk dengan selingkuhannya. Tak lama, akhirnya Lohan menelpon. Tentu saja wanita itu turun tergesa-gesa. Poppy yang melihat Anya berjalan cepat langsung angkat bicara. "Apa Nyonya akan keluar?" tanya Poppy penasaran karena Anya jarang k

  • No Marriage is Perfect   Undangan

    Lohan cukup terkejut dengan pesan yang dikirim Anya. Sudah lama mereka tidak bertemu secara langsung, jika membahas bisnis hanya di telpon. 'Ada apa, Nona Anya?' tulis Lohan bertanya. Jika mengenai pekerjaan, Lohan akan sangat sopan kepada Anya. Dia tidak akan berani berbicara non formal jika bukan wanita itu yang memintanya karena bagaimana pun, Anya adalah putri tertua dari bos perusahaan tempat dia bekerja. 'Temani aku ke suatu tempat,' tulis Anya. 'Ke mana?' tulis Lohan bertanya. 'Ke pameran seni. Sepertinya aku harus menenangkan diri di sana,' tulis Anya membalas. 'Saya senggang hari ini, tidak ada pertemuan penting juga. Anda ingin pergi jam berapa?' tanya Lohan. '20 menit ke depan kalau bisa,' jawab Anya. 'Baiklah saya akan menjemput anda nanti,' balas Lohan. Lohan tersenyum karena merasa senang dengan ajakan Anya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi perasaannya terhadap Anya masih sama sampai sekarang. Sebelum Anya menikah, mereka cukup dekat bahkan sering jalan bers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status