Share

Noda Pernikahan Paksa
Noda Pernikahan Paksa
Penulis: Aisyah Ahmad

Perjodohan

Penulis: Aisyah Ahmad
last update Tanggal publikasi: 2026-05-03 20:55:35

​"Lo pikir, dengan berdandan dan berpakaian kayak gitu, gue bakal minat? Sorry, lo itu jauh banget dari Safira! Kalau bukan karena perjodohan konyol ini, mana mau gue sama lo? Cih!"

​"Hei, terus kamu pikir aku mau menikah sama kamu? Sama sekali enggak! Aku juga punya impian dan cita-cita yang harusnya aku wujudkan, daripada harus menikah dengan pria yang sama sekali nggak punya hati!"

​"Ooo, bagus kalau gitu! Ayo, sana! Lo bilang ke bokap lo buat batalin pernikahan konyol ini. Sana bilang! Bilang ke bokap lo, bilang ke bokap gue, kalau pernikahan ini harusnya berakhir bahkan sebelum dimulai!" ucap Axel lantang sembari menuding wajah Elena. Tatapan matanya menyalang, sarat akan kekesalan yang meluap.

​Sementara Elena seketika terbungkam.

​"Kenapa? Nggak mau, kan? Nggak berani, kan? Emang dasarnya lo aja yang kegatelan pengen pernikahan ini tetap terjadi. Tapi jangan harap, sampai kapan pun, gue nggak akan pernah sudi ngelihat lo!" sentak Axel. Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan pergi begitu saja, meninggalkan Elena sendirian di mini bar rumah mereka.

​Secangkir cokelat panas kini menjadi satu-satunya teman di sore yang dingin, usai rintik hujan mengguyur ibu kota. Elena duduk merenung. Suara sendok yang beradu pelan dengan dinding gelas menjadi satu-satunya pengisi keheningan di ruangan itu.

​"Non Elena tidak apa-apa?" tanya seorang wanita paruh baya yang baru dua bulan ini bekerja di rumah mereka.

​"Ah, ya. Aku nggak apa-apa kok, Bik. Cokelatnya terlalu panas, tadi sedikit kena tanganku."

​"Aduh, maaf, Non. Biar saya ganti dengan yang baru, ya?"

​"Ah, nggak usah, Bik. Nggak apa-apa, kok."

​Kehangatan pun lama-lama akan mendingin jika dibiarkan terlalu lama, batin Elena miris.

​"Ya sudah, Non. Kalau begitu, saya pamit pulang dulu, ya. Pekerjaan saya sudah selesai semua. Dan... sudah jam lima sore, Non."

​"Oh iya, Bik. Boleh. Terima kasih banyak ya, Bik," ucap Elena.

​Wanita paruh baya itu mengangguk sopan, lalu melangkah perlahan ke arah pintu belakang.

​"Eh, Bik. Tunggu!"

​Langkah pelayan itu terhenti. "Eh, iya, Non? Ada apa? Apa ada yang masih perlu saya bantu?"

​"Eum... tidak, Bik. Saya cuma mau berpesan. Tolong... jangan katakan apa pun kepada siapa pun tentang apa yang terjadi hari ini. Saya harap, masalah ini cukup Bik Ida saja yang tahu."

​"Oooh. Iya, Non. Siap, saya mengerti."

​"Ya sudah, Bik Ida boleh pulang sekarang."

​"Baik, Non."

​Rumah megah itu kini kembali sunyi. Seperti biasa, Elena akan sendirian sampai tengah malam tiba. Sejak dua bulan lalu, sejak perjodohan yang diatur oleh orang tua mereka, hidupnya berubah total. Ia yang biasanya bebas bekerja dan bersenang-senang, kini bagai burung di dalam sangkar emas. Bahkan, sangkar yang sengaja dibiarkan kelaparan.

​Dua bulan baginya terasa seperti seabad. Terjebak bersama seorang lelaki yang sebelumnya hanya pernah ia lihat lewat pertemuan singkat. Mungkin lelaki itu terlihat baik bagi orang lain. Namun di matanya, Axel tak lebih dari seorang musuh yang selalu menganggapnya sebagai penghalang cinta.

​"Jadi, sampai kapan kamu mau bertahan sama dia, Axel? Aku harus sabar kayak gimana lagi? Dua bulan, loh. Dua bulan! Kamu pikir aku nggak tersiksa?" ucap seorang wanita berambut curly dengan nada menuntut. Mereka sedang berada di sebuah bar, tempat yang biasa mereka jadikan basecamp untuk nongkrong.

​"Iya, sabar dulu dong, Sayang. Aku janji, setelah aku ceraiin dia, aku akan langsung nikahin kamu."

​"Ck. Tapi kapan, Axel? Ini udah dua bulan! Hubungan kita jadi nggak bebas. Kita harus ketemu diam-diam, sembunyi-sembunyi. Aku nggak bisa nemuin kamu dengan leluasa, bahkan main ke rumah kamu aja aku nggak boleh!"

​"Iya, Sayang... iya. Sabar, ya," bujuk Axel sembari membelai lembut rambut Safira.

​"Atau jangan-jangan... kamu mulai punya perasaan ya sama cewek itu? Atau mungkin, kalian sudaaah—"

​"Enggak lah, Sa! Nggak ada kayak gitu, sumpah!"

​"Bohong! Nggak mungkin kalian tinggal satu atap tapi nggak ngelakuin apa-apa. Nggak mungkin!"

​"Sumpah, Sa. Aku nggak menyentuh dia sedikit pun!"

​"Bohong. Jahat kamu, Axel!" Safira menepis tangan Axel dengan kasar. Ia langsung bangkit berdiri dan melangkah pergi begitu saja.

​"Safira!!! Safira, tunggu aku dong!"

​"Nggak! Jangan sentuh aku dan jangan temui aku lagi sebelum kamu ceraiin dia! Aku kasih waktu dua hari!"

​"Sa... Sa!!! Arghh!!!!" Axel menggeram frustrasi. Kepalanya nyaris pecah karena Safira pergi begitu saja akibat salah paham dan mengira dirinya telah menyentuh Elena.

​"Syiittt!!!!"

​Suara denting gelas dan dentuman musik bass rendah memenuhi ruangan. Lampu bar yang tadinya temaram kini terasa semakin menggelap, menyisakan sorotan neon merah yang menyeruak di antara kepulan asap rokok tipis.

​Axel merosot di kursi, menunduk dalam-dalam sambil mencengkeram kuat gelas wiski di tangannya.

​"Dua hari..." gumam Axel pelan, menertawakan nasibnya sendiri. "Dia pikir semua ini semudah itu."

​Ia menenggak habis minumannya dalam satu tegukan, membiarkan panas alkohol membakar tenggorokannya. Namun, rasa terbakar itu tetap tidak cukup untuk meluruhkan ego dan gengsi yang menumpuk di kepalanya.

​"Gue harus berhadapan sama Papa Ares, Om Theo... dan seluruh fasilitas gue. Kekayaan, bahkan warisan bakal didepak dari nama gue kalau sampai gue menceraikan perempuan itu. Arghhhh!!! Menyusahkan!"

​Sementara itu…

​Rumah besar itu tampak seperti museum. megah, luas, namun mati. Lampu ruang tengah yang disetel temaram hanya menyisakan pantulan warna emas hangat di atas lantai marmer. Tidak ada tawa. Tidak ada percakapan. Hanya ada ketukan halus dari ujung pensil yang menyentuh permukaan kertas.

Elena duduk bersila di atas sofa panjang ruang kerjanya. Rambutnya hanya diikat asal-asalan, dibalut T-shirt oversized dan sweater tebal yang menggantung longgar di bahu kecilnya. Di depannya, terbentang puluhan sketsa gaun dengan berlapis kain, siluet mewah, dan permainan ruffles yang anggun.

​Di sudut meja, sebuah mug berisi cokelat panas telah mendingin sempurna. Uapnya sudah lama hilang, sama seperti semangat yang pernah membumbung di hatinya sebelum dua bulan yang lalu.

​"Gaun pernikahan..." gumamnya lirih, menekan ujung pensil pada garis lengkung pinggang sketsanya. "Yang ini lebih cocok untuk orang yang menikah karena cinta... bukan karena perjodohan."

​Ia menghentikan gerakan tangannya. Pikirannya melayang jauh.

​Sore tadi, Axel menghinanya tanpa ampun. Sebenarnya bukan hanya sore tadi, tapi setiap kali mereka berpapasan atau tak sengaja bersenggolan. Kalimat-kalimat tajam itu terngiang di kepalanya seperti kaset rusak yang terus berputar.

​‘Lo pikir gue minat?’ ‘Jauh dari Safira!’ ‘Jangan harap gue bakal ngelihat lo!’

​Elena mengembuskan napas berat. Jemarinya membeku tepat ketika sketsa detail kain brokat itu hampir selesai.

​"Elena... kamu bodoh," bisiknya pada diri sendiri dengan nada sedingin es. "Kamu bisa pergi kapan pun kamu mau. Tapi kenapa kamu tetap bertahan di sini? Untuk siapa? Untuk apa?"

​Ia menunduk lagi, memaksakan jemarinya kembali menari di atas kertas.

​Sebuah coretan baru tercipta. Namun, kali ini bukan lagi gaun pernikahan putih yang suci.

​Di atas kertas itu kini tergambar sebuah gaun pesta hitam pekat dengan potongan punggung rendah, dipercantik detail renda yang rumit di bagian bahu.

​Lebih berani. Lebih dewasa. Dan... tampak lebih menyakitkan.

​"Elena Wardhana," gumamnya, nyaris menyerupai bisikan angin. "Kalau kamu tidak bisa mengubah keadaan... setidaknya, kamu harus bisa mengubah dirimu sendiri."

​Kepalanya terasa penuh, namun coretan sketsanya justru terlihat semakin tajam dan tegas.

​Di luar, rintik hujan kembali turun membasahi bumi. Jakarta perlahan tenggelam dalam simfoni gemercik air, hingga tiba-tiba...

​Bruuukkk!

​"Astaga! Suara apa itu?"

​Elena tersentak. Ia segera membereskan peralatan menggambarnya dan berlari ke arah sumber suara. Ia yakin barusan mendengar suara benda berat—atau seseorang—yang jatuh tepat di luar pintu rumahnya.

​Langkahnya sempat ragu. Rasa takut perlahan merayap, khawatir jika ada orang berniat jahat di luar sana. Elena melirik jam dinding besar yang menggantung di ruang tengah. Jarum jam menunjukkan pukul 10 malam.

​Tidak biasanya Axel pulang secepat ini. Pria itu biasanya baru menginjakkan kaki di rumah paling cepat jam dua belas malam, atau bahkan tidak pulang sama sekali. Kecuali jika orang tua mereka datang berkunjung, baru Axel akan menampakkan diri sekitar jam sebelas malam.

​Dengan waswas, Elena mengintip sedikit dari celah jendela. Di sana, lamat-lamat ia melihat sesosok tubuh kolaps, terkapar tepat di depan pintu.

​Tanpa berpikir panjang lagi, Elena langsung memutar kunci dan membuka pintu lebar-lebar.

​"Ya ampun, Axel!!!"

​Elena menghambur mendekat, berjongkok di sebelah tubuh pria itu untuk memastikan keadaannya.

​"Axel... kamu mabuk?"

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
2 ekor makhluk ini sudah menikah?
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Noda Pernikahan Paksa   Pelangi Setelah Hujan (End)

    Tiga Tahun Kemudian​Pagi itu, sinar matahari hangat menerobos masuk melalui celah gorden kamar utama. Aroma lavender dari pelembab udara berpadu lembut dengan wangi kopi hangat yang dibawa Axel ke dalam kamar.​Di atas ranjang besar, Elena tersenyum tipis saat merasakan sebuah kecupan lembut di keningnya. Perlahan ia membuka mata, menyambut senyum hangat dari pria yang tiga tahun terakhir ini tak pernah absen berdiri di sampingnya. menjadi pelindung, penopang, dan satu-satunya tempat ia pulang.​"Pagi, Sayang," bisik Axel lembut, lalu mendaratkan tangan hangatnya di atas perut Elena yang membuncit besar. "Pagi juga, Jagoan Papi..."​Elena mengelus jemari Axel yang berada di atas perutnya. "Pagi, Papi..."​Tiga tahun bukan waktu yang singkat untuk menyembuhkan luka akibat kehilangan kedua orang tuanya. Namun, Axel membuktikannya. Pria itu tidak pernah memaksa, selalu sabar menuntun Elena keluar dari masa-masa kelam, hingga akhirnya Elena benar-benar luluh dan membuka hatinya seutuhnya

  • Noda Pernikahan Paksa   masih ada mama...

    ​"Elena... lihat Mama, Nak..." suara ibu Axel, Heranica. terdengar begitu lembut, bergetar menahan duka yang sama besar.​Elena perlahan mendongak dengan pandangan kabur oleh air mata. Matanya sembab, merah, dan tatapannya begitu kosong seolah nyawanya telah ikut pergi bersama brankar yang baru saja melintas.​Heranica merengkuh wajah Elena dengan kedua tangannya, mengusap pipi wanita muda itu yang terasa dingin. "Mama tahu ini berat... berat banget buat kamu. Tapi Mama sama Papa kamu udah tenang, Nak. Mereka udah nggak ngerasain sakit lagi..."​"Mama Heranica..." bisik Elena, suaranya parau dan tercekik. "Aku... aku sekarang sendirian, Ma... Papa udah nggak ada... Mama juga pergi..."​"Enggak, Sayang. Kamu nggak sendirian," potong Heranica tegas namun hangat, lalu membawanya kembali ke dalam pelukan erat. "Kamu masih punya Mama, punya Papa Ares, punya Axel... Kita keluarga kamu. Mama nggak akan pernah biarkan kamu sendirian."​Di seberang lorong, Axel berdiri menatap dua wanita itu d

  • Noda Pernikahan Paksa   Kepergian Mama...

    Pintu kamar terbuka pelan, disusul langkah Axel yang kembali masuk dengan raut wajah yang jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak ada lagi ketenangan yang tadi ia paksakan. Garis rahangnya menegang, sorot matanya tampak berat, seolah menyimpan sesuatu yang sulit diucapkan.Elena yang sejak tadi duduk gelisah di atas ranjang langsung menoleh. Hatinya berdegup lebih cepat hanya dengan melihat ekspresi Axel."Ada apa, Axel?" tanyanya, keningnya berkerut, firasat buruk mulai merayap masuk tanpa permisi.Axel tidak langsung menjawab. Ia hanya berdiri beberapa langkah dari tempat Elena, menatap wanita itu dengan ragu. Bibirnya sempat terbuka, namun kembali tertutup. Seolah kata-kata yang ingin keluar tertahan di tenggorokan."Axel?" Elena kembali memanggil, kali ini dengan nada lebih tegas. "Ada apa?"Hening.Axel menghela napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum melangkah mendekat. Ia duduk di tepi ranjang, jaraknya cukup dekat hingga ia bisa meraih tangan Elena yang terasa din

  • Noda Pernikahan Paksa   Kabar Duka

    Stasiun kereta terdekat tampak penuh sesak.Orang-orang berkerumun di berbagai sudut. Suara tangis, teriakan, dan pertanyaan saling bersahutan tanpa jeda.Beberapa orang terlihat histeris, memanggil nama anggota keluarga mereka.Sebagian lainnya mengerumuni petugas, memaksa meminta kepastian."Mas, tolong dicek lagi! Nama suami saya belum ada!""Anak saya ada di gerbong tiga, Mas! Tolong!""Daftar korban di mana?!"Suasana benar-benar kacau.Penuh kepanikan.Penuh ketidakpastian.Elena berdiri di tengah keramaian itu, wajahnya pucat, matanya terus mencari ke sana kemari, seolah berharap menemukan jawaban di antara kerumunan orang.Tangannya mencengkeram lengan Axel erat."Ax… Mama sama Papa pasti mereka naik-baik saja kan…?" suaranya lirih, penuh harap yang rapuh. Axel menatap sekeliling, lalu kembali ke Elena."Iya… kita cari, ya. Tenang… aku di sini."Meski ucapannya terdengar tenang, matanya sendiri tak bisa menyembunyikan kecemasan.Beberapa kali, Axel menarik Elena mendekat saat

  • Noda Pernikahan Paksa   Kecelakaan Kereta

    ​“A-anu, Non… Nyonya Besar dan Tuan Besar… kecelakaan, Non!”​Elena tertawa hampa. “Ngaco! Jangan bercanda ah, nggak lucu. Satu jam lalu aku masih teleponan sama Mama, Bi. Mama lagi baik-baik aja.”​“Saya nggak berani bercanda soal ini, Non!” potong pelayan itu dengan suara bergetar panik. “Barusan ada berita sela di TV… kecelakaan kereta api setengah jam yang lalu. Parah banget, Non… banyak korban jiwa…”​“Ya terus apa hubungannya sama Papa Mama?” cecar Elena, suaranya mulai meninggi karena menolak kenyataan. “Masa iya Papa sama Mama naik kereta? Mereka itu naik pesawat!”​“Tapi, Non… di daftar nama korban yang ditayangkan… ada nama Tuan Theo dan Nyonya Elis…”​Dada Elena berdesir hebat. Otaknya menolak mentah-mentah ucapan itu. Dengan gerakan panik, ia menyambar ponselnya dan menekan nomor Mamanya.​“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan.”​Elena mencoba menghubungi Papanya. Sama. Suara mesin menjawab dingin. Jarinya yang gemetar mulai tak kontrol men

  • Noda Pernikahan Paksa   jatuh cinta lagi

    ​"Boleh aku duduk sebentar?"​"Silakan, Dok."​Keenan duduk di hadapan Elena dengan napas yang belum teratur. "Terakhir, Elena... apa kamu yakin nggak ada kesempatan sedikit pun buat aku?"​Elena menatapnya lurus. "Keenan... aku rasa jawabanku kemarin sudah jelas. Maaf banget, jawabanku masih tetap sama."​Keenan menunduk, meremas tangannya pelan sebelum menghembuskan napas panjang. Dari sudut lain, Axel memperhatikan interaksi itu dari jauh dengan raut tak tenang.​Keenan kembali mendongak dengan senyum tipis. "Baik, aku terima. Aku cuma berharap kamu selalu bahagia." Ia mengusap wajahnya sekilas. "Sore ini aku fly ke London. Tugasku di sini sudah selesai."​Elena terkejut. "Keenan... are you okay?"​"Aku nggak apa-apa," sahut Keenan cepat, berusaha tersenyum. Ia meneguk habis minumannya, lalu berdiri. "Jaga diri baik-baik. Kalau butuh apa-apa, nomorku masih sama."​Tanpa menunggu balasan, Keenan berbalik dan melangkah pergi. Elena hanya bisa menatap punggung pria itu dengan sedikit

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status