INICIAR SESIÓNBella menyeruput tehnya, berharap minuman hangat itu bisa membantu menenangkan dirinya. Kedatangan Shin yang begitu tiba-tiba kembali membuat jantungnya berdebar tidak terkendali. Ia sudah berusaha meyakinkan diri bahwa hubungan mereka telah berakhir, tetapi hanya dengan melihat pria itu duduk di hadapannya, ketenangan yang susah payah ia bangun kembali terusik.Setelah meletakkan cangkirnya, Bella menatap Shin dengan ekspresi dingin. “Jadi, perjodohan ini palsu? Kalian sengaja melakukan ini?”Shin sudah duduk santai di kursi di hadapannya. Ia mengambil teko, lalu menuangkan teh ke dalam cangkirnya sendiri dengan gerakan lihai, seolah kedatangannya merupakan hal yang sangat wajar.“Kalau kau ingin perjodohan ini benar-benar terjadi, aku tidak akan keberatan.”Bella tidak menganggap serius jawabannya. Ia bahkan tidak bisa memastikan apakah pria itu sedang bercanda atau sengaja menggodanya. “Baiklah. Aku datang karena perjodohan yang diusulkan oleh kakekku dan Kakek Vanko. Namun, karena
Bella mendengarkan seluruh penjelasan itu dengan saksama. Semakin banyak yang ia dengar, semakin sulit baginya untuk percaya bahwa pria yang berdiri di hadapannya pernah menjalani kehidupan seperti itu.Ia akhirnya bertanya, "Apakah Kakek Vanko mengizinkanmu masuk kelompok Red Line?"Caspian mengangguk. "Kakek awalnya menolak. Namun, waktu itu saya keras kepala dan bahkan hampir melarikan diri. Pada akhirnya, saya malah dikunci di gudang bawah tanah."Bella mengangkat alis.Caspian menghela napas kecil sebelum melanjutkan. "Dibandingkan hukuman Kakek yang tidak berarti apa-apa, saya pernah mengalami siksaan di Arena Bawah Tanah. Jadi, saya berpikir jika saya bertahan, Kakek akan mengizinkan saya."Ia tersenyum tipis mengingat masa lalu tersebut. "Tetapi setiap tiga hari sekali, Kakek akan masuk dan bertanya apakah saya masih akan tetap pada keinginan itu. Saya terus menjawab hal yang sama sampai tidak terasa sebulan pun berlalu."Bella dapat membayangkan betapa keras kepala anak itu p
Caspian tampak tersenyum canggung melihat reaksi Bella. Untuk pertama kalinya sejak wanita itu masuk ke ruangan, ekspresi percaya dirinya sedikit goyah."Nona Bella, apa kabar... emm, maksud saya, senang bertemu dengan Anda. Ini pertama kalinya kita bertemu."Bella justru tersenyum sinis. "Pertama kalinya?"Ia menatap pria di hadapannya dengan pandangan tidak percaya. Tatapannya bergerak perlahan dari wajah Caspian hingga pakaian yang dikenakannya, seolah sedang memastikan bahwa pria yang berdiri di depannya memang orang yang sama dengan yang pernah ia kenal."Bagaimana bisa anggota mafia seperti mu menjadi seorang pejabat militer di Kota Whitesand?"Caspian malah tersenyum penuh percaya diri, seakan pertanyaan itu sama sekali tidak mengejutkannya. "Apa yang Anda katakan, Nona Bella? Saya masuk militer sejak muda dan itu memang cita-cita saya sejak dulu. Kakek saya bahkan sangat menyukai prestasi saya di sana. Bahkan, wali kota pun tertarik kepada saya."Bella tidak langsung menjawab,
Tidak lama kemudian, mereka tiba di depan sebuah ruangan VVIP. Dua pria bertubuh kekar berdiri di kedua sisi pintu, mengenakan pakaian formal dengan sikap waspada. Melihat asisten Caspian datang bersama Bella, keduanya segera memberi jalan.Asisten itu berhenti di depan pintu, kemudian mengetuknya tiga kali.Tok. Tok. Tok.Beberapa detik berlalu, tetapi tidak terdengar jawaban apa pun dari dalam. Pria itu akhirnya meraih gagang pintu dan membukanya, lalu sedikit menyingkir untuk memberikan Bella jalan."Nona Bella, silakan masuk."Bella berdiri di depan pintu selama beberapa saat. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Sampai saat ini, ia bahkan belum pernah melihat wajah Caspian. Meskipun sejak awal ia sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan pria yang dipilih oleh keluarganya, tetap saja ada sedikit rasa gugup yang tidak bisa ia hindari.Bella menarik napas perlahan, berusaha menenangkan dirinya. Kemudian, ia melangkah masuk. Begitu melewati ambang pintu, langkah Bella hampir
Tangan Chiara yang masih menggenggam tangannya sedikit mengerat. Ia hanya mengusap lengan Bella dengan gerakan pelan."Tidak apa-apa, Bella. Akan lebih baik kalau kau tidak memikirkan hal ini dulu."Bella mengangguk. Beberapa detik kemudian, ia membuka mata dan menatap jalan yang terbentang di luar jendela."Besok, aku akan menemui Caspian."Chiara dan Adrian langsung terkejut. Keduanya menatap Bella dengan intens, seolah ingin memastikan bahwa keputusan tersebut benar-benar datang dari dirinya sendiri, bukan karena keterpaksaan atau karena ingin melarikan diri dari perasaannya kepada Shin.Namun, dari mata maupun ekspresi Bella, yang terlihat hanya ketenangan. Entah ketenangan itu pertanda bahwa ia sudah siap, atau justru karena ia sudah terlalu lelah untuk menunjukkan apa yang sebenarnya ada di dalam hatinya."Secepat ini?" Chiara akhirnya bertanya untuk memastikan. "Kupikir kamu akan menata perasaanmu lagi untuk waktu yang lama."Bella terdiam sejenak sebelum menjawab. "Aku sebenar
Suasana bar masih sama seperti sebelumnya. Musik jazz terdengar lembut di antara percakapan para pengunjung, sementara cahaya lampu yang hangat membuat segala sesuatu tampak tenang seolah tidak ada apa pun yang baru saja berakhir.Rico yang duduk di meja luar segera memperhatikan Bella. Ia tidak perlu menebak ke mana perempuan itu pergi. Ia tahu Bella baru saja menemui Shin.Entah apa yang mereka bicarakan. Namun, dari ekspresi Bella yang berjalan melewatinya, ia bisa melihat bahwa pertemuan itu tidak berakhir seperti yang diharapkan. Wajah Bella masih tenang, tetapi ada sesuatu yang berbeda di matanya. Sedikit muram dan yang paling jelas, tidak ada kebahagiaan di wajahnya.Bella kembali ke bilik tempat Chiara dan Adrian berada. Ia membuka tirai pembatas dan langsung duduk di samping Chiara tanpa mengatakan apa pun. Tangannya meraih gelas air putih di atas meja, kemudian meneguknya perlahan.Chiara dan Adrian saling bertukar pandang, Mereka tidak mengatakan apa-apa. Keduanya sudah bis
Ketika Bella membuka matanya, bau debu dan rokok yang pekat membuatnya terbatuk. Ia terbaring di lantai, disekitarnya terdapat kotak-kotak besi besar dengan beberapa sudah berkarat. Ingatan sebelum dirinya pingsan membuatnya sadar dari linglung, ia ingin bangun. Tapi kemudian menyadari kalau kedua
Lima hari berlalu... Tiga puluh enam anggota polisi yang diperintahkan untuk memeriksa daerah San Felice secara menyeluruh tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Pencarian hingga luar daerah pun dilakukan, tidak ada tanda-tanda adanya kejahatan yang pernah terjadi dan semuanya aman-aman saja.Se
Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak."Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adr
Bella duduk di kursi makan dan merenung. Benar kata Adrian, dirinya agak ceroboh membawa pria itu kerumahnya. Walau terluka dan tidak sadarkan diri, ia tidak mengenalnya.Siapa yang melukainya? Luka separah itu jika ia tidak melihatnya pasti tidak akan selamat sampai esok hari.'Apakah pelakunya su







