Share

Bab 15

Author: SanASya
last update Petsa ng paglalathala: 2025-12-25 13:09:25

Lima hari berlalu... Tiga puluh enam anggota polisi yang diperintahkan untuk memeriksa daerah San Felice secara menyeluruh tidak menemukan apapun yang mencurigakan. Pencarian hingga luar daerah pun dilakukan, tidak ada tanda-tanda adanya kejahatan yang pernah terjadi dan semuanya aman-aman saja.

Setelah mendengar laporan dari bawahannya, komandan Lombardi hanya mengangguk dan memerintahkan mereka kembali ke markas pusat untuk beristirahat.

Di kantor walikota DeLuca, ia mendengarkan komandan Lom
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 214 Sahabat yang protektif.

    Beberapa hari kemudian berlalu. Hubungan Bella dan Shin berjalan seperti biasa, hanya saja kini ada beberapa momen intim yang mulai mewarnai kebersamaan mereka.Saat jam pulang sekolah tiba, ponsel Bella bergetar. Sebuah pesan dari Shin mengabarkan bahwa pria itu sudah menunggunya di depan gerbang sekolah TK. Malam ini, keduanya memang berencana untuk makan siang dan makan malam bersama di luar. Ekspresi wajah Bella saat membalas pesan itu tampak biasa saja, namun tangannya bergerak jauh lebih cepat dari biasanya saat membereskan barang-barang di atas meja."Sampai jumpa, Miss Clara," pamit Bella kepada rekan sesama gurunya."Sampai jumpa juga, Miss Bella. Hati-hati di jalan," balas Miss Clara ramah.Begitu melangkah keluar gedung, Bella langsung bisa melihat sosok Shin yang sedang bersandar santai di bawah pohon yang cukup rindang. Pria itu tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Bella mempercepat langkah kakinya, namun panggilan nyaring dari arah belakang mendadak membuat seluruh t

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 213

    Di sebuah tempat yang cukup tersembunyi dengan penerangan yang minim, ruangan yang terhitung luas itu mendadak terasa sempit. Lebih dari lima puluh orang berkumpul di sana untuk mendiskusikan sesuatu. Suara mereka terdengar pelan, menandakan bahwa pembicaraan ini sangat serius dan rahasia. Meski berada dalam cahaya yang remang-remang, guratan kemarahan tetap terlihat jelas di wajah pria-pria berbadan kekar dan garang yang mendominasi ruangan tersebut."Sialan! Ini semua gara-gara Shin Vitali! Kenapa dia harus menghancurkan kelompok kita?" umpat Pria A dengan mengepalkan tangan. "Kalau memang ingin menghukum, dia tidak perlu sampai meratakan markas kita!""Kita sudah seperti tikus got sekarang, hanya bisa bersembunyi di tempat terpencil dan sempit seperti ini," timpal Pria B dengan nada frustrasi. "Setiap kali keluar, kita harus ekstra hati-hati agar tidak berpapasan dengan kelompok lain. Apakah kita akan terus hidup seperti ini?""Kita harus memikirkan cara untuk membalas dendam," sah

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 212

    Bella mengira dirinya akan diculik lagi. Ia sampai menahan napas saat tubuhnya dengan begitu mudah dibawa masuk ke dalam kegelapan gang. Namun setelah itu, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada serangan lanjutan. Ia justru bisa mendengar embusan napas berat tepat di belakangnya. Detik berikutnya, tubuh Bella dilingkupi oleh sebuah pelukan erat dan aroma parfum yang sudah sangat tidak asing lagi bagi penciumannya."Shin," panggil Bella, langsung mengenali sosok di belakangnya."Hm," jawab Shin singkat sambil semakin mengeratkan pelukan lengannya. Pria itu kemudian kembali bersuara, "Apakah kau terkejut?"Bella bisa mendengar ada nada jahil yang terselip dalam intonasi suara pria itu. Tangannya bergerak menepuk kesal tangan Shin yang melingkar kuat di pinggangnya. "Kau sengaja melakukannya, kan?"Shin terkekeh rendah. Kepalanya miring ke samping dan langsung mencuri satu ciuman cepat di pipi Bella. Hembusan napas hangatnya terdengar sangat jelas di telinga Bella hingga membuat gadis itu mera

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 212

    Bella mengira dirinya akan diculik lagi. Ia sampai menahan napas saat tubuhnya dengan begitu mudah dibawa masuk ke dalam kegelapan gang. Namun setelah itu, tidak terjadi apa-apa. Tidak ada serangan lanjutan. Ia justru bisa mendengar embusan napas berat tepat di belakangnya. Detik berikutnya, tubuh Bella dilingkupi oleh sebuah pelukan erat dan aroma parfum yang sudah sangat tidak asing lagi bagi penciumannya."Shin," panggil Bella, langsung mengenali sosok di belakangnya."Hm," jawab Shin singkat sambil semakin mengeratkan pelukan lengannya. Pria itu kemudian kembali bersuara, "Apakah kau terkejut?"Bella bisa mendengar ada nada jahil yang terselip dalam intonasi suara pria itu. Tangannya bergerak menepuk kesal tangan Shin yang melingkar kuat di pinggangnya. "Kau sengaja melakukannya, kan?"Shin terkekeh rendah. Kepalanya miring ke samping dan langsung mencuri satu ciuman cepat di pipi Bella. Hembusan napas hangatnya terdengar sangat jelas di telinga Bella hingga membuat gadis itu mera

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 211 Tukar Hadiah.

    Tiga hari setelah Shin pergi ke luar kota, Bella akhirnya diizinkan untuk tinggal kembali di rumah kecilnya dan mengajar di TK. Giovanni terpaksa memberikan izin karena Bella terus membujuknya, ditambah lagi situasi di dalam keluarga DeLuca saat ini memang sedang tidak memungkinkan. Secara rahasia, Bella kemudian diantar oleh kepala pengawal menuju Desa San Felice.Tanpa sepengetahuan Bella, ayahnya menugaskan seseorang untuk menjaganya dari jauh. Tugas pengawasan tersebut secara kebetulan jatuh ke tangan Rico. Perintah ini sama sekali tidak melibatkan campur tangan Shin. Namun, begitu Rico mengetahui tentang tugas rahasia tersebut, ia langsung memberi tahu Shin, dan pria itu tentu saja segera mengiyakannya.Kali ini, Rico tidak menyewa tempat yang dulu ia jadikan sebagai pos pengintaian. Karena tugasnya sekarang adalah mengawasi Bella selama 24 jam penuh dan memastikan keselamatannya, Rico memilih menyewa sebuah kamar di area rooftop. Dari sudut tersebut, ia mendapatkan pemandangan y

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 210

    Mendengar nama itu, Chiara dan Adrian membeku karena tidak percaya. Keduanya saling melempar tatapan penuh tanya, mencoba mencerna informasi yang baru saja mereka dengar."Apakah dia... Luca Vitali yang sama dengan yang kita kenal? Ataukah ada orang lain yang memiliki nama serupa?" tanya Adrian dengan nada ragu.Bella mengangguk. "Orang yang menjemputku tadi memang Luca Vitali.""Apa sebenarnya hubungan kalian yang sesungguhnya?" tanya Adrian lagi, kali ini dengan raut wajah yang lebih serius."Kami... teman dekat," jawab Bella, sempat menjeda kalimatnya sejenak. "Sebenarnya, dia pernah mengutarakan perasaannya kepadaku. Namun, aku masih membutuhkan waktu untuk memikirkan semuanya.""Bella, tidak baik membiarkan seorang pria yang sudah menyatakan cinta kepadamu menggantung tanpa penjelasan," timpal Chiara, memberikan nasihat sebagai seorang sahabat.Bella menatap Chiara lekat-lekat. "Aku tahu. Menurutmu, aku harus menjawab apa?"Mendengar pertanyaan itu, Chiara mendadak bungkam. Adria

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 116 Tidak ada hubungan.

    Steve melihat interaksi Bella dan Luca yang tampak cukup dekat. Ia pun mulai merasa penasaran akan hubungan keduanya. Bahkan, senyum Bella saat berbicara dengan Luca terasa berbeda dibandingkan saat berbicara dengannya. Entah kenapa, perasaan cemburu itu muncul begitu saja, membuatnya tanpa sadar m

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 115 Bertemu lagi.

    Bella hendak mendekati Luca, tetapi ia ingat bahwa dirinya sedang bekerja. Ia kemudian mengambil ponsel dan mengirim pesan. Ponsel Luca berdenting dua kali.Bella: Kamu sudah pulang? Bukankah seharusnya kamu pulang lusa? Bella: Apa yang kamu lakukan di sini?Luca meliriknya sekilas, lalu tersenyum

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 111 Kesimpulan yang mustahil.

    Saat sedang asyik makan, Chiara tidak sengaja menumpahkan minumannya ke pakaiannya. Ia menghela napas, lalu berkata pada Bella, “Bisakah aku pinjam bajumu?”Bella mengangguk. “Ambil saja di lemari kamarku.”Chiara berdiri dan masuk ke kamar Bella. Saat sedang mengganti pakaian, tatapannya tertuju p

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 103 Kepastian.

    Begitu masuk, Bella langsung menuju dapur. Ia membuatkan kopi untuk Luca, lalu mulai memasak satu menu tambahan untuk makan mereka. Ini sudah menjadi semacam kebiasaan—makanan wajib yang selalu Luca minta setiap kali datang membawakan makanan, dan mereka akan memakannya bersama.Aroma kopi hangat d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status