Share

Bab 5

Author: SanASya
last update publish date: 2025-12-17 17:47:06

Bella keluar dari kamar mandi dan melihat Adrian sibuk di dapur. Rambutnya tergerai masih setengah basah, matanya menatap senang pada Adrian yang datang membawakan makanan untuknya. Kebetulan Bella lapar, dia tidak perlu masak.

"Aku tadi buat minestrone, kamu pasti belum makan malam, makanlah." Adrian meletakkan beberapa mangkuk di meja makan.

Aroma sayur dan basil membuat perut Bella keroncongan. Ditambah aroma roti hangat.

"Kebetulan, aku sempat berpikir untuk membuat mie instan karena aku kelaparan. Terima kasih."

Bella menarik kursi dan menatap berbinar pada dua makanan didepannya, tangannya yang dingin meraba mangkuk dan merasakan panasnya keramik menyentuh kulit.

"Masih hangat?"

Adrian sudah duduk di kursi lain, matanya yang sibuk menatap ponsel melirik Bella, "Mm, aku memanaskannya di dapurmu tadi. Ini focaccia keju dari nenek Sofia, kebetulan baru diantar saat aku pulang tadi. Punyamu sekalian ku bawakan."

Bella mengangguk, "Nenek Sofia baik sekali sering membagi makanan ke kita."

Tangannya mulai menyendok sup, merasakan enaknya makanan di dalam mulutnya yang menghangatkan perut.

"Mm." Jawaban singkat Adrian yang sudah kembali sibuk dengan ponselnya.

Ruangan hening, hanya suara sendok beradu pelan dan detik jam dinding mengisi ruang makan yang menyatu dengan dapur dan ruang tamu. Sesekali terdengar suara ketukan pelan jari Adrian di meja yang sedang membaca pesan penting, dari pasiennya mungkin. Tidak lama untuk Bella makan, ia segera membersihkan peralatan makan.

"Sudah selesai?" Tanya Adrian.

Bella mengangguk dan duduk kembali, "Ada yang ingin kamu bicarakan?"

Adrian mengangguk, "Tentang pria itu, apa kamu menemukan kartu identitasnya?"

Bella juga mengingat hal penting ini sebelum mandi tadi, ia menggigit bibir bawahnya sejenak. "Aku tidak menemukannya, apa tidak ada di pakaiannya?"

Adrian menghela nafas, "tidak ada, mungkinkah pria ini mengalami perampokan? Tidak ada uang, tidak ada ponsel atau dompet berisi kartu identitas. Aku menduga setelah dia dilukai, perampok itu membuangnya di gang itu."

Bella berpikir dan mengangguk, "mungkin saja. Tapi... bukankah itu berarti lingkungan ini tidak aman? Sejak kapan ada perampokan?"

Adrian mengangkat bahu, "sejak hari ini, dia korban pertama."

"Bisa serius? Kita sedang membicarakan sesuatu yang berkaitan dengan keamanan kita sendiri. Jika benar seperti yang kau duga, bukankah aku jadi tidak aman?" kata Bella. Ada sedikit rasa cemas.

Adrian tersenyum tipis, "kau baru menyadari hal itu sedangkan aku sudah memikirkannya sejak tadi."

"Lalu mau bagaimana?" Bella mencoba berpikir mencari solusi untuk menangani perampok ini. Ia khawatir perampok itu tahu ia menyelamatkan seseorang dan rumahnya mungkin jadi target selanjutnya.

Adrian diam dengan alis berkerut, lalu berkata yakin. "Demi keselamatan mu, telepon ayahmu—"

"Tidak!" Bella dengan cepat memotong perkataan Adrian.

Adrian menghela nafas. Ia sendiri khawatir kalau dugaannya benar, solusi untuk meminta bantuan ayahnya Bella adalah yang terbaik. Ia tidak bisa terus menjaga Bella dan tidak bisa mengukur kemampuannya sendiri untuk melindungi sahabatnya.

"Bella, ini demi keselamatan mu. Selain itu paman bisa mengerahkan banyak pasukan keamanan untuk berpatroli di daerah ini, anggap demi keselamatan masyarakat sekitar juga."

Mata Bella menatap ke bawah, berpikir dengan cepat. Ia setuju untuk melaporkan hal ini dan menempatkan pasukan keamanan demi rakyat. Tapi jika ayahnya tahu, ia pasti akan mendapat pengawalan lebih ketat lagi.

"Bagaimana kalau kita tunggu pria itu sadar dulu dan bertanya apa yang terjadi padanya? Kalau dugaan kita salah, biarkan pria itu mengurus masalahnya sendiri."

"Aku tidak masalah dengan itu. Tapi jika benar sesuai dugaan kita, tidak aman untuk mu dan selanjutnya keputusan tergantung ayahmu." Adrian menatap Bella dengan penuh ketegasan.

Kedua tangan Bella di atas meja saling terkait dan meremas pelan, "Ayahku setiap hari sudah memiliki banyak pekerjaan, bahkan bisa lembur bersama paman Sergio. Aku hanya... tidak ingin menambah kekhawatiran ayahku."

Adrian menyilangkan tangan didepan dada dan bersandar di kursi makan. "Kamu bisa menghilangkan kekhawatiran ayahmu dengan kembali ke kediaman di pusat kota."

"Aku tahu, tapi aku ingin hidup mandiri dan tinggal di rumah milikku sendiri. Aku nyaman dengan kehidupan ku sekarang." Tatapan Bella jatuh pada jendela.

Suasana diluar sangat hening dan damai, inilah kehidupan di desa. Berbeda dengan kehidupan di pusat kota, malam sekalipun masih akan ramai. Bahkan perumahan elit tempat keluarganya tinggal, tidak bisa menahan kebisingan itu.

"Aku tidak memaksa, mau kamu hidup seperti apa terserah padamu, asal bukan sesuatu yang merugikan dirimu sendiri. Ayahmu tidak akan keberatan, aku dan Chiara juga akan mendukungmu." Wajah Adrian tersenyum menenangkan, tatapannya melembut seperti seorang kakak pada adiknya.

Namun, dalam sekejap ekspresi Adrian berubah serius. "Hanya saja kamu punya identitas penting, putri walikota. Ayahmu, selain disibukkan dengan urusan masyarakat, adapun musuh yang tidak bisa ditangkap dengan mudah. Lebih mementingkan keselamatan dan kebahagiaan putrinya, betapa sayangnya paman Gio padamu. Aku, Chiara dan orang-orang disekitar mu juga perduli. Kau tahu alasan aku pindah kerja ke rumah sakit di daerah ini?"

Bella agak skeptis dengan ucapannya yang terakhir, tapi mengakui. "Ya, karena aku. Dengan nilai kelulusan mu dan citra keluarga mu di bidang kedokteran, kamu menjadi incaran banyak rumah sakit besar. Siapa sangka kamu memilih rumah sakit kecil di daerah San Felice, pinggiran kota Whitesand."

Adrian menjawab sekenanya, "Aku lega kau paham. Tetapi jika ada yang bertanya, aku hanya bisa membuat alasan, ingin hidup tenang. Selain itu, jika di rumah sakit pusat kota, aku pasti akan sangat sibuk. Disini aku lebih santai."

"Kamu membuang-buang waktu belajar mu." Sesal Bella, bagaimana bisa profesi dokter didapat dengan mudah? Setelah lulus dengan nilai terbaik, Adrian malah ingin bermalas-malasan.

"Sudah, jangan menyesalinya. Ilmu kedokteran ku juga bukan berarti tidak bermanfaat, aku masih menjadi dokter sekarang." Tatapan Adrian beralih ke pintu kamar utama, "untuk saat ini, kita perlu waspada dengan lingkungan sekitar. Aku pastikan pria itu akan segera sadar dan kita bisa bertanya penyebab dia terluka."

"Baik, aku harap hasilnya tidak akan buruk." Kata Bella.

Tapi, hasil apa yang tidak buruk? Pria itu terluka sangat parah dan pasti masalahnya tidak ringan. Sekarang ia khawatir menolong pria itu akan membawa masalah untuk dirinya dan Adrian. Semoga saja masalah ini tidak besar.

Adrian melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 21.45, "ini hampir larut, sebaiknya sekarang kamu istirahat, aku akan tidur di sofa."

Tiba-tiba Bella menepuk keningnya, "Ah iya, aku lupa harus buat bahan ajar untuk besok. Seharusnya sudah selesai sejak tadi."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 79 Interogasi.

    Karena Adrian dan Chiara terus menatapnya tanpa mengalihkan pandangan, Bella akhirnya menyerah. Ia meletakkan garpu dan pisau di atas piring, lalu menarik napas pelan sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi.Dengan singkat, Bella menjelaskan kejadian yang dialaminya, mulai dari saat ia jatuh ke laut, bagaimana Luca menolongnya, lalu membawanya ke pulau kecil, hingga bagaimana pria itu membantu merawatnya ketika ia mengalami hipotermia ringan di malam hari.Namun Bella dengan sengaja tidak menceritakan beberapa adegan yang menurutnya cukup memalukan. Ia yakin Chiara dan Adrian akan panik jika mendengarnya, meskipun sebenarnya tidak terjadi sesuatu yang tidak pantas.Hal-hal seperti itu tidak perlu diceritakan. Yang terpenting, mereka tahu bahwa kondisinya baik-baik saja."Begitulah ceritanya," kata Bella akhirnya. "Dia sudah banyak membantuku. Tidak mungkin aku menolak permintaannya untuk menjadi temanku."Setelah itu ruangan menjadi hening. Chiara dan Adrian hanya diam mendengarka

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 78 Tidak berhenti mengejarnya.

    Setelah mendapatkan nomor telepon Luca dari Rico, Bella langsung menyimpan nomor itu dan mengirim pesan.Bella: Halo, selamat siang.Tidak butuh waktu lama sampai balasan muncul.Luca: Ya, Bella.Bella tidak heran Luca langsung mengenalinya. Namun entah mengapa balasan singkat itu terasa sedikit dingin.Pikiran itu segera ia tepis. Ia kembali mengetik.Bella: Maaf aku meminta nomor pribadimu dari Rico. Aku ingin mengucapkan terima kasih untuk makanan yang kamu kirimkan.Beberapa detik kemudian balasan datang lagi.Luca: Ya, sama-sama. Itu layanan khusus untukmu.Bella akhirnya merasa tenang setelah mengetahui bahwa makanan itu memang benar dikirim oleh Luca.Namun setelah itu ia malah bingung harus menulis apa lagi. Ia sudah mengucapkan terima kasih dan memastikan soal makanan tersebut. Akhirnya Bella kembali mengetik.Bella: Sekali lagi terima kasih. Kalau begitu nomor kamu akan aku hapus.Bella membaca ulang pesannya sebelum mengirimkannya. Entah kenapa ada rasa canggung setelah men

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 77 Nomor Handphone.

    Klinik di kapal pesiar itu cukup luas dan tertata rapi. Beberapa alat medis modern tersusun di sepanjang dinding, lengkap dengan tempat tidur pasien, lemari obat, serta lampu pemeriksaan yang terang menggantung di atas meja medis.Begitu mereka sampai di sana, Adrian dan Matteo langsung mengambil alih pemeriksaan."Kau duduk di sini," kata Adrian kepada Bella sambil menunjuk salah satu tempat tidur pemeriksaan.Bella menurut tanpa banyak protes. Ia duduk dengan tenang di tepi ranjang, sementara Chiara berdiri di dekatnya dengan wajah yang masih dipenuhi kekhawatiran.Luina yang sebelumnya menemani mereka sudah disuruh pergi oleh Chiara untuk menyiapkan beberapa keperluan Bella. Ia diminta menyiapkan pakaian bersih untuk mandi, sekaligus membeli bubur dari restoran kapal. Luina khawatir Nona mudanya belum sempat sarapan sejak pagi.Di sisi lain ruangan, Matteo membawa Luca ke bagian yang lebih sepi.Ia mulai memeriksa beberapa bagian tubuh Luca dengan cepat namun tetap teliti, mulai da

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 76 Kembali ke kapal.

    Chiara perlahan melepaskan pelukannya, matanya langsung memindai Bella dari atas hingga ke bawah.Ia memperhatikan dari atas sampai bawah, memastikan sahabatnya benar-benar baik-baik saja.Secara keseluruhan Bella memang terlihat baik-baik saja. Tidak ada luka sama sekali.Namun Chiara menyadari wajah Bella tampak sedikit pucat.Dengan cepat ia mengangkat tangannya dan meraba pipi serta dahi Bella."Kau tidak apa-apa?" tanyanya khawatir. "Kenapa wajahmu pucat?"Adrian yang berdiri di samping mereka juga mendekat. Mengamati wajah Bella dengan singkat, ekspresinya serius."Apa terjadi sesuatu padamu semalam?" tanyanya.Di sisi lain, Matteo menoleh ke arah Luca. Dari sorot matanya seolah mempertanyakan 'apa yang sudah kau lakukan pada gadis ini?'Luca hanya meliriknya sekilas. Ekspresinya tetap tenang tanpa memberikan tanggapan apa pun. Bella buru-buru menjawab pertanyaan mereka."Aku tidak apa-apa," katanya menenangkan. "Semalam ombaknya sangat deras dan aku hampir tenggelam."Ia menole

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 75 Lambaian tangan.

    "Aku akan memberimu kompensasi saat kita kembali nanti."Setelah mengatakan itu, Luca kembali melanjutkan langkahnya menyusuri bibir pantai.Bella yang mendengarnya langsung mempercepat langkah hingga kembali berjalan sejajar dengannya. Ia menoleh dengan wajah penuh rasa ingin tahu."Kompensasi apa?" tanyanya penasaran.Luca menjawab dengan nada tenang, seolah hal itu sudah ia pikirkan sejak lama."Kamu adalah tamu VIP di resort kami. Mengalami kejadian seperti ini..." ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan, "aku sebagai pemilik tentu harus memberi ganti rugi. Setidaknya biaya perawatan dan mungkin sebuah hadiah agar kau tidak mengalami trauma."Bella segera menggeleng dan membantahnya."Kau tidak perlu melakukan itu," katanya cepat. "Kejadian ini tidak ada hubungannya denganmu. Gannaro dan Maggio memang berencana menculikku agar ayahku memenuhi permintaan mereka."Ia menatap ke depan, suaranya sedikit melembut. "Jadi tidak perlu ada kompensasi. Justru kau yang sudah menyelamatkanku

  • Nona Incaran Ketua Mafia   Bab 74 SOS.

    Bella kemudian teringat sesuatu. Ia menoleh ke arah Luca, lalu menunjuk ke sudut gua tempat beberapa pakaian dijemur di atas ranting yang disusun sederhana."Terima kasih untuk pakaian yang kau pinjamkan padaku," katanya pelan. "Aku sebenarnya berniat mencucinya dulu sebelum mengembalikannya padamu, tapi kau..."Kata-katanya tiba-tiba terhenti ketika pandangannya jatuh pada bahu Luca yang masih telanjang.Pria itu langsung memahami maksud Bella. Tanpa berkata apa-apa, Luca berdiri, mengambil kemejanya yang tadi ia lepaskan, lalu mengenakannya kembali. Gerakannya begitu tenang dan tanpa ragu.Di belakangnya, Bella yang memperhatikan langsung memalingkan wajah dengan pipi yang memerah. Ia merasa canggung melihat Luca begitu saja mengenakan kembali pakaian yang sebelumnya sempat ia pakai.Dengan suara sedikit ragu, Bella akhirnya bertanya, "Kamu... apa tidak apa-apa memakai kemeja itu lagi?"Luca selesai mengancingkan kemejanya, lalu berbalik menghadap Bella. Ia menemukan gadis itu memal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status