INICIAR SESIÓNNamun, Davide bukanlah seseorang yang mudah terpancing oleh perkataan semacam itu.Ia memahami betul risiko memiliki banyak bawahan dan sekutu di Dunia Bawah. Hanya saja, ia memiliki caranya sendiri untuk mengetahui apakah seseorang di sekitarnya patut dicurigai. Jika menemukan pengkhianat, ia lebih memilih segera menyingkirkannya daripada terus menghabiskan waktu untuk memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi."George," katanya, kali ini dengan nada yang lebih tegas. "Maksudku, aku ingin kau berhenti ikut campur dan mencari masalah dengan Red Line. Sebab, kalau kau melawannya, itu sama saja dengan melawanku."George justru menangkap maksud lain dari perkataan tersebut. "Tenang saja, Davide. Aku tidak berniat membunuhnya. Aku hanya ingin memberikan sedikit peringatan karena dia sudah mengusik rencanaku."Davide terdiam sejenak. Kemudian, ia menoleh ke arah Keith yang duduk di kursi penumpang depan."Keith, sepertinya orang ini tidak memahami ucapanku."Keith membenarkan kacamat
George yang sedang menikmati kemesraan bersama ketiga wanitanya tiba-tiba terusik oleh suara panggilan seorang bawahan yang terdengar begitu keras dan tergesa-gesa. Suara itu bahkan membuatnya hampir saja mengambil pis-tol untuk menembak orang yang berani mengganggu waktu santainya. Namun, niat tersebut urung dilakukan ketika ia menyadari siapa orang yang berdiri di hadapannya.Pria itu merupakan salah satu pemimpin kelompok kecil Finlan yang selama ini cukup ia andalkan."Tuan...! Tuan...! Ada kabar buruk!"Pemimpin kelompok kecil itu segera menekuk satu lutut di hadapan George. Napasnya sedikit terengah-engah, tetapi ia tidak membuang waktu untuk menunggu izin berbicara."Davide Federico datang!"George yang masih kesal hanya menjawab asal-asalan. "Kalau datang, ya biarkan saja. Kenapa kau harus melapor dengan tergesa-gesa seperti itu?"Pemimpin kelompok kecil itu sempat kebingungan mendengar tanggapan atasannya. Ia mengangkat wajah, memastikan George benar-benar memahami siapa yang
"Tabrak gerbangnya."Keith langsung menoleh ke belakang. "Kau yakin? Itu tidak sopan—""Memangnya sejak kapan kita perlu bersikap sopan saat berkunjung ke tempat musuh?" potong Chad tanpa ragu.Keith terdiam sesaat. Maksudnya bukan berarti mereka harus datang dengan membawa bingkisan atau menyampaikan salam hormat kepada tuan rumah. Ia hanya tidak ingin mereka membuat keributan yang sebenarnya tidak diperlukan. Bagaimanapun, mereka datang ke kediaman orang lain dengan niat yang tidak baik. Apakah merusak gerbang harus menjadi bagian dari kunjungan tersebut?Sayangnya, ia sudah cukup mengenal kedua rekannya. Davide memang memiliki kebiasaan mengusik orang lain hanya untuk melihat reaksi mereka. Membuat George Wilde marah sepertinya justru menjadi salah satu hiburan yang paling disukainya. Sementara Chad, meskipun sesekali mengeluh tentang mobil kesayangannya, tidak pernah keberatan melakukan hal-hal semacam itu."Sudahlah, Keith. Ini kesempatan bagus untuk menguji kemampuan mobil modif
Tidak lama setelah baku tembak berakhir, sejumlah mobil polisi dari Negara E tiba di lokasi kejadian. Petugas segera mengamankan area dan mulai membereskan kekacauan yang ditinggalkan oleh insiden tersebut. Beberapa ambulans juga datang hampir bersamaan. Tim medis bergegas memberikan pertolongan kepada orang-orang yang terluka sebelum membawa mereka ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.Melihat dua puluh satu mayat berpakaian hitam yang tergeletak di sekitar lokasi, ditambah senjata api yang digunakan dalam baku tembak, para polisi sudah bisa memperkirakan apa yang sebenarnya terjadi. Kemungkinan besar, insiden tersebut merupakan bentrokan antarkelompok gangster. Namun, mereka tetap membutuhkan keterangan dari orang-orang yang terlibat secara langsung. Karena itulah, Shin, Vito, dan para pengawalnya dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.Sekitar satu jam kemudian, mereka akhirnya diperbolehkan meninggalkan kantor polisi. Setelah memastikan s
Para pengawal segera membawa Shin berlindung di balik kendaraan-kendaraan yang terparkir di sekitar lokasi. Mereka mengeluarkan pistol dan membalas tembakan untuk menahan serangan, sementara orang-orang yang berada di dekat tempat kejadian berusaha menyelamatkan diri sejauh mungkin.Situasi mereka jauh dari menguntungkan. Jumlah penyerang cukup banyak, dan senjata yang mereka gunakan memiliki jangkauan serta daya tembak yang lebih unggul daripada pistol milik para pengawal. Lebih buruk lagi, para penyerang mengenakan rompi antipeluru. Mereka jelas telah mempersiapkan serangan ini dengan matang, bukan sekadar datang untuk menakut-nakuti atau melukai seseorang.Beberapa pengawal Shin terkena tembakan dan terpaksa berlindung untuk menghentikan pendarahan. Namun, mereka yang masih mampu bertarung tetap bertahan, sesekali membalas tembakan ketika menemukan celah.Shin sendiri tidak tinggal diam. Begitu melihat salah seorang penyerang mencoba mendekati posisi persembunyian mereka, ia mengan
Shin baru saja selesai mengunjungi pabrik pembuatan perhiasan Nexus Global di Negara E. Setelah memastikan seluruh kegiatan produksi berjalan sesuai rencana, ia meninggalkan pabrik bersama Vito dan beberapa pengawal untuk kembali ke hotel. Jika tidak ada kendala, mereka akan kembali ke Negara I hari itu juga. Masalah Iron Vultures sudah terlalu lama dibiarkan, dan Shin berniat menyelesaikannya begitu tiba di Blackstone.Seharusnya mereka kembali besok. Namun, sebuah laporan dari bawahannya membuatnya mengubah suasana hati. Klien yang seharusnya menerima pengiriman senjata di Kota B telah membatalkan pesanan sekaligus memutuskan kontrak jual beli dengan Red Line.Shin membaca laporan itu dengan tenang, tetapi sorot matanya perlahan berubah tajam. Pemutusan kontrak tersebut terasa janggal, terutama karena klien yang bersangkutan sebelumnya tidak pernah mempermasalahkan keterlambatan pengiriman.Setelah senjata-senjata itu dicuri oleh Iron Vultures, pihak penjualan Red Line memang telah
Dua hari sudah Bella tinggal di rumah, kegiatannya itu-itu saja dan hanya sekali dia pergi ke luar untuk membeli sesuatu. Dengan pengawalan lengkap, meski tidak terlalu mencolok, tetap saja membuat Bella tidak bisa berbaur seperti warga biasa lainnya. Ia pun lebih memilih menghabiskan waktu di ruma
Salah satu pria yang sedang bermain melihat ke tempat Bella dan anak-anak dikurung. "Lihat, gadis itu sudah sadar."Tiga pria lainnya menoleh, tatapan berbinar mereka menandakan kekaguman pada kecantikan gadis yang tidak sengaja mereka culik."Kita sungguh beruntung, harganya pasti tinggi.""Tidak
"Astaga… semoga bukan sesuatu yang buruk." Gumamnya pelan.Untuk penerangan lebih jelas, ia mengeluarkan ponsel dari tas, jari-jarinya gemetar saat menyalakan senter. Cahaya putih menembus kegelapan, menguak bayangan tembok bata yang lembap.Dan di sanalah ia melihatnya."Hhh... hhh..."Seorang pri
"Sampai jumpa Miss Bella, terima kasih sudah menemani Luna menunggu Mama."Suara imut anak perempuan terdengar menyenangkan, ditambah wajah bulatnya yang sangat manis tersenyum. Dari jendela mobil ia melambaikan tangan mungilnya keluar. Berpamitan pada seorang guru yang berdiri di halaman sekolah T







