Share

Allea Hamil

Author: Rasyidfatir
last update publish date: 2026-01-16 13:26:41

"Hoek ... hoek!"

Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang.

Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan.

Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati.

Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia bertahan tapi pandangan matanya menggelap dan kabur. Dan akhirnta tubuhnya terjatuh di lantai.

"Alleia!" pekik Ayahnya.

"Segera panggil tabib!" Terdengar samar-samar suara hiruk pikuk di rumahnya.

Hingga akhirnya, hidungnya mencium bau tertentu oleh tabib yang duduk di sebelahnya. Dia memakai cara tertentu untuk membangunkan Allea. Perlahan mata Allea terbuka. Namun tubuhnya masih terasa lemas.

Sang tabib memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan perut bawah. Cara lama yang dipercaya dapat merasakan perubahan hangat di rahim. Ia juga menyuruh Allea meneguk ramuan ringan dari biji gandum dan madu. Bila mualnya menguat, itu dianggap pertanda kehamilan. Malam harinya, tabib menyalakan dupa dan mengamati napas Allea. Napas yang kini lebih pendek dan hangat, tanda tubuh bekerja untuk dua jiwa.

“Rahimmu telah terisi,” katanya lirih. Allea terdiam. Mual itu kembali menyergap, namun kini ia tahu sebabnya. Di balik ketakutan dan luka yang masih ia simpan rapat, tumbuh kehidupan kecil di perutnya. Tabib itu pun pergi setelah memberi ramuan khusus dan menerima uang pembayarannya.

Setelah tabib itu pergi, Ibu tirinya tidak tahan untuk memarahinya. "Apa! Allea kamu hamil?"

"Kamu kelihatan polos tapi ternyata kamu wanita murahan Allea!" sinis ibunya.

"Bu, ini tidak seperti yang ibu pikir. Ada yang memaksaku waktu itu," terang Allea gugup.

"Allea kenapa kamu tidak pernah cerita pada Ayah. Ayah tidak pernah mendidikmu seperti ini! Kamu mengecewakan Ayah!"

Allea terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada amarah. Ia menunduk, bahunya bergetar menahan tangis, sementara dadanya terasa sesak. Bukan karena ia tak ingin jujur. Melainkan karena ia terlalu takut kehilangan kepercayaan satu-satunya orang yang masih ia harapkan.

"Kenapa kamu diam Allea! Siapa yang hamili kamu? Ayah akan menyuruhnya bertanggung jawab!" ucap Ayahnya mengguncang bahu Allea.

Allea teringat perkataan Pangeran Alexander saat memberikan perhiasan padanya. "Ini cukup buat hidupmu sejahtera. Tapi kalau kau meminta lebih. Kamu dan keluargamu akan menerima akibat buruk."

Ancaman itu tidak bisa dia lupakan. Allea tidak ingin keluarganya dapat masalah. Ia langsung menggeleng cepat.

"Tidak Yah, aku tidak mengenalnya. Waktu itu gelap. Aku tidak mengenali wajahnya," lirih Allea.

Ayahnya langsung tertunduk lesu. Dia tidak menyangka nasib putri semata wayangnya akan seperti ini. Hatinya ikut hancur.

"Lihatlah, putri yang kamu banggakan tidak lebih dari sampah sekarang. Dia hamil anak haram. Dia saja tidak tahu siapa ayahnya. Mungkin, lelaki yang menghamilinya lebih dari satu!" imbuh adik tirinya tertawa sinis.

"Diam kamu! Allea tidak seperti itu!" bela Ayahnya.

"Bela saja anakmu yang sok suci itu! Sekarang kamu lihat sendiri kan, seperti apa anakmu!" Lanjut putra tirinya mengejek Allea terus.

Ayah Allea menikah dengan ibu tiri Allea masing-masing sudah membawa anak. Jadi Allea dan adik tirinya tidak ada hubungan darah.

"Ayo Bu, kita pergi. Di rumah tambah memuakkan karena ada wanita hamil di sini."

"Iya ... ayah dan anak sama saja. Sama-sama merepotkan!" Imbuh ibu tirinya.

Allea menangis terisak-isak sembari memegang perutya yang masih rata. Ayahnya menghampirinya kemudian memeluknya.

"Mengapa nasibmu bisa semalang ini, Nak," ucapnya.

"Maafkan aku Yah, aku benar-benar tidak berniat membohongi Ayah. Aku tidak ingin Ayah tahu dan kecewa," tangis Allea pun pecah.

"Iya Ayah tahu, kamu anak baik. Pemuda brengsek mana yang sudah menghamilimu. Aku akan terus berdoa agar hidupnya tidak tenang!"

Dan tiba-tiba langit menggelegar setelah Ayah Allea berucap.

Di Istana, Pangeran Alexander memandang hujan turun deras dari balik jendela. Sembari berbaring di ranjangnya yang empuk pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian saat itu.

Seorang gadis cantik yang berhasil naik ke ranjangnya dan meninggalkan kesan mendalam. Dia tidak bisa melupakan wajah polos Allea. Perempuan cantik, imut, bibirnya ranum, kulitnya putih bersih. Semua itu tak bisa dia hapus dalam benaknya.

"Dia kelihatan polos. Tapi dia sama saja seperti gadis lainnya yang hanya menginginkan harta banyak dariku," gumam Pangeran Alexander kecewa.

Perempuan idamannya bukan wanita yang serakah. Ia menyayangkan Allea adalah bagian dari wanita yang tidak di sukainya. Maka pada saat itu dia menyuruh Allea pergi sejauh mungkin darinya. Sialnya, pesona wajah Allea yang polos terus mengganggu pikirannya.

"Semoga saja dia tidak hamil karena perbuatanku waktu itu," batinnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Hari Yang Panjang

    Setelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Di Pemandian

    "Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Berperang

    Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Tidak Menepati Janji

    "Yang Mulia, ada tamu dari kerajaan lain," kata seorang prajurit tiba-tiba datang menghadap."Aku ada urusan penting lainnya. Biar Asisten Yoga yang mengurus," jawab Yang Mulia."Ampun Pangeran, Asisten Yoga pulang kampung karena neneknya sakit keras," jawab prajurit itu tertunduk. "Siapa tamunya?" tanya Pangeran Alexander."Utusan Raja Vincent, beliau ingin membahas tentang perbatasan wilayah."Pangeran Alexander terdiam. Masalah perbatasan memang sangat penting tidak bisa di abaikan. Ia tahu kalau Raja Vincent selama ini kekeh kalau wilayah perbatasan itu masih milik kerajaannya. Ia tahu kedatangannya pasti membicarakan masalah tersebut. Ia melangkah mendekati jendela besar aula, menatap jauh ke arah pegunungan yang samar terlihat di cakrawala wilayah yang selama ini diperebutkan. Tanah yang subur, jalur dagang penting dan simbol kekuasaan.Pangeran Alexander kemudian berbalik, sorot matanya kini lebih tegas.“Apakah Raja Vincent datang sendiri?” tanyanya.Prajurit itu menggeleng.

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Karena Ego

    "Berani sekali dia mengabaikanku. Aku harus memberinya hukunan," ucap Pangeran Alexander. Ia keluar dari kamarnya untuk mencari keberadaan Allea."Dimana Putri Allea?" " Ampun Pangeran, Putri Allea sehabis latihan tadi langsung tidak sabar menemui putranya," jawab Dayang menunduk. "Bodoh, apa kalian tidak bilang kalau dia harus menemuiku dulu," ucap Pangeran Alexander.Dayang itu semakin menunduk dalam, suaranya bergetar."Ampun, Pangeran... kami sudah menyampaikan, tetapi Putri Allea tampak sangat gelisah. Ia langsung menuju taman belakang, tempat Pangeran kecil biasanya bermain."Tatapan Pangeran Alexander mengeras. Rahangnya mengatup kuat, menahan amarah yang semakin memuncak."Selalu saja begitu... seolah aku tidak pernah menjadi prioritasnya," gumamnya pelan, namun cukup tajam untuk membuat para dayang di sekitarnya semakin ketakutan.Tanpa berkata lagi, ia berbalik dan melangkah cepat menyusuri lorong istana. Jubahnya berkibar mengikuti langkah panjangnya, menciptakan suasana

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Salah Paham

    Allea menahan napasnya setiap kali bayangan wajah putranya muncul di benaknya. Sebenarnya lebih menarik dia tinggal di kampung daripada harus bersikap tidak sesuai keinginan dirinya. Langkahnya menyusuri ruangan luas itu terasa berbeda dari biasanya. Lantai marmer yang dingin memantulkan bayangannya—tegak, terkendali, dan perlahan berubah. Setelah sesi panjang latihan etika bersama Armand, kini ia mempraktikkan setiap detail kecil yang diajarkan."Bahumu jangan tegang. Anggun bukan berarti kaku," suara Armand masih terngiang di kepalanya.Allea menarik bahunya sedikit ke belakang, membiarkan lengannya bergerak lebih alami. Ia melangkah lagi—satu, dua, tiga—menjaga ritme. Tumit menyentuh lantai lebih dulu, lalu ujung kaki mengikuti dengan lembut. Kepalanya tegak, dagunya sedikit terangkat, seolah membawa harga diri yang tak tergoyahkan. Sayangnya dia belum terbharus menahan keseimbangan. Tanpa sadar tubuh Allea sedikit limbung dan Armand dengan sigap menahannya."Hati-hati Putri," uc

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status