INICIAR SESIÓN"Hoek ... hoek!"
Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang. Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan. Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati. Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia bertahan tapi pandangan matanya menggelap dan kabur. Dan akhirnta tubuhnya terjatuh di lantai. "Alleia!" pekik Ayahnya. "Segera panggil tabib!" Terdengar samar-samar suara hiruk pikuk di rumahnya. Hingga akhirnya, hidungnya mencium bau tertentu oleh tabib yang duduk di sebelahnya. Dia memakai cara tertentu untuk membangunkan Allea. Perlahan mata Allea terbuka. Namun tubuhnya masih terasa lemas. Sang tabib memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan dan perut bawah. Cara lama yang dipercaya dapat merasakan perubahan hangat di rahim. Ia juga menyuruh Allea meneguk ramuan ringan dari biji gandum dan madu. Bila mualnya menguat, itu dianggap pertanda kehamilan. Malam harinya, tabib menyalakan dupa dan mengamati napas Allea. Napas yang kini lebih pendek dan hangat, tanda tubuh bekerja untuk dua jiwa. “Rahimmu telah terisi,” katanya lirih. Allea terdiam. Mual itu kembali menyergap, namun kini ia tahu sebabnya. Di balik ketakutan dan luka yang masih ia simpan rapat, tumbuh kehidupan kecil di perutnya. Tabib itu pun pergi setelah memberi ramuan khusus dan menerima uang pembayarannya. Setelah tabib itu pergi, Ibu tirinya tidak tahan untuk memarahinya. "Apa! Allea kamu hamil?" "Kamu kelihatan polos tapi ternyata kamu wanita murahan Allea!" sinis ibunya. "Bu, ini tidak seperti yang ibu pikir. Ada yang memaksaku waktu itu," terang Allea gugup. "Allea kenapa kamu tidak pernah cerita pada Ayah. Ayah tidak pernah mendidikmu seperti ini! Kamu mengecewakan Ayah!" Allea terdiam. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada amarah. Ia menunduk, bahunya bergetar menahan tangis, sementara dadanya terasa sesak. Bukan karena ia tak ingin jujur. Melainkan karena ia terlalu takut kehilangan kepercayaan satu-satunya orang yang masih ia harapkan. "Kenapa kamu diam Allea! Siapa yang hamili kamu? Ayah akan menyuruhnya bertanggung jawab!" ucap Ayahnya mengguncang bahu Allea. Allea teringat perkataan Pangeran Alexander saat memberikan perhiasan padanya. "Ini cukup buat hidupmu sejahtera. Tapi kalau kau meminta lebih. Kamu dan keluargamu akan menerima akibat buruk." Ancaman itu tidak bisa dia lupakan. Allea tidak ingin keluarganya dapat masalah. Ia langsung menggeleng cepat. "Tidak Yah, aku tidak mengenalnya. Waktu itu gelap. Aku tidak mengenali wajahnya," lirih Allea. Ayahnya langsung tertunduk lesu. Dia tidak menyangka nasib putri semata wayangnya akan seperti ini. Hatinya ikut hancur. "Lihatlah, putri yang kamu banggakan tidak lebih dari sampah sekarang. Dia hamil anak haram. Dia saja tidak tahu siapa ayahnya. Mungkin, lelaki yang menghamilinya lebih dari satu!" imbuh adik tirinya tertawa sinis. "Diam kamu! Allea tidak seperti itu!" bela Ayahnya. "Bela saja anakmu yang sok suci itu! Sekarang kamu lihat sendiri kan, seperti apa anakmu!" Lanjut putra tirinya mengejek Allea terus. Ayah Allea menikah dengan ibu tiri Allea masing-masing sudah membawa anak. Jadi Allea dan adik tirinya tidak ada hubungan darah. "Ayo Bu, kita pergi. Di rumah tambah memuakkan karena ada wanita hamil di sini." "Iya ... ayah dan anak sama saja. Sama-sama merepotkan!" Imbuh ibu tirinya. Allea menangis terisak-isak sembari memegang perutya yang masih rata. Ayahnya menghampirinya kemudian memeluknya. "Mengapa nasibmu bisa semalang ini, Nak," ucapnya. "Maafkan aku Yah, aku benar-benar tidak berniat membohongi Ayah. Aku tidak ingin Ayah tahu dan kecewa," tangis Allea pun pecah. "Iya Ayah tahu, kamu anak baik. Pemuda brengsek mana yang sudah menghamilimu. Aku akan terus berdoa agar hidupnya tidak tenang!" Dan tiba-tiba langit menggelegar setelah Ayah Allea berucap. Di Istana, Pangeran Alexander memandang hujan turun deras dari balik jendela. Sembari berbaring di ranjangnya yang empuk pikirannya tiba-tiba melayang pada kejadian saat itu. Seorang gadis cantik yang berhasil naik ke ranjangnya dan meninggalkan kesan mendalam. Dia tidak bisa melupakan wajah polos Allea. Perempuan cantik, imut, bibirnya ranum, kulitnya putih bersih. Semua itu tak bisa dia hapus dalam benaknya. "Dia kelihatan polos. Tapi dia sama saja seperti gadis lainnya yang hanya menginginkan harta banyak dariku," gumam Pangeran Alexander kecewa. Perempuan idamannya bukan wanita yang serakah. Ia menyayangkan Allea adalah bagian dari wanita yang tidak di sukainya. Maka pada saat itu dia menyuruh Allea pergi sejauh mungkin darinya. Sialnya, pesona wajah Allea yang polos terus mengganggu pikirannya. "Semoga saja dia tidak hamil karena perbuatanku waktu itu," batinnya."Sudah kau dapatkan daging rusanya?" tanya Pangeran Alexander."Sudah, sebentar lagi pelayan akan menghidangkannya," jawab Asisten Yoga. "Baguslah, aku sudah tidak sabar menyantapnya." Asisten Yoga justru terdiam pikirannya menerawang teringat pada Allea yang hamil besar tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangannya mengepal erat. Ini murni salahnya. Dia yang telah melibatkan gadis polos itu naik ke ranjang Yang Mulia hingga hamil."Kasihan anak itu," gumam Asisten Yoga tiba-tiba. Pangeran Alexander melirik sekilas, alisnya berkerut heran. "Kasihan? Untuk apa kamu kasihan pda rusa itu?" Lanjut Pangeran Alexander yang tidak tahu menahu isi otak Asistennya."Bu ... bukan rusa itu, Pangeran. Cuma tadi aku di hutan bertemu seorang wanita hamil. Dia sangat cantik, perutnya besar tapi masih bekerja keras untuk keluarganya," ungkap Asisten Yoga."Kasih saja dia uang, agar dia bisa beli makanan lebih," jawab Pangeran ringan. Seolah itu solusi paling mudah. Yoga menggeleng pelan. "Di
Delapan bulan kemudian ...."Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya."Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit.Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea.“Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!”Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat."Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!" Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.“Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.”Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.”Alle
"Hoek ... hoek!"Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang.Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan.Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati.Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia
"Eh, dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga."Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga."Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya."Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea."Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga."Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!" Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar."Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam.Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku
"Dasar gadis kampungan!""Menurutku, kamu tahu kan kalau nanti banyak putri ke sini untuk melihat Pangeran Alexander. Kamu sengaja datang dan pura-pura kesasar agar bisa ikut menggodanya kan!""Jangan mimpi! Kamu itu tidak sederajat dengan para putri bangsawan!" hardik Putri Veronika. Ia lalu menendang perut Allea. Namun Veronika belum puas. Ia melangkah maju, menginjak jemari Allea yang gemetar tanpa sedikit pun rasa iba."Rasakan gadis kampung! Aku melakukan ini agar kamu tahu posisi gadis kampung sepertimu pantasnya di injak!" kata Veronika dengan senyim merendahkan."Maaf Nona, beneran saya cuma ingin mengantar kue pesenan ini ke dapur. Tapi saya tidak tahu tempatnya," kata Allea menunduk salah.Veronika mendengus sinis. "Jangan pura-pura. Aku paling benci perempuan dengan status rendahan sepertimu! Sok polos tapi sebenarnya licik!""Pelayan, hancurkan wajahnya! Dia tidak pantas berhalusinasi terlalu jauh untuk jadi Putri!" Perintah Veronika pada para dayangnya.Satu tamparan ber
"Jangan kabur Allea!""Kamu berani hamil dengan laki-laki lain!" "Kamu harus menerima hukumannya!" teriak seorang pria sembari mengejar Allea.Allea berlari sekuat tenaga. Nafasnya terengah-engah kakinya terseok-seok hingga tak sengaja terkena batu di hadapannya sampai jatuh terjerembab. Darah segar mengalir di kakinya. Ia mengalami pendarahan.Allea panik."Tidak, aku tidak mau melahirkan di sini." Ia melihat ke sekeliling hutan, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia meringis kesakitan namun tidak ada yang menolong.Delapan bulan yang lalu ... sebelum Allea hamil ia mengalami peristiwa yang naas.Allea mengantar kue pesanan ke istana. Kue buatannya memang sangat lezat hingga ibu suri sering memesan kuenya. Biasanya ayahnya yang mengantar kue-kue tersebut. Sayangnya, kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak memungkinkan untuk mengantar kuenya ke istana.Setelah melewai perjakanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya ia sampai di depan pintu istana. Ada dua orang penjaga ber







