Se connecter"Eh, dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga.
"Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga. "Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya. "Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea. "Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga. "Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!" Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar. "Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam. Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku bisa menyembuhkannya." Asisten Yoga pergi berlalu dari depab kamar Pangeran. Sementara Allea menggedor pintu ingin di bukakan. "Buka pintunya! Jangan di kunci, lepaskan aku!" teriak Allea. "Jangan pura-pura lagi." Tiba-tiba Allea mendengar suara dari belakang. Allea menoleh, dia melihat Pangeran tengah duduk di pinggir ranjang dalam keadaan kurang baik. Ia pun berjalan ke arah Pangeran dan meletakkan keranjang baki kue nya. "Yang Mulia, Anda kenapa?" tanya Allea polos. Tidak menjawab pertanyaan Allea. Ia justru langsung menarik tangan gadis itu dekat dengannya. "Sudah ketiga kalinya kita bertemu. Apa kamu yang kasih obat ini padaku?" tuduh Pangeran Alexander. Dia mencengkeram rahang Allea. Allea ketakutan. "Tiga kali apa? Aku ... aku cuma datang antar kue," bantah Allea gugup. Wajahnya terlalu dekat dengan Pangeran. Karena pria itu tidak mau melepaskan genggamannya. Pangwean Alexander dalam pengaruh obat. Tubuhnya serasa panas. 'Jika pertemuan kedua kali denganku kebetulan . Kali ini kamu bilang alasan apapun aku tidak akan percaya," ucap Pangeran. Allea terus menggeleng keras. Bibirnya yang mungil terus saja berkata bukan meski nadanya ketakutan. Yang Mulia Pangeran langsung menarik tangan Allea hingga gadis itu terbaring di ranjangnya. Tanpa menunggu lama dia langsung melumat bibir Allea. Dan malam itupun terjadi. Untuk pertama kalinya Allea di sentuh laki-laki. Ia terys melawab, tapi perlawanannya sia-sing. Tubuh Yang Mulia terlalu kuat. Hingfa keduanya akhirnya mencapai puncak bersama-sama. Allea menangis, kesuciannya di renggit secara paksa. Sialnya, Pangeran Alexander tidak merasa bersalah. Susah payah Allea memakai pakaianbya kembali. "Kamu sudah berusaha keras naik ke rajangku. Kamu berhasil. Apa yang kamu mau, langsung katakan. Aku akan mengabulkannya," ucap Yang Mulia. "Ibu suri suka kue buatanku. Ayahku dapat kenalan bisa kirim kue ke istana. Tapi ayah sakit tidak bisa antar kuenya. Jadi, aku yang mengantarnya. Aku ke sini cuma antar kue, biar dapat uang," jawab Allea polos. Ia menitikkan air mata. Bagian sensitifnya masih terasa sakit sekali. "Kamu mau uang rupanya." Yang Mulia menyerahkan salah saru bebda berharga miliknya. "Ini sudah cukup membuat hidupmu berkecukupan. Kamu bisa menjualnya," ucap Yang Mulia menyerahkan perhiasan itu pada Allea. "Tapi kalau kamu serakah ingin yang lebih lagi. Hati-hati dengan nasib keluargamu," ancam Pangeran berlalu pergi dari kamarnya. Allea memungut perhiaaan itu dan menyimpannya. Sampai di rumahnya, kedatangan Allea di sambut sindiran oleh ibu tirinya. "Hmm, kamu antar kue ke istana pagi. Pulang kok pagi lagi, sebenarnya apa yang kau lakukan di sana! Hah!" "Ibu sekarang dia kan sudah besar. Mungkin dia bertemu pacarnya di sana," imbuh adik tirinya. Ibu tirinya menatap sinis."Ooh begitu rupanya." "Bu ... bukan begitu. Aku tidak punya pacar seperti yang adik bilang," jawab Allea gugup. Bayangan kejadian malam itu dengan Yang Mulia sekelebatan mempengaruhi pikirannya. Lamunannya buyar mendengar suara batuk ayahnya. "Uhuk-uhuk!" "Alleia kau kah itu, Nak!" Panggil ayahnya. Segera Alleia menghampiri Ayahnya tak peduli tatapan tajam ibu tirinya yang masih ingin menginterogasinya. Allea duduk di pinggir ranjang sembari menggenggam tangan ayahnya. "Yah, ini aku sudah pulang." "Putriku, kamu lama sekali. Ayah menunggumu," ucap Ayahnya. "Maafkan aku Ayah. Buat Ayah menunggu. Ini aku sudah pulang, pelayab dapur memberiku uang lebih. Ini cukup buat berobat Ayah," ucap Allea menitikkan air matanya. "Ayah yang seharusnya minta maaf karena selalu merepotkanmu," ucap Ayah. Allea langsung menggeleng cepat. "Tidak , selama Ayah hidup. Aku bersedia kerja keras demi kesehatan Ayah." "Maafkan, Ayah Nak karena selalu jadi bebanmu." Mereka pun berpelukan. Tapi belum lama berpelukan. Ibu tirinya langsung menarik lengan Allea. "Mana uang setorannya. Kamu pikir tinggal di rumah ini gratis!" bentak ibunya. Allea terdiam sejenak, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya dengan tangan sedikit gemetar. "Ini bu, uang untuk belanja." Ibunya melirik sekilas, bibirnya langsung mengerucut. "Hanya segini mana cukup. Sekarang beli apa-apa mahal!" Tanpa menunggu lama. Ibu tiri Allea langsung menyambar seluruh uang di dompet Allea. Allea tersentak kaget. "Bu, itu uang berobat Ayah." "Kamu pikir uang yang kamu kasih tadi cukup. Lagian kamu bisa cari uang tambahan lagi di luar sana!" "Tapi ... Bu, Ayah butuh pengobatan segera," ucap Allea memohon. "Kebutuhan ibu juga mendesak. Kamu pikir makan, beli baju, kebutuhan dapur bisa di tunda!" Ibunya mendorong Allea hingga terjatuh. "Jangan siksa Allea! Dia sudah cukup berbakti padamu," ucap Ayahnya Allea. "Berbakti ... dia perhitungan padaku. Kamu bilang berbakti!" Hardik ibunya. "Ayo, Syam kita pergi jalan-jalan. Di rumah ini hawanya sumpek liat mereka!" Keduanya pun pergi berlalu meninggalkan Allea dan Ayahnya. Allea menangis terisak-isak, demikian juga Ayahnya yang sakit-sakitan. "Nak, seharusnya kau tidak perlu bekerja untuk mereka. Mereka pemalas, hanya nenyusahkanmu saja. Maafkan Ayah, tidak seharusnya Ayah dulu menikah lagi," ucap Ayahnya menyesal. "Sudahlah Yah, semua sudah terjadi. Yang penting ayah selalu di sisiku. Aku kuat menghadapi apapun." Allea menepuk bahu Ayahnya. Ia berusaha menguatkan diri meski hatinya tengah galau gara-gara peristiwa itu. Tak mudah bagi Allea melupakannya. Bagaimana kalau dia hamil? Apa yang harus di katakannya pada Ayahnya nanti? Ibu tirinya pasti akan menghardiknya habis-habisan. Hidupnya tak lagi sama. Sekolah, mimpi-mimpi kecil yang diam-diam ia simpan, semuanya bisa lenyap seketika. Dan Ibu tirinya... Allea sudah bisa membayangkan kata-kata tajam yang akan meluncur tanpa ampun, menyudutkannya seolah ia satu-satunya sumber aib keluarga. Tanpa sadar air matanya menetes sekali lagi. Buru-bur7 dia menyekanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ayahnya. "Yah, Ayah pasti belum makan ... kan? Tunggu dulu di sini, aku mau ke dapur buatin yang spesial buat Ayah," kata Allea. Ia memang pintar mengalihkan suasana padahal hatinya sangat menderita."Sudah kau dapatkan daging rusanya?" tanya Pangeran Alexander."Sudah, sebentar lagi pelayan akan menghidangkannya," jawab Asisten Yoga. "Baguslah, aku sudah tidak sabar menyantapnya." Asisten Yoga justru terdiam pikirannya menerawang teringat pada Allea yang hamil besar tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangannya mengepal erat. Ini murni salahnya. Dia yang telah melibatkan gadis polos itu naik ke ranjang Yang Mulia hingga hamil."Kasihan anak itu," gumam Asisten Yoga tiba-tiba. Pangeran Alexander melirik sekilas, alisnya berkerut heran. "Kasihan? Untuk apa kamu kasihan pda rusa itu?" Lanjut Pangeran Alexander yang tidak tahu menahu isi otak Asistennya."Bu ... bukan rusa itu, Pangeran. Cuma tadi aku di hutan bertemu seorang wanita hamil. Dia sangat cantik, perutnya besar tapi masih bekerja keras untuk keluarganya," ungkap Asisten Yoga."Kasih saja dia uang, agar dia bisa beli makanan lebih," jawab Pangeran ringan. Seolah itu solusi paling mudah. Yoga menggeleng pelan. "Di
Delapan bulan kemudian ...."Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya."Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit.Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea.“Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!”Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat."Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!" Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.“Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.”Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.”Alle
"Hoek ... hoek!"Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang.Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan.Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati.Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia
"Eh, dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga."Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga."Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya."Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea."Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga."Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!" Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar."Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam.Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku
"Dasar gadis kampungan!""Menurutku, kamu tahu kan kalau nanti banyak putri ke sini untuk melihat Pangeran Alexander. Kamu sengaja datang dan pura-pura kesasar agar bisa ikut menggodanya kan!""Jangan mimpi! Kamu itu tidak sederajat dengan para putri bangsawan!" hardik Putri Veronika. Ia lalu menendang perut Allea. Namun Veronika belum puas. Ia melangkah maju, menginjak jemari Allea yang gemetar tanpa sedikit pun rasa iba."Rasakan gadis kampung! Aku melakukan ini agar kamu tahu posisi gadis kampung sepertimu pantasnya di injak!" kata Veronika dengan senyim merendahkan."Maaf Nona, beneran saya cuma ingin mengantar kue pesenan ini ke dapur. Tapi saya tidak tahu tempatnya," kata Allea menunduk salah.Veronika mendengus sinis. "Jangan pura-pura. Aku paling benci perempuan dengan status rendahan sepertimu! Sok polos tapi sebenarnya licik!""Pelayan, hancurkan wajahnya! Dia tidak pantas berhalusinasi terlalu jauh untuk jadi Putri!" Perintah Veronika pada para dayangnya.Satu tamparan ber
"Jangan kabur Allea!""Kamu berani hamil dengan laki-laki lain!" "Kamu harus menerima hukumannya!" teriak seorang pria sembari mengejar Allea.Allea berlari sekuat tenaga. Nafasnya terengah-engah kakinya terseok-seok hingga tak sengaja terkena batu di hadapannya sampai jatuh terjerembab. Darah segar mengalir di kakinya. Ia mengalami pendarahan.Allea panik."Tidak, aku tidak mau melahirkan di sini." Ia melihat ke sekeliling hutan, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia meringis kesakitan namun tidak ada yang menolong.Delapan bulan yang lalu ... sebelum Allea hamil ia mengalami peristiwa yang naas.Allea mengantar kue pesanan ke istana. Kue buatannya memang sangat lezat hingga ibu suri sering memesan kuenya. Biasanya ayahnya yang mengantar kue-kue tersebut. Sayangnya, kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak memungkinkan untuk mengantar kuenya ke istana.Setelah melewai perjakanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya ia sampai di depan pintu istana. Ada dua orang penjaga ber







