Share

Terjebak Situasi

Author: Rasyidfatir
last update publish date: 2026-01-16 13:23:21

"Eh, kulihat dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga.

"Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga.

"Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya.

"Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea.

"Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga.

"Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!"

Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar.

"Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam.

Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku bisa menyembuhkannya."

Asisten Yoga pergi berlalu dari depan pintu kamar Pangeran. Sementara Allea menggedor pintu ingin di bukakan.

"Buka pintunya! Jangan di kunci, lepaskan aku!" teriak Allea.

"Jangan pura-pura lagi." Tiba-tiba Allea mendengar suara dari belakang.

Allea menoleh, dia melihat Pangeran tengah duduk di pinggir ranjang dalam keadaan kurang baik. Ia pun berjalan ke arah Pangeran dan meletakkan keranjang baki kue nya.

"Yang Mulia, Anda kenapa?" tanya Allea polos.

Tidak menjawab pertanyaan Allea. Ia justru langsung menarik tangan gadis itu dekat dengannya.

"Sudah ketiga kalinya kita bertemu. Apa kamu yang kasih obat ini padaku?" tuduh Pangeran Alexander. Dia mencengkeram rahang Allea. Allea ketakutan.

"Tiga kali apa? Aku ... aku cuma datang antar kue," bantah Allea gugup. Wajahnya terlalu dekat dengan Pangeran. Karena pria itu tidak mau melepaskan genggamannya. Pangwean Alexander dalam pengaruh obat. Tubuhnya serasa panas.

'Jika pertemuan kedua kali denganku kebetulan . Kali ini kamu bilang alasan apapun aku tidak akan percaya," ucap Pangeran.

Allea terus menggeleng keras. Bibirnya yang mungil terus saja berkata bukan meski ekspresinya ketakutan. Yang Mulia Pangeran langsung menarik tangan Allea hingga gadis itu terbaring di ranjangnya. Tanpa menunggu lama dia langsung melumat bibir Allea. Dan malam itupun terjadi. Untuk pertama kalinya Allea di sentuh laki-laki. Ia terus melawan, tapi perlawanannya sia-sia. Tubuh Yang Mulia terlalu kuat. Hingga keduanya akhirnya mencapai puncak bersama-sama.

Allea menangis, kesuciannya di renggut secara paksa. Sialnya, Pangeran Alexander tidak merasa bersalah. Susah payah Allea memakai pakaiannya kembali.

"Kamu sudah berusaha keras naik ke ranjangku. Kamu berhasil. Apa yang kamu mau, langsung katakan. Aku akan mengabulkannya," ucap Yang Mulia.

"Ibu suri suka kue buatanku. Ayahku dapat kenalan bisa kirim kue ke istana. Tapi ayah sakit tidak bisa antar kuenya. Jadi, aku yang mengantarnya. Aku ke sini cuma antar kue, biar dapat uang," jawab Allea polos. Ia menitikkan air mata. Bagian sensitifnya masih terasa sakit sekali.

"Kamu mau uang rupanya."

Yang Mulia menyerahkan salah satu benda berharga miliknya.

"Ini sudah cukup membuat hidupmu berkecukupan. Kamu bisa menjualnya," ucap Yang Mulia menyerahkan perhiasan itu pada Allea.

"Tapi kalau kamu serakah ingin yang lebih lagi. Hati-hati dengan nasib keluargamu," ancam Pangeran berlalu pergi dari kamarnya.

Allea memungut perhiaaan itu dan menyimpannya. Ia berjalan keluar dengan tubuh lemas dan langkahnya tertatih-tatih menahan nyeri.

Sampai di rumahnya, kedatangan Allea di sambut sindiran oleh ibu tirinya.

"Hmm, kamu antar kue ke istana pagi. Pulang kok pagi lagi, sebenarnya apa yang kau lakukan di sana! Hah!"

"Ibu sekarang dia kan sudah besar. Mungkin dia bertemu pacarnya di sana," imbuh adik tirinya memprovokasi.

Ibu tirinya menatap sinis."Ooh begitu rupanya."

"Bu ... bukan begitu. Aku tidak punya pacar seperti yang adik bilang," jawab Allea gugup. Bayangan kejadian malam itu dengan Yang Mulia sekelebatan mempengaruhi pikirannya. Lamunannya buyar mendengar suara batuk ayahnya.

"Uhuk-uhuk!"

"Alleia kau kah itu, Nak!" Panggil ayahnya.

Segera Alleia menghampiri Ayahnya tak peduli tatapan tajam ibu tirinya yang masih ingin menginterogasinya.

Allea duduk di pinggir ranjang sembari menggenggam tangan ayahnya. "Yah, ini aku sudah pulang."

"Putriku, kamu lama sekali. Ayah menunggumu," ucap Ayahnya.

"Maafkan aku Ayah. Buat Ayah menunggu. Ini aku sudah pulang, pelayan dapur istana memberiku uang lebih. Ini cukup buat berobat Ayah," ucap Allea menitikkan air matanya.

"Ayah yang seharusnya minta maaf karena selalu merepotkanmu," ucap Ayah.

Allea langsung menggeleng cepat. "Tidak , selama Ayah hidup. Aku bersedia kerja keras demi kesehatan Ayah."

"Maafkan, Ayah Nak karena selalu jadi bebanmu."

Mereka pun berpelukan. Tapi belum lama berpelukan. Ibu tirinya langsung menarik lengan Allea.

"Mana uang setorannya. Kamu pikir tinggal di rumah ini gratis!" bentak ibunya.

Allea terdiam sejenak, lalu mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya dengan tangan sedikit gemetar.

"Ini bu, uang untuk belanja."

Ibunya melirik sekilas, bibirnya langsung mengerucut. "Hanya segini mana cukup. Sekarang beli apa-apa mahal!"

Tanpa menunggu lama. Ibu tiri Allea langsung menyambar seluruh uang di dompet Allea.

Allea tersentak kaget. "Bu, itu uang berobat Ayah."

"Kamu pikir uang yang kamu kasih tadi cukup. Lagian kamu bisa cari uang tambahan lagi di luar sana!"

"Tapi ... Bu, Ayah butuh pengobatan segera," ucap Allea memohon.

"Kebutuhan ibu juga mendesak. Kamu pikir makan, beli baju, kebutuhan dapur bisa di tunda!" Ibunya mendorong Allea hingga terjatuh.

"Jangan siksa Allea! Dia sudah cukup berbakti padamu," ucap Ayahnya Allea.

"Berbakti ... dia perhitungan padaku. Kamu bilang berbakti!" Hardik ibunya.

"Ayo, Syam kita pergi jalan-jalan. Di rumah ini hawanya sumpek liat mereka!" Keduanya pun pergi berlalu meninggalkan Allea dan Ayahnya.

Allea menangis terisak-isak, demikian juga Ayahnya yang sakit-sakitan.

"Nak, seharusnya kau tidak perlu bekerja untuk mereka. Mereka pemalas, hanya nenyusahkanmu saja. Maafkan Ayah, tidak seharusnya Ayah dulu menikah lagi," ucap Ayahnya menyesal.

"Sudahlah Yah, semua sudah terjadi. Yang penting ayah selalu di sisiku. Aku kuat menghadapi apapun." Allea menepuk bahu Ayahnya.

Ia berusaha menguatkan diri meski hatinya tengah galau gara-gara peristiwa itu. Tak mudah bagi Allea melupakannya. Bagaimana kalau dia hamil? Apa yang harus di katakannya pada Ayahnya nanti? Ibu tirinya pasti akan menghardiknya habis-habisan.

Hidupnya tak lagi sama. Sekolah, mimpi-mimpi kecil yang diam-diam ia simpan, semuanya bisa lenyap seketika. Dan Ibu tirinya... Allea sudah bisa membayangkan kata-kata tajam yang akan meluncur tanpa ampun, menyudutkannya seolah ia satu-satunya sumber aib keluarga. Tanpa sadar air matanya menetes sekali lagi. Buru-bur7 dia menyekanya. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ayahnya.

"Yah, Ayah pasti belum makan ... kan? Tunggu dulu di sini, aku mau ke dapur buatin yang spesial buat Ayah," kata Allea. Ia memang pintar mengalihkan suasana padahal hatinya sangat menderita.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Rahasiakan Kemenangan ini

    Dua jam sebelum fajar, persiapan selesai. Jalur rahasia yang tadinya menjadi ancaman terbesar kini telah bersolek menjadi kuburan massal yang tak kasatmata.​Alexander berdiri di atas tebing batu, dibalut jubah hitam yang berkibar diterpa angin. Di sampingnya, para pemanah sudah menyiagakan busur dengan anak panah berselimut kain lapis minyak. Matanya menatap tajam ke mulut lorong sempit di bawah sana.​Hening kembali menguasai malam, hingga akhirnya gemuruh halus terasa menggetarkan pijakan kaki Alexander.​"Mereka datang, Yang Mulia," bisik jenderal senior di sampingnya sambil mempererat pegangan pada gagang pedang.Dari arah kegelapan, ratusan prajurit musuh bergerak merayap. Mereka mengendap-endap dengan keyakinan penuh bahwa Varo telah membukakan jalan menuju kemenangan mudah. Tanpa rasa curiga, barisan terdepan musuh melangkah keluar dari mulut lorong dan kejadian tak terduga terjadi. Para prajurit musuh yang awalnya berlari menggebu-gebu ke medan laga baru beberapa langkah suda

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Strategi Jitu

    Pria itu tersenyum sinis lalu menunjukkan jarinya yang putus akibat di tebas oleh Yang Mulia."Masih ingat lukanya ini Yang Mulia? Seenaknya saja kau ambil jariku yang berharga ini! Satu jari ini hilang, di bayar seumur hidup saya. Tunanganku tidak mau menikah denganku karena jari buntung sialan ini!" "Dan ini karena siapa? Karenamu Yang Mulia! Kau berkuasa seenaknya saja mengambil sesuatu yang berharga dariku!"Pangeran Alexander tersenyum tenang. Ia tidak terbawa perasaan dengan perkataan yang di ucapkan Varo. "Kau kehilangan jarimu masih untung aku tidak memutus urat malu mu. Apa kau ingat sudah berapa puluh wanita yang kau lecehkan. Mereka mungkin korban peperangan. Tapi mereka adalah para istri yang di tunggu anaknya. Hidup dalam kehormatan membesarkan keturunannya. Kamu pikir jika suaminya mati di medan laga kau seenaknya memperlakukan mereka seperti binatang! Kau akan meninggalkan trauma yang mendalam untuk mereka!" terang Pangeran Alexander."Saya tidak butuh ceramah Anda!

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Perpisahan

    "Hati-hati di jalan Yang Mulia," kata Allea. Pangeran Alexander mengangguk pasti. Tak lupa dia mencium kening istrinya dan pipi putranya yang masih bayi. Ibu Suri dan adiknya juga turut mengantar kepergiannya. Pasukan berkuda telah menunggu di luar gerbang istana. Suasana tampak menegangkan. Allea hanya bisa memandangi kepergian Yang Mulia setelah semalam memberinya kenangan cinta. Seseorang menepuk pundaknya membuatnya kaget. "Kakak ipar tidak usah khawatir, kakakku tidak pernah kalah dalam peperangan dia pasti pulang selamat dan membawa kemenangan," hibur adik iparnya. Allea mengangguk, ia tidak bisa membayangkan hidup di istana yang asing tanpa Pangeran Alexander di sisinya. "Terima kasih putri," jawab Allea. Bayi dalam gendongannya masih tertidur lelap. Ia hanya memiliki putranya saat ini. Yang bisa menjadi temannya dalam kesepian. "Sama-sama kakak ipar. Boleh aku menggendong keponakanku yang ganteng ini?"pinta Olivia sembari tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama Allea

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Hari Yang Panjang

    Setelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Di Pemandian

    "Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Berperang

    Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status