LOGIN"Dasar gadis kampungan!"
"Menurutku, kamu tahu kan kalau nanti banyak putri ke sini untuk melihat Pangeran Alexander. Kamu sengaja datang dan pura-pura kesasar agar bisa ikut menggodanya kan!" "Jangan mimpi! Kamu itu tidak sederajat dengan para putri bangsawan!" hardik Putri Veronika. Ia lalu menendang perut Allea. Namun Veronika belum puas. Ia melangkah maju, menginjak jemari Allea yang gemetar tanpa sedikit pun rasa iba. "Rasakan gadis kampung! Aku melakukan ini agar kamu tahu posisi gadis kampung sepertimu pantasnya di injak!" kata Veronika dengan senyum merendahkan. "Maaf Putri, beneran saya cuma ingin mengantar kue pesenan ini ke dapur. Tapi saya tidak tahu tempatnya," kata Allea menunduk salah. Veronika mendengus sinis. "Jangan pura-pura. Aku paling benci perempuan dengan status rendahan sepertimu! Sok polos tapi sebenarnya licik!" "Pelayan, hancurkan wajahnya! Dia tidak pantas berhalusinasi terlalu jauh untuk menggoda Pangeran!" Perintah Veronika pada para dayangnya. Seorang Dayang mendekat melayangkan tamparannya pada Allea. Plak! Satu tamparan berhasil mendarat di pipi Allea. Ia meringis kesakitan. Mimpi apa semalam mendapat perlakuan tidak adil seperti ini. "Teruskan! Aku ingin dia ingat bahwa istana kerajaan bukan tempat orang miskin buat dia!" perintah Veronika pada pelayannya. Baru saja pelayan tersebut hendak mengangkat tangannya lagi ke atas hendak di arahkan kepada Allea. Tangannya tiba-tiba terasa berat seperti ada yang menahannya. Saat ia menoleh dia sangat kaget. "Pangeran Alexander!" Serunya. Kakinya langsung lemas seketika. Seolah energi dan semangat kuat untuk menganiaya Allea hilang seketika. "Ternyata dia seorang Pangeran," batin Allea. Putri Veronika segera mengambil alih. Dia menyambut hangat kedatangan Pangeran Alexander. "Selamat datang, Yang Mulia," ucap Putri Veronika membungkuk hormat di ikuti para pelayannya. "Pangeran, perempuan ini sengaja menerobos masuk ke sini untuk menggoda para pria istana," terang Putri Veronika. "Hamba tahu Anda paling benci wanita tidak bermoral dan penuh tipu daya seperti ini. Jadi saya mewakili Anda memberinya hukuman," lanjut Putri Veronika menambahkan. Wajah Allea memucat, merasa yang di tuduhkan Putri Veronika tidak benar. "Tidak ... tidak. Aku tidak bermaksud menggoda orang. Aku hanya mengantar kue pesanan ibu suri. Tapi aku salah jalan," terang Allea jujur. Kepalanya kembali tertunduk, jemarinya mencengkeram baki kue dengan gugup, Pangeran Alexander menatap sekilas ke arah Allea kemudian beralih menatap Putri Veronika. "Kalau boleh tahu, kamu putri darimana? Kamu sungguh memahamiku," ucap Pangeran Alexander lembut menatap ke arah Veronika. Jantung Veronika berdegup kencang. Apakah Pangeran menyukaiku? batinnya berbunga. Aku bisa menjadi selir, Yang Mulia. Rencanaku tidak sia-sia. Senyum tipis pun terbit di sudut bibirnya, menyembunyikan ambisi yang mulai menemukan celah. "Perkenalkan, hamba Putri Perdana Menteri Keuangan, Mudrik Bama." "Ajaran Tuan Mudrik hebat juga," puji Pangeran Alexander. Seringai senyumnya seolah bisa membunuh lawan-lawannya. Tiba-tiba dari arah lain muncul Perdana Menteri. "Pangeran bisa saja, perkenalkan hamba Perdana Menteri Mudrik. Terus terang saya sangat tersanjung kalau Pangeran tertarik pada putri hamba." “Sangat menarik,” ucap Pangeran Alexander seraya mengacungkan ibu jarinya. Namun senyum tipis di wajahnya justru sarat ironi. “Didikan Perdana Menteri rupanya benar-benar luar biasa. Hingga di hadapan saya sendiri, putrinya berani menyiksa rakyat kecil yang sama sekali tak bersalah.” Nada suaranya terdengar tenang, tapi setiap kata menampar harga diri Perdana Menteri. Tatapannya mengeras saat ia melanjutkan, “Sejujurnya, sejak tadi saya berdiri di belakang, menyaksikan dengan jelas seluruh perbuatan keji Putri Anda.” Langsung saja tubuh Perdana Menteri gemetar. Ia tidak pernah melihat Pangeran semarah ini. Ia pun beralih menatap benci ke arah putrinya. "Kalau kamu tidak bisa mengajari putrimu sikap yang baik. Biar aku banru cari orang untuk mengajarinya!" imbuh Pangeran Alexander. "Ampun Pangeran, saya sendiri yang akan mengajari putri hamba," ucap Perdana Menteri sembari membungkuk memberi hormat. "Tunjukkan arah dapur pada gadis ini!" Perintah Pangeran Alexander pada Asistennya sebelum pergi. "Siap, Pangeran." Asisten itu pun menunjukkan arah dapur pada Allea. Dengan tertatih-tatih Allea akhirnya pergi dari tempatnya menuju ke dapur istana untuk mengantarkan kue-kue pesanan Ibu Suri. Tak lama kemudian Allea keluar dari dapur istana. Wajahnya sumringah karena mendapatkan sekantung uang dari kepala dapur. "Akhirnya dapet uang juga. Dengan ini, ayah bisa segera di obati," gumam Allea. Sementara itu Pangeran Alexander menuju ke ruang utama. Dia di sambut hangat oleh Ibu Suri dan gadis-gadis cantik yang ingin menarik perhatiannya. Di sekelilingnya, para gadis bangsawan yang cantik berkerumun, masing-masing berusaha menampilkan pesona terbaik mereka mulai dari senyum manis, tatapan malu-malu, hingga sapaan lembut. Semua demi menarik perhatian sang pangeran yang menjadi pusat sorotan malam ini. "Pangeran, kau harus memilih salah satu di antara mereka. Sebentar lagi kau akan di nobatkan jadi raja. Kau butuh pendamping yang kompeten," kata Ibu Suri dengan nada lembut namun sarat ketegasan, seakan tak memberi ruang bagi sang pangeran untuk mengelak dari kenyataan yang menantinya. "Ibunda, perasaan tidak bisa di paksa. Kita lihat saja nanti siapa yang pantas jadi pendampimgku. Yang jelas tidak hanya cantik saja. Tapi dia juga memiliki hati yang baik," terang Pangeran Alexander. "Putri Alika datang!" seru prajurit penjaga. Para putri lamgsung saling melirik satu sama lain. Mereka tahu siapa Putri Alika. Dia adalah teman kecil Pangeran Alexander. Tentunya, Putri Alika memiliki hubungan yang dekat dengan keluarga kerajaan. "Salam Ibu Suri, Salam Pangeran!" ucap Putri Alika membungkuk memberi hormat. "Alika ... kamu datang juga. Kupikir kamu tidak mau menemui Alexander lagi," ucap Ibu Suri. Saat itu ... Alika menyatakan kata cinta pada Pangeran Alexander. Dia justru memarahi Alika karena Alex menganggap Alika adalah saudaranya tidak lebih. Mengetahui hal itu, Alika langsung pergi dan marah pada Pangeran Alexander. "Hamba bukan pendendam Ibu Suri. Tujuanku kesini justru ingin memberi dukungan pada Pangeran dalam memilih jodohnya," ucap Putri Alika sopan tapi penuh manipulatif. "Untuk permohonan maaf saat itu, saya membawakan anggur terenak untuk Pangeran. Silahkan di minum, Pangeran," ucap Putri Alika. Di depan umum, Alexander tidak menolak minuman anggur yang di berikan Alika. Dia minum sedikit ... tetapi kepalanya tiba-tiba merasa pusing. "Kenapa kepalaku pusing," gumam Pangeran Alexander. "Apa yang terjadi Yang Mulia? Saya bantu antar Yang Mulia ke kamar," tawar Alika. Namun di luar dugaan Pangeran Alexander menghempaskan tangan Alika. "Tidak usah, sebaiknya kamu pergi dari pesta ini. Sebelum aku menyuruh prajurit menangkapmu," kata Pangeran Alexander. "Pangeran salah paham. Saya tidak melakukannya," bantah Alika. "Sudahlah! Aku tidak mau dengar alasanmu! Prajurit tahan dia jangan sampai seorangpun masuk ke kamarku!" perintah Alexander. Di ikuti asisten pribadinya dia undur diri untuk istirahat. Para putri kecewa karena Pangeran Alexander tidak ada di pesta. Ibu Suri tidak bisa mencegah kepergian Alexander. Karena Yang Mulia Pangeran memang kondisinya tidak stabil. "Cepat carikan aku penawar!" "Baik Yang Mulia." Asisten itu pun keluar dari kamar Yang Mulia. "Prajurit, cepat keluar cari tabib untuk Yang Mulia!" Perintah asisten Pangeran. "Baik, Tuan!" Baru hendak pergi dia melihat Allea lewat tersenyum-senyum memegang yang hasil pembayaran kue yang di antarnya. Tiba-tiba ide tidak waras muncul di benak kepala asisten. Sudut bibirnya terangkat, seolah menemukan sesuatu yang menguntungkan. "Kembali kamu tidak perlu cari tabib! Aku sudah temukan penawarnya!" ucap Asisten pada prajurit tadi. "Eh, kamu kemarilah!" Perintah Asisten menghampiri Allea. Senyum Allea perlahan memudar, digantikan rasa was was yang merambat di dadanya.Dua jam sebelum fajar, persiapan selesai. Jalur rahasia yang tadinya menjadi ancaman terbesar kini telah bersolek menjadi kuburan massal yang tak kasatmata.Alexander berdiri di atas tebing batu, dibalut jubah hitam yang berkibar diterpa angin. Di sampingnya, para pemanah sudah menyiagakan busur dengan anak panah berselimut kain lapis minyak. Matanya menatap tajam ke mulut lorong sempit di bawah sana.Hening kembali menguasai malam, hingga akhirnya gemuruh halus terasa menggetarkan pijakan kaki Alexander."Mereka datang, Yang Mulia," bisik jenderal senior di sampingnya sambil mempererat pegangan pada gagang pedang.Dari arah kegelapan, ratusan prajurit musuh bergerak merayap. Mereka mengendap-endap dengan keyakinan penuh bahwa Varo telah membukakan jalan menuju kemenangan mudah. Tanpa rasa curiga, barisan terdepan musuh melangkah keluar dari mulut lorong dan kejadian tak terduga terjadi. Para prajurit musuh yang awalnya berlari menggebu-gebu ke medan laga baru beberapa langkah suda
Pria itu tersenyum sinis lalu menunjukkan jarinya yang putus akibat di tebas oleh Yang Mulia."Masih ingat lukanya ini Yang Mulia? Seenaknya saja kau ambil jariku yang berharga ini! Satu jari ini hilang, di bayar seumur hidup saya. Tunanganku tidak mau menikah denganku karena jari buntung sialan ini!" "Dan ini karena siapa? Karenamu Yang Mulia! Kau berkuasa seenaknya saja mengambil sesuatu yang berharga dariku!"Pangeran Alexander tersenyum tenang. Ia tidak terbawa perasaan dengan perkataan yang di ucapkan Varo. "Kau kehilangan jarimu masih untung aku tidak memutus urat malu mu. Apa kau ingat sudah berapa puluh wanita yang kau lecehkan. Mereka mungkin korban peperangan. Tapi mereka adalah para istri yang di tunggu anaknya. Hidup dalam kehormatan membesarkan keturunannya. Kamu pikir jika suaminya mati di medan laga kau seenaknya memperlakukan mereka seperti binatang! Kau akan meninggalkan trauma yang mendalam untuk mereka!" terang Pangeran Alexander."Saya tidak butuh ceramah Anda!
"Hati-hati di jalan Yang Mulia," kata Allea. Pangeran Alexander mengangguk pasti. Tak lupa dia mencium kening istrinya dan pipi putranya yang masih bayi. Ibu Suri dan adiknya juga turut mengantar kepergiannya. Pasukan berkuda telah menunggu di luar gerbang istana. Suasana tampak menegangkan. Allea hanya bisa memandangi kepergian Yang Mulia setelah semalam memberinya kenangan cinta. Seseorang menepuk pundaknya membuatnya kaget. "Kakak ipar tidak usah khawatir, kakakku tidak pernah kalah dalam peperangan dia pasti pulang selamat dan membawa kemenangan," hibur adik iparnya. Allea mengangguk, ia tidak bisa membayangkan hidup di istana yang asing tanpa Pangeran Alexander di sisinya. "Terima kasih putri," jawab Allea. Bayi dalam gendongannya masih tertidur lelap. Ia hanya memiliki putranya saat ini. Yang bisa menjadi temannya dalam kesepian. "Sama-sama kakak ipar. Boleh aku menggendong keponakanku yang ganteng ini?"pinta Olivia sembari tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama Allea
Setelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l
"Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel
Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala







