INICIAR SESIÓN"Sudah kau dapatkan daging rusanya?" tanya Pangeran Alexander.
"Sudah, sebentar lagi pelayan akan menghidangkannya," jawab Asisten Yoga. "Baguslah, aku sudah tidak sabar menyantapnya." Asisten Yoga justru terdiam pikirannya menerawang teringat pada Allea yang hamil besar tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangannya mengepal erat. Ini murni salahnya. Dia yang telah melibatkan gadis polos itu naik ke ranjang Yang Mulia hingga hamil. "Kasihan anak itu," gumam Asisten Yoga tiba-tiba. Pangeran Alexander melirik sekilas, alisnya berkerut heran. "Kasihan? Untuk apa kamu kasihan pda rusa itu?" Lanjut Pangeran Alexander yang tidak tahu menahu isi otak Asistennya. "Bu ... bukan rusa itu, Pangeran. Cuma tadi aku di hutan bertemu seorang wanita hamil. Dia sangat cantik, perutnya besar tapi masih bekerja keras untuk keluarganya," ungkap Asisten Yoga. "Kasih saja dia uang, agar dia bisa beli makanan lebih," jawab Pangeran ringan. Seolah itu solusi paling mudah. Yoga menggeleng pelan. "Dia bukan wanita seperti itu. Dia hanya menerima uang hasil penjualan kayu bakarnya. Aku juga heran, jaman sekarang masih ada perempuan yang polos dan bodoh seperti wanita itu." Belum selesai Asisten Yoga bercerita panjang kali lebar. Beberapa dayang istana sudah muncul membawa aneka masakan lezat. "Sudahlah, daripada kamu memikirkan wanita itu lebih baik kamu duduk di sini temani aku makan," perintah Pangeran Alexander. Asisten Yoga menuruti perkataan Pangeran Alexander duduk di sebelahnya untuk menikmati hidangan olahan daging rusa. Ia melirik ke arah Pangeran yang begitu lahap menyantap makanannya. 'Bagaimana dia bisa makan senikmat itu sementara anaknya dan wanita itu hidupnya sangat menderita,' batin Yoga. "Ayo ... kenapa kamu diam saja. Habiskan makananmu!" Perintah Pangeran. Asisten Yoga tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. "Tidak Pangeran, ini tidak benar! Wanita itu ... wanita pencari kayu bakar itu tak lain adalah Allea. Dia mengandung anak Pangeran. Hidupnya sangat menderita, dia bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya!" Suaranya bergetar saat mengatakannya. Pangeran Alexander tersentak, tubuhnya menegang. "A ... apa? Dia hamil anakku? Kenapa kamu tidak bilang dari tadi?" "Yang Mulia sedang menikmati hidangan. Lagi pula Yang Mulia juga pernah bilang tidak ingin bertemu perempuan itu lagi," jawab Asisten Yoga. Pangeran Alexander memang pernah berkata demikian. Karena dia sangat benci dengan perempuan yang memakai segala cara agar bisa naik ke ranjangnya. Tapi kali ini berbeda. Perempuan itu sudah hamil anaknya. Nyawa calon putra mahkota tidak boleh di abaikan sembarangan. "Bodoh, dia mengandung anakku. Calon putra mahkota. Suka atau tidak suka dia jadi selirku untuk mengamankan status putraku," jawab Pangeran Alexander. "Terus sekarang bagaimana? Apa keputusan Yang Mulia?" tanya Yoga. Dia tidak mau mengambil keputusan sepihak meski sudah tahu apa yang harus di lakukannya. Tapi semua itu tentunya harus ada ijin Yang Mulia. "Masih tanya lagi, jemput dia kesini. Anakku tidak boleh terlantar di luaran sana!" "Tapi ini sudah malam Yang Mulia. Apa tidak sebaiknya esok hari?" tanya Asisten Yoga. "Kamu mau aku tidak tidur semalaman?!" sindir Yang Mulia. "Bu ... bukan begitu Yang Mulia. Hamba akan menjemputnya malam ini juga," jawab Asisten Yoga gugup. Ia tidak pernah melihat Yang Mulia sekhawatir itu. 'Sial, harusnya aku menyanpaikannya besok. Seharian ini aku belum tidur. Belum mencarikan rusa untuknya, sekarang memburu calon istrinya," gumam Yoga dalam hati. Tubuhnya sudah mulai lelah karena belum isrirahat sama sekali dari berburu. Di rumah, Allea senang sekali mendapatkan uang dari jualan kayu bakarnya. Ia pulang dengan wajah ceria. Kedatangannya justru di perhatikan adik tirinya yang usianya terpaut satu tahun lebih muda darinya. Matanya tak bisa lepas dari sosok Allea. Perut besar yang dibalut kain sederhana itu justru memberi kesan seksi. Ukuran dada Allea yang jauh lebih berisi membuat adik tirinya menelan salivanya. Dari awal dia memang sudah ada ketertarikan dengan kakak tirinya. Allea memang sangat cantik, kulitnya putih bersih. Meski berpakaian sederhana tidak mengurangi kecantikannya. "Kak, kamu kelihatan lelah sekali. Aku bisa memijitmu kalau kamu mau," goda Adiknya. Allea menatap jijik ke arah adik tirinya. "Tidak, aku sudah terbiasa. Aku tidak merasa lelah," jawab Allea melewati adiknya. Tak lama kemudian ibu tirinya muncul di ikuti ayahnya yang tengah batuk-batuk. "Allea kenapa kamu keluar? Apa kamu tidak takut kalau bertemu tetangga. Mereka akan menggunjingkanmu kalau tahu kamu hamil. Bukankah Ayah sudah bilang, kamu diam di rumah saja," ucap Ayahnya khawatir. "Kamu ini gimana sih, kalau kamu suruh anakmu berdiam diri di rumah siapa yang akan bekerja untuk cari uang buat kita? Kamu mau kelaparan terus? Dan bagaimana beli obatmu?" Cerocos Ibu tiri Allea. "Kamu tanya aku? Bukankah kamu punya anak laki-laki yang sudah dewasa. Jangan kamu manja terus, suruh dia yang gantian kerja! Bukan Allea, dia sedang hamil," protes Ayah Allea. Ibu tiri Allea tiba-tiba mendorong suaminya hingga jatuh terjungkal. "Heh, kamu pikir aku akan membiarkan putraku kerja kasar. Dia pantadnya jadi pejabat istana! Bukan pencari kayu bakar!" "Kau jangan menghayal, putramu kerjaannya hanya mabuk-mabukan. Dia tidak mungkin bisa menjadi pejabat istana dengan kelakuannya yang seperti itu!" Bantah Ayah Allea. Ibu tiri Allea justru tersenyum sinis. "Kamu menghina putraku. Kamu lupa apa yang di perbuat putrimu di luaran sana sampai hamil seperti ini! Dia sama saja murahannya seperti ibunya!" "Diam kamu Hanna! Dia sudah meninggal tidak pantas kamu menghinanya!" Ayah Allea tidak terima almarhum istri pertamanya di hina. "Halah, Ayah dan anak sama saja. Kalian itu hanya beban di rumah ini. Satunya penyakitan, satunya hamil tidak tahu suaminya," sindir Hanna ibu tiri Allea. Putranya yang sejak tadi bersandar malas di ambang pintu ikut menyeringai. Sudahlah, Bu. Percuma capek-capek bicara dengan orang bodoh seperti mereka,” katanya enteng, seolah hinaan itu hanya candaan. “Mending Ibu siapkan saja makanan paling enak buatku. Urusan sampah rumah tangga biar tetap jadi sampah. Ketika malam tiba, Allea merebahkan tubuhnya yang letih di ranjangnya. Baru saja dia memejamkan mata sejenak, tiba-tina ada cahaya menyilaukan matanya. Saat dia membuka mata sungguh kaget karena adiknya mendekatkan cahaya lilin di wajahnya. "Adik, apa yang kamu lakukan!" Langsung Allea beranjak bangun meski sedikit kesulitan. "Kamu sudah hamil, selain aku siapa yang mau menyentuhmu," ucap adikbya dengan tatapan mesum. Adiknya langsung mendekat ke arah Allea hendak memeluknya. Tapi Allea langsung memberontak dan mendorong adik tirinya sekuat tenaga. "Adik ...kamu gila!" "Aku kakak tirimu!" "Memangnya kenapa toh, bukan saudara kandung!" Belum sempat Allea bereaksi, tangan itu sudah mencengkeram pergelangannya dan menariknya kasar hingga tubuhnya terdorong ke belakang. Ia dipaksa rebahan, napasnya memburu oleh panik yang menyeruak. Adik tirinya lebih condong mendekat, berusaha merenggut ciuman darinya. Allea memalingkan wajah sekuat tenaga, tubuhnya memberontak. "Lepaskan aku! Tolong!" jeritnya parau. "Tolong!" Suara itu menggema, sarat ketakutan dan keputusasaan, berharap ada siapa pun yang mendengarnya. "Teriak saja, biar ayahmu yang penyakitan itu bangun dan lihat hingga mati penuh emosi agar kamu tidak usah membeli obat terus untuknya!" ucap adik tirinya. Allea menggapai sebuah tempat lilin di atas meja di dekatnya. Jantungnya berdegup kencang, nafasnya memburu, tak ada cara lain. Dan akhirnya ... BUGH!"Sudah kau dapatkan daging rusanya?" tanya Pangeran Alexander."Sudah, sebentar lagi pelayan akan menghidangkannya," jawab Asisten Yoga. "Baguslah, aku sudah tidak sabar menyantapnya." Asisten Yoga justru terdiam pikirannya menerawang teringat pada Allea yang hamil besar tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangannya mengepal erat. Ini murni salahnya. Dia yang telah melibatkan gadis polos itu naik ke ranjang Yang Mulia hingga hamil."Kasihan anak itu," gumam Asisten Yoga tiba-tiba. Pangeran Alexander melirik sekilas, alisnya berkerut heran. "Kasihan? Untuk apa kamu kasihan pda rusa itu?" Lanjut Pangeran Alexander yang tidak tahu menahu isi otak Asistennya."Bu ... bukan rusa itu, Pangeran. Cuma tadi aku di hutan bertemu seorang wanita hamil. Dia sangat cantik, perutnya besar tapi masih bekerja keras untuk keluarganya," ungkap Asisten Yoga."Kasih saja dia uang, agar dia bisa beli makanan lebih," jawab Pangeran ringan. Seolah itu solusi paling mudah. Yoga menggeleng pelan. "Di
Delapan bulan kemudian ...."Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya."Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit.Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea.“Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!”Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat."Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!" Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.“Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.”Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.”Alle
"Hoek ... hoek!"Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang.Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan.Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati.Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia
"Eh, dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga."Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga."Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya."Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea."Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga."Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!" Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar."Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam.Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku
"Dasar gadis kampungan!""Menurutku, kamu tahu kan kalau nanti banyak putri ke sini untuk melihat Pangeran Alexander. Kamu sengaja datang dan pura-pura kesasar agar bisa ikut menggodanya kan!""Jangan mimpi! Kamu itu tidak sederajat dengan para putri bangsawan!" hardik Putri Veronika. Ia lalu menendang perut Allea. Namun Veronika belum puas. Ia melangkah maju, menginjak jemari Allea yang gemetar tanpa sedikit pun rasa iba."Rasakan gadis kampung! Aku melakukan ini agar kamu tahu posisi gadis kampung sepertimu pantasnya di injak!" kata Veronika dengan senyim merendahkan."Maaf Nona, beneran saya cuma ingin mengantar kue pesenan ini ke dapur. Tapi saya tidak tahu tempatnya," kata Allea menunduk salah.Veronika mendengus sinis. "Jangan pura-pura. Aku paling benci perempuan dengan status rendahan sepertimu! Sok polos tapi sebenarnya licik!""Pelayan, hancurkan wajahnya! Dia tidak pantas berhalusinasi terlalu jauh untuk jadi Putri!" Perintah Veronika pada para dayangnya.Satu tamparan ber
"Jangan kabur Allea!""Kamu berani hamil dengan laki-laki lain!" "Kamu harus menerima hukumannya!" teriak seorang pria sembari mengejar Allea.Allea berlari sekuat tenaga. Nafasnya terengah-engah kakinya terseok-seok hingga tak sengaja terkena batu di hadapannya sampai jatuh terjerembab. Darah segar mengalir di kakinya. Ia mengalami pendarahan.Allea panik."Tidak, aku tidak mau melahirkan di sini." Ia melihat ke sekeliling hutan, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia meringis kesakitan namun tidak ada yang menolong.Delapan bulan yang lalu ... sebelum Allea hamil ia mengalami peristiwa yang naas.Allea mengantar kue pesanan ke istana. Kue buatannya memang sangat lezat hingga ibu suri sering memesan kuenya. Biasanya ayahnya yang mengantar kue-kue tersebut. Sayangnya, kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak memungkinkan untuk mengantar kuenya ke istana.Setelah melewai perjakanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya ia sampai di depan pintu istana. Ada dua orang penjaga ber







