Share

Bertemu Di Hutan

Author: Rasyidfatir
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-16 13:27:38

Delapan bulan kemudian ....

"Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya.

"Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit.

Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea.

“Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!”

Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat.

"Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!"

Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.

“Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.”

Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.”

Allea terdiam sejenak. Yang di katakan ibu tirinya masuk akal juga. Ia tidak mungkin membebankan kebutuhan anaknya pada ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Terhadap ibu tirinya, tambah tidak mungkin lagi mereka mau membantunya.

Setelah berpikir sejenak akhirnya Allea mengambil keputusan. "Baiklah Bu, hari ini aku akan mencari kayu bakar untuk ku jual. Uangnya bisa buat belanja ibu kebutuhan dapur."

"Bagus, lakukan sekarang tunggu apalagi!" Perintah ibu tirinya menunjuk ke arah pintu. Allea pun keluar membawa peralatan seadanya.

Ibu tirinya tersenyum licik, ia melirik ke arah Ayah Allea yang tengah tidur lelap. Tidak tahu kalau Allea sudah ke luar rumah melanggar larangannya.

Di hutan Allea tak kenal lelah mengumpulkan ranting kering satu persatu untuk di jadikan kayu bakar. Sesekali ia berhenti, menyeka keringat yang mengalir di leher dengan punggung tangannya, lalu menarik napas panjang sebelum kembali memungut ranting-ranting yang berserakan. Tidak ada keluhan keluar dari bibirnya. Hanya tekad yang memaksa tubuhnya terus bergerak demi anak yang ia kandung, demi Ayahnya yang sakit-sakitan.

Setelah terkumpul banyak dia membawanya sampai di pinggir hutan. Di sana dia bertemu dengan seorang prajurit yang tengah mencari kayu bajar untuk membakar binatang buruannya.

"Nona, apakah kamu jual kayu bakar itu?" tanya prajurit sembari melihat perut Allea yang buncit namun masih kuat membawa ranting kering dalam jumlah banyak.

"Iya Tuan, saya jual semuanya," jawab Allea penuh semangat. Ia bersyukur bisa mendapatkan pelanggan pertama yang membeli kayu bakarnya.

Prajurit itu memberinya sejumlah uang. Allea menerimanya dengan senang hati. Ia pulang membawa sebagian kecil ikatan kayu bakar yang di bawa pulang untuk dapurnya.

"Terima kasih Tuan," ucap Allea membungkuk sedikit sebelum pergi.

Prajurit itu pun melihatnya dengan rasa kasihan.

"Mana kayu bakarnya!" seru Asisten Yoga.

"Ini Tuan." Prajurit itu meletakkan sekumpulan kayu bakar yang sudah di ikat di tanah.

"Cepat sekali kamu mendapatkannya."

"Iya Tuan, karena tadi kebetulan ada wanita hamil yang mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya," terang Prajurit.

Allea kebetulan lewat karena ada yang terlupa tadi. Ia memperoleh buah di hutan tapi lupa membawanya. Ia sibuk memungut buah-buah itu. Hingga tidak memperhatikan sekelilingnya.

"Itu dia! Kasihan sudah hamil besar tapi suaminya tidak tahu diri. Ia membiarkan istrinya kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga," omel prajurit itu.

Asisten Yoga kaget melihat prajurit itu menunjuk ke arah perempuan yang pernah di kenalnya.

"Allea? Apa yang di lakukannya di sana?" Ia mengamati perut Allea yang sudah hamil tua.

'Astaga, mungkinkah? Tidak, dia mengandung anak Pangeran,' batin Yoga.

"Tuan lihat sendiri kan, kasihan perempuan itu. Suaminya memang tidak tahu di untung! Perempuan sebaik dan secantik itu di sia-siakan!' Prajurit itu terus memgomel hingga kepalanya di pukul Yoga.

"Hati-hati kalau bicara! Kamu tidak tahu suaminya siapa!" Sentak Yoga.

"Memang suaminya siapa? Paling juga pemuda kere yang sukanya mengambil keuntungan gadis polos," jawab prajurit.

"Huss, daripada banyak bicara. Cepat kamu bakar rusa ini. Biar sampai di istana tidak busuk. Yang Mulia akhir-akhir ini seperti orang ngidam saja. Ingin makan ini itu," ucap Aaisten Yoga.

"Baik Tuan."

Prajurit itu pun segera menjalankan tugasnya. Sementara Yoga menghampiri Allea.

"Kamu Allea kan?" tanyanya.

Allea menoleh, saking terkejutnya buah tang dia kumpulkan tadi berjatuhan menggelinding ke tanah.

"Tidak usah takut," Asisten Yoga membantu mengumpulkan buah itu satu persatu kemudian menasukkannya di kantung dan menyerahkannya pada  Allea.

Setelah itu, kantung tersebut diserahkan pada Allea.

“Ini milikmu. Hati-hati lain kali.”

Allea menerimanya dengan tangan bergetar.

"Terima kasih, saya pamit dulu," jawab Allea gugup. Seolah mau menghindar dari Asisten Yoga. Ia masih ingat bagaimana dulu. Gara-gara Asisten Yoga hidupnya penuh kesialan. Hamil anak Pangeran dan di caci maki keluarga karena kehamilannya yang tanpa suami.

"Tunggu! Jangan pergi dulu."

Allea pun menoleh sebentar. "Aku cuma ingin tanya apakah yang kau kandung itu anak Pangeran?"

Pertanyaan Yoga sedikit lirih sehingga prajurit yang tengah sibuk mengurus hewan buruan tidaj mendengarnya.

Allea mengangguk pelan. "Tapi Tuan ... tolong jangan bilang ke Yang Mulia. Saya janji tidak akan menuntut apapun ... yang penting jangan apa -apakan keluarga saya. Saya mohon...."

Kedua tangan Allea mengatup memohon pada Yoga. Ia sungguh ketakutan sekali. Asisten Yoga justru heran. Allea terlalu polos tidak minta pertanggungjawaban Yang Mulia. Padahal, dengan kandungan anak Pangeran di rahimnya, ia bisa saja meminta anugerah besar—kedudukan, harta, bahkan perlindungan resmi dari istana.

Namun Allea tidak menginginkan semua itu.

Ia hanya ingin keluarganya tetap aman.

“Ya, kamu tenang saja. Sekarang pulanglah,” jawab Yoga akhirnya, suaranya terdengar lebih lunak dari sebelumnya.

Allea mengangguk cepat, seakan takut keputusan itu bisa berubah sewaktu-waktu. Ia menunduk dalam-dalam, menahan haru yang menggenang di matanya.

“Terima kasih, Tuan,” ucapnya lirih sebelum berbalik pergi.

Langkah Allea menjauh perlahan, punggungnya tampak rapuh namun dipaksa tegar. Yoga mengikutinya dengan pandangan hingga sosok itu menghilang di balik pintu.

Asisten Yoga mendekat, suaranya direndahkan. “Tuan… apa benar kita akan menutup rapat hal ini?”

Yoga menghela napas panjang. “Untuk sementara, iya.”

Namun di dalam hatinya, Yoga tahu satu hal pasti rahasia sebesar ini tak akan bisa disembunyikan selamanya. Dan ketika Yang Mulia mengetahui kebenaran itu, takdir Allea akan berada di tangan istana.

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Rahasiakan Kemenangan ini

    Dua jam sebelum fajar, persiapan selesai. Jalur rahasia yang tadinya menjadi ancaman terbesar kini telah bersolek menjadi kuburan massal yang tak kasatmata.​Alexander berdiri di atas tebing batu, dibalut jubah hitam yang berkibar diterpa angin. Di sampingnya, para pemanah sudah menyiagakan busur dengan anak panah berselimut kain lapis minyak. Matanya menatap tajam ke mulut lorong sempit di bawah sana.​Hening kembali menguasai malam, hingga akhirnya gemuruh halus terasa menggetarkan pijakan kaki Alexander.​"Mereka datang, Yang Mulia," bisik jenderal senior di sampingnya sambil mempererat pegangan pada gagang pedang.Dari arah kegelapan, ratusan prajurit musuh bergerak merayap. Mereka mengendap-endap dengan keyakinan penuh bahwa Varo telah membukakan jalan menuju kemenangan mudah. Tanpa rasa curiga, barisan terdepan musuh melangkah keluar dari mulut lorong dan kejadian tak terduga terjadi. Para prajurit musuh yang awalnya berlari menggebu-gebu ke medan laga baru beberapa langkah suda

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Strategi Jitu

    Pria itu tersenyum sinis lalu menunjukkan jarinya yang putus akibat di tebas oleh Yang Mulia."Masih ingat lukanya ini Yang Mulia? Seenaknya saja kau ambil jariku yang berharga ini! Satu jari ini hilang, di bayar seumur hidup saya. Tunanganku tidak mau menikah denganku karena jari buntung sialan ini!" "Dan ini karena siapa? Karenamu Yang Mulia! Kau berkuasa seenaknya saja mengambil sesuatu yang berharga dariku!"Pangeran Alexander tersenyum tenang. Ia tidak terbawa perasaan dengan perkataan yang di ucapkan Varo. "Kau kehilangan jarimu masih untung aku tidak memutus urat malu mu. Apa kau ingat sudah berapa puluh wanita yang kau lecehkan. Mereka mungkin korban peperangan. Tapi mereka adalah para istri yang di tunggu anaknya. Hidup dalam kehormatan membesarkan keturunannya. Kamu pikir jika suaminya mati di medan laga kau seenaknya memperlakukan mereka seperti binatang! Kau akan meninggalkan trauma yang mendalam untuk mereka!" terang Pangeran Alexander."Saya tidak butuh ceramah Anda!

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Perpisahan

    "Hati-hati di jalan Yang Mulia," kata Allea. Pangeran Alexander mengangguk pasti. Tak lupa dia mencium kening istrinya dan pipi putranya yang masih bayi. Ibu Suri dan adiknya juga turut mengantar kepergiannya. Pasukan berkuda telah menunggu di luar gerbang istana. Suasana tampak menegangkan. Allea hanya bisa memandangi kepergian Yang Mulia setelah semalam memberinya kenangan cinta. Seseorang menepuk pundaknya membuatnya kaget. "Kakak ipar tidak usah khawatir, kakakku tidak pernah kalah dalam peperangan dia pasti pulang selamat dan membawa kemenangan," hibur adik iparnya. Allea mengangguk, ia tidak bisa membayangkan hidup di istana yang asing tanpa Pangeran Alexander di sisinya. "Terima kasih putri," jawab Allea. Bayi dalam gendongannya masih tertidur lelap. Ia hanya memiliki putranya saat ini. Yang bisa menjadi temannya dalam kesepian. "Sama-sama kakak ipar. Boleh aku menggendong keponakanku yang ganteng ini?"pinta Olivia sembari tersenyum tipis. Tanpa menunggu lama Allea

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Hari Yang Panjang

    Setelah beberapa saat hanya berdua di dalam kolam pemandian. Dia merasa canggung jika hanya berduaan dengan Alexander. Meski sudah berstatus suami istri yang sah. "Kamu mau kemana?" tanya Yang Mulia memeluknya dari belakang. "Mau berganti pakaian Yang Mulia... kita sudah berlama-lama di kolam ini. Takutnya nanti masuk angin," kata Allea beralasan. "Oh, ya. Aku pikir kamu tengah menghindariku?" jawab Yang Mulia. Tangannya semakin mempererat pelukannya. Sementara tangan yang satunya menyusup di antara gundukan kenyal Allea. Menyapunya lembut perlahan. Membuat seluruh tubuh Allea merinding. Perempuan cantik itu pipinya merah menahan gairah yang di ciptakan suaminya. "Bu ... bukan Yang Mulia, hamba ingin segera bertemu dengan bayi hamba. Mungkin dia lapar sekarang," jawab Allea beralasan. "Aku juga lapar, kamu tidak ingin mengenyangkanku?" goda Yang Mulia. "Kita bisa makan setelah ini, kalau Yang Mulia lapar," kata Allea. "Iya, sayangnya aku tidak lapar makanan. Tapi ingin l

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Di Pemandian

    "Hamba yakin Yang Mulia pasti pulang membawa kemenangan untuk negeri ini," ucap Allea tersenyum. Seolah tidak ada kekhawatiran apapun di matanya. "Kamu tidak khawatir?" tanya Alexander. Allea menggeleng pelan. Padahal bukan itu yang di inginkannya. Ia pikir Allea akan cemas dan terlihat sedih. Tapi perempuan cantik yang sudah jadi istrinya itu tenang-tenang saja. Apakah benar Putri Allea memang sama sekali tidak ada rasa apapun terhadap dirinya.Ia mengira Allea akan menatapnya dengan cemas, mungkin menggenggam tangannya, atau setidaknya menunjukkan bahwa kepergiannya ke medan perang bukan hal sepele baginya. Tapi tidak… perempuan yang kini menyandang gelar istrinya itu justru tampak seolah semuanya biasa saja.Hati Alexander mencelos.Apakah benar… tidak ada tempat untuknya di hati Allea?“Atau…” Alexander tersenyum tipis, pahit. “Aku memang tidak sepenting itu untukmu?” batin Pangeran Alexander.Suasana menjadi hening Allea tidak berani menatap Yang Mulia. Perlahan dia berusaha mel

  • Nona, Pangeran Jatuh Cinta Pada Anda!   Berperang

    Pangeran Alexander baru ingat jika dia sudah menyuruh Putri Allea datang ke kamarnya. Buru-buru dia langsung mengakhiri pertemuannya dengan para penasehat kerajaan.Langkahnya cepat dan mantap menyusuri lorong istana yang panjang, jubah kebesarannya berkibar mengikuti gerakan tergesa itu. Pikirannya dipenuhi satu hal Putri Allea. Apakah dia masih ada di sana atau tidak.Sesampainya di depan pintu kamarnya, ia berhenti sejenak, merapikan ekspresinya sebelum mendorong pintu perlahan.Di dalam, suasana hening. Matanya mengedar menyapu ke seluruh penjuru kamar. Tapi tak ada siapapun di sana. Ia kecewa Putri Allea tidak ada. Tiba-tiba seorang dayang datang menghadap."Ampun Yang Mulia, Putri Allea sudah sedari tadi menunggu. Tapi ... Yang Mulia tidak datang," terang pelayan.Alexander mengernyit, rasa kecewa yang tadi muncul seketika berubah menjadi kegelisahan. Ia menoleh cepat ke arah dayang itu."Lalu?" suaranya terdengar lebih tajam dari yang ia maksudkan.Dayang itu menunduk lebih dala

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status