Se connecterDelapan bulan kemudian ....
"Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya. "Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit. Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea. “Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!” Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat. "Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!" Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya. “Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.” Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.” Allea terdiam sejenak. Yang di katakan ibu tirinya masuk akal juga. Ia tidak mungkin membebankan kebutuhan anaknya pada ayahnya yang sudah sakit-sakitan. Terhadap ibu tirinya, tambah tidak mungkin lagi mereka mau membantunya. Setelah berpikir sejenak akhirnya Allea mengambil keputusan. "Baiklah Bu, hari ini aku akan mencari kayu bakar untuk ku jual. Uangnya bisa buat belanja ibu kebutuhan dapur." "Bagus, lakukan sekarang tunggu apalagi!" Perintah ibu tirinya menunjuk ke arah pintu. Allea pun keluar membawa peralatan seadanya. Ibu tirinya tersenyum licik, ia melirik ke arah Ayah Allea yang tengah tidur lelap. Tidak tahu kalau Allea sudah ke luar rumah melanggar larangannya. Di hutan Allea tak kenal lelah mengumpulkan ranting kering satu persatu untuk di jadikan kayu bakar. Sesekali ia berhenti, menyeka keringat yang mengalir di leher dengan punggung tangannya, lalu menarik napas panjang sebelum kembali memungut ranting-ranting yang berserakan. Tidak ada keluhan keluar dari bibirnya. Hanya tekad yang memaksa tubuhnya terus bergerak demi anak yang ia kandung, demi Ayahnya yang sakit-sakitan. Setelah terkumpul banyak dia membawanya sampai di pinggir hutan. Di sana dia bertemu dengan seorang prajurit yang tengah mencari kayu bajar untuk membakar binatang buruannya. "Nona, apakah kamu jual kayu bakar itu?" tanya prajurit sembari melihat perut Allea yang buncit namun masih kuat membawa ranting kering dalam jumlah banyak. "Iya Tuan, saya jual semuanya," jawab Allea penuh semangat. Ia bersyukur bisa mendapatkan pelanggan pertama yang membeli kayu bakarnya. Prajurit itu memberinya sejumlah uang. Allea menerimanya dengan senang hati. Ia pulang membawa sebagian kecil ikatan kayu bakar yang di bawa pulang untuk dapurnya. "Terima kasih Tuan," ucap Allea membungkuk sedikit sebelum pergi. Prajurit itu pun melihatnya dengan rasa kasihan. "Mana kayu bakarnya!" seru Asisten Yoga. "Ini Tuan." Prajurit itu meletakkan sekumpulan kayu bakar yang sudah di ikat di tanah. "Cepat sekali kamu mendapatkannya." "Iya Tuan, karena tadi kebetulan ada wanita hamil yang mencari kayu bakar di hutan dan menjualnya," terang Prajurit. Allea kebetulan lewat karena ada yang terlupa tadi. Ia memperoleh buah di hutan tapi lupa membawanya. Ia sibuk memungut buah-buah itu. Hingga tidak memperhatikan sekelilingnya. "Itu dia! Kasihan sudah hamil besar tapi suaminya tidak tahu diri. Ia membiarkan istrinya kerja keras untuk mencukupi kebutuhan keluarga," omel prajurit itu. Asisten Yoga kaget melihat prajurit itu menunjuk ke arah perempuan yang pernah di kenalnya. "Allea? Apa yang di lakukannya di sana?" Ia mengamati perut Allea yang sudah hamil tua. 'Astaga, mungkinkah? Tidak, dia mengandung anak Pangeran,' batin Yoga. "Tuan lihat sendiri kan, kasihan perempuan itu. Suaminya memang tidak tahu di untung! Perempuan sebaik dan secantik itu di sia-siakan!' Prajurit itu terus memgomel hingga kepalanya di pukul Yoga. "Hati-hati kalau bicara! Kamu tidak tahu suaminya siapa!" Sentak Yoga. "Memang suaminya siapa? Paling juga pemuda kere yang sukanya mengambil keuntungan gadis polos," jawab prajurit. "Huss, daripada banyak bicara. Cepat kamu bakar rusa ini. Biar sampai di istana tidak busuk. Yang Mulia akhir-akhir ini seperti orang ngidam saja. Ingin makan ini itu," ucap Aaisten Yoga. "Baik Tuan." Prajurit itu pun segera menjalankan tugasnya. Sementara Yoga menghampiri Allea. "Kamu Allea kan?" tanyanya. Allea menoleh, saking terkejutnya buah tang dia kumpulkan tadi berjatuhan menggelinding ke tanah. "Tidak usah takut," Asisten Yoga membantu mengumpulkan buah itu satu persatu kemudian menasukkannya di kantung dan menyerahkannya pada Allea. Setelah itu, kantung tersebut diserahkan pada Allea. “Ini milikmu. Hati-hati lain kali.” Allea menerimanya dengan tangan bergetar. "Terima kasih, saya pamit dulu," jawab Allea gugup. Seolah mau menghindar dari Asisten Yoga. Ia masih ingat bagaimana dulu. Gara-gara Asisten Yoga hidupnya penuh kesialan. Hamil anak Pangeran dan di caci maki keluarga karena kehamilannya yang tanpa suami. "Tunggu! Jangan pergi dulu." Allea pun menoleh sebentar. "Aku cuma ingin tanya apakah yang kau kandung itu anak Pangeran?" Pertanyaan Yoga sedikit lirih sehingga prajurit yang tengah sibuk mengurus hewan buruan tidaj mendengarnya. Allea mengangguk pelan. "Tapi Tuan ... tolong jangan bilang ke Yang Mulia. Saya janji tidak akan menuntut apapun ... yang penting jangan apa -apakan keluarga saya. Saya mohon...." Kedua tangan Allea mengatup memohon pada Yoga. Ia sungguh ketakutan sekali. Asisten Yoga justru heran. Allea terlalu polos tidak minta pertanggungjawaban Yang Mulia. Padahal, dengan kandungan anak Pangeran di rahimnya, ia bisa saja meminta anugerah besar—kedudukan, harta, bahkan perlindungan resmi dari istana. Namun Allea tidak menginginkan semua itu. Ia hanya ingin keluarganya tetap aman. “Ya, kamu tenang saja. Sekarang pulanglah,” jawab Yoga akhirnya, suaranya terdengar lebih lunak dari sebelumnya. Allea mengangguk cepat, seakan takut keputusan itu bisa berubah sewaktu-waktu. Ia menunduk dalam-dalam, menahan haru yang menggenang di matanya. “Terima kasih, Tuan,” ucapnya lirih sebelum berbalik pergi. Langkah Allea menjauh perlahan, punggungnya tampak rapuh namun dipaksa tegar. Yoga mengikutinya dengan pandangan hingga sosok itu menghilang di balik pintu. Asisten Yoga mendekat, suaranya direndahkan. “Tuan… apa benar kita akan menutup rapat hal ini?” Yoga menghela napas panjang. “Untuk sementara, iya.” Namun di dalam hatinya, Yoga tahu satu hal pasti rahasia sebesar ini tak akan bisa disembunyikan selamanya. Dan ketika Yang Mulia mengetahui kebenaran itu, takdir Allea akan berada di tangan istana."Sudah kau dapatkan daging rusanya?" tanya Pangeran Alexander."Sudah, sebentar lagi pelayan akan menghidangkannya," jawab Asisten Yoga. "Baguslah, aku sudah tidak sabar menyantapnya." Asisten Yoga justru terdiam pikirannya menerawang teringat pada Allea yang hamil besar tengah berjuang mempertahankan hidupnya. Tangannya mengepal erat. Ini murni salahnya. Dia yang telah melibatkan gadis polos itu naik ke ranjang Yang Mulia hingga hamil."Kasihan anak itu," gumam Asisten Yoga tiba-tiba. Pangeran Alexander melirik sekilas, alisnya berkerut heran. "Kasihan? Untuk apa kamu kasihan pda rusa itu?" Lanjut Pangeran Alexander yang tidak tahu menahu isi otak Asistennya."Bu ... bukan rusa itu, Pangeran. Cuma tadi aku di hutan bertemu seorang wanita hamil. Dia sangat cantik, perutnya besar tapi masih bekerja keras untuk keluarganya," ungkap Asisten Yoga."Kasih saja dia uang, agar dia bisa beli makanan lebih," jawab Pangeran ringan. Seolah itu solusi paling mudah. Yoga menggeleng pelan. "Di
Delapan bulan kemudian ...."Kamu enak-enakan di rumah! Kerja sana, cari uang buat keluarga!" hardik ibunya."Tapi Bu, aku lagi hamil besar. Ayah tidak memperbolehkanku keluar. Nanti apa kata orang kampung nanti," balas Allea mengelus perutnya yang sudah buncit.Ibunya mendengus sinis. Tatapannya tajam, seolah tak peduli pada kondisi Allea.“Alasan! Perempuan hamil itu masih bisa kerja. Jangan manja!”Hati Allea terasa perih. Ia menunduk, menahan air mata yang kembali mengancam jatuh. Dalam diam, ia hanya bisa memeluk perutnya lebih erat."Kamu pikir anakmu kalau lahir tidak butuh uang untuk persalinan. Semua kebutuhannya kamu yang harus tanggung. Kamu mau anakmu mati dalam perut karena kelaparan!" Tubuh Allea gemetar. “Tidak, Bu… aku tidak pernah mau seperti itu,” ucapnya dengan suara bergetar. Air mata akhirnya jatuh, membasahi pipinya.“Aku cuma… aku cuma takut terjadi apa-apa sama anakku.”Ibunya mendengus, memalingkan wajah. “Kalau takut, ya kerja. Jangan cuma bisa nangis.”Alle
"Hoek ... hoek!"Perut Allea tiba-tiba terasa mual. Sensasinya asing, bergelombang pelan namun menetap, membuatnya menutup mulut dan menelan ludah berulang kali. Beberapa hari terakhir tubuhnya mudah lelah, penciumannya kian peka, dan makanan yang biasa ia sukai justru membuat dadanya sesak. Ia mengira itu hanya akibat pikiran yang terlalu penuh hingga pagi itu darah bulanannya tak kunjung datang.Di zaman kuno, perempuan mengenali kehamilan bukan lewat alat, melainkan lewat tanda-tanda tubuh dan kebiasaan. Allea teringat petuah para perempuan tua di desanya. Bila haid terlewat lebih dari satu purnama, perut sering mual saat fajar, dan payudara terasa lebih sensitif, besar kemungkinan rahim tengah menyimpan kehidupan.Kepala Allea terlalu pusing memikirkan segala kemungkinan buruk yang terjadi. Ia tidak punya suami. Bagaimana kakau memang hamil sungguhan. Tamat riwayatnya. Bisa-bisa dia di hardik sampai mati.Usai dari mengambil kayu bakar, tiba-tiba kepalanya pusing sekali. Ingin dia
"Eh, dari depan pintu istana sampai halaman kau buat keributan untuk menarik perhatian Yang Mulia," ucap Asisten Yoga."Aku tidak tahu maksudmu. Aku masih ada urusan," jawab Allea melangkah tergesa-gesa. Namun langkahnya di hadang Asisten Yoga."Tunggu dulu. Bukankah kau ingin menarik perhatian Yang Mulia. Aku kasih kamu kesempatan," ucap Asisten Yoga sembari menarik tangan Allea agar mengikuti langkah kakinya."Tolong lepas Tuan, aku baru dapat uang kue dari dapur. Aku harus segera pulang untuk membeli obat untuk ayahku yang sakit," tolak Allea."Lepaskan aku Tuan!" Allea berusaha melepaskan genggaman dari tangan Yoga."Baguslah kalau suka uang. Kalau kamu berhasil melakukan tugasmu ini aku akan memberimu banyak uang. Ayo!" Asiaten Yoga mendorong Allea masuk ke dalam kamar Yang Mulia dan menguncinya dari luar."Lepaskan aku!" teriak Allea mengetuk pintu dari dalam.Asisten Yoga tersenyum. "Ibu Suri selalu kewalahan dengan sikap Pangeran yang anti wanita. Mungkin dengan cara ini aku
"Dasar gadis kampungan!""Menurutku, kamu tahu kan kalau nanti banyak putri ke sini untuk melihat Pangeran Alexander. Kamu sengaja datang dan pura-pura kesasar agar bisa ikut menggodanya kan!""Jangan mimpi! Kamu itu tidak sederajat dengan para putri bangsawan!" hardik Putri Veronika. Ia lalu menendang perut Allea. Namun Veronika belum puas. Ia melangkah maju, menginjak jemari Allea yang gemetar tanpa sedikit pun rasa iba."Rasakan gadis kampung! Aku melakukan ini agar kamu tahu posisi gadis kampung sepertimu pantasnya di injak!" kata Veronika dengan senyim merendahkan."Maaf Nona, beneran saya cuma ingin mengantar kue pesenan ini ke dapur. Tapi saya tidak tahu tempatnya," kata Allea menunduk salah.Veronika mendengus sinis. "Jangan pura-pura. Aku paling benci perempuan dengan status rendahan sepertimu! Sok polos tapi sebenarnya licik!""Pelayan, hancurkan wajahnya! Dia tidak pantas berhalusinasi terlalu jauh untuk jadi Putri!" Perintah Veronika pada para dayangnya.Satu tamparan ber
"Jangan kabur Allea!""Kamu berani hamil dengan laki-laki lain!" "Kamu harus menerima hukumannya!" teriak seorang pria sembari mengejar Allea.Allea berlari sekuat tenaga. Nafasnya terengah-engah kakinya terseok-seok hingga tak sengaja terkena batu di hadapannya sampai jatuh terjerembab. Darah segar mengalir di kakinya. Ia mengalami pendarahan.Allea panik."Tidak, aku tidak mau melahirkan di sini." Ia melihat ke sekeliling hutan, tak ada siapapun yang bisa menolongnya. Ia meringis kesakitan namun tidak ada yang menolong.Delapan bulan yang lalu ... sebelum Allea hamil ia mengalami peristiwa yang naas.Allea mengantar kue pesanan ke istana. Kue buatannya memang sangat lezat hingga ibu suri sering memesan kuenya. Biasanya ayahnya yang mengantar kue-kue tersebut. Sayangnya, kondisi ayahnya yang sedang sakit tidak memungkinkan untuk mengantar kuenya ke istana.Setelah melewai perjakanan yang cukup panjang dan melelahkan akhirnya ia sampai di depan pintu istana. Ada dua orang penjaga ber







