Share

Bab 2

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-06-04 13:27:20

Brakk!

Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara.

Seorang wanita muda dan cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu.

Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga jelas dibuat oleh tangan profesional. Namun, semua itu tidak mampu menyembunyikan mata yang sembab, hidung yang memerah, serta sisa-sisa tangis yang masih terlihat jelas di wajah cantiknya.

Untuk sesaat, Reno hanya memandangi wanita itu tanpa berkedip. Tidak perlu diperkenalkan, dia sudah langsung tahu.

Inilah wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya.

Dan dari tatapan yang diberikan wanita itu kepadanya, Reno juga langsung tahu satu hal lain.

Wanita itu sama sekali tidak menginginkan dirinya berada di sini.

Tatapan wanita bernama Viona itu menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada Reno.

Keningnya langsung berkerut. Sorot matanya berubah tajam.

Lalu kemarahan yang sejak tadi berusaha ditahannya perlahan muncul ke permukaan.

"Jadi ini orang yang Papa pilih untuk menggantikan Axel?"

Tidak ada yang berani menjawab. Para penata rias saling pandang. Beberapa orang bahkan buru-buru menundukkan kepala.

Viona melangkah masuk dengan suara heels hak tinggi yang menghentak lantai marmer. Semakin dekat ia berjalan, semakin jelas ekspresi tidak sukanya.

"Papa serius?" tanyanya sambil menunjuk Reno. "Setelah semua yang terjadi hari ini, solusi terbaik yang Papa berikan adalah mengganti Axel dengan pria asing yang bahkan tidak kita kenal?"

Pak Darmawan menghembuskan napas panjang. "Iya. Papa serius, Vi. Inilah jalan terbaik untuk kali ini."

Viona tertawa pelan. Namun, tawa itu sama sekali tidak terdengar lucu. Justru terdengar pahit dan penuh kemarahan.

"Kalau begitu Papa benar-benar sudah kehilangan akal. Memilih suami untukku seperti membeli kacang saja."

"Viona… Kamu percaya saja sama Papa."

"Aku nggak mau dan nggak setuju, Pa." Suaranya mulai bergetar. "Dari tadi aku udah bilang kalau aku nggak mau melanjutkan pernikahan ini. Axel pasti datang… atau bisa saja dia musibah di jalan."

Pak Darmawan menatap putrinya tanpa ekspresi.

"Kalau dia memang berniat datang, dia tidak akan menghilang sejak tadi pagi tanpa kabar. Dia bukan kena musibah, tapi dia kabur dan dia jelas pengecut."

"Papa tidak mengenalnya seperti aku mengenalnya."

"Justru karena Papa mengenal pria seperti dia, Papa tahu dia tidak akan kembali. Percayalah sama Papa."

Kalimat itu membuat wajah Viona berubah. Luka yang sejak tadi berusaha ditutup kembali terbuka begitu saja.

"Aku sangat mencintai Axel dan masih berharap dia akan kembali, Pa."

Suara itu keluar lebih pelan dibanding sebelumnya.

Untuk pertama kalinya sejak wanita itu masuk ke ruangan ini, Reno melihat sisi rapuh dari wanita yang tadi terlihat begitu galak.

Namun Pak Darmawan tetap tidak berubah. "Papa tidak peduli. Kepercayaan dan tanggung jawab itu lebih penting daripada cinta. Mungkin kamu mencintainya, tapi bagaimana dengan dia?"

Mata Viona langsung nyalang. "Papa tega sama aku."

"Karena cinta tidak akan memperbaiki hidupmu kalau pria yang kamu cintai bahkan tidak muncul di hari pernikahannya kalian."

Hening. Ruangan mendadak terasa sesak.

Reno yang berdiri di sana mulai merasa tidak nyaman. Dia seperti sedang menyaksikan kehancuran seseorang dari jarak dekat juga masalah keluarga yang rumit.

Dan anehnya, dia bisa memahami rasa sakit Viona. Karena beberapa jam yang lalu hidupnya juga sama-sama sedang runtuh.

Bedanya, Viona kehilangan pria yang dicintainya. Sedangkan dirinya sudah menggadaikan harga dirinya dan hampir kehilangan ibu yang menjadi alasan hidupnya.

Tatapan Viona akhirnya beralih kepada Reno. Kali ini lebih lama, lebih tajam dan terlihat lebih merendahkan.

Pandangannya turun ke seragam bengkel yang masih dikenakan Reno. Lalu ke sepatu kerjanya yang sudah kusam. Kemudian kembali ke wajahnya.

"Papa bayar kamu berapa?"

Reno mengernyit. "Maaf?"

"Aku cuma penasaran berapa harga pria seperti kamu." Viona menyilangkan tangan di dada. "Berapa harga yang ditawarkan Papa, sampai kamu bersedia menggantikan posisi orang lain di pelaminan? Berani sekali kamu main-main dengan pernikahan."

Reno terdiam, dadanya terasa panas. Bukan karena marah semata, tetapi karena ucapan wanita itu memang mengenai titik paling sensitif dalam dirinya.

Karena sebagian dari tuduhan itu benar. Ya dia memang berada di sini karena uang, menjual harga diri dan masa depannya demi menyelamatkan keluarganya.

Melihat Reno tidak menjawab, Viona kembali tersenyum sinis dan tatapannya penuh penghinaan.

"Tentu saja, pria seperti kamu mana mungkin berada di hotel semewah ini kalau bukan karena uang."

"Viona, cukup!" sergah Pak Darmawan.

"Tidak ada yang salah dengan ucapanku kan, Pa." Viona tetap menatap Reno. "Aku hanya sedang bertanya bagaimana dia bisa menjual harga dirinya semudah itu."

Jari-jari Reno perlahan mengepal. Untuk beberapa detik, ia ingin membalas. Ingin mengatakan bahwa tidak semua orang lahir dengan rekening tak terbatas seperti wanita itu.

Ingin mengatakan bahwa ada orang-orang yang harus berjuang mati-matian hanya untuk menyelamatkan keluarga mereka.

Namun, bayangan ibunya yang terbaring di rumah sakit membuat seluruh amarah itu kembali ia telan.

Pada akhirnya, Reno mengangkat kepala dan menatap Viona lurus.

"Apa yang ingin Anda dengar dari saya, Nona?"

Viona sedikit terkejut. Dia mengira pria itu akan marah atau tersinggung. Namun, yang ia lihat justru ketenangan.

"Aku tidak mengenalmu. Jangan berharap aku mau menerimamu," ucap Viona dingin.

"Saya juga tidak mengenal Anda."

Jawaban itu membuat suasana kembali hening.

"Saya tidak pernah meminta berada di sini. Papa Anda juga yang memaksa saya berada di sini. Kalau boleh memilih, saya lebih ingin berada di rumah sakit menemani ibu saya, daripada berdiri di ruangan ini."

Viona kehilangan kata-kata. Karena pria itu terlihat tidak sedang membela diri, mungkin hanya mengatakan kenyataan. Dan kenyataan itu terdengar jauh lebih menyakitkan daripada bantahan apa pun.

Melihat situasi mulai memanas, Pak Darmawan melangkah maju. "Cukup, Viona! Kita tidak punya waktu untuk terus berdebat."

"Aku tidak peduli, Pa!" jawab Viona tegas.

"Kamu harus menurut dan jangan terus membantah Papa."

"Sekali tidak ya tetap tidak, Pa."

Pak Darmawan menatap putrinya lama. Lalu berkata dengan suara yang jauh lebih dingin daripada sebelumnya.

"Kalau begitu dengarkan baik-baik, Viona. Kalau hari ini kamu menolak menikah dan tidak mau menurut pada Papa, maka konsekuensinya kamu juga harus keluar dari keluarga kita."

Wajah Viona langsung memucat. "Apa maksud Papa?"

"Maksud Papa sangat jelas." Pak Darmawan menatapnya tanpa berkedip. "Seluruh kartu kreditmu akan diblokir. Mobil dan semua fasilitas yang selama ini kamu pakai akan ditarik. Semua rekening yang selama ini Papa biayai akan dibekukan."

Viona menatap papanya tidak percaya. "Papa tidak akan mungkin melakukan itu."

"Kalau tidak percaya, silakan coba."

Darah di wajah Viona perlahan seolah menghilang. Namun Darmawan belum selesai.

"Dan satu hal lagi." Suara pria itu terdengar datar. Justru karena itulah ancamannya terasa semakin mengerikan. "Kamu juga harus melupakan seluruh warisan keluarga. Ingat itu."

Kalimat itu menghantam Viona jauh lebih keras daripada apa pun.

Reno melihat perubahan itu dengan jelas.

Wanita yang sejak tadi begitu galak mendadak kehilangan seluruh keberaniannya, saat dihadapkan pada kenyataan bahwa semua kenyamanan yang selama ini dimilikinya bisa hilang begitu saja.

Beberapa detik berlalu tanpa ada yang berbicara.

Viona menggigit bibirnya keras, matanya kembali memerah. Dia ingin menolak, ingin berteriak dan ingin kabur dari semuanya. Namun pada akhirnya, ketakutan akan kehilangan segala kenyamanannya selama ini mengalahkan keinginannya.

"Oke deh kalau begitu. Terserah Papa saja."

Suara itu terdengar pelan. Namun cukup membuat seluruh ruangan menghembuskan napas lega.

Pak Darmawan akhirnya mengangguk puas.

Tetapi Viona belum selesai, malah menunjuk Reno tanpa mengalihkan pandangan.

"Kamu dengerin baik-baik. Jangan pernah berpikir pernikahan ini bisa membuat kamu berarti apapun bagiku."

Reno diam.

"Kamu hanya seorang pengganti. Dan setelah pernikahan ini selesai, jangan pernah bermimpi bisa jadi bagian dari hidupku, apalagi jadi suamiku."

Setelah mengatakan itu, Viona langsung berbalik.

Brakk!

Pintu kembali tertutup keras, meninggalkan keheningan panjang di dalam ruangan.

Reno memandangi pintu yang baru saja ditinggalkan wanita itu. Entah kenapa, alih-alih tersinggung, sudut bibirnya justru terangkat tipis. Harga dirinya memang terluka, namun ia merasa sedikit merasa tertantang.

"Galak juga ternyata dia," gumam Reno pelan sambil menggeleng. Masih menatap pintu yang sudah kembali tertutup rapat itu.

"Kalau memang takdir mengharuskan kita menikah hari ini, kita lihat saja nanti siapa yang menyerah lebih dulu, Nona Viona."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluarga, tetapi sekarang seluruh ekspresinya berubah. Tatapannya beralih ke Reno dengan cepat, seolah tidak menyangka pria itu akan mengungkit nama tersebut lagi. Reno sendiri sebenarnya tidak berniat menyulut pertengkaran. Sejak melihat Viona kehilangan kendali semalam karena kabar kecelakaan itu, ia hanya penasaran apakah wanita itu sudah mendapatkan kejelasan kabar Axel. Namun raut wajah Viona yang langsung mengeras membuatnya sadar bahwa pertanyaan itu ternyata salah. "Itu bukan urusanmu." Nada suara Viona dingin. Jauh lebih dingin dibanding beberapa menit sebelumnya. Reno menghela napas pelan. "Aku cuma nanya." "Aku nggak butuh perhatianmu." "Aku nggak bilang perhatian, hanya

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama ini digunakannya di kontrakan kecilnya. Namun saat membuka mata, kenyataan kembali menghantamnya. Langit-langit rumah mewah yang asing, ruang keluarga yang bukan miliknya, dan status baru yang masih terasa aneh setiap kali diingat. Dirinya sudah menikah. Kalimat itu masih terdengar tidak masuk akal di kepalanya. Kini ia bangun sebagai suami seorang wanita kaya yang bahkan tidak menginginkan kehadirannya. Reno mengusap wajahnya pelan sebelum bangkit. Setelah mandi dan menjalankan rutinitas paginya, ia turun ke dapur karena perutnya mulai terasa lapar. Dapur rumah itu sangat besar dan lengkap, jauh berbeda dengan dapur sempit di rumahnya yang hanya cukup untuk dua orang berdiri berdampingan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk!Suara itu begitu keras hingga membuat matanya langsung terbuka sempurna.Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris.Prang!Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika menyadari suara itu berasal dari kamar Viona.Awalnya ia sempat ragu. Mengingat bagaimana wanita itu memperlakukannya sejak pagi, mungkin lebih baik dirinya tidak ikut campur. Namun tangisan itu terdengar semakin tidak terkendali, membuat Reno mengurungkan niat untuk mengabaikannya.Bagaimanapun juga, Viona adalah tanggung jawabnya sekarang.Tanpa membuang waktu lagi, Reno segera berlari menuju kamar utama. "Nona Viona!"Tidak ada jawaban.Saat tiba di depan kamar, ia mendapati pintunya tidak tertutup rapat. Dari celah pintu terdengar suara isakan yang membuat dadanya ikut terasa tidak nyaman.Reno mendorong pintu perlahan. Dan pemandangan di dalam kamar membuat langkahnya langsung terhenti.Kamar yan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wanita tampak cantik dan anggun. Pengantin pria terlihat tampan dan berwibawa. Kedua keluarga besar tersenyum di depan kamera, menerima ucapan selamat dari para relasi bisnis, lalu berfoto bersama seolah tidak ada masalah apapun yang terjadi. Tidak ada yang tahu bahwa pria yang berdiri di samping Viona bukanlah mempelai pria yang seharusnya. Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali seseorang mengucapkan selamat atas pernikahan mereka, Reno justru merasa semakin asing dengan hidupnya sendiri. Sepanjang resepsi, senyum tipis yang terus dipasang di wajahnya terasa seperti topeng. Ia bahkan tidak benar-benar mengingat berapa banyak orang yang menyalaminya, memperkenalkan diri, atau mengajaknya b

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk!Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang berada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara.Seorang wanita muda dan cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu.Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga jelas dibuat oleh tangan profesional. Namun, semua itu tidak mampu menyembunyikan mata yang sembab, hidung yang memerah, serta sisa-sisa tangis yang masih terlihat jelas di wajah cantiknya.Untuk sesaat, Reno hanya memandangi wanita itu tanpa berkedip. Tidak perlu diperkenalkan, dia sudah langsung tahu.Inilah wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya.Dan dari tatapan yang diberikan wanita itu kepadanya, Reno juga langsung tahu satu hal lain.Wanita itu sama sekali tidak menginginkan dirinya berada di sini.Tatapan wanita bernama Viona itu menyapu seluruh ruangan sebelum akhirnya berhenti tepat pada Reno.Keningnya langsung berkerut. Sorot matanya berubah tajam.Lalu kemarah

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 1

    "Nikahi putriku dan sebagai gantinya, biaya pengobatan ibumu dan utang- utang keluargamu dua ratus juta, lunas kubayar."Reno alias Reynald Notoharjo merasa seperti baru saja disambar petir di siang bolong. Pria berusia dua puluh lima tahun itu berdiri kaku di tengah ruangan mewah yang bahkan lantainya lebih mengkilap daripada kaca etalase bengkel tempatnya bekerja.Beberapa menit yang lalu, dia masih berada di area parkir belakang Hotel Grand Mahardika, mengantar suku cadang pendingin ruangan pesanan salah satu vendor hotel. Mengenakan seragam bengkel navy kusam yang sedikit berminyak, Reno hanya ingin segera menyelesaikan pekerjaannya lalu berangkat ke stasiun untuk pulang ke kampung halamannya, setelah dikabari ibunya mendadak masuk rumah sakit.Namun sekarang, dia justru berdiri di dalam ruang rias VIP hotel mewah ini dengan perasaan kesal karena tiba-tiba diseret masuk oleh dua pria bertubuh besar yang bahkan tidak dikenalnya. Namun setelah mendengar kalimat itu, rasa kesal ter

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status