ログインReno masih memandangi map di hadapannya beberapa saat sebelum akhirnya meraihnya. Entah kenapa, benda itu terasa jauh lebih berat daripada kelihatannya.
Perlahan Reno membuka map tersebut dan membacanya dengan cepat. Semakin banyak lembar yang dibacanya, raut wajahnya berubah sedikit demi sedikit. Di dalam map itu ada salinan tagihan rumah sakit ibunya, estimasi biaya operasi jantung, surat tunggakan pinjaman bank dan data rumah keluarganya yang terancam disita. Bahkan laporan medis ibunya tersusun rapi di dalam map itu. Jemari Reno perlahan mengepal hingga memutih. Dadanya terasa panas karena semua luka yang sedang mati-matian ia tutupi, kini terbuka begitu saja di hadapan orang yang baru dikenalnya beberapa menit. Perlahan Reno mengangkat kepala. "Bagaimana Bapak bisa mendapatkan semua ini?" Suara Reno terdengar tenang, tapi sorot matanya berubah tajam. Darmawan kini duduk dengan sikap tenang. "Anak buah saya tadi sempat mendengar percakapan teleponmu di belakang hotel. Setelah itu mereka mencari informasi yang diperlukan." Rahang Reno langsung mengeras. "Jadi Bapak menyelidiki saya?" "Saya hanya memastikan orang yang saya pilih." "Buat saya tetap sama." Reno menaruh map itu di atas meja. "Saya memang miskin dan lagi susah, Pak. Saya juga nggak malu mengakuinya. Tapi bukan berarti siapa pun bebas membuka masalah dan kehidupan keluarga saya tanpa izin." Ruangan mendadak sunyi. Beberapa pria bersetelan hitam yang berjaga di dekat pintu saling berpandangan, tetapi tidak ada yang berani bicara. Reno kembali menatap Darmawan. "Saya datang ke hotel ini buat kerja. Bukan buat dikasihani." Tatapan Darmawan tidak berubah. "Kalau tujuan saya mengasihanimu, saya cukup mentransfer uang tanpa perlu mengajakmu bicara." "Justru itu yang saya heran." Reno menggeleng pelan. "Bapak bisa membantu banyak orang dengan uang sebanyak itu. Kenapa harus saya?" "Karena saya membutuhkanmu," balas Darmawan dengan yakin. "Bapak membutuhkan orang yang wajahnya mirip Axel," sahut Reno cepat. "Bukan membutuhkan saya." Darmawan tersenyum tipis. "Kamu benar." Reno terdiam mendengar jawaban itu. "Tapi setelah berbicara denganmu, saya sadar saya tidak hanya membutuhkan wajahmu." Darmawan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Saya membutuhkan prinsipmu." Alis Reno berkerut. "Untuk apa?" "Saya sudah bertemu banyak orang kaya dan banyak orang miskin. Orang miskin belum tentu jujur, orang kaya juga belum tentu bermoral." Tatapannya tidak lepas dari Reno. "Tapi sejak tadi kamu berkali-kali menolak uang yang sangat kamu butuhkan... Itu alasan saya masih duduk di sini berbicara denganmu." Reno mengembuskan napas panjang. "Pak, kalau semua masalah bisa selesai dengan uang, saya nggak akan duduk di ruangan ini." Reno menatap telapak tangannya sendiri yang kasar, ada beberapa bekas luka kecil akibat bertahun-tahun bekerja dengan banyak alat bengkel pabrikasi. "Selama ini saya selalu percaya selama dua tangan ini masih bisa bekerja, keluarga saya pasti baik-baik saja.Ternyata saya salah." Senyum Renk tipis, tapi terasa pahit. Darmawan tidak langsung menjawab, hanya memandang pemuda di hadapannya. Di balik pakaian kerja yang sederhana, ada seorang laki-laki yang masih berusaha mempertahankan harga dirinya meski masalah dan tekanan hidup sedang menghimpit dari segala arah. Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh dering pelan dari ponsel Reno. Nama Ravita muncul di layar. Reno langsung mengangkatnya. "Mas..." Suara Ravita bergetar hebat, dari ujung sambungan telepon. "Iya, Rav. Bagaimana ibu?" jawab Reno dengan perasaan yang tidak karuan. "Dokter bilang operasi jantung Ibu harus dilakukan secepatnya. Mereka minta administrasinya segera diselesaikan, minimal jaminan atau DP. Kalau terus ditunda... aku takut terjadi apa-apa." Tangan Reno perlahan mengepal. "Mas lagi cari jalan keluarnya." "Mas... tolong cepat ya. Ibu belum sadar dari tadi." Tangisan Ravita pecah. "Dokter bilang waktunya nggak banyak." "Iya, Rav. Tunggu sebentar." Sambungan telepon terputus. Reno masih memegang ponselnya, terdiam dengan tatapan kosong. Dia merasa benar-benar gagal menjadi laki-laki yang selama ini diandalkan keluarganya. Reno selalu yakin kerja keras akan menemukan jalannya, tapi hari ini... kerja kerasnya kalah oleh waktu. Darmawan akhirnya berdiri. "Saya tahu ini bukan pilihan yang mudah. Tapi saya juga tidak punya banyak waktu." Darmawan mengeluarkan selembar dokumen lain dari dalam map. "Kalau yang membuatmu ragu adalah harta keluarga saya, baca ini." Reno menerimanya. Matanya bergerak perlahan membaca setiap kalimat. Dokumen itu berisi pernyataan bahwa dirinya tidak memiliki hak sedikitpun atas seluruh aset keluarga Darmawan. Tidak berhak atas perusahaan, saham ataupun warisan. Jika suatu hari pernikahan itu berakhir, Reno juga tidak dapat menuntut apa pun selain kesepakatan yang dibuat hari ini. Reno menutup dokumen itu perlahan. "Jadi sejak awal Bapak memang tidak berniat menjadikan saya bagian dari keluarga ini kan." "Saya sedang mencari suami untuk putri saya." Darmawan menatap Reno tanpa berkedip. "Bukan pewaris harta saya." Ucapan Darmawan itu malah membuat Reno sedikit lebih tenang. Paling nggak sekarang Reno tahu, pria kaya itu tidak sedang menjebaknya. Reno kembali melihat wallpaper di ponselnya dengan wallpaper foto keluarganya dan tentu saja ada ibunya. Ibunya adalah wanita hebat yang selalu mengajarinya satu hal. "Jangan pernah mengambil hak orang lain, sekalipun hidupmu susah." Reno memejamkan mata. Dia tidak sedang mengambil hak siapa pun, tapi sedang berusaha untuk menyelamatkan ibunya. Perlahan Reno membuka mata kembali. Sorotnya masih sama, tetap teguh, tapi kali ini ada kelelahan yang tidak mampu lagi disembunyikan. Reno menatap Darmawan lurus. "Kalau saya menerima tawaran ini... saya melakukannya bukan karena uang Bapak." Darmawan mengangguk pelan. "Saya tahu." "Saya melakukan ini untuk ibu saya." "Dan saya akan menepati janji saya untuk keluargamu," balas Darmawan. Reno mengembuskan napas panjang. Kini merasa kalah oleh keadaan. Tapi jika memang harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan ibunya adalah mengorbankan jalan hidupnya sendiri, Reno rela. "Baiklah." Suara Reno terdengar pelan, tetapi mantap. "Saya... bersedia menikahi putri Bapak." Belum sempat Darmawan menjawab— Braaak!Setelah puluhan menit bergulat panas di atas tempat tidur first class, ditambah sensasi mendebarkan ketika pesawat beberapa kali terguncang karena menembus awan tebal di tengah malam, keduanya akhirnya terbaring lemas saling memeluk. Karena berada di dalam kabin pesawat, kali ini mereka tidak benar-benar polos tanpa sehelai benang pun seperti biasanya, pakaian mereka hanya ditanggalkan sebagian dan kini sudah dirapikan kembali.Viona menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno yang masih naik-turun mengatur napas, menyunggingkan senyum puas yang teramat sangat. Sentuhan dan keperkasaan Reno tak pernah gagal membuatnya melayang.Di tengah keheningan kabin yang hangat itu, Viona mendongak sedikit dan menatap suaminya."Ren... kalau bisa, kamu jangan bikin aku hamil dulu ya," letup Viona tiba-tiba dengan nada santai.Reno menaikkan sebelah alisnya, menatap Viona heran. "Lho, kok gitu?""Ya, aku masih mau menikmati kamu dan hubungan kita gini dulu, tanpa gangguan kehamilan," jawab Viona m
Reno tertawa kecil melihat reaksi spontan Viona yang mendadak cemberut di kursi kelas satu pesawat yang sedang melaju tenang menembus awan. Ia merengkuh bahu istrinya erat-erat, menarik tubuh Viona agar makin bersandar di dada bidangnya."Bukan gak boleh dandan sama sekali, Nona Cantik," goda Reno, menunduk untuk membelai pipi halus Viona yang masih ditekuk. "Kamu itu dandan tipis atau bahkan tanpa make up pun udah cantik banget dari lahir. Nanti kalau kamu dandan terlalu mencolok di kampung, yang ada orang-orang bukannya fokus sama urusan keluarga kita, tapi malah sibuk melotot mengagumi kecantikan istriku ini. Aku cuma gak mau kepemilikan aku dilirik pria-pria lain di sana."Mendengar ucapan manis yang dibungkus rasa cemburu posesif dari Reno, raut wajah Viona seketika melunak. Merah merona tipis menjalar di kedua pipinya. Ia menyunggingkan senyum manja, lalu mencubit pelan dada bidang Reno yang terbalut kaus tebal dan kemeja."Dasar Mas Mekanik posesif. Bisa aja ngelesnya," sahut V
Sementara itu, atmosfer kelam menyeruak di dalam ruang kerja Dandi. Pria itu terduduk lesu di balik meja kebesarannya, menatap tumpukan berkas pembatalan kerja sama dan surat tagihan utang yang kian menggunung. Di depannya, Mila tampak frustrasi sembari memijit pelipisnya yang berdenyut hebat.Perusahaan yang dibangun dan dipertahankan Dandi dengan segala cara kini berada di ambang kehancuran total. Kerugian finansial yang membengkak dalam hitungan minggu membuat keuangan mereka benar-benar sekarat. Tidak ada lagi investor yang mau mengulurkan tangan, dan jangankan untuk memulihkan bisnis, untuk membayar gaji karyawan bulan ini saja mereka sudah tidak sanggup lagi. Perusahaan itu dipastikan runtuh, tak bisa diselamatkan sama sekali.Dandi mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya memburu berat. Rasa bingung dan gelisah yang membakar dadanya perlahan berubah menjadi kecurigaan yang sangat besar."Nggak masuk akal," gumam Dandi dengan suara serak, matanya menatap kosong ke arah deretan d
Mendengar kalimat pamungkas yang keluar dari bibir manis istrinya, Reno hampir saja tersedak sisa jus jeruknya. Tantangan Viona benar-benar di luar dugaan dan makin berani.Viona menyunggingkan senyum miring yang begitu menggoda, matanya berkilat nakal menatap Reno yang sedang terpaku."Kenapa harus nunggu nanti malam?" tantang Viona santai, menopang dagunya sembari menatap Reno dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Siang ini kan bisa, Reno. Mumpung kita masih bebas berdua di kamar suite hotel ini. Mau aku mendesah dan berteriak sepuasnya sampai suaraku habis pun, gak bakalan ada orang yang denger atau terganggu."Sengatan panas seketika kembali membakar seluruh aliran darah Reno. Rasa malu dan canggung yang tadi sempat hinggap kini lenyap sepenuhnya, digantikan oleh gairah pria perkasa yang terprovokasi oleh keagresifan sang istri.Reno menghabiskan sisa makanannya dalam dua suapan besar, lalu menyapu bibirnya dengan serbet. Ia bangkit dari kursi, melangkah perlahan mengikis jarak di
Setelah panggilan telepon ditutup, Reno langsung mengembuskan napas panjang sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Sambil mulai menarik kursi dan mulai menyantap sarapan mereka yang sudah dingin di meja makan, sang mekanik tampan itu akhirnya melemparkan protes kecil pada istrinya."Vi, kamu kalau ngomong jangan blak-blakan banget kayak gitu, dong... Malu aku sama Pak Darmawan," ujar Reno dengan nada memelas, wajahnya masih menyisakan sisa-sisa rona merah karena salah tingkah. "Urusan ranjang kita dibahas sampai bawa-bawa kata ketagihan dan mengadon segala. Nanti Papa mikirnya aku yang ngajarin kamu ngomong begitu pula."Viona yang sedang mengunyah sepotong croissant dingin hanya tertawa renyah. Sama sekali tak ada rasa bersalah di wajah cantiknya. Dengan santai, ia meminum sedikit jus jeruknya lalu menatap Reno dengan binar mata yang hangat."Yaelah, Ren... enggak apa-apa kali. Lagian kan cuma sama Papa aja," balas Viona ringan. "Kamu harus tahu, Papa itu bakalan seneng dan bahagia
Di seberang telepon, suara Darmawan terdengar agak menggelegar, menunjukkan nada tidak sabar. "Kemana saja si Reno, Vi? Papa hubungi dari tadi nomornya aktif tapi tidak diangkat-angkat! Jadi pulang hari ini kalian?"Mendengar cecaran sang papa, Viona tidak bisa menahan rasa humor dan kebahagiaan yang sedang membuncah di dadanya. Tanpa beban dan dengan nada suara yang teramat riang, Viona langsung menjawab blak-blakan."Aduh Papa... pantesan gak denger, orang kita tadi baru aja main di kamar mandi," cerocos Viona santai sambil tertawa kecil, melirik ke arah Reno yang seketika melotot panik menatap istrinya karena kelewat jujur.Sementara itu, di tanah air, Pak Darmawan yang sedang duduk di balik meja kerja megahnya seketika membeku. Kebetulan di ruangan itu ada Rima, yang sedang berkunjung dan duduk di sofa. Karena suara Viona cukup nyaring dari pengeras suara ponsel, Rima ikut mendengar dengan jelas perkataan anak tirinya. Kedua orang tua itu saling bertatap muka, membelalakkan mata
Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar
Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama
Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m
Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa







