Share

Bab 2

Penulis: Trya Dhafi
last update Tanggal publikasi: 2026-06-04 13:27:20

Reno masih memandangi map di hadapannya beberapa saat sebelum akhirnya meraihnya. Entah kenapa, benda itu terasa jauh lebih berat daripada kelihatannya.

Perlahan Reno membuka map tersebut dan membacanya dengan cepat.

Semakin banyak lembar yang dibacanya, raut wajahnya berubah sedikit demi sedikit.

Di dalam map itu ada salinan tagihan rumah sakit ibunya, estimasi biaya operasi jantung, surat tunggakan pinjaman bank dan data rumah keluarganya yang terancam disita. Bahkan laporan medis ibunya tersusun rapi di dalam map itu.

Jemari Reno perlahan mengepal hingga memutih. Dadanya terasa panas karena semua luka yang sedang mati-matian ia tutupi, kini terbuka begitu saja di hadapan orang yang baru dikenalnya beberapa menit.

Perlahan Reno mengangkat kepala. "Bagaimana Bapak bisa mendapatkan semua ini?"

Suara Reno terdengar tenang, tapi sorot matanya berubah tajam.

Darmawan kini duduk dengan sikap tenang.

"Anak buah saya tadi sempat mendengar percakapan teleponmu di belakang hotel. Setelah itu mereka mencari informasi yang diperlukan."

Rahang Reno langsung mengeras. "Jadi Bapak menyelidiki saya?"

"Saya hanya memastikan orang yang saya pilih."

"Buat saya tetap sama." Reno menaruh map itu di atas meja. "Saya memang miskin dan lagi susah, Pak. Saya juga nggak malu mengakuinya. Tapi bukan berarti siapa pun bebas membuka masalah dan kehidupan keluarga saya tanpa izin."

Ruangan mendadak sunyi.

Beberapa pria bersetelan hitam yang berjaga di dekat pintu saling berpandangan, tetapi tidak ada yang berani bicara.

Reno kembali menatap Darmawan. "Saya datang ke hotel ini buat kerja. Bukan buat dikasihani."

Tatapan Darmawan tidak berubah. "Kalau tujuan saya mengasihanimu, saya cukup mentransfer uang tanpa perlu mengajakmu bicara."

"Justru itu yang saya heran." Reno menggeleng pelan. "Bapak bisa membantu banyak orang dengan uang sebanyak itu. Kenapa harus saya?"

"Karena saya membutuhkanmu," balas Darmawan dengan yakin.

"Bapak membutuhkan orang yang wajahnya mirip Axel," sahut Reno cepat. "Bukan membutuhkan saya."

Darmawan tersenyum tipis. "Kamu benar."

Reno terdiam mendengar jawaban itu.

"Tapi setelah berbicara denganmu, saya sadar saya tidak hanya membutuhkan wajahmu." Darmawan mencondongkan tubuh sedikit ke depan. "Saya membutuhkan prinsipmu."

Alis Reno berkerut. "Untuk apa?"

"Saya sudah bertemu banyak orang kaya dan banyak orang miskin. Orang miskin belum tentu jujur, orang kaya juga belum tentu bermoral." Tatapannya tidak lepas dari Reno. "Tapi sejak tadi kamu berkali-kali menolak uang yang sangat kamu butuhkan... Itu alasan saya masih duduk di sini berbicara denganmu."

Reno mengembuskan napas panjang. "Pak, kalau semua masalah bisa selesai dengan uang, saya nggak akan duduk di ruangan ini."

Reno menatap telapak tangannya sendiri yang kasar, ada beberapa bekas luka kecil akibat bertahun-tahun bekerja dengan banyak alat bengkel pabrikasi.

"Selama ini saya selalu percaya selama dua tangan ini masih bisa bekerja, keluarga saya pasti baik-baik saja.Ternyata saya salah."

Senyum Renk tipis, tapi terasa pahit.

Darmawan tidak langsung menjawab, hanya memandang pemuda di hadapannya.

Di balik pakaian kerja yang sederhana, ada seorang laki-laki yang masih berusaha mempertahankan harga dirinya meski masalah dan tekanan hidup sedang menghimpit dari segala arah.

Keheningan itu tiba-tiba pecah oleh dering pelan dari ponsel Reno.

Nama Ravita muncul di layar. Reno langsung mengangkatnya.

"Mas..." Suara Ravita bergetar hebat, dari ujung sambungan telepon.

"Iya, Rav. Bagaimana ibu?" jawab Reno dengan perasaan yang tidak karuan.

"Dokter bilang operasi jantung Ibu harus dilakukan secepatnya. Mereka minta administrasinya segera diselesaikan, minimal jaminan atau DP. Kalau terus ditunda... aku takut terjadi apa-apa."

Tangan Reno perlahan mengepal. "Mas lagi cari jalan keluarnya."

"Mas... tolong cepat ya. Ibu belum sadar dari tadi." Tangisan Ravita pecah. "Dokter bilang waktunya nggak banyak."

"Iya, Rav. Tunggu sebentar."

Sambungan telepon terputus.

Reno masih memegang ponselnya, terdiam dengan tatapan kosong. Dia merasa benar-benar gagal menjadi laki-laki yang selama ini diandalkan keluarganya.

Reno selalu yakin kerja keras akan menemukan jalannya, tapi hari ini... kerja kerasnya kalah oleh waktu.

Darmawan akhirnya berdiri. "Saya tahu ini bukan pilihan yang mudah. Tapi saya juga tidak punya banyak waktu."

Darmawan mengeluarkan selembar dokumen lain dari dalam map. "Kalau yang membuatmu ragu adalah harta keluarga saya, baca ini."

Reno menerimanya. Matanya bergerak perlahan membaca setiap kalimat.

Dokumen itu berisi pernyataan bahwa dirinya tidak memiliki hak sedikitpun atas seluruh aset keluarga Darmawan. Tidak berhak atas perusahaan, saham ataupun warisan.

Jika suatu hari pernikahan itu berakhir, Reno juga tidak dapat menuntut apa pun selain kesepakatan yang dibuat hari ini.

Reno menutup dokumen itu perlahan. "Jadi sejak awal Bapak memang tidak berniat menjadikan saya bagian dari keluarga ini kan."

"Saya sedang mencari suami untuk putri saya." Darmawan menatap Reno tanpa berkedip. "Bukan pewaris harta saya."

Ucapan Darmawan itu malah membuat Reno sedikit lebih tenang. Paling nggak sekarang Reno tahu, pria kaya itu tidak sedang menjebaknya.

Reno kembali melihat wallpaper di ponselnya dengan wallpaper foto keluarganya dan tentu saja ada ibunya.

Ibunya adalah wanita hebat yang selalu mengajarinya satu hal. "Jangan pernah mengambil hak orang lain, sekalipun hidupmu susah."

Reno memejamkan mata. Dia tidak sedang mengambil hak siapa pun, tapi sedang berusaha untuk menyelamatkan ibunya.

Perlahan Reno membuka mata kembali. Sorotnya masih sama, tetap teguh, tapi kali ini ada kelelahan yang tidak mampu lagi disembunyikan.

Reno menatap Darmawan lurus. "Kalau saya menerima tawaran ini... saya melakukannya bukan karena uang Bapak."

Darmawan mengangguk pelan. "Saya tahu."

"Saya melakukan ini untuk ibu saya."

"Dan saya akan menepati janji saya untuk keluargamu," balas Darmawan.

Reno mengembuskan napas panjang. Kini merasa kalah oleh keadaan.

Tapi jika memang harga yang harus dibayar untuk menyelamatkan ibunya adalah mengorbankan jalan hidupnya sendiri, Reno rela.

"Baiklah." Suara Reno terdengar pelan, tetapi mantap. "Saya... bersedia menikahi putri Bapak."

Belum sempat Darmawan menjawab—

Braaak!

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 193

    Mila terperanjat seketika. Jantungnya berdegup kencang, matanya menatap lembaran kertas di hadapan Dandi."Benarkah, Pa?!" seru Mila dengan suara bergetar, nyaris melengking karena tak kuasa menahan sabar. Tangannya langsung meremasi lengan suaminya. "Jangan bercanda, Pa. Kalau memang benar, siapa dia? Di mana anak kita sekarang? Papa harus cepat beri tahu aku."Antusiasme terpancar jelas di wajah Mila. Selama beberapa waktu terakhir, bayang-bayang tentang seperti apa anak kandungnya yang hilang selalu menghantui setiap jengkal ruang kosong di hatinya.Namun, di balik rasa penasarannya yang menggebu-gebu terhadap anak kandung yang baru saja menemukan titik terang itu, pikiran Mila tiba-tiba teringat pada Axel.Meskipun Dandi telah melarang keras dan menutup pintu bagi pemuda itu, naluri seorang ibu yang sudah membesarkan Axel tidak pernah bisa dibohongi sepenuhnya. Selama beberapa waktu terakhir, di belakang suaminya, Mila sering kali diam-diam mengirimkan pesan singkat atau mencoba m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 192

    Beberapa waktu kemudian, suasana ruang rapat utama di kantor pusat perusahaan milik Darmawa terasa begitu tegang. Di ujung meja panjang berukuran besar, Reno berdiri tegak dengan balutan jas rapi yang melekat sempurna di tubuhnya. Ia baru saja merampungkan presentasi proyek penting yang menentukan arah ekspansi perusahaan."Demikian pemaparan strategi ekspansi dan mitigasi risiko yang telah kami siapkan untuk kuartal ini," ucap Reno dengan suara tegas dan penuh percaya diri, menyapu pandangannya ke seluruh jajaran dewan direksi.Beberapa detik keheningan sempat menyelimuti ruangan sebelum akhirnya tepuk tangan riuh mulai menggema dari beberapa kepala divisi. Heru, yang duduk di barisan kursi pendamping, langsung mengembuskan napas panjang, melepaskan ketegangan yang sedari tadi merajai dadanya."Kerja bagus, Pak Reynald. Presentasi yang sangat komprehensif dan tajam," puji salah satu anggota dewan direksi sambil mengangguk-angguk puas.Reno tersenyum tipis seraya menundukkan kepala si

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 191

    Axel menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat. Nasi sudah menjadi bubur, dan dirinya sudah terlanjur basah melangkah ke dalam jurang ini. Tidak ada lagi jalan untuk memutar waktu. Dengan sisa-sisa kepasrahan yang menyesakkan dada, ia mengangguk pelan mengiyakan tawaran mutlak dari wanita di hadapannya itu.Namun, di tengah keheningan malam yang menyesakkan di dalam kamar mewah tersebut, pikiran Axel justru melayang liar. Ia kembali merutuki kebodohannya sendiri dengan penuh kepahitan. Bagaimana bisa ia sampai berada di titik terendah ini?Saat ia menatap wajah Amelia yang kini tersenyum penuh kemenangan di dekatnya, bayangan wajah seseorang justru tiba-tiba melintas terang di kepalanya, bukan Lani, tapi Viona. Axel merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia sangat menyesal. Kenapa dulu ia begitu bodoh menyia-nyiakan Viona demi ambisi dan kesombongannya. Dan kini, sebagai hukuman atas kebodohannya, ia malah terjebak melayani seorang wanita paruh baya seperti Amelia. Ironis sekal

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 190

    Viona mengerjap beberapa kali, namun alih-alih merasa salah tingkah lebih lama, bibirnya justru menyunggingkan senyuman penuh godaan. Sorot matanya berubah menjadi nakal, menantang suaminya yang tengah menatapnya lekat-lekat."Jadi gimana kelanjutannya? Kita sama-sama sudah melanggarnya," lanjut Reno, setengah bercanda, menunggu reaksi sang istri.Alih-alih panik, Viona justru mendengkus pelan lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Reno, menarik wajah suaminya itu mendekat."Tentu saja batal sudah, Sayang," bisik Viona tepat di dekat telinga Reno dengan nada menggoda. "Karena benar kata kamu, kita kan sudah sama-sama melanggarnya. Lagian... aku sekarang malah menyesal banget sudah bikin perjanjian konyol itu dulu."Reno mengangkat sebelah alisnya. "Menyesal kenapa?"Viona terkekeh kecil, sementara tangannya perlahan turun meraba dan menggenggam erat pusaka sang suami dengan penuh percaya diri. "Iya, aku malah kena karma instan, niatnya mau cari aman, eh sekarang aku malah ketagiha

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 189

    Axel menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari wanita hampir paruh baya di sampingnya, merasakan gengsinya menciut drastis di dalam kabin mobil yang dingin itu."Aku lagi butuh bantuan banget, Tante." suara Axel terdengar parau, jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan dulu. "Hidupku lagi di ambang kehancuran. Aku diusir dari rumah, nggak punya pegangan apa-apa lagi sekarang."Amelia melirik sekilas ke arah Axel, lalu kembali fokus menyetir dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibir merahnya. Ia sengaja membiarkan keheningan sejenak, menikmati momen di mana pemuda sombong itu kini terdengar begitu memelas di hadapannya."Diusir dari rumah? Wah, hebat banget omongan kamu, Xel," sahut Amelia dengan nada santai, setengah meremehkan. Ia lalu menepuk pelan paha Axel dengan sebelah tangannya, membuat pemuda itu sontak menegang. "Santai aja kali. Kamu kan tahu, Tante paling nggak tega kalau lihat cowok ganteng kayak kamu kesusahan. Tapi, bantuan Tante itu nggak gratis, tahu ka

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 188

    "Gimana, Kak? Hasilnya?" tanya Vera tanpa basa-basi.Viona yang duduk di sebelah suaminya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung dengan arah pertanyaan adiknya. "Hasil apa maksudmu, Ver?""Ya hasil PO keponakan aku lah," jawab Vera blak-blakan tanpa filter.Viona langsung mengerjap kaget, pipinya merona merah seketika mendengar ucapan blak-blakan adiknya itu. Tanpa beban, ia lantas menjawab, "Belum berhasil, tahu ih. Masih butuh usaha lagi, lagian kita santai aja. Malah kesempatan masih punya banyak waktu."Mendengar jawaban Viona, Rima yang sudah tahu dari tadi sore, ikut nyeletuk dengan nada menyindir. "Wah, kalau gitu berarti Reno-nya yang nggak tokcer dong?"Mendengar suaminya disentil seperti itu, Viona tidak tinggal diam. Ia langsung pasang badan membela sang suami tanpa rasa canggung di depan keluarga besar. "Eh, bukan nggak tokcer, Ma. Kita tuh masih menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Lagi pula, dapet kegiatan olahraga ranjang baru yang seru, masalah hamil mah urusan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 6

    Viona yang masih menarik pergelangan tangan Reno menuju dalam rumah, mendadak langkahnya berhenti saat mendengar pertanyaan itu. "Bagaimana dengan Axel? Apa kamu sudah dapat kabarnya lebih lanjut?" Tubuh Viona langsung menegang. Beberapa detik yang lalu dia masih sibuk mengomel soal acara keluar

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status