Share

Nona, Yakin Nggak Mau?
Nona, Yakin Nggak Mau?
Author: Trya Dhafi

Bab 1

Author: Trya Dhafi
last update publish date: 2026-06-04 13:26:14

"Nikahi putriku, dan sebagai gantinya biaya pengobatan ibumu serta seluruh utang keluargamu sebesar dua ratus juta rupiah akan saya lunasi."

Kalimat itu membuat Reno alias Reynald Notoharjo seolah kehilangan kemampuan berpikir.

Selama beberapa detik, Reno hanya berdiri mematung di tengah ruangan mewah yang terasa begitu asing baginya. Lantai marmer mengilap memantulkan cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Aroma parfum mahal bercampur dengan udara sejuk dari pendingin ruangan membuatnya semakin yakin bahwa dirinya tidak seharusnya berada di tempat itu.

Padahal kurang dari setengah jam yang lalu, dia masih berada di area parkir belakang Hotel Grand Mahardika dengan seragam bengkel berwarna navy yang sedikit kusut dan sepatu kerja yang masih menyisakan debu jalanan.

Kedatangannya ke hotel ini untuk mengantar suku cadang pendingin ruangan pesanan salah satu vendor. Setelah pekerjaannya selesai, rencananya langsung menuju stasiun untuk pulang ke kampung halamannya.

Sejak pagi, pikirannya dipenuhi kabar buruk yang membuat dadanya sesak. Ibunya mendadak terkena serangan jantung setelah mengetahui rumah sederhana yang menjadi satu-satunya harta keluarga mereka akan disita bank. Sertifikat rumah itu diam-diam digadaikan oleh kakak laki-laki Reno. Cicilannya menunggak selama beberapa bulan, sementara orang yang membuat masalah justru menghilang tanpa kabar.

Reno bahkan belum sempat memikirkan bagaimana biaya pengobatan ibunya yang tidak punya jaminan kesehatan. Tabungannya tidak cukup, sedangkan gajinya sebagai teknisi bengkel nyaris selalu habis untuk membantu kebutuhan keluarga.

Sebelum sempat meninggalkan hotel, dua pria bertubuh besar tiba-tiba menghampirinya dan meminta Reno ikut bersama mereka.

Tentu saja Reno menolak. Siapa yang tidak curiga ketika tiba-tiba diminta mengikuti dua orang asing tanpa penjelasan?

Sayangnya, kedua pria itu terus meyakinkannya bahwa ada urusan penting yang berkaitan dengannya. Bahkan ketika Reno tetap ingin pergi, mereka nyaris memaksanya hingga akhirnya ia dibawa ke ruangan ini.

Dan sekarang, seorang pria paruh baya yang wajahnya sering muncul di televisi baru saja mengucapkan kalimat paling tidak masuk akal yang pernah didengarnya.

Reno mengusap wajah perlahan. "Maaf, Pak. Saya rasa Bapak salah orang. Saya cuma teknisi bengkel yang datang ke sini buat nganter barang pesanan vendor. Jadi saya benar-benar nggak paham kenapa tiba-tiba dibawa ke sini dan ditawari hal seperti ini."

Pria paruh baya itu tidak langsung menjawab. Malah melihat wajah Reno, seperti sedang memastikan sesuatu.

"Bukan karena saya salah orang, tapi karena saya yakin kamu orang yang tepat," ujarnya tenang.

Reno mengembuskan napas panjang. Bukannya mendapat penjelasan, ia malah semakin bingung.

"Perkenalkan. Nama saya Darmawan, ayah dari mempelai wanita yang seharusnya menikah hari ini di ballroom hotel ini."

Mata Reno sedikit membesar. Nama itu jelas tidak asing baginya. Siapa yang tidak mengenal Darmawan? Salah satu pengusaha paling berpengaruh di negeri ini. Namanya hampir selalu muncul dalam berita bisnis dan ekonomi.

Kalau pria di hadapannya bukan orang yang sering muncul di televisi, Reno mungkin sudah menganggap semua ini hanya penipuan dan memaksa keluar sejak tadi. Sayangnya, beberapa pria bertubuh besar yang berjaga di dekat pintu membuat niat itu mustahil dilakukan.

Darmawan menarik napas pelan. "Hari ini seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi putri saya. Tapi calon suaminya menghilang."

Reno melihat retakan di balik ketenangan pria itu. Ada kekecewaan, kemarahan, sekaligus kepanikan yang berusaha disembunyikan.

"Undangan sudah disebar, ballroom sudah siap, tamu-tamu penting juga sudah datang," lanjut Darmawan dengan senyum tipis yang terasa pahit. "Semua persiapan sudah selesai. Tapi laki-laki itu memilih tidak datang dan menghilang tepat di hari pernikahannya."

Reno bisa membayangkan betapa kacaunya keadaan tersebut, tapi tetap tidak memahami apa hubungannya semua itu dengan dirinya.

"Maaf, Pak. Saya ikut prihatin, tapi saya masih nggak ngerti kenapa saya harus ada di sini."

Tanpa menjawab, Darmawan mengambil dua lembar foto dari atas meja lalu menyerahkannya kepada Reno.

"Kalau begitu... lihat ini."

Reno menerima kedua foto itu. Foto pertama memperlihatkan seorang pria muda mengenakan jas hitam yang rapi.

Pria dalam kedua foto itu sangat mirip dengannya.

Bukan kembar identik, tetapi cukup mirip hingga orang yang tidak mengenal mereka mungkin akan mengira mereka bersaudara. Bentuk wajah, garis rahang, alis, tinggi badan, bahkan warna kulit mereka hampir sama.

Reno memandangi kedua foto itu lebih lama. Semakin diperhatikan, semakin sulit baginya menyangkal kemiripan tersebut.

Bagaimana mungkin ada orang asing yang wajahnya begitu menyerupai dirinya?

"Namanya Axel," ujar Darmawan akhirnya. "Pria yang seharusnya menikahi putri saya hari ini."

Reno perlahan mengangkat pandangannya dari foto itu, sementara pertanyaan demi pertanyaan mulai memenuhi kepalanya.

"Lalu kenapa harus saya?" tanya Reno sambil masih menggenggam kedua foto itu. "Dan kenapa Bapak rela mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk meminta orang asing menikahi putri Bapak?"

Darmawan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Karena kamu mirip Axel."

Kebingungan Reno semakin bertambah.

Melihat ekspresi pemuda di hadapannya, Darmawan kembali melanjutkan, "Dengan persiapan yang tepat, sebagian besar tamu tidak akan menyadari perbedaannya. Selain itu, entah kenapa sejak pertama kali melihatmu, saya merasa kamu orang yang tepat untuk menggantikan laki-laki pengecut itu."

Reno kehilangan kata-kata.

Menggantikan seseorang dalam pekerjaan mungkin masih masuk akal, tapi menggantikan calon pengantin? Itu terdengar seperti kegilaan.

"Jadi Bapak ingin saya menjadi orang lain dan menggantikan calon pengantin pria yang kabur?" tanyanya sambil mengusap wajah yang belum sempat dicukur sejak pagi.

"Iya."

Jawaban Darmawan terdengar mantap tanpa sedikit pun keraguan.

Reno menggeleng pelan. "Pak, hidup saya sudah cukup rumit tanpa harus ikut masuk ke dalam masalah keluarga orang lain."

Darmawan tidak terlihat tersinggung. Ia justru menarik napas panjang sebelum berkata, "Kalau dia membatalkan pernikahan ini secara baik-baik, mungkin saya masih bisa menerimanya. Masalahnya, laki-laki pengecut itu memilih mempermalukan putri saya tepat di hari yang seharusnya menjadi hari paling penting dalam hidupnya."

Sorot matanya berubah tajam.

"Dia tidak hanya menyakiti putri saya, tetapi juga berusaha menghancurkan nama baik keluarga dan bisnis saya kalau pernikahan ini gagal."

Reno terdiam. Meski tidak mengenal siapa pun dalam keluarga itu, ia tetap bisa membayangkan bagaimana hancurnya perasaan seorang perempuan yang ditinggalkan tepat menjelang akad nikah.

Rasa iba mulai muncul di dalam hatinya. Tapi rasa iba saja tidak cukup untuk membuatnya menerima tawaran tersebut.

Pernikahan bukan sesuatu yang bisa dianggap main-main.

Bayangan ibunya yang sedang terbaring di rumah sakit kembali memenuhi pikirannya. Lalu angka dua ratus juta rupiah yang disebut Darmawan seolah berputar-putar di kepalanya.

Dengan uang sebanyak itu, biaya pengobatan ibunya bisa dibayar. Utang keluarga dapat dilunasi. Sertifikat rumah yang digadaikan kakaknya pun mungkin bisa ditebus kembali.

Tapi karena nilainya begitu besar, Reno semakin waspada. Tidak mungkin ada orang yang rela mengeluarkan uang sebanyak itu tanpa alasan.

Reno menatap Darmawan dengan sungguh-sungguh sebelum berkata, "Saya memang lagi butuh uang, Pak. Kalau saya bilang keluarga saya baik-baik saja, itu bohong. Ibu saya lagi dirawat di rumah sakit, rumah kami terancam disita, dan kakak saya menghilang setelah meninggalkan banyak utang. Jujur saja, uang dua ratus juta itu bisa menyelesaikan hampir semua masalah keluarga saya."

Reno menarik nafas panjang. "Tapi saya nggak mau menjadikan pernikahan sebagai alat tukar. Saya bahkan belum pernah melihat putri Bapak, belum meminta izin kepada keluarga saya, dan saya juga nggak mau mempermainkan sesuatu yang menurut saya sakral."

Darmawan tidak langsung menjawab, hanya menatap Reno cukup lama, seolah sedang menilai setiap kata yang baru saja diucapkan pemuda itu.

Alih-alih kecewa, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. "Jawabanmu membuat saya semakin yakin."

Reno mengernyit. "Maksud Bapak?"

"Kalau kamu langsung menerima tawaran saya tanpa berpikir panjang, justru saya akan menyuruhmu keluar dari ruangan ini," jawab Darmawan tenang. "Orang yang bersedia menjual pernikahan hanya demi uang bukan orang yang bisa saya percaya."

Reno terdiam.

"Tapi kamu berbeda. Kamu sangat membutuhkan uang, namun masih berusaha mempertahankan prinsipmu. Itu sebabnya saya yakin saya tidak salah memilih orang," lanjut Darmawan.

Reno tidak menyangka penolakannya malah menjadi alasan Darmawan semakin yakin terhadap dirinya.

"Lalu bagaimana dengan putri Bapak, apa kira-kira dia bersedia menikah dengan saya?"

"Itu urusan saya. Dia bersedia atau menolak, dia harus tetap menikah hari ini, dengan kamu."

Belum sempat Reno mengatakan apa pun, Darmawan mengangkat tangan memberi isyarat kepada salah seorang bawahannya.

Pria bersetelan jas yang sejak tadi menunggu di sudut ruangan segera melangkah mendekat sambil membawa sebuah map cokelat, lalu meletakkannya tepat di atas meja di hadapan Reno.

"Buka dan baca isinya."

Reno memandang map itu dengan dahi berkerut.

"Apa ini, Pak?"

"Baca dulu. Setelah itu, baru putuskan apakah kamu masih ingin menolak... atau menerima tawaran saya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 191

    Axel menelan ludah kelat, tenggorokannya terasa tercekat. Nasi sudah menjadi bubur, dan dirinya sudah terlanjur basah melangkah ke dalam jurang ini. Tidak ada lagi jalan untuk memutar waktu. Dengan sisa-sisa kepasrahan yang menyesakkan dada, ia mengangguk pelan mengiyakan tawaran mutlak dari wanita di hadapannya itu.Namun, di tengah keheningan malam yang menyesakkan di dalam kamar mewah tersebut, pikiran Axel justru melayang liar. Ia kembali merutuki kebodohannya sendiri dengan penuh kepahitan. Bagaimana bisa ia sampai berada di titik terendah ini?Saat ia menatap wajah Amelia yang kini tersenyum penuh kemenangan di dekatnya, bayangan wajah seseorang justru tiba-tiba melintas terang di kepalanya, bukan Lani, tapi Viona. Axel merasakan dadanya sesak dan sakit. Ia sangat menyesal. Kenapa dulu ia begitu bodoh menyia-nyiakan Viona demi ambisi dan kesombongannya. Dan kini, sebagai hukuman atas kebodohannya, ia malah terjebak melayani seorang wanita paruh baya seperti Amelia. Ironis sekal

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 190

    Viona mengerjap beberapa kali, namun alih-alih merasa salah tingkah lebih lama, bibirnya justru menyunggingkan senyuman penuh godaan. Sorot matanya berubah menjadi nakal, menantang suaminya yang tengah menatapnya lekat-lekat."Jadi gimana kelanjutannya? Kita sama-sama sudah melanggarnya," lanjut Reno, setengah bercanda, menunggu reaksi sang istri.Alih-alih panik, Viona justru mendengkus pelan lalu melingkarkan kedua tangannya di leher Reno, menarik wajah suaminya itu mendekat."Tentu saja batal sudah, Sayang," bisik Viona tepat di dekat telinga Reno dengan nada menggoda. "Karena benar kata kamu, kita kan sudah sama-sama melanggarnya. Lagian... aku sekarang malah menyesal banget sudah bikin perjanjian konyol itu dulu."Reno mengangkat sebelah alisnya. "Menyesal kenapa?"Viona terkekeh kecil, sementara tangannya perlahan turun meraba dan menggenggam erat pusaka sang suami dengan penuh percaya diri. "Iya, aku malah kena karma instan, niatnya mau cari aman, eh sekarang aku malah ketagiha

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 189

    Axel menunduk, menghindari tatapan menyelidik dari wanita hampir paruh baya di sampingnya, merasakan gengsinya menciut drastis di dalam kabin mobil yang dingin itu."Aku lagi butuh bantuan banget, Tante." suara Axel terdengar parau, jauh dari kesan arogan yang biasa ditunjukkan dulu. "Hidupku lagi di ambang kehancuran. Aku diusir dari rumah, nggak punya pegangan apa-apa lagi sekarang."Amelia melirik sekilas ke arah Axel, lalu kembali fokus menyetir dengan senyuman tipis yang masih menghiasi bibir merahnya. Ia sengaja membiarkan keheningan sejenak, menikmati momen di mana pemuda sombong itu kini terdengar begitu memelas di hadapannya."Diusir dari rumah? Wah, hebat banget omongan kamu, Xel," sahut Amelia dengan nada santai, setengah meremehkan. Ia lalu menepuk pelan paha Axel dengan sebelah tangannya, membuat pemuda itu sontak menegang. "Santai aja kali. Kamu kan tahu, Tante paling nggak tega kalau lihat cowok ganteng kayak kamu kesusahan. Tapi, bantuan Tante itu nggak gratis, tahu ka

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 188

    "Gimana, Kak? Hasilnya?" tanya Vera tanpa basa-basi.Viona yang duduk di sebelah suaminya mengangkat sebelah alisnya, tampak bingung dengan arah pertanyaan adiknya. "Hasil apa maksudmu, Ver?""Ya hasil PO keponakan aku lah," jawab Vera blak-blakan tanpa filter.Viona langsung mengerjap kaget, pipinya merona merah seketika mendengar ucapan blak-blakan adiknya itu. Tanpa beban, ia lantas menjawab, "Belum berhasil, tahu ih. Masih butuh usaha lagi, lagian kita santai aja. Malah kesempatan masih punya banyak waktu."Mendengar jawaban Viona, Rima yang sudah tahu dari tadi sore, ikut nyeletuk dengan nada menyindir. "Wah, kalau gitu berarti Reno-nya yang nggak tokcer dong?"Mendengar suaminya disentil seperti itu, Viona tidak tinggal diam. Ia langsung pasang badan membela sang suami tanpa rasa canggung di depan keluarga besar. "Eh, bukan nggak tokcer, Ma. Kita tuh masih menikmati masa-masa jadi pengantin baru. Lagi pula, dapet kegiatan olahraga ranjang baru yang seru, masalah hamil mah urusan

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 187

    Axel menarik napas dalam-dalam, menatap layar ponselnya di ruangan remang-remang itu. Dengan jari-jari yang sedikit ragu, ia mulai mengetik sebuah pesan pendek kepada wanita paruh baya tersebut.[Halo, Tante Amel. Selamat malam. Apa kabar?]Begitu tombol kirim ditekan, Axel memejamkan mata sejenak, bersiap menunggu balasan yang mungkin akan lama atau bahkan diabaikan seperti orang-orang sebelumnya.Namun dugaannya meleset jauh. Hanya berselang beberapa detik saja, status di bawah nama kontak berubah menjadi online, dan tanda dua centang langsung berubah warna. Tidak butuh waktu satu menit bagi ponsel di genggaman Axel untuk bergetar saat balasan masuk dengan sangat antusias.[Malam juga, ganteng. Wah, nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba banget Axel nge-chat Tante. Kangen ya sama Tante? Ada apa nih tumben banget menyapa dan tanya kabar?]Melihat balasan yang begitu cepat dan penuh semangat itu, Axel menelan ludah kasarnya. Ia tahu betul apa arti antusiasme di balik pesan terseb

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 186

    Di bawah langit senja kota yang mulai menggelap, langkah kaki Axel terasa begitu berat dan gontai. Sisa-sisa amarah dan rasa malunya di gedung Darmawan telah menguap, menyisakan kehampaan di hatinya. Tanpa arah tujuan yang pasti, ia akhirnya memutuskan untuk mencari tempat tinggal sementara yang paling realistis dengan kondisi keuangannya saat ini, untung saja dia bisa cepat mendapatkan sebuah kamar kos-kosan yang jauh dari kemewahan biasa ia nikmati, bukan apartemen ataupun kos mewah.Berbekal sebuah kartu ATM pemberian diam-diam dari Mila, yang masih merasa iba di saat pengusiran, isinya lumayan untuk bisa bertahan hidup.Axel merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur busa tipis yang bahkan seumur hidupnya belum pernah tidur di kasur busa seperti itu.Di dalam ruangan sempit berukuran tiga kali empat meter yang pengap dan hanya diterangi lampu neon, penyesalan besar akhirnya menghantam dada Axel tanpa ampun. Ia memegang erat kartu ATM itu sambil menggertakkan giginya, merutuki k

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 5

    Keesokan paginya, Reno terbangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya, atau lebih tepatnya dibanding Viona yang masih berada di dalam kamar utama. Meski semalaman tidur di sofa ruang keluarga, tidurnya justru cukup nyenyak. Sofa itu bahkan jauh lebih empuk daripada kasur tipis yang selama

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 4

    Brakk! Suara itu begitu keras hingga membuat mata Reno langsung terbuka sempurna. Beberapa detik kemudian suara benda pecah lainnya kembali terdengar, disusul tangisan yang terdengar putus asa dan nyaris histeris. Prang! Reno segera bangkit dari sofa. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika m

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 3

    Hari yang terasa seperti mimpi buruk itu akhirnya selesai juga. Pernikahan terlaksana. Resepsi berjalan tanpa hambatan berarti. Para tamu penting yang hadir sama sekali tidak mengetahui kekacauan besar yang terjadi beberapa jam sebelumnya. Di mata mereka, semuanya terlihat sempurna. Pengantin wa

  • Nona, Yakin Nggak Mau?   Bab 2

    Brakk! Pintu ruang rias VIP itu terbuka begitu keras hingga semua orang yang ada di dalam ruangan langsung menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita muda, cantik berdiri di ambang pintu dengan napas sedikit memburu. Gaun pengantin putih yang dikenakannya tampak sempurna. Riasan wajahnya juga je

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status