Share

Bab 2

Penulis: Asai
Sekar tidak menjawab. Dia hanya berkata kepada kusir, “Bawa aku ke Kantor Pengadilan Ibu Kota.”

“Kantor Pengadilan Ibu Kota?” Noah mengernyit. “Untuk apa kamu pergi ke sana?”

Sekar tidak menjawab. Dia hanya menatap Noah dengan mata kosong.

Renata yang berada di samping segera melangkah maju dan membujuk dengan lembut, “Pangeran, Kakak Sekar baru saja keluar. Mungkin ada urusan penting yang harus diselesaikannya. Gimana kalau ... turuti saja keinginannya?”

Noah memandang Sekar yang tetap diam dan keras kepala, lalu menekan rasa penasaran serta ketidaksenangan di dalam hatinya. “Baiklah, aku akan menemanimu.”

Sepanjang perjalanan, suasana di dalam kereta begitu sunyi hingga terasa menyesakkan.

Noah ingin mengatakan sesuatu, tetapi melihat Sekar yang memejamkan mata untuk beristirahat, dia tidak tahu harus memulai dari mana.

Dia menyuruh seseorang mengambilkan selimut untuk Sekar, lalu menuangkan air hangat dan menyodorkannya ke bibir Sekar. Namun, Sekar bahkan tidak membuka mata. Dia hanya sedikit memalingkan kepala untuk menghindari Noah.

Dahulu, dia tidak seperti ini.

Jika terluka sedikit saja, bahkan hanya lecet kecil, Sekar akan berlari menghampirinya, mengangkat tangannya untuk diperlihatkan, lalu merengek manja, “Noah, sakit sekali. Tiupkan, dong.”

Saat itu, Noah merasa terganggu dan menganggapnya terlalu manja.

Namun sekarang, telapak kakinya nyaris hangus terbakar, tetapi dia tidak mengeluh sepatah kata pun.

Rasa tidak nyaman di hati Noah semakin kuat, seolah ada sesuatu yang menyumbat dadanya hingga membuatnya sulit bernapas.

Sesampainya di Kantor Pengadilan Ibu Kota, Noah turun lebih dulu dari kereta. Dia mengulurkan tangan, hendak membantu Sekar turun, tetapi perempuan itu sudah lebih dulu berpegangan pada sisi kereta dan turun sendiri.

“Aku akan masuk bersamamu,” kata Noah. Dia juga ingin tahu apa sebenarnya yang hendak dilakukan Sekar.

Tepat saat itu, Renata yang mengikuti mereka dari belakang tiba-tiba mengerang pelan.

“Renata!” Wajah Noah seketika berubah. Dia segera berbalik dan menopang Renata. “Ada apa? Dadamu sakit lagi?”

“Pangeran, aku nggak apa-apa. Penyakit lamaku kambuh.” Renata bersandar ke dalam pelukannya, napasnya lemah. “Pangeran temani saja Kak Sekar masuk. Aku ... aku istirahat sebentar saja sudah cukup.”

Noah memandang Renata yang tampak kesakitan dalam pelukannya, lalu menoleh ke arah Sekar yang sudah berbalik dan berjalan menuju kantor pengadilan. Kemudian, dia mengatupkan gigi.

“Sekar, penyakit lama Renata kambuh. Aku harus antar dia pulang dulu untuk diperiksa oleh tabib istana. Masuklah dan selesaikan urusanmu. Setelah selesai, minta orang di sini untuk antar kamu pulang, ya?”

Dia mengira Sekar akan langsung mempermasalahkannya, bahkan mungkin marah besar di tempat, seperti biasanya.

Dulu, Sekar paling tidak suka melihatnya bersama Renata. Setiap kali melihatnya berbicara dengan Renata, Sekar selalu berlari menghampiri dengan wajah cemberut sambil bertolak pinggang, lalu berkata, “Noah, kamu nggak boleh meliriknya.”

Namun kali ini, Sekar hanya menoleh kepadanya dan mengangguk dengan tenang.

“Baiklah.”

Noah memandangi punggung Sekar yang menghilang di balik pintu. Perasaan aneh itu kembali memenuhi hatinya, seolah ada sesuatu yang perlahan menjauh darinya, tetapi tak bisa dia raih.

“Pangeran ....” Renata kembali memanggilnya. Suaranya terdengar semakin lemah.

Noah pun mengalihkan pandangannya, lalu membantu Renata naik ke kereta. “Ayo, kita temui tabib istana.”

Di dalam Kantor Pengadilan Ibu Kota ....

Juru tulis utama memandangi perempuan di hadapannya dengan heran. Pakaiannya compang-camping, kedua kakinya berlumuran darah hingga dagingnya hancur, tetapi wajahnya justru tetap tenang. “Nyonya ... ada urusan apa?”

Sekar mengangkat pandangan. Suaranya terdengar jelas. “Aku ingin mengajukan perceraian.”

“Perceraian?” Juru tulis utama itu semakin terkejut. “Apa suamimu sudah menulis surat persetujuan perceraian?”

“Belum.”

“Begini,” juru tulis itu tampak ragu sejenak. “Menurut hukum yang berlaku, kalau seorang istri mau mengajukan perceraian, suaminya harus menyetujuinya dan memberikan surat persetujuan perceraian. Kalau sang suami menolak, tapi istrinya tetap bersikeras mau bercerai ... dia harus terima hukuman tujuh puluh dua pasak kayu yang ditancapkan ke tubuhnya. Itu adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Nyonya, sebaiknya Anda pikirkan baik-baik.”

Tujuh puluh dua pasak kayu?

Memang sangat menyakitkan.

Namun, sesakit apa pun, apakah rasa sakit itu bisa melebihi siksaan yang diterimanya hari demi hari di penjara kekaisaran? Bisakah rasa sakitnya melampaui penderitaan saat berjalan tanpa alas kaki di atas bara sepanjang lima kilometer yang baru saja dilaluinya?

Selama bertahun-tahun, satu-satunya pikiran yang menopangnya untuk tetap hidup adalah meninggalkan Noah.

Meninggalkannya sepenuhnya, untuk selamanya.

“Aku sudah pikirkan baik-baik. Catat saja. Aku akan datang pada akhir bulan untuk menjalani hukuman.”

Juru tulis utama itu menghela napas. Pada akhirnya, dia tetap mencatat nama Sekar dan tanggalnya ke dalam buku catatannya.

Setelah meninggalkan kantor pengadilan ibu kota, Sekar berjalan seorang diri di jalanan yang ramai.

Sudah lima tahun berlalu. Ibu kota ini seakan banyak berubah, tetapi seakan tak ada yang berubah sama sekali.

Saat melewati sebuah persimpangan, Sekar melihat seorang gadis ceria mengenakan gaun kuning pucat sedang mengejar seorang pemuda berjubah biru dengan wajah dingin. Gadis itu terus mengoceh tanpa henti.

“Hei! Jangan jalan cepat-cepat! Aku tahu sekarang kamu belum menyukaiku, tapi nggak apa-apa. Aku punya seumur hidup untuk membuatmu menyukaiku!”

Pipi gadis itu merona karena berlari dan kegirangan. Matanya berbinar, dipenuhi semangat hidup.

Persis seperti ... dirinya dulu.

Sekar menghentikan langkahnya dan terdiam menatap mereka. Kenangan masa lalu seketika membanjiri pikirannya, datang tanpa bisa dibendung.

Dia adalah putri tunggal Jenderal Besar Adiasta Damar. Sejak kecil, dia dimanjakan dan disayang seperti permata, hingga tumbuh menjadi gadis yang ceria, bebas, dan tak takut pada apa pun. Berkuda, memanah, memainkan pedang, tombak, maupun tongkat, semuanya dikuasainya. Dia adalah permata paling bersinar dari keluarga para jenderal di ibu kota.

Saat berusia lima belas tahun, dalam sebuah perburuan yang diadakan beberapa tahun lalu, untuk pertama kalinya dia bertemu Noah.

Saat itu, Noah mengenakan pakaian hitam dan duduk di atas kudanya. Sosoknya di tengah kerumunan tampak dingin dan menyendiri, bagaikan sosok yang turun dari kahyangan. Hanya dengan sekali pandang, Sekar pun jatuh hati.

Sejak saat itu, seluruh hidupnya berputar di sekeliling Noah.

Mendengar bahwa Noah menyukai buku-buku langka, dia mencarinya ke seluruh penjuru ibu kota. Begitu tahu Noah gemar bermain catur, dia pun berlatih keras. Pernah suatu kali Noah memuji camilan dari salah satu toko di sebelah barat kota. Sekar bahkan rela berkeliling hingga ke separuh kota hanya untuk membelinya, lalu membawanya sendiri ke kediamannya.

Seluruh ibu kota tahu bahwa putri kesayangan Jenderal Besar Adiasta mengejar Pangeran Penjaga Utara dengan begitu terang-terangan, tanpa memedulikan pandangan orang lain.

Namun, Noah selalu bersikap dingin dan menjaga jarak darinya.

Hingga suatu hari, Noah tiba-tiba datang menemuinya dan mengatakan bahwa dia ingin menikahinya.

Sekar begitu gembira hingga nyaris tak percaya. Dia mengira, setelah bertahun-tahun, kegigihannya akhirnya berhasil meluluhkan hati Noah.

Pernikahan mereka berlangsung begitu megah. Mas kawinnya membentang sepanjang lima kilometer, sementara Sekar mengenakan mahkota pengantin dan jubah merah. Setelah itu, dia pun menjadi nyonya di Kediaman Pangeran Penjaga Utara.

Pada malam pertama pernikahan mereka, Noah bahkan tidak menyentuhnya.

Sekar mengira Noah memang hanya bersikap dingin. Tidak masalah, pikirnya. Dia masih punya seumur hidup untuk meluluhkan hati pria itu.

Namun, belakangan dia baru mengetahui kebenarannya secara tidak sengaja.

Ternyata, semua itu berkaitan dengan Renata, teman masa kecil Noah yang juga merupakan sepupunya dan selama ini tinggal di Kediaman Pangeran. Renata pernah terjatuh dari kuda hingga kakinya terluka. Menurut tabib istana, hanya satu jenis obat langka bernama Ginseng Tulang Salju yang bisa digunakan sebagai bahan obat untuk menyembuhkannya.

Ginseng Tulang Salju adalah pusaka warisan Keluarga Adiasta. Benda itu hanya diwariskan kepada keturunan langsung dan tidak pernah diberikan kepada orang luar.

Ayah Sekar sangat menyayanginya. Oleh karena itu, dia mengajukan satu syarat. Noah harus menikahi Sekar secara resmi dan menjadikannya Istri Pangeran. Jika tidak, Ginseng Tulang Salju itu tidak akan diberikan.

Demi menyembuhkan kaki Renata, Noah akhirnya menikahinya.

Dia tidak lebih dari alat yang digunakan Noah untuk mendapatkan bahan obat itu.

Malam ketika mengetahui kebenarannya, Sekar menangis semalaman di kamar pengantin mereka.

Namun setelah menghapus air matanya, dia tetap tersenyum dan pergi menemui Noah.

'Tidak apa-apa,' pikirnya. Selama dia memperlakukan Noah dengan baik, suatu hari nanti pria itu pasti akan melihat ketulusan hatinya.

Setelah menikah, sikap Noah terhadapnya tetap dingin. Pria itu bahkan mengabaikannya seolah dia tidak ada. Meski begitu, Sekar tetap berusaha menjalankan perannya sebagai Istri Pangeran dengan baik. Dia mengurus kediaman pangeran dan berbakti kepada ibu Noah, meskipun pria itu tidak pernah menghargainya.

Hingga suatu hari, luka lama ayahnya kambuh dan kondisinya semakin kritis.

Sekar mengutus seseorang untuk memanggil Noah. Dia berharap Noah bisa datang dan menemui ayahnya untuk terakhir kalinya, tetapi dia tidak datang.

Belakangan, Sekar baru mengetahui alasan Noah tidak datang hari itu. Kereta Renata kehilangan kendali di jalan dan tanpa sengaja menabrak hingga menewaskan Pangeran Keenam, yang diam-diam menyelinap keluar dari istana untuk bermain.

Setelah itu, demi melindungi Renata, Noah bahkan menggunakan kekuasaannya untuk menjebak Sekar. Kebetulan, saat kejadian, Sekar memang berada di sekitar tempat itu.

[Sekar dikenal pencemburu. Karena tidak terima Pangeran menyayangi sepupunya, dia sengaja mencelakai Pangeran Keenam yang dekat dengan Pangeran.]

Dengan selembar surat tuduhan, Sekar tak mampu membela diri.

Ayahnya sedang terbaring sakit mendengar kabar itu. Amarah dan kepedihan yang memenuhi dadanya membuatnya muntah darah hingga akhirnya meninggal dunia.

Sementara Sekar dijebloskan ke Penjara Kekaisaran yang gelap tanpa cahaya dan dikurung di sana selama lima tahun.

Lima tahun siksaan telah menghapus segala sifat keras dan keberaniannya, seluruh semangat hidupnya, bahkan seluruh cintanya kepada Noah.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status