Share

Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari
Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari
Author: Asai

Bab 1

Author: Asai
Orang-orang yang berkerumun menyaksikan dari kejauhan sontak menarik napas.

Itu adalah arang yang dibakar hingga merah menyala. Jangankan sepanjang lima kilometer, bahkan sepuluh langkah saja sudah cukup untuk membuat kedua kaki seseorang terbakar hingga kulit dan dagingnya mengelupas.

Tangan Noah yang menggenggam tali kekang tiba-tiba mengencang. Wajahnya seketika berubah dan segera melompat turun dari kudanya. “Hentikan ....”

“Pangeran Noah!” Suara seorang perempuan yang lembut dan terdengar mendesak, menyela perkataannya.

Tirai sebuah kereta kuda mewah yang berhenti di samping tersibak. Renata Hannan turun dengan anggun, dibantu oleh seorang pelayan perempuan.

Dia berjalan cepat menghampiri Noah, lalu dengan lembut menarik lengan bajunya. “Pangeran, jangan gegabah! Selir Anna sedang dalam keadaan marah. Jika Pangeran bersikeras menghentikannya, aku khawatir hal itu justru akan semakin membuatnya murka dan kelak makin mempersulit Kak Sekar.”

“Lagipula, Kak Sekar sejak dulu memang berwatak tegas dan ceria. Selama ini, cuma dia yang bikin orang lain rugi. Kapan dia pernah membiarkan dirinya dirugikan? Dia pasti punya cara untuk mengatasinya. Jika Pangeran turun tangan sekarang, justru keadaan bisa jadi lebih buruk.”

Gerakan Noah terhenti.

Benar juga. Sekar ... dia tidak pernah menjadi seseorang yang bisa diperlakukan sesuka hati.

Dia adalah putri dari keluarga jenderal, ceria dan berani, tak tertandingi dalam berkuda dan memanah. Sifatnya bahkan lebih keras daripada kebanyakan pria.

Dahulu, siapa pun yang berani menindasnya sedikit saja, pasti akan dibalasnya sepuluh kali lipat.

Arang membara sebanyak ini ... mungkinkah dia benar-benar punya cara untuk mengatasinya?

Noah ragu. Dia memandang Sekar, berharap perempuan itu akan kembali seperti dulu. Mengangkat dagunya, lalu memperlihatkan senyum yang cemerlang seperti mentari, tetapi juga menyimpan sedikit kelicikan, lalu berkata kepadanya, “Noah, lihat baik-baik. Trik sekecil ini nggak akan bisa mengalahkanku!”

Namun, tidak.

Sekar hanya menundukkan kepala dan menatap hamparan arang yang membara merah itu cukup lama.

Kemudian, dia mengangkat kaki dan menginjaknya.

Ces.

Suara kulit dan daging yang terbakar terdengar, diikuti bau hangus yang seketika menyebar ke udara.

Mata Noah menyusut tajam.

Namun, gadis ceria yang dahulu menunggang kuda dengan gagah dan mengenakan pakaian merah menyala bak api itu, seolah tidak merasakan apa pun. Selangkah demi selangkah, Sekar berjalan tanpa alas kaki di atas arang yang membara merah. Kulit dan daging di telapak kakinya dengan cepat menghitam, terkelupas, lalu terlepas, memperlihatkan daging merah di bawahnya, yang seketika kembali hangus akibat panas.

Darah terus mengalir sepanjang jalan. Tubuh Sekar gemetar dan wajahnya pucat pasi, tetapi dia mengatupkan giginya erat-erat tanpa mengeluarkan sepatah suara pun.

Noah menatap sosok kurus yang tertatih-tatih di tengah hamparan arang membara itu. Jantungnya terasa seperti dicengkeram erat oleh tangan tak kasatmata, semakin lama semakin kuat hingga ia nyaris kehabisan napas.

Rasa panik dan nyeri yang tak mampu dijelaskan itu semakin lama semakin kuat.

Tidak ... seharusnya tidak seperti ini.

Bagaimana mungkin Sekar menanggung semua ini dengan begitu tenang? Seharusnya dia melawan, memaki, dan menatap mereka dengan sepasang mata yang selalu menyala penuh amarah itu ....

Kenapa?

Kenapa dia berubah menjadi seperti ini?

Akhirnya, hamparan arang membara sepanjang lima kilometer itu pun mencapai ujungnya.

Kaki Sekar sudah hancur hingga darah dan dagingnya tak lagi jelas. Tubuhnya terhuyung, lalu condong ke depan, tampak akan jatuh.

“Sekar!”

Noah akhirnya tersadar. Dia segera menerjang ke depan dan menopang Sekar yang hampir terjatuh, lalu menariknya ke dalam pelukannya.

Begitu tubuh Sekar jatuh ke dalam pelukannya, Noah langsung merasakan betapa ringannya tubuh itu. Tulang-tulangnya yang menonjol bahkan terasa jelas di tangannya. Sekar seringan sehelai bulu dan seluruh tubuhnya sedingin es. Hanya kedua kakinya yang masih membara, panasnya begitu menyengat hingga membuat Noah panik.

“Kamu ....” Suaranya bergetar. “Bukankah kamu punya ilmu bela diri? Kenapa nggak menggunakan tenaga dalammu? Kenapa kamu tetap berjalan?!”

Sekar perlahan mengangkat kepala dan menatapnya. Tatapannya setenang permukaan air yang tak terusik.

“Hukuman pertama yang kuterima di penjara kekaisaran adalah tulang selangkaku ditembus.” Suaranya serak dan datar, nyaris tanpa emosi. “Ilmu bela diriku sudah lama musnah.”

Seluruh tubuh Noah tersentak, seolah tersambar petir. Dia berdiri kaku di tempat.

Kedua tulang selangkanya telah ditembus hingga ilmu bela dirinya musnah.

Bagi seorang ahli bela diri, itu adalah salah satu hukuman paling menyakitkan, bahkan lebih menyiksa daripada kematian.

“Jelas-jelas aku sudah minta orang di Penjara Kekaisaran untuk menjagamu. Kenapa kamu sampai menerima hukuman sekejam ini?” Tenggorokan Noah terasa tercekat hingga dia nyaris tak mampu menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa kamu nggak kirim seseorang untuk mencariku? Kenapa kamu nggak beri tahu aku?!”

“Mencarimu?”

Sekar tertawa kecil. Senyumnya kosong dan getir, dipenuhi ejekan yang tak berkesudahan.

Di dalam Penjara Kekaisaran yang gelap tanpa cahaya matahari, entah berapa banyak siksaan yang diterimanya, berapa kali dia meneriakkan ketidakbersalahannya, dan berapa banyak surat yang ditulisnya dengan darah sendiri untuk disampaikan kepadanya.

Dia memohon agar pria itu membebaskannya. Memohon agar, demi lima tahun hubungan mereka sebagai suami istri, dia tidak membiarkan Sekar menanggung kesalahan orang lain.

Namun, bagaimana dengannya? Dia bahkan tidak pernah muncul sekali pun.

Harapan demi harapan berakhir menjadi keputusasaan. Hingga pada akhirnya, bahkan keputusasaan itu pun tak lagi mampu membuatnya merasakan apa-apa.

Tatapan Sekar yang begitu tenang justru membuat Noah merasa takut. Untuk pertama kalinya, rasa takut yang asing mencengkeram hatinya.

Dia segera menjelaskan, “Saat kamu dipenjara, kebetulan Ayahanda mengutusku ke wilayah Patra untuk mengawasi urusan garam. Tempatnya jauh, kabar pun sulit sampai. Jadi, mungkin pesanmu nggak sampai kepadaku tepat waktu.”

“Sudahlah, kita nggak usah bicarakan ini lagi. Aku akan membawamu pulang dulu dan meminta tabib istana mengobatimu. Mulai sekarang aku nggak akan membiarkanmu menderita lagi.”

Dia hendak mengangkat Sekar ke atas kereta, tetapi perempuan itu perlahan melepaskan tangannya. Dia berpegangan pada badan kereta dan berdiri sendiri hingga tubuhnya kembali tegak.

“Aku nggak mau kembali ke Kediaman Pangeran.”

Noah tertegun. “Nggak mau kembali? Lalu kamu mau pergi ke mana?”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status