Share

Bab 3

Author: Asai
“Nona? Nona? Kamu nggak apa-apa?” Sebuah suara penuh perhatian menarik Sekar kembali dari lamunannya.

Seorang kakek penjual gulali sedang menatapnya dengan khawatir.

Sekar menggelengkan kepala. Dia membayar satu gulali yang dia beli. Tetapi, dia hanya menggenggamnya tanpa memakannya.

Dia sudah lama lupa seperti apa rasanya manis.

Sekar berjalan pulang selangkah demi selangkah menuju Kediaman Pangeran Penjaga Utara, meski kedua kakinya masih terasa sangat sakit.

Kediaman itu masih semegah dulu, dengan gerbang merah dan tembok tinggi. Penjaga di depan pintu tertegun cukup lama saat melihatnya, sebelum akhirnya buru-buru memberi hormat. “Nyonya Sekar ....”

Sekar tidak menjawab dan langsung melangkah masuk.

Para pelayan di kediaman itu tampak terkejut saat melihatnya. Mereka saling berbisik, sementara tatapan yang tertuju padanya dipenuhi simpati dan rasa iba. Namun, lebih dari itu, ada sikap dingin dari orang-orang yang hanya ingin menyaksikan keramaian.

Sekar berjalan menuju halaman utama, Paviliun Angsana. Dahulu, tempat itu merupakan kediaman utamanya sebagai Istri Pangeran Penjaga Utara.

Begitu pintu ruangan utama dibuka, Sekar mendapati bahwa suasana di dalam sudah banyak berubah. Renata sedang duduk di kursi rendah yang empuk dekat jendela sambil menyulam. Mendengar suara pintu, dia mengangkat kepala dan sedikit kepanikan melintas di wajahnya.

“Kakak Sekar, kamu sudah pulang ....”

Noah juga berada di dalam ruangan. Dia duduk di meja sambil membaca dokumen. Mendengar suara itu, dia pun menoleh dan raut wajahnya sedikit berubah.

Renata buru-buru menjelaskan, “Kakak, jangan salah paham. Selama bertahun-tahun ini, kesehatanku memang kurang baik. Tabib istana bilang Paviliun Angsana mendapat sinar matahari paling banyak dan paling baik untuk pemulihan. Karena merasa kasihan kepadaku, Pangeran mengizinkanku tinggal sementara di sini. Aku akan segera minta pelayan bereskan barang-barangku dan pindah kembali ke paviliun tamu.”

Sambil berkata demikian, Renata hendak memberi perintah kepada pelayan perempuannya.

“Nggak perlu.” Sekar akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, nyaris tanpa emosi. “Kalau kamu suka, tinggallah di sini. Aku tinggal di Paviliun Samping saja.”

Setelah berkata demikian, Sekar tidak lagi memandang siapa pun. Dia berbalik dan menyeret kedua kakinya yang masih berlumuran darah, lalu berjalan selangkah demi selangkah keluar dari Paviliun Angsana.

Noah memandangi punggungnya yang menghilang di balik gerbang paviliun. Jari-jarinya yang memegang dokumen sedikit mengerat.

Sekar bahkan tidak menanyainya satu kata pun. Dia tidak menangis atau membuat keributan. Tidak seperti dulu, ketika dia menatap Noah dengan mata memerah dan bertanya “kenapa?”

Ketenangan seperti itu justru membuat Noah lebih gelisah daripada keributan apa pun.

Hingga waktu makan malam tiba, barulah Sekar dipanggil ke aula utama.

Meja makan dipenuhi berbagai hidangan lezat. Sebagian besar adalah masakan ringan yang disukai Renata. Noah duduk di tempat utama, sementara Renata duduk dengan patuh di sebelah kanannya.

Sekar memilih duduk di sisi kiri, sejauh mungkin dari Noah, lalu diam-diam mengambil sumpit.

Noah meliriknya. Jarang-jarang, dia berinisiatif mengambil sepotong ikan kakap kukus dan meletakkannya ke dalam mangkuk Sekar.

“Makanlah lebih banyak. Kamu ... jauh lebih kurus.”

Sekar menatap potongan ikan berwarna putih di dalam mangkuknya dan terdiam sejenak.

Renata menyukai ikan, terutama ikan kukus. Sementara Sekar, sejak kecil memiliki alergi ringan terhadap ikan. Setiap kali memakannya, kulitnya akan dipenuhi ruam merah.

Saat baru menikah dan tinggal di Kediaman Pangeran, Sekar sudah memberi tahu bagian dapur tentang hal itu. Dia juga pernah menyebutkannya kepada Noah sekali.

Namun, Noah melupakannya.

Mungkin, dia memang tidak pernah menganggapnya penting.

Sekar mengambil sumpit, menjepit potongan ikan itu, lalu perlahan memasukkannya ke dalam mulut. Dia mengunyahnya dan menelannya.

Semua dilakukan dengan tenang, seolah dia hanya sedang memakan hidangan biasa.

Melihat Sekar memakannya, rasa gelisah yang entah kenapa muncul di hati Noah sedikit mereda. Dia kembali menyendokkan semangkuk sup untuknya.

Sekar juga meminumnya.

Makan malam itu berlangsung dalam suasana yang aneh dan sunyi.

Hingga wajah dan leher Sekar mulai memerah secara tidak wajar dan napasnya pun mulai tersengal.

Renata yang pertama menyadarinya berseru kaget, “Kakak, wajahmu ....”

Noah mengangkat kepala. Pipi dan leher Sekar telah dipenuhi ruam merah. Dia memegangi dadanya, wajahnya pucat, sementara keringat dingin mulai membasahi dahinya. Tak lama kemudian, tubuh Sekar melemas dan dia pingsan di kursinya.

“Sekar!” Wajah Noah langsung berubah. Noah segera bangkit dan menghampirinya, lalu mengangkat tubuh Sekar dalam gendongannya. “Panggil tabib istana!”

...

Saat Sekar sadar, dia mendapati dirinya terbaring di ranjang sederhana di Paviliun Samping.

Noah berjaga di sisi ranjang. Begitu melihat Sekar sadar, dia terlihat jelas menghela napas lega. Namun, sesaat kemudian mengernyit.

“Kamu sudah sadar? Masih merasa nggak enak?” tanyanya dengan nada penuh perhatian. Namun, kalimat berikutnya justru berubah menjadi teguran. “Tabib istana bilang kamu kena alergi karena makan sesuatu yang nggak cocok untukmu! Kamu jelas tahu nggak boleh makan ikan, kenapa masih memakannya? Kamu sampai dipenuhi ruam dan pingsan begini. Apa kamu sengaja cari mati?!”

Sekar perlahan menoleh. Melihat kemarahan dan kekhawatiran yang begitu jelas di wajah Noah, dia tiba-tiba merasa semua ini sangat lucu.

“Aku takut,” katanya. Suaranya masih sedikit serak akibat alergi.

“Takut apa?” Noah tidak mengerti.

Sekar menatapnya, lalu berkata dengan jelas dan tenang, kata demi kata, “Aku takut kalau aku bilang sesuatu yang nggak sesuai dengan keinginanmu, kamu akan kembali menimpakan tuduhan apa pun kepadaku.”

“Lalu mengurungku lagi selama lima tahun.”

Seluruh tubuh Noah tersentak hebat, seolah baru saja dihantam pukulan keras. Seketika, wajahnya pucat pasi.

Noah membuka mulut, seolah ingin mengatakan sesuatu. Namun, tenggorokannya terasa tercekat hingga tak satu kata pun keluar.

Setelah sekian lama, barulah dia kembali menemukan suaranya. Suaranya terdengar kering dan berat. “Aku sudah pernah bilang ... waktu itu aku nggak punya pilihan. Renata tubuhnya lemah. Kalau sampai masuk ke penjara kekaisaran, dia pasti nggak akan selamat. Sedangkan kamu, dari kecil sudah berlatih bela diri. Tubuhmu lebih kuat darinya.”

“Aku juga sudah bilang, setelah kamu keluar, kita anggap semua yang terjadi di masa lalu sudah selesai. Aku akan memperlakukanmu dengan baik, menebus kesalahanku, dan juga ... mencoba mencintaimu.”

Mencoba mencintainya?

Bertahun-tahun Sekar mengejarnya. Bertahun-tahun pula dia mencintai Noah dan menyerahkan seluruh ketulusan hatinya. Namun, pada akhirnya, yang dia dapatkan hanyalah alasan bahwa Noah tidak punya pilihan dan lima tahun menjalani siksaan kejam.

Sekarang, demi Renata, Noah justru berkata seolah sedang bermurah hati. Dia akan menebus kesalahannya dan mencoba mencintai Sekar.

Namun, hati Sekar sudah benar-benar mati dalam siksaan yang dijalaninya hari demi hari di penjara kekaisaran.

Cinta yang datang terlambat ini ... tak lagi dia inginkan.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status