Share

Bab 7

Penulis: Asai
Saat kembali terbangun, rasa dingin, lembap, dan bau darah yang sudah tidak asing lagi menyelimutinya.

Ini adalah Biro Hukum Istana.

“Sudah bangun?” Seorang sipir penjara berwajah sangar berjalan mendekat sambil membawa besi cap yang telah dipanaskan hingga merah membara. “Nona Muda sudah memberi perintah. Selama tiga hari ke depan, kami akan mengurusmu dengan baik. Nyonya Sekar, maafkan kami!”

Setelah itu, besi cap, cambukan, siaraman air garam, bahkan tusukan jarum ....

Siksaan-siksaan yang sudah tidak asing lagi itu kembali dijatuhkan satu per satu ke tubuhnya yang telah dipenuhi luka.

Para sipir itu sudah mendapat perintah khusus dari Renata. Mereka bertindak dengan sangat terukur, membuat Sekar menderita hebat tanpa membiarkannya mati begitu saja.

Tiga hari. Setiap detiknya terasa sepanjang satu abad.

Sekar mengatupkan giginya. Dia tidak memohon belas kasihan ataupun menangis dan berteriak. Dia hanya menatap kosong ke langit-langit ruang penyiksaan, ke dinding batu yang terus merembeskan air.

'Noah.'

'Inikah hukuman yang kamu berikan?'

'Inikah caramu mencoba mencintaiku?'

Pada sore hari ketiga, Sekar yang tubuhnya penuh luka dan nyaris tak bernyawa dilempar begitu saja seperti sampah di depan pintu Paviliun Samping Kediaman Pangeran.

Dia merangkak masuk ke paviliun sedikit demi sedikit dengan sisa tenaga terakhir, menggunakan tangannya yang penuh luka.

Suara langkah kaki terdengar begitu dia baru saja melewati ambang pintu.

Noah berjalan masuk dan melihat Sekar yang tergeletak di lantai, tubuhnya berlumuran darah dan hampir tidak lagi menyerupai manusia.

“Sekar?! Bukankah kamu cuma menyalin aturan kerajaan selama tiga hari? Kenapa kamu sampai jadi seperti ini?”

Tangannya menyentuh lengan Sekar. Sekar langsung menepis tangannya seolah-olah baru saja digigit ular berbisa.

Gerakan itu menarik lukanya hingga dia tersentak kesakitan dan menarik napas. Keringat dingin terus membasahi dahinya.

Tangan Noah membeku. Wajahnya berubah muram. “Sekar, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Aku suamimu! Kalau ada masalah, kamu bisa bilang kepadaku!”

Suami?

Sekar terbaring di lantai. Setelah cukup lama mengumpulkan tenaga, dia perlahan mengangkat kepala dan menatap Noah.

Sepasang mata yang dulu begitu cerah itu kini hanya menyisakan kelelahan dan kehampaan yang tak berujung.

“Baiklah.” Suaranya serak dan parau. “Aku akan beritahu.”

“Renata menyuap kusir dan mengirimku ke Biro Hukum Istana.”

“Aku disiksa selama tiga hari di sana.”

Setiap kata seolah dipaksakan keluar dari tenggorokannya, bercampur dengan buih darah.

Noah sempat tertegun, tetapi wajahnya segera dipenuhi ketidakpercayaan. “Biro Hukum Istana? Renata? Nggak mungkin! Renata itu berhati baik, bahkan semut pun nggak tega dia injak. Bagaimana mungkin dia melakukan hal seperti itu? Pasti kamu lagi-lagi ....”

“Lagi-lagi menuduhnya?” Sekar menyelesaikan kalimatnya.

Sekar menatap wajah Noah yang jelas-jelas tidak memercayainya, lalu tertawa lirih. Tawanya perlahan semakin keras, sementara air mata mengalir dari sudut matanya, bercampur dengan darah yang mengotori wajahnya.

Sebenarnya apa yang dia harapkan?

Noah memandang Sekar yang tertawa sambil menangis. Rasa sesak di dadanya kembali muncul, menusuk tanpa alasan yang jelas dan membuatnya merasa semakin tidak nyaman.

“Sudahlah.” Nada suaranya melunak. “Bagaimanapun, dalam masalah ini ... kamulah yang lebih dulu bersalah. Kalau kamu merasa hukuman yang kuberikan kepadamu nggak adil, begini saja. Besok aku libur. Aku akan membawamu keluar kota untuk jalan-jalan. Bukankah dulu kamu selalu bilang mau pergi ke Pegunungan Barat untuk melihat daun bintang jingga? Sekarang memang belum waktunya daun-daun itu berubah warna, tapi pemandangan di sana juga cukup indah.”

Dia mengira, apa yang dilakukannya itu sudah merupakan bentuk kelonggaran dan kemurahan hati yang besar.

Sekar berhenti tertawa. Dia mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata dan menatap Noah.

“Nggak perlu. Kalau kamu benar-benar merasa bersalah, kembalikan pelat pelindung dada yang pernah kuberikan kepadamu.”

Jantung Noah tiba-tiba berdebar kencang.

Pelat pelindung dada itu adalah hadiah ulang tahun yang pernah diberikan Sekar kepadanya. Saat itu, Sekar berkata bahwa di medan perang, bahaya bisa datang dari mana saja. Oleh karena itu, dia harus selalu mengenakannya agar tetap selamat.

Saat itu, Noah tidak terlalu memedulikannya dan menerimanya begitu saja. Namun, saat mengalami percobaan pembunuhan beberapa waktu kemudian, pelat pelindung dada itu benar-benar menyelamatkan nyawanya. Sejak saat itu, dia selalu mengenakannya.

Mulai dari kantong wewangian hingga pelat pelindung dada. Kenapa sejak kembali, Sekar terus meminta kembali satu per satu semua benda yang pernah diberikannya kepada Noah?

Tenggorokan Noah terasa tercekat. “Kenapa kamu terus meminta kembali benda-benda lama itu? Kalau kamu marah, aku bisa ....”

“Berikan kepadaku.” Sekar hanya mengulanginya. Suaranya terdengar lelah, tetapi sikapnya yang tetap teguh.

Noah menatapnya, melihat jelas bahwa Sekar tidak akan menyerah begitu saja. Perasaan aneh dan kegelisahan di dalam hatinya semakin kuat.

Dia tidak ingin memberikannya.

Namun, melihat Sekar yang berlumuran darah, pada akhirnya Noah tetap melepaskan pelat pelindung dada yang selalu dikenakannya, lalu meletakkannya di tangan Sekar.

Sekar menggenggamnya erat, lalu berbalik dan pergi.

“Sekar!” Noah memanggilnya. “Kita ... bisakah kita bicara baik-baik?”

Sekar tidak menoleh. Dia hanya berkata, “Noah, di antara kita, sudah tak ada lagi yang perlu dibicarakan.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 21

    Noah mendadak berusaha bangkit untuk duduk, tetapi gerakannya menarik tulang yang patah. Rasa sakit yang hebat membuatnya mengerang tertahan sebelum tubuhnya kembali terhempas ke atas ranjang. Keringat dingin pun seketika membasahi dahinya.“Pangeran! Luka Anda parah, Anda tak boleh bergerak!” Pengawal rahasia itu buru-buru maju hendak menahannya.“Pergi!” Mata Noah memerah. Entah dari mana datangnya kekuatan, dia bahkan berhasil menepis pengawal rahasia itu dengan sekali kibasan tangan. Noah berusaha menyeret tubuhnya dari ranjang sambil menarik kaki yang patah. Namun, tubuhnya justru terjatuh dan terguling ke lantai dalam keadaan mengenaskan. Lukanya kembali terbuka, darah pun dengan cepat merembes membasahi perban.Noah berusaha menopang tubuhnya dengan kedua siku, lalu merangkak perlahan menuju pintu. Rasa sakit seolah sudah tidak lagi dipedulikannya.Noah harus pergi mencarinya. Dia harus menemukan Sekar! Sekar tidak boleh pergi. Dia tidak boleh meninggalkannya begitu saja!Pengaw

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 20

    “Noah!”Sekar terhuyung akibat dorongan kuat itu, lalu jatuh di atas batu yang aman. Lutut dan sikunya lecet, terasa perih menyengat.Di bawah tebing, kabut tebal menyelimuti jurang hingga dasarnya tak terlihat.Sekar sempat mengira Noah sudah hancur berkeping-keping di dasar jurang. Namun, tak lama kemudian, terdengar bunyi dahan patah dari bawah sana, disusul erangan tertahan.Dia menajamkan pandangan. Noah ternyata tidak langsung jatuh ke dasar jurang. Tubuhnya tersangkut pada sebatang pohon kering yang menjulur dari sisi tebing.Namun, pohon itu jelas tidak sanggup menahan benturan dan berat tubuh Noah. Batangnya berderak seperti tak sanggup membawa beban, sementara akarnya mulai terlepas dari tebing. Tubuh Noah tergantung di udara. Punggung dan lengannya terluka akibat terbentur bebatuan tajam, darah mengalir dari luka-luka itu.Dia masih hidup. Namun, keadaannya sangat genting. Sewaktu-waktu, dia bisa jatuh ke dasar jurang.Satria juga bergegas ke tepi tebing. Melihat keadaan itu

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 19

    Satria tetap tenang, sikapnya tidak rendah hati maupun sombong.“Nama saya Satria, hanya seorang tabib pengembara. Yang saya tahu, Nona Sekar yang sedang memulihkan diri di sini adalah seorang wanita yang lajang. Jika Anda masih terus mengganggunya dan mengusik ketenangan pasien, jangan salahkan saya jika saya bersikap kasar.”Ujung jarinya berkilat dingin, beberapa jarum perak masih terselip di antara jemarinya.“Kak Satria.”Sekar tiba-tiba mengulurkan tangan dan menarik lembut ujung lengan baju Satria.Itu adalah sebuah sikap yang menunjukkan kepercayaan dan ketergantungan sepenuhnya.Bahkan dia tidak lagi menoleh kepada Noah, seolah pria itu hanyalah polusi yang tidak perlu diperhatikan.“Kita masuk saja.” Suaranya lembut, tetapi terdengar jelas di telinga Noah, “Tak perlu memedulikan orang yang nggak penting.”Orang yang tidak penting.Empat kata sederhana itu terasa ringan, tetapi bagi Noah, kata-kata tersebut seperti belati beracun yang menghujam tepat ke jantungnya, lalu diputa

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 18

    “Tidak! Aku tidak pernah menyetujuinya! Itu tidak sah!” Noah buru-buru memotong ucapannya. Suaranya meninggi karena emosi dengan kepanikan yang tak lagi mampu disembunyikannya. “Sekar, aku tahu aku salah! Sekarang aku sudah tahu semuanya! Aku tahu semua yang dilakukan Renata, kejadian di penjara bawah tanah, apa yang terjadi di tebing itu .... Aku bodoh! Aku buta! Aku yang telah berbuat salah kepadamu! Maafkan aku, ya? Kita mulai lagi dari awal. Mulai sekarang aku hanya akan memperlakukanmu dengan baik, hanya mempercayaimu, hanya mencintaimu seorang ....”Ucapannya begitu kacau dan tidak beraturan. Dia menumpahkan seluruh penyesalan, penderitaan, dan kerinduan yang telah menghantuinya selama berhari-hari tanpa sedikit pun menyembunyikannya. Seolah berusaha meraih harapan terakhir yang masih bisa menyelamatkannya.Sekar sedikit mengernyit.Namun bukan karena hatinya tergerak.Melainkan karena merasa terganggu.Ketika melihat tangan pria itu terulur dan hendak meraih lengannya, tubuh Sek

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   BAB 17

    Usianya kira-kira 25 atau 26 tahun. Tubuhnya tegap, tetapi pembawaannya lembut dengan raut wajahnya yang tampak bersih dan teduh, seperti mata air jernih di pegunungan dan angin sejuk di tengah hutan.Di tangannya terdapat sebuah mangkuk keramik kasar yang dari dalamnya mengepul uap hangat.Dia adalah Satria Gunendra.Dia berjalan ke sisi kursi rotan, lalu langsung berjongkok di sana secara alami. Dia meletakkan mangkuk obat di atas meja kecil di sampingnya. Gerakannya sangat lembut untuk menopang kaki Sekar yang terluka dan perlahan membuka kain bersih yang membalutnya.Jantung Noah seketika mencelos, napasnya mendadak memburu.Telapak kaki itu masih memperlihatkan daging baru berwarna merah muda yang tampak mengerikan, serta bekas luka berwarna gelap. Namun, jelas sekali kondisinya sudah jauh lebih baik karena dirawat dengan cermat. Itu sama sekali tidak seperti gambaran yang diceritakan para pelancong di kedai teh sebagai kaki yang “membusuk hingga tidak ada bagian yang masih utuh”.

  • Nyanyian Seruling Mengalun di Siang Hari   Bab 16

    Plak!Suara tamparan yang nyaring tiba-tiba terdengar di kedai teh.Beberapa pelancong yang sedang mengobrol terkejut dan menoleh. Pria yang sejak tadi hanya diam mendengarkan percakapan mereka, meski tampak letih dan lusuh tetap tak mampu menyembunyikan wibawa bangsawannya, ternyata baru saja menampar dirinya sendiri dengan keras. Begitu kuat tamparan itu hingga darah langsung merembes dari sudut bibirnya.Namun, Noah seakan tak merasakannya. Tatapannya hanya terpaku pada api tungku yang berkelap-kelip, dipenuhi rasa sakit dan penyesalan yang begitu besar hingga nyaris menghancurkannya.Malam itu, di tengah daerah terpencil, angin dingin menusuk hingga ke tulang.Noah duduk seorang diri di samping api unggun. Cahaya api menerangi matanya yang dipenuhi urat merah serta janggut yang tumbuh berantakan di dagunya.Dia mengeluarkan sebuah bungkusan kain kecil dari balik pakaiannya. Tersimpan sisa abu dari kotak besi itu bersama serpihan kantong wewangian yang hangus terbakar di dalamnya.U

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status