MasukHai pembacaku tercinta. Terima kasih sudah membaca sejauh ini. Kemarin othor sudah kasi bonus seminggu penuh ya. Mulai besok jadwal update akan kembali seperti semula. Othor akan pulihkan badan dulu karena lagi mual-mual sambil lalu nabung bab. Entar kalau buku ini naik lagi, othor kasi bonus lagi, oke? Jangan lupa saweran gem sama koinnya biar buku ini naik terus. Sertakan juga komen yang baik-baik. See you... Jadwal update rutin: Senin-kamis> 3 bab Jumat-Minggu> 2 bab
Aku dan Axel terperanjat kaget, spontan menoleh secara bersamaan ke arah ambang pintu."Oh, sorry! Gue ngganggu ritual kemesraan kalian, ya?" seru Kak Rayan tampak serba salah dan tersenyum canggung.Aku refleks bergegas turun dari pangkuan Axel, berdiri kaku seperti anak kecil yang tertangkap basah berbuat jahat. "Kak... eh, nggak, kok!"Axel justru tersenyum lebar. Raut wajahnya terlihat sangat santai mendapati kehadiran sahabatnya yang tiba-tiba menginterupsi kemesraan kami—sangat kontras dengan sikapnya kemarin yang meledak-ledak diselimuti kecemburuan."Bro... masuklah," pinta Axel ramah.Tepat sebelum Kak Rayan melangkahkan kakinya masuk, sosok Hani tiba-tiba menyusul dari balik punggungnya. Perempuan itu langsung menggandeng lengan Kak Rayan dengan mesra."Kayla!!" teriak Hani histeris dengan wajah berseri-seri penuh bahagia.Wah... ada angin apa ini? Aku mengamati raut wajah mereka berdua yang tampak berbinar terang. Sungguh berbeda 180 derajat dari ketegangan yang terj
"Astaga, Axel... ternyata ini benar-benar surat penahanan mereka!" Aku berseru histeris, tidak dapat menyembunyikan luapan kebahagiaan di hadapan suamiku. "Xel... akhirnya perjuangan dan usaha gue nggak sia-sia!"Axel mengulas senyum lebar yang lega seraya menggenggam erat kedua tanganku dengan telapak tangan yang agak berkeringat."Saya mewakili manajemen memohon maaf yang sebesar-besarnya karena sempat lalai menjaga keselamatan Axel," ucap sang manajer dengan intonasi sarat penyesalan. "Sebagai bentuk tanggung jawab penuh, izinkan klub membiayai seluruh proses pengobatan dan fisioterapi Axel hingga pulih total, serta merujuknya ke rumah sakit spesialis terbaik di luar negeri."Aku dan Axel saling bertatapan cukup lama, sebelum akhirnya suara suamiku memecah keheningan."Kayla... gue sangat ingin sembuh. Gue mau... saat anak kita lahir nanti, gue sudah bisa berdiri tegak, menggendongnya, dan membawanya berlari bermain bersama.""Lo pasti bisa melewati semua ini dan pulih kembali
"Kalian tidak tahu kalau pasien sedang hamil?" tanya sang dokter yang ikut terkejut mendapati respons mereka.Mama dan Axel sama-sama menggeleng kaku sebelum akhirnya serentak menoleh menatapku."Kamu hamil, Kayla?!" tanya Mama menuntut kejelasan dengan nada suara meninggi kaget."Kay... kok lo nggak ngasi tahu gue?!" tambah Axel tak kalah panik.Aku spontan menggeleng pelan dengan raut polos. "Kayla juga nggak tahu sama sekali, Ma... Kayla nggak merasakan gejala apa-apa."Sang dokter tersenyum lebar seraya membenamkan kedua tangannya ke dalam saku jas dokternya. "Usia kehamilannya sudah menginjak enam minggu. Sangat wajar jika kamu tidak menyadarinya saat terlambat datang bulan."Apa iya, ya? Belakangan ini aku memang sama sekali tidak mengingat siklus menstruasiku karena terlalu sibuk mengurus pekerjaan dan syok menghadapi musibah Axel. Pantas saja perutku sering merasa mual dan tak nyaman belakangan ini. Kukira itu cuma penyakit asam lambung biasa."Setelah cairan infus ini
"Xel, gue sama Kak Rayan bergerak bersama itu murni demi lo!" Aku berusaha menyentuh pundaknya untuk mengikis rasa curiganya.Namun, dengan gerakan cepat Axel menepis tanganku kasar. "Demi gue?! Apa yang sudah kalian lakukan bersama di belakang gue?!""Gue..."Kalimatku terjeda, berusaha sekuat tenaga menahan diri agar tidak membeberkan aksi nekatku membalas dendam pada Miko di kampus. Dokter psikolog sudah mewanti-wanti agar aku berhati-hati dalam bertutur kata. Jika Axel sampai tahu bahwa lumpuhnya kaki kanan yang ia alami adalah buah dari dendam Miko padaku, rasa bersalah dan amarahnya pasti akan makin meledak tak terkendali."Xel... yang pasti, gue nggak pernah melakukan hal buruk apa pun di belakang lo. Percayalah... gue cuma mencintai lo."Axel mengulas senyum tipis yang getir seraya membuang muka. Aku menyaksikan sendiri genangan air mata yang membasahi pelupuk matanya."Lo bertahan mencintai gue cuma karena kasihan, kan?" bisiknya dengan suara bergetar pilu.Aku mengg
Aku segera menghampiri Axel dan berlutut di depan kursi rodanya. "Iya, Xel... Tadi kami dari kampus, dan Kak Rayan bilang mau menjenguk untuk melihat kondisi lo.""Bagaimana keadaan lo sekarang, Xel?" tanya Kak Rayan hangat dan ramah dari belakangku.Namun, di luar dugaan, Axel justru menyambut sapaan itu dengan tatapan mata yang amat dingin dan menusuk. "Lo datang dan bertanya seperti itu cuma untuk memastikan kalau gue benar-benar sudah cacat, kan?!"Dahiku seketika mengernyit dalam, spontan berbalik menatap Kak Rayan yang terpaku kaget."Xel... kok omongan lo melenceng begitu, sih?" bisikku heran.Axel mengabaikan bisikanku. Dengan gerakan kasar, jemarinya menarik paksa jaket kulit Kak Rayan dari pundakku, lalu melemparkannya begitu saja ke lantai menuju arah Kak Rayan."Xel!" teriakku kaget, spontan menoleh ke arah Kak Rayan dengan panik.Sorot mata Axel kini tertuju tajam pada pundakku yang terekspos akibat robekan kemeja. "Ada apa dengan baju lo?""Tadi ada insiden kecil
"Ngg-nggak usah, Kak," ucapku cepat-cepat seraya hendak melepas jaket kulit itu dari pundakku.Namun, Kak Rayan menahannya dan memegang bahuku lembut. "Kayla, tolong dengarkan aku. Kamu itu perempuan. Jika Axel ada di posisi ini dan melihat bajumu robek, dia juga pasti nggak akan pernah membiarkan bahumu menjadi tontonan orang lain."Aku menunduk tak berdaya. Aku tahu niat Kak Rayan sangat baik dan murni ingin melindungiku. Tapi jika Axel tahu, dia pasti akan merasa cemburu dan tidak menyukai perhatian seperti ini.Aku melirik canggung ke arah Hani. rasa tidak enak makin membuncah di dalam dada. "Tapi, Kak..."Kak Rayan spontan berpaling menatap Hani yang berdiri kaku di belakangnya. Mereka sempat bertukar pandang dalam momen yang canggung dan menyiksa, sebelum akhirnya Hani mendadak melangkah mendekati kami. Dengan gerakan cepat, Hani merapikan kembali posisi jaket Kak Rayan agar menutup rapat pundakku."Pakai saja, Kay. Kak Rayan sudah berniat baik menggantikan peran Axel untuk







