LOGIN"Maaf, Pak. Tadi saya cuma berniat mengelap debunya," ucapku cepat sembari berpura-pura sibuk merapikan rak buku di belakang meja kerjanya.
Aku mendengar langkah kaki Axel bergerak mendekat, membuat kakiku secara refleks bergeser menjauh.Tolong... jangan sampai Axel mendekat dan melihat wajah asliku tanpa masker!Aku melirik sedikit dari balik kibasan kain lap lembut yang sengaja kugunakan menutupi wajah. Axel tampak mengangkat bingkai foto kami, lalu menatap gambaDari balik bahu tegap James, mataku mencuri pandang ke arah tikungan dinding koridor. Di sana, Inez tampak menyunggingkan senyum lebar sarat pendar kemenangan sebelum akhirnya memutar tumitnya dan melangkah pergi menjauh.Rupanya wanita iblis itu benar-benar hanya ingin mengonfirmasi sejauh mana perangkapnya berhasil menjeratku, batinku dingin.Bersamaan dengan melenyapnya sosok Inez, James yang tersentak kaget akibat pelukan mendadakku langsung memegang kedua bahuku, mendorong tubuhku menjauh dengan alis berkerut dalam."Kayla, apa yang kamu lakukan?!" sergahnya bingung.Aku menyunggingkan senyum tipis, menyapu halus bagian depan mantelku. "Maaf... aku hanya turut prihatin mendengar masa lalumu yang kelam."Tanpa menunggu tanggapannya, aku berbalik melangkah pergi, puas karena berhasil menuntaskan sandiwara di depan Inez. Namun, baru dua pijakan melangkah, pergelangan tanganku mendadak dicekal cepat dari belakang. James menahan langkahku dengan cengkeraman yang lumayan kokoh."Kamu.
Bersamaan dengan tubuh James yang terpental kembali ke sandaran joknya, bunyi klik dari gesper sabuk pengamanku yang terlepas menggema pelan di dalam kabin van.Aku terperanjat hebat, buru-buru memeriksa posisi sabuk di pinggangku yang kini sudah merenggang sempurna.Ya Tuhan... batinku mendadak diselimuti rasa malu yang luar biasa. Wajahku membakar hingga ke ujung telinga. Pria ini bukannya berniat lancang atau berbuat aneh-aneh padaku, melainkan hanya ingin membantuku melepas sabuk pengaman yang tersangkut! Pikiranku saja yang sudah telanjur berprasangka buruk padanya."Kenapa kamu mendorongku?" tanya James santai, menata kembali posisi kemejanya sembari menatapku heran."M-maaf..." bisikku dengan parau, berusaha menetralkan rona merah di pipi. "Aku pikir... kamu tadi..."James memotong cepat dengan kening terangkat. "Kau pikir aku akan berbuat yang tidak-tidak padamu, Nona?"Aku hanya membuang muka, meloloskan tawa garing yang terdengar kaku demi menutupi rasa canggung yang mencek
Mataku membelalak sempurna, menatap tak percaya ke arah tindakan lancang James yang terlewat berani.Sialan nih cowok! Berani bener dia bersikap berlebihan begini padaku! batinku menjerit geram, darahku mendadak mendidih seketika. Apakah kemesraan palsu ini adalah bagian dari misi jahatnya bersama Inez? Apakah dia sengaja merayuku habis-habisan untuk meruntuhkan mentalku? Atau... dia sengaja menciptakan bukti perselingkuhan baru agar bisa dikirimkan langsung untuk menghancurkan Axel?Tanpa pikir panjang, aku menyentak tanganku dengan kasar, menariknya lepas dari genggamannya. "Hei! Batasi batasanmu, Tuan!" tegasku penuh penekanan, dadaku naik turun menahan amarah. "Kita ini hanya akan bersandiwara di hadapan ibumu! Jangan berani-berani kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk berbuat macam-macam padaku, ya!"James menyeringai penuh kemenangan. Alih-alih marah, ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi... itu berarti
Pagi buta masih diselimuti kegelapan saat nada dering nyaring ponselku melengking, memecah keheningan kamar. Dengan kelopak mata yang masih terasa seberat timah, tanganku bergerilya meraba-raba nakas, menyambar benda pipih itu lalu menggeser tombol hijau tanpa sempat melihat nama pemanggilnya."Halo... Lo masih tidur?"Suara bariton yang sangat khas itu mengalun hangat dari seberang sambungan. Mataku seketika terbuka lebar. Rasa kantuk yang menggelayut menguap begitu saja tanpa sisa."Axel?! Lo... apa kabar?" seruku bahagia dengan nada suara yang melambung tinggi."Baik, Kay," jawabnya lembut, mengukir senyum yang tampak di layar. "Gue kangen banget sama lo... sama Sira."Dengan mata berbinar dan dada yang membuncah oleh kerinduan, kuangkat ponselku lebih tinggi, mengarahkan kameranya ke samping—menampilkan paras mungil Sira yang masih terlelap tenang di balik selimut."Kami juga kangen banget sama lo, Xel..." bisikku haru.Dari balik layar, senyum Axel terkembang lebar, meski raut l
Tepat saat James dan Inez hendak melangkah keluar dari restoran kaca itu, aku berbalik cepat, merapatkan tubuh ke balik pilar besar untuk bersembunyi."Kurang ajar! Apa mereka sengaja bersekongkol untuk mempermainkanku?!" gumamku sambil mengintip.Bersamaan dengan itu, getaran dan nada dering ponsel melengking dari saku mantelku. Aku tersentak, cepat-cepat merogoh benda pipih itu dan langsung menekan tombol hijau tanpa melihat layar."Halo, Kak," bisikku serak, menahan napas sambil menyandarkan tubuh ke pilar."Kayla, kamu sedang sibuk?" suara Kak Rayan mengalun cemas di seberang sana.Aku menoleh sekilas ke belakang, memastikan sosok James atau Inez tidak mendadak muncul di dekat pilar, sebelum akhirnya melangkah setengah berlari menuju sebuah lorong sepi di dekat area toilet VIP."Aku nggak sibuk, Kak. Kenapa?" tanyaku cepat."Kayla, aku baru saja mencoba mengecek identitas dan latar belakang James di situs alumni universitas. Rupanya dia itu pernah menempuh pendidikan di kampus yan
Derap langkahku terasa berat saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Tanpa membuang waktu, aku segera merogoh ponsel di dalam tas, memanggil nomor Hani. Namun, nada sambung yang terus terdengar berulang kali tak kunjung membuahkan hasil.Aku menepuk keningku pelan. "Aku lupa... Jam segini di Indrata masih dini hari. Hani pasti masih tertidur lelap."Kududukkan diri di kursi, menatap layar ponsel yang meredup dengan jantung yang berdegup kencang. Jemariku tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu secara teratur, mengalirkan kecemasan yang makin membakar isi dada. Aku tidak boleh salah mengambil langkah. Setidaknya, Hani atau seseorang yang tepercaya harus mengetahui situasi gila ini.Sebuah nama mendadak berkelebat di benakku. Oh iya, Kak Rayan!Dengan jemari gemetar, aku menggeser daftar kontak, menemukan nama Kak Rayan, lalu langsung menekan tombol panggil.Tolong angkat, Kak... Tolong... batinku meratap cemas sembari menempelkan ponsel erat-erat di telinga.Setelah beberap







