LOGINMataku membelalak sempurna, menatap tak percaya ke arah tindakan lancang James yang terlewat berani.Sialan nih cowok! Berani bener dia bersikap berlebihan begini padaku! batinku menjerit geram, darahku mendadak mendidih seketika. Apakah kemesraan palsu ini adalah bagian dari misi jahatnya bersama Inez? Apakah dia sengaja merayuku habis-habisan untuk meruntuhkan mentalku? Atau... dia sengaja menciptakan bukti perselingkuhan baru agar bisa dikirimkan langsung untuk menghancurkan Axel?Tanpa pikir panjang, aku menyentak tanganku dengan kasar, menariknya lepas dari genggamannya. "Hei! Batasi batasanmu, Tuan!" tegasku penuh penekanan, dadaku naik turun menahan amarah. "Kita ini hanya akan bersandiwara di hadapan ibumu! Jangan berani-berani kamu memanfaatkan kesempatan ini untuk berbuat macam-macam padaku, ya!"James menyeringai penuh kemenangan. Alih-alih marah, ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi dengan santai, melipat kedua tangannya di depan dada. "Jadi... itu berarti
Pagi buta masih diselimuti kegelapan saat nada dering nyaring ponselku melengking, memecah keheningan kamar. Dengan kelopak mata yang masih terasa seberat timah, tanganku bergerilya meraba-raba nakas, menyambar benda pipih itu lalu menggeser tombol hijau tanpa sempat melihat nama pemanggilnya."Halo... Lo masih tidur?"Suara bariton yang sangat khas itu mengalun hangat dari seberang sambungan. Mataku seketika terbuka lebar. Rasa kantuk yang menggelayut menguap begitu saja tanpa sisa."Axel?! Lo... apa kabar?" seruku bahagia dengan nada suara yang melambung tinggi."Baik, Kay," jawabnya lembut, mengukir senyum yang tampak di layar. "Gue kangen banget sama lo... sama Sira."Dengan mata berbinar dan dada yang membuncah oleh kerinduan, kuangkat ponselku lebih tinggi, mengarahkan kameranya ke samping—menampilkan paras mungil Sira yang masih terlelap tenang di balik selimut."Kami juga kangen banget sama lo, Xel..." bisikku haru.Dari balik layar, senyum Axel terkembang lebar, meski raut l
Tepat saat James dan Inez hendak melangkah keluar dari restoran kaca itu, aku berbalik cepat, merapatkan tubuh ke balik pilar besar untuk bersembunyi."Kurang ajar! Apa mereka sengaja bersekongkol untuk mempermainkanku?!" gumamku sambil mengintip.Bersamaan dengan itu, getaran dan nada dering ponsel melengking dari saku mantelku. Aku tersentak, cepat-cepat merogoh benda pipih itu dan langsung menekan tombol hijau tanpa melihat layar."Halo, Kak," bisikku serak, menahan napas sambil menyandarkan tubuh ke pilar."Kayla, kamu sedang sibuk?" suara Kak Rayan mengalun cemas di seberang sana.Aku menoleh sekilas ke belakang, memastikan sosok James atau Inez tidak mendadak muncul di dekat pilar, sebelum akhirnya melangkah setengah berlari menuju sebuah lorong sepi di dekat area toilet VIP."Aku nggak sibuk, Kak. Kenapa?" tanyaku cepat."Kayla, aku baru saja mencoba mengecek identitas dan latar belakang James di situs alumni universitas. Rupanya dia itu pernah menempuh pendidikan di kampus yan
Derap langkahku terasa berat saat melangkah masuk ke dalam ruang kerja. Tanpa membuang waktu, aku segera merogoh ponsel di dalam tas, memanggil nomor Hani. Namun, nada sambung yang terus terdengar berulang kali tak kunjung membuahkan hasil.Aku menepuk keningku pelan. "Aku lupa... Jam segini di Indrata masih dini hari. Hani pasti masih tertidur lelap."Kududukkan diri di kursi, menatap layar ponsel yang meredup dengan jantung yang berdegup kencang. Jemariku tanpa sadar mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu secara teratur, mengalirkan kecemasan yang makin membakar isi dada. Aku tidak boleh salah mengambil langkah. Setidaknya, Hani atau seseorang yang tepercaya harus mengetahui situasi gila ini.Sebuah nama mendadak berkelebat di benakku. Oh iya, Kak Rayan!Dengan jemari gemetar, aku menggeser daftar kontak, menemukan nama Kak Rayan, lalu langsung menekan tombol panggil.Tolong angkat, Kak... Tolong... batinku meratap cemas sembari menempelkan ponsel erat-erat di telinga.Setelah beberap
"Kenapa harus aku?" tanyaku dengan nada menukik sinis, berusaha melepaskan genggaman tangannya meski cengkeraman halus itu masih menyisa di pergelangan tanganku. "Bukankah ada antrean panjang wanita di luar sana yang rela melakukan apa saja demi menjadi kekasihmu? Kenapa harus repot-repot bersandiwara denganku?"James membuang pandangan sejenak, mengembuskan napas panjang yang membusakan udara dingin lobi. Kedua tangannya terulur masuk melesak ke dalam saku celana bahan mewahnya."Aku tidak suka berkomitmen dalam sebuah hubungan," sahutnya datar, sepasang mata birunya kembali menghunus lurus ke manik mataku. "Dan aku sama sekali tidak berminat memiliki seorang kekasih."Dasar pria aneh! batinku sengit, memindai gestur tubuhnya dari ujung rambut hingga sepatu dengan kepulan curiga yang makin tebal. Atau jangan-jangan... pria bertampang sempurna ini penganut hubungan menyimpang yang menyembunyikan rahasia sakit di balik populernya nama besar yang ia sandang?"Kalau begitu, kau kan bisa
Jantungku serasa berhenti berdetak seketika. Tanpa memedulikan tatapan aneh dari orang-orang di sekitar lobi, aku langsung mencekal pergelangan tangan model pirang itu dan menariknya paksa menjauh dari kerumunan, membawa tubuhnya mendekati sudut ruangan yang lebih sepi."Apa maksud kamu?!" tanyaku panik dengan suara bergetar.Model pirang itu justru menyunggingkan senyum miring penuh kemenangan. Tanpa bersuara, ia mengusap layar ponsel di genggamannya lalu menyodorkannya tepat di depan wajahku. "Kamu belum lihat artikel gosip pagi ini?"Dengan jemari yang dingin dan gemetar, aku menyambar ponsel itu. Mataku membelalak sempurna menatap tajam ke arah layar. Sebuah judul berita besar tercetak tebal di sana: 'Sang Model Misterius Akhirnya Menunjukkan Sang Kekasih.' Di bawah tagline provokatif itu, terpampang foto jernih bagian samping mobil sedan hitam semalam, menampilkan siluet diriku yang duduk di kursi kemudi di samping James. Meski paras wajahku agak samar karena dibidik dari kejau







